Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Pengagum Rahasiamu


__ADS_3

"Hembusan napasmu mendekap erat jantung yang berdetak." ~ Arunika Baskoro.


...----------------...


"Wah, selamat datang anak dan menantuku. Ayo, masuk," ucap Mama mertuaku, menyambut kami di depan pintu masuk.


"Elena, Erica, Kakak dan Abangmu uda datang ini," teriaknya lagi dari depan pintu.


Aku tersenyum malu dan memberikan salam lewat kecupan di punggung tangan wanita paruh baya itu. Dia terlihat sangat menawan diusianya yang sekarang. Bagaimana tidak hasil benihnya sebagus pria yang berdiri di sampingku ini. Dia tersenyum sangat manis, ketika memberikan salam untuk mamanya.


"Hallo, Kak Arun," sapa seorang lainnya.


Aku berpindah tatap dan mendapati gadis yang gak kalah cantiknya dari mama mertua.


"Astaga ... kamu—?"


"Kiana. Elena Kiana. Kakak masih ingat aku, 'kan?"


Dia membuat mulutku menganga seketika. Dan aku yang bingung, menunjukkan ke arah Elena dan Mas Adikara secara bergantian. Senyum yang sempat terhias di bibir manisnya, kini hilang seketika.


"Ayo, masuk dulu," ajak Elena menarik pergelangan tanganku, dan menuntun masuk.


"Langsung bawa barang kalian ke kamar bawah aja, Di." Terdengar obrolan keduanya dari posisiku.


"Kenapa dunia ini sempit, sih? Kamu benaran adiknya suamiku?"


Elena mengangguk kepala. "Benar lho, Kak. Kami kakak adik dan kita jadi iparan." Dia tertawa.


"Hallo, Kak Arun," sapa seorang lainnya dari depanku.


Aku benar-benar dibuat terkejut, setelah tiba di rumah ini. Benaran pengen pingsan rasanya.


"Itu?"


"Erica, Kak. Kami kembar," gadis yang memiliki postur tubuh ramping dan tinggi layaknya girl band dari negeri ginseng itu mendekat ke arahku. Berambut panjang sepinggang berwarna pirang, sungguh sangat menawan dipandang mata. Sedangkan Elena berambut panjang dan berwarna hitam.


Keduanya kini bergantian memeluk dan saling mengenalkan dirinya ke aku.


"Bingung ya, Kak? Aku ini berprofesi sebagai grafik disign. Kalau Elena ... Kakak udah tahu jelas siapa dia, 'kan?" tanyanya sambil menunjuk ke Elena.


Aku mengangguk pasrah. "Accounting staff perusahaan SO Corp."


"Bener sekali. Dia yang suka cerewet sama teamnya, 'kan?"


"Kasi Kakak kalian duduk dulu, Nak," ucap Mama mertuaku sembari lalu ke dalam rumah.


Aku benar-benar sangat senang disambut baik di rumah Mas Adikara. Kulihat Mas Adikara melewatiku dan memeluk kedua adiknya sekarang. Dan sesudah itu, dia berjalan masuk membawa koper kami.


"Akhirnya tuh, ya, Bang Adikara bisa mepet Kak Arun dan jadi istri sesungguhnya. Rasanya kayak apa gitu," sindir Elena dengan suara besar. Nggak tau juga, kalau Mas Adikara dengan apa nggak.

__ADS_1


"Iya, karena mendiang mamanya Kak Arun juga, sih," sambung Erica lirih.


Mereka berdua duduk tepat di sampingku.


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Bang Adikara nggak ada cerita ke Kakak?"


"Jangan mengotori pikirannya, Ca." Mas Adikara datang dan bergabung bersama kami.


Kulihat Erica memberut. "Ngotori apaan? Abang masih mendam semuanya sendiri?"


"Tidak perlu tahu," balasnya singkat.


"Kalian ini berdebat di depan Arun. Dia pasti bingung kalian ngobrol tentang Adikara." Mama mertuaku kini ikut nimbrung dengan membawa nampan dikuti dengan pekerja di rumah mereka membawa nampan berisi minuman.


"Iya, tuh, Ma. Bang Adikara sok jaim aja di depan Kak Arun. Mana dulu aja dia nanyain mulu ke Elena."


Kulirik Mas Adikara yang sedang menajamkan tatapan ke arah keduanya.


"Sudah, jangan disambung. Kalian buat Abang malu loh," ucap Mama duduk di dekat Mas Adikara. "Minum, Nak Arun."


"Egh, iya, Ma. Makasih," kataku kini mengambil minuman dan mataku malah gatal pengen lihat Mas Adikara. Ternyata, dia sudah lebih dulu menatapku. Sontak aja hampir kesedak karena tatapannya mengerikan.


"Bentar lagi papa pulang. Kalian bersih-bersih dulu sehabis ngobrolnya, ya. Kita makan malam sama-sama sebelum kalian balik ke Jakarta." Mama mertua menoleh ke Mas Adikara. "Kamu mau bawa Arun tinggal di apartemen atau rumahmu sendiri, Bang?"


"Ke rumah Abang, Ma."


"Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?" tanya Mas Adikara padaku.


Bola mataku berkeliling. Bagaiman bisa dia tahu niatan dalam kepalaku.


"Agh, ada, sih. Soal ... Elena dan Erica adalah adiknya, Mas. Kemana mereka pas nikahan kita? Nggak kelihatan."


Kedua saudari kembar itu tersenyum dan saling berpandang-pandangan.


"Ada dong. Kita pantau pesta di luar. Setelah pesta selesai, kami langsung pulang karena mau buat kejutan buat kalian, Kak. Hanya saja—" balas Elena menggantung ucapannya.


"Tidak perlu dibahas lagi." Mas Adikara menimpali.


"Iya, bener. Yang penting Arun dan Adikara saling melengkapi sekarang. Seperti niatan mamanya Arun. Buat Arun, kamu harus sabar dengan sikapnya Abang mereka ini. Dia orangnya memang tegas kalau belum kenal dekat. Tapi, sebenarnya, Adikara sangat penyayang."


"Iya, Kak. Bang Adikara baik kok sebenarnya. Walaupun, suka irit bicara dan agak cerewet," celetuk Erica menimpali.


Kalau ada yang tanya bagaimana aku bisa membedakan kedua orang ini sebelumnya. Aku tau dari warna rambut yang berbeda.


Aku tersenyum sambil berkata, "iya, Ma. Arun tahu kok soal itu," balasku.


"Cieeeee ... yang udah sekamar. Ya tahulah kayak mana aslinya pangeran berkuda hitamnya."

__ADS_1


Aku diejek sama Elena. Malu sekali sebenarnya. Tapi, Mas Adikara biasa aja tuh nanggapi 'cie-cie' adiknya. Dia tidak terpengaruh sama sekali.


"Yaudah. Sebelum papa sampai rumah, Arun dan Adikara bersih-bersih dulu. Sebenarnya ... Mama pengen kalian tidur di kamar Adikara. Tapi karena kamar Adikara ada di lantai paling atas, kasihan Arunnya. Kalian di kamar tamu bawah aja, ya. Nggak apa-apa 'kan, Run?" tanya Mama mertuaku dengan sangat lembut.


"Iya, Ma, nggak apa-apa."


"Ayo."


Mas Adikara berdiri lebih dulu dan mengajakku meninggalkan ruang tempat kami ngobrol.


"Mandilah duluan."


Setelah sampai di kamar yang cukup luas, Mas Adikara langsung ke ranjang dan berbaring di atasnya.


"Mas," pangglku sambil jalan mendekatinya.


"Heeemmm?"


"Mas sebenarnya siapa, sih?"


"Maksudnya?"


"Hah, aku penasaran lho dengan kata-kata si kembar tadi. Mas sebenarnya udah kenal sama aku duluan, ya?" Aku duduk di tepi ranjang tepat di sampingnya. Masa bodohlah sama malu. Aku benar-benar penasaran dengan keluarga suamiku.


"Kau benar-benar sama sekali tidak tahu?" tanyanya sambil menarik diri untuk duduk.


Kini jarak kami sangat dekat. Aroma parfumnya menyeruak masuk ke dalam penciumanku. Bola mata itu sama sekali enggan untuk memutus kontak mata di antara kami. Merasa di lihat sama Oppa Kim Woo Bin, rasanya wajahku terbakar dan berubah warna merah.


Aku lebih dulu memutus kontak mata, sebelum pingsan di sampingnya dan menggeleng kepala. "Tidak tahu. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Hanya adiknya Mas—Elena yang aku kenal karena kami berkerja di satu perusahaan. Terus, siapa Mas sebenarnya?"


"Pengagum rahasia."


"What?"


Secepat kilat wajah ini mengarah padanya hingga sentuhan tak terduga terjadi di antara kami. Entah sengaja atau tidak, kurasakan kalau tadi itu wajah Mas Adikara bergerak hingga bibir kami bertemu.


Seketika kedua mataku terpejam, merasakan kehangatan bibirnya yang mulai bergerak itu. Aliran darah dalam tubuhku berdesir hebat mengiringi sentuhan pertama yang terjadi di antara kami. Sangat disayangkan, peluh mengucur di keningku dan tubuh ini serasa dikunci olehnya.


Perlahan kurasakan kehangatan serta hembusan napas dari hidung Mas Adikara mulai memudar.


"Aku pengagum rahasiamu. Terima kasih sudah menjadi istriku. Aku duluan mandi," katanya kemudian beranjak heboh dari atas tempat tidur dan menghilang dibalik kamar mandi.


Aku membuang napas yang sempat kutahan selama beberapa detik itu. Menyentuh dadaku yang bergejolak dengan detak jantung memacu sangat kencang dari normalnya. Perasaan apa yang kini kurasakan. Mas Adikara benar-benar membuatku serasa mati rasa.


"Apa tadi itu benaran Mas Adikara?"


...Bersambung....


...****************...

__ADS_1


...Jangan lupa kasi dukungannya, ya. ^^...


__ADS_2