
Suasana malam itu terlihat hangat di kediaman keluarga Adikara dan Arunika. Malam itu ... tidak ada yang tertinggal satupun dari keluarga serta sahabat mereka berdua.
Arunika tampak senang, ketika lagu ulang tahun mengudara di ruang keluarga. Apalagi, dia melihat keluarga Adikara semua hadir tanpa terkecuali. Ada keluarga Brokoli beserta keluarga Arunika—Bang Boy dan Kak Arini sang ipar.
"Bersulang untuk bertambahnya satu tahun usia Arun," kata Bang Boy, sesaat semua orang memegang gelas berisi wine dan jus jeruk di tangan masing-masing. Seluruh gelas di arahkan ke udara dan di bagian tengah dengan tangan yang terulur.
"Semoga ... Arun semakin cantik biar Adikara semakin bucin," sambung Mama mertuanya.
"Semoga ... Kak Arun diberkahi kebahagiaan," timpal Erica.
"Dan diberikan rezeki serta kesehatan yang berlimpah," saut Elena.
"Yang terbaik buat Arun dan Adi," dari Papa mertuanya.
"Tetap jadi yang terbaik untuk keluarga serta sahabat. Dan ... Tante cantiknya Baby O," kata Arini—kakak iparnya.
"Meskipun bertambah tua, semoga aja wajah Arun menolak tua," kata Elee.
"Biarpun tua, semoga tetap jadi Arun yang kita kenal," sambung Gala.
"Semoga, Arunika tetap dikasih kebahagiaan yang lebih dari sekarang," kata Dita penuh harap.
"Gue apa?" Ettan menoleh ke sekelilingnya dengan tatapan bengong. Seketika, tawa keluarga dan sahabatnya itu pecah.
"Terserah lo. Kan doa," kata Gala dengan sedikit tekanan.
"Ya iyalah doa. Tapi kalian semua udah kasih doa yang sama. Kek mananya?"
Adikara menahan tawa. Arunika sendiri merasa geli.
"Buruan doang, Setan!" bisik Dita. "Tangan gue udah capek ini."
"Ya, apaan? Gue mau doakan Arunika apaan ya? Dia udah punya segalanya. Sudah cantik, suami atasan sendiri, keluarga bahagia, sehat, apaaan?" Ettan berpikir sejenak.
"Buruanlah!" desak Elee. "Tangan kita udah capek, Tan. Itu Tante sama Om dan orang tua muda ini butuh istirahat," desak Elee mendapatkan senyuman dari kedua orang tua Adikara.
"Sahabatnya Mbak Arun yang satu ini emang langkah, Ma," bisik Erica mendapatkan pelototan sang Mama. Dia komat-kamit menegur sang putri.
"Ya udahlah, gue doakan semoga Arunika diberikan momongan," ucap Ettan dengan cengiran.
Weeeeeekz.
Arunika tiba-tiba menarik gelas miliknya dari antara gelas yang sedang mereka tempelkan untuk bersulang. Dia letak di atas meja dengan tergesa-gesa dan beranjak dari atas tempat duduknya diikuti dengan membekap mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Run ...."
Adikara tergesa-gesa mengikuti Arunika dari belakang. Sedangkan keluarga yang masih duduk di tempat masing-masing tampak bahagia.
"Doa gue langsung dijawab Tuhan," kata Ettan penuh syukur dengan menatap ke atas.
"Kita bakalan punya cucu, Pa," kata Mama Adikara ke suaminya.
"Benarkah, Ma?" sang istri mengangguk kepala dengan haru.
"Kita bakalan jadi Aunty, El," kata Erica dengan binar mata yang sangat bahagia. Pun dengan Gala serta Elee yang hanya tersenyum penuh arti.
Sementara di kamar mandi. Arunika mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya. Sempat menyantap salad buah dan segelas jus jeruk, semuanya keluar dalam sekali muntahan.
"Kenapa, Run?" Adikara membantu mengusap tengkuk leher Arunika dengan tangan kiri menggenggam rambut panjang istrinya.
"Aku juga gak tahu," kata Arunika kini menampung air dari air keran wastafel.
"Kamu hamil?"
Mata Arunika berhenti bergerak. Pun dengan aktivitas tangannya. Mual memang sedikit berkurang setelah isi makanan keluar.
"Apa iya, Mas?"
"Siapa tahu, 'kan?"
"Aku juga gak tahu, Mas. Ciri-ciri hamil emangnya seperti ini?"
Bola mata Adikara berkeliling. "Kamu nggak pernah baca gitu?"
Arunika mengernyit. "Kayaknya pernah lihat di film-film gitu, Mas."
"Kalau gitu ... besok kita periksakan aja dulu. Siapa tahu benaran hamil, jadi kita bisa jaga-jaga."
Arunika tersenyum. "Baiklah, Mas. Tapi aku rasa sih belum ya, karena baru belum sebulan dari halangan pertama," kata Arunika.
Adikara mengusap perut rata Arunika dengan senyuman yang menggoda, "tapi feelingku ini udah ada. Kamu makin cantik, makin banyak makan dan makin manja. Aku nggak mau tunggu sebulan pas. Hitungannya beberapa hari lagi, 'kan? aku rasa kalau uda ada bisa langsung diketahui sama alat dokter kandungan," kata Adikara dengan mengecup tengkuk leher Arun. "Aku ingin punya banyak anak ya, Run," bisiknya lagi.
"Banyak anak? satu aja kita belum ngerasain, Mas. Nanti ... kamunya belum apa-apa udah ngeluh. Hayo lho," ejek Arunika nakut-nakuti.
"Nggak. Ada kita berdua juga."
"Adi," panggil Mamanya dari depan pintu.
__ADS_1
Kedua orang itu lupa kalau mereka bukan sedang berdua saja di rumah itu.
"Iya, Ma," jawab Adikara kini melepas rangkulan tangannya dari tubuh si istri.
"Aku mual lagi, Mas."
Adikara yang sempat melangkah untuk membuka pintu kamar mandi tak lagi melanjutkan langkahnya. Dia kembali membantu Arunika yang bersusah payah untuk mengeluarkan hasrat untuk muntah. Dia usap kembali tengkuk leher istrinya.
"Ma ... Arun masih mual. Nanti ya," teriak Adikara dari dalam.
"Ini, Mama bawa minyak kayu putih untuk Arun, Di. Siapa tahu aja bisa mengurangi."
"Kamu di sini dulu, ya."
Arunika hanya mengangguk kepala dan masih melanjutkan aktivitas yang membuatnya tersiksa kini. Bagaimana tidak. Mualnya tidak lagi seperti di awal bisa memuntahkan segala isinya seperti mual yang kedua. Dia hanya mengeluarkan cairan bening dari mulutnya dengan susah payah hingga wajah memerah dan peluh terkucur menghiasi keningnya.
"Sini, Run." Adikara sudah membuka tutup botol dan dia tuang sedikit di atas telapak tangannya. Arunika pun pasrah. Menarik tubuhnya dengan perasaan yang tidak enakkan di hidung dan perutnya, dia berhadapan dengan Adikara.
"Sabar-sabar ya, calon Mama."
Mengusap tengkuk leher hingga leher beserta kening Adikara lakukan untuk memberikan ketenangan pada sang istri,
"Hidungnya mau?" tanyanya menawarkan.
"Boleh. Sama perutku, Mas."
Adikara menuruti permintaan sang istri. Dia akan melakukan apa pun buat Arun kalau memang istrinya itu sedang mengandung anak yang telah ia harapkan sejak sebulan lalu mereka mengaung.
"Ini kado terindah buat kamu, Run," kata Adikara. "Di saat ulang tahun kamu, di saat itu pula tanda-tanda hadirnya kelihatan. Aku sungguh mengharapkannya."
"Peluk aku, Mas."
Dan inilah salah satu kebiasaan baru Arunika. Kata manja yang dimaksud oleh Adikara adalah pelukan yang selalu diminta Arun padanya. Adikara? tentu saja dia teramat senang atas keinginan Arunika terhadap dirinya. Itu sangat menenangkan, pikirnya.
Bersambung.
***
Ceilekkkk ... Arunika ^^
Gaskan 100 komen untuk Bab ini(halu) wkwkwkwk
__ADS_1