
"Keluarga bukan tentang satu darah."~ Arunika Baskoro.
...----------------...
...Tolong follow Ige kami ^^...
...@adikarasuryo...
...@arunikabaskoro...
...@ettandelio...
...@dita_zanna...
...@gala.luka...
...@elee.zakeisha...
...@_putritritrii...
...****************...
"Acieeeeee ... pengantin baru yang barusan jebol menjebol gawang dan cetak gol selama seminggu muncul juga ke permukaan. Aduhai ... apa kabar itu dedek?"
"Emang kau pikir dia eek?" saut Elee.
Sialan. Baru juga masuk ke ruangan kantor yang paling kurindukan sejak seminggu lalu, udah disambut sama si Ettan yang aneh-aneh. Aku 'kan malu. Mana baru mau duduk lagi.
"Dedek yang mana, Kek?" tanya Dita ikut nimbrung.
"Dedek yang buat dedeklah. Yang mana lagi coba? Ngapa kau gak pahak?"
"Paham! Jan berisik itu mulut. Gacor amat kayak burung! Masih pagi juga, Kek, udah ngajak gelut. Mama baru aja sampe rumah dikatain yang aneh-aneh," itu Elee.
"Sibuk banget, sih, Lele. Sebagai anak yang baik, kalau Mamanya baru pulang minggat itu disambut dengan tari-tarian, gendang, kecapi. Nah, karena kebetulan itu semua nggak ada di sini, ya udah, kita sambut dengan kata-kata."
"Minggat? Cuti hamil woi!" seru Elee lagi.
"Gila, apa?!" semburku.
"Kurasa si Ettan emang rada gila sejak ditinggal si Mona," saut Dita.
"Jangan bawa-bawa Mona! Uda punah dari hati aku tuh cewek. Serius aku nanya nih sama si Mama kita, uda belum?" Lirikannya di tujuhkan ke arahku.
Plukkkk ....
Gala tiba-tiba datang dan menimpuk kepala Ettan dengan dokumen yang ia bawa dalam genggamannya. Aku pun terkekeh bersama dengan Dita dan Elee, melihat wajah Ettan yang meringis kesakitan itu adalah sebuah anugerah. Jahat bangat aku, ya. Gala tersenyum ke arahku.
"Apaan, sih, Lala! Sakit banget kepalaku ini!"
"Apa kabar, Run?" Gala malah bertanya ke aku dan mengabaikan Ettan.
"Sehat. Kalian semua gimana?"
"Sehat dong. Kalau Mama Brokoli sehat, pastinya keluarganya juga sehat," jawab Dita semangat.
"Syukurlah ... apa kabar kerjaanku?"
"Itu dihandle sama Gala dong. Siapa lagi yang bisa ngambil kerjaanmu kecuali dia," jawab Elee. Aku melirik keduanya yang saling bersitatap dalam diam.
"Kalian kenapa?" tanyaku seperti ada yang mencurigakan. Keduanya membuang pandangan sekarang.
"Biasa ... rumah tangga mereka lagi dijajah," balas Ettan. "Nanti lagi ngobrolnya, aku mau siapkan laporan untuk Bu Anjani."
"Ouuuu, ok. Selamat bekerja semuanya."
Kami kembali ke rutinitas seperti biasa. Posisi ruangan team management itu lumayan luas. Aku duduk di depan Dita, Gala dan Ettan bersamping-sampingan, tepatnya di belakangku. Sedangkan si Elee ada dipaling pojok kanan dekat dinding. Ya, beginilah sibuknya kami di perusahaan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang terletak di Jakarta. Aku baru tahu, kalau perusahaan ini milik keluarga suamiku.
Kembali ke realita hidup seorang Arun yang bekerja makan gaji dengan sebuah perusahaan, pergi pagi pulang malam, masa-masa lajangku banyak habis di sini. Kalau ditanya mencintai pekerjaan ini, aku jawab iya. Sangat besar rasa cinta ini ke dia. Kalau gak ada dia dan mereka, entah apa jadinya diriku. Ya, meskipun usaha keluarga juga ada, tapi rasanya lebih enak menantang arus di luar kandang. Astaga, kenapa jadi kandang?
Nah, kalau sekarang, aku mikirnya hidup udah ada yang nanggung, yaitu Mas Adikara. Kalau nantinya, dia gak terima aku pulang malam melulu, rasanya kayak apa kalau nggak kerja. Pasti ngebosanilah.
Hapeku bergetar. Dengan sigap tangan ini menyaut benda persegi itu dari atas meja. Nomor tidak dikenal muncul di atas layar.
"Siapa, ya?"
__ADS_1
Tidak ingin berlama-lama penasaran, kini kuusap jari menyentuh tombol hijau.
"Hallo?" kataku dan sesudah menempel hape ke daun telinga.
"Makan siang nanti kau ada acara?"
"Mas Adi?"
"Kenapa kau terkejut? Kau tidak menyimpan nomor suamimu sendiri?"
"Nggak tau? Aku lupa Mas, uda pernah save nomor kamu apa belum, ya?"
(sejujurnya, authornya yang lupa. Kalau salah maki aja. Wkwkwkwkw)
"Ouuu. Nanti, makan siang sama aku."
"Gak bisa, Mas."
"Kenapa?"
"Aku baru masuk kerja. Dan aku rindu banget sama keluarga Brokoli. Tolong kasi aku waktu sama mereka, ya, Mas. Tar malam dech, aku temani kamu makan. Gak apa-apa, ya?"
Krik ....
Krik ....
Krik ....
"Kamu marah, Mas?"
Hening ....
Hening ....
"Mas? Kamu masih hidup di sana, 'kan? Nggak mati, 'kan? Aku belum mau jadi janda, Mas!"
"Yaudah. Pulang jam berapa nanti?"
"Kalau gak lembur bisa jam 7 malam baru keluar, Mas."
"Gila! Kenapa malam banget?"
"Bu-bukan dirimu. Maksudku, tempat pekerjaanmu."
"Tanya sendiri sama yang punya perusahaan ya, Mas. Kan, keluarga kamu yang punya. Uda dulu, ya. Aku banyak kerjaan nih. Nanti, makan siang sendiri aja atau ditemani sama Pluto. Dia ada di kamar. Tadi, di meja makan aku juga uda masak buat kamu. Jangan gak dimakan, kasihan nasi dan kawan-kawannya. Byeee, Mas."
Duluan aku mengakhiri panggilan. Rasanya jantung ini berdebar terlalu kencang kayak kereta. Mas Adikara kenapa jadi manja gitu? Bingung. Oh, ya, Pluto itu boneka yang uda bareng sama aku sejak kecil. Hadiah dari papa saat ulang tahun yang ke 11, ketika kami berlibur ke Disney Jepang.
"Woi! Ngelamun pula. Kerja," tegur Dita.
"Kaget gue, Ta."
"Kenapa?"
"Mas Adikara manja banget. Gue bingung," bisikku.
Dia terkekeh tiba-tiba. Seluruh pasang mata yang ada di ruangan, sama-sama melirik ke aku dan Dita.
"Kenapa denganmu, Tata?" tegur Ettan.
"Iya, kau kenapa, Ta?" Elee pun melirik ke arahnya.
"Gak apa-apa. Aku cuma salah ngomong ke Dita," tepisku buru-buru.
"Bukaaaan! Ini lho ya, Mama kita kok polos-polos minta ditampol. Suaminya manja ke dia, eh dianya bingung. Aneh. Gimana gitu. Apa gue gak ngakak dengarnya." Dita kembali terpingkal-pingkal. "Secara, dia kan istrinya."
Ettan dan Elee kini menyusul Dita ikut tertawa.
"Sadarlah, Run, dia itu suamimu. Wajarlah kalau manjanya samamu. Kalau sama aku, apa jadinya?" kata Ettan kini kembali tertawa.
"Laga pedang dong," saut Elee kemudian. Ketiganya senang banget ketawa.
"Sudah ... fokus pada kerjaan dulu! Berisik amat," kini Gala yang menegur.
Suara Gala itu datar banget kalau uda serius kayak gini. Mas Adikara pun kalah jauh dari dia. Dan satu teguran dari Gala, ruangan kembali sepi dan hening.
__ADS_1
Jam makan siang pun tiba. Kami sudah tiba di Paul SCBD, tempat favorit kami biasanya untuk makan siang atau juga rapat kecil-kecilan, karena di sini tuh suasananya enak banget. Apa lagi, cocok banget buat kami yang heboh dan ngangenin.
Sudah memesan makanan, masing-masing dari kami pun menikmati dengan obrolan dan candaan.
Kami ke mana-mana emang selalu berlima. Bukan nggak mau gabung sama rekan lainnya. Ya, gini, malas aja ujungnya jadi gosipi rekan lain. Kalau kita lima uda kebal dan tahan banting sejak sekolah.
"Run ... cerita dong malam pertamamu," kata Elee penasaran.
"Iya, aku juga mau dengar dan pen tahu kek mana suamimu yang mirip es itu kalau lagi joget," saut Dita.
"Joget, ya?" tanya Ettan bingung.
"Ouuuu ... iya, bener, lupa aku. Kalau kata Pamanku Jimmy, itu mengaum waktu malam pertama," sambung Elee.
"Astaga ... apa lagi itu?" tanya Ettan makin bingung.
"Ya, mengaum lha. Coba tirukan, Run," kata Dita padaku.
"Auuuuuuuuuu ...."
"Itu serigala dongok!" kata Ettan menepuk keningku.
"Kasar banget, sih, Setan!" teriak Gala yang duduk tepat di samping kananku.
"Lala apaan, sih? Marah-marah gak jelas. Kita cuma becanda doang. Serius amat sih hidup lo yang gak berguna itu!" cetus Ettan gak mau kalah.
"Lho, kok jadi ke arah sana, sih?"
Aku kini bingung dengan kedua lelaki ini. Terdengar serius dari suara mereka. Aku paham betul, kapan mereka marah dan kapan saat mereka bercandaan.
"Kenapa kalian jadi marah-marah? Aku nggak apa-apa, Gal," ucapku menenangkannya.
"Jangan serius amatlah, Gal. Kita jadi ditengoki orang." Elee ikut menengahi keduanya yang kini saling pandang.
"Maaf ... gak sengaja," kata Gala. Dia kembali mengambil garpu untuk menyantap makanan.
"Jangan pada marah-marah kayak gini. Kita bertiga di sini jadi nggak enakan, liat kesayangan keluarga Brokoli kayak gini," Dita buka suara.
"Bukan apa-apa. Itu si Gala hatinya sedang dijajah. Aku yang salah nanggepinya serius. Jangan marah lagi, Bro!" Ettan menepuk pundak Gala kini.
Gala terlihat melirik ke arah Ettan dan mengangguk. "Aku juga minta maaf. Aku cuma nggak suka aja, kalau Ettan kasar sama Arun, Dita, dan Elee."
"Aku juga termasuk?" tanya Elee menunjuk dirinya sendiri dengan mata berbinar.
"Pastilah ... kau 'kan batu permatanya Gala," balas Ettan mendapati pelototan Gala.
"Makasih, Gal. Boleh peluk, nggak?" tanya Elee kini.
"Nggak! Jangan macam-macam!"
"Elehhhh ... nanti nyesal," saut Ettan.
"Berisik! Habiskan makan siang kalian. Kalau lama-lama kutinggal di sini," ancam Gala membuat kami semua buru-buru menyantap makanan.
Tak lupa, sebelum aku menyantap makanan, tadi aku mengambil foto dan mengaupload ke insta story. Jujur, sebenarnya aku curiga dengan Gala.
...Bersambung....
...***...
...Dukungannya ya ^^...
...Di sini, nantinya kisah mereka juga aku ceritakan. Bukan hanya Adikara dan Arun. Moga kalian nggak bosan....
...Yok follow akun IG mereka sama akun igku ...
@adikarasuryo
@arunikabaskoro
@ettandelio
@dita_zanna
@gala.luka
__ADS_1
@elee.zakeisha
@_putritritrii