
Keluarga Brokoli
Ettan: Pemberitahuan. Kalau hari ini, salah satu anggota Brokoli akan melaksanakan perjodohannya dengan sosok laki-laki yang dipilihkan oleh emak dan bapaknya. Gala? Kasihan dech e lo. Makanya, jadi cowok jangan jual mahal. Tahu cinta malah ditolak melulu. Situ waras nggak?
Tepat di pukul 07:00 WIB. Ettan sang penghuni grup yang memiliki jam terbang paling tinggi, mengirimkan pesan pemberitahuan kala weekend sedang menghampiri.
Sebagian anggota masih tertidur pulas. Salah satunya adalah Arunika yang masih tidur di bawah ketek sang suami.
Ya, itu adalah satu di antara kebiasaan baru Arunika kini. Menempelkan wajahnya ke bidang dada sang suami sebelum tidur, dan besoknya akan berakhir di bawah sana.
Adikara tidak merasa risih. Karena sang istri berkata, "harum dari tubuhmu membuatku terlelap jauh ke dalam alam tidurku, Mas. Mesikipun, di bagian yang terpencil seperti ini. Itu membuatku merasakan, kalau Mas Adi selalu mendekap tubuhku."
Bak terbang ke awan, tentu saja Adikara merasa amat senang mendengar hal itu. Dia kasi itu ketek ke muka Arunika.
"Nggak gini juga kali, Mas," protes Arunika dan mengudarakan tawa Adikara di kamar, sebelum akhirnya Adikara menariknya dengan benar dan saling berpelukan hingga tertidur.
Pagi ini tampak mendung. Suara rintik hujan bertabrakan dengan setiap sudut bagunan rumah sukses membangunkan Adikara dari lelapnya sang malam berganti kedatangan pagi.
Perlahan bergerak dengan kedua mata yang masih enggan untuk terbuka, dia memaksa diri terbangun dan mendapati Arunika masih tertidur nyenyak.
Bibir Adikara tertarik membentuk senyuman. Merasa sangat menggemaskan, pria itu malah kembali menempelkan tubuhnya ke tubuh Arunika dengan sengaja.
Dia bermenjaan sambil mendekap erat Arunika. Lalu, Adikara mengecup pipi Arunika dengan gemas sampai wanita itu berhasil terusik dari tidurnya.
"Mas," panggilnya dengan suara khas orang bangun tidur.
Arunika merasa risih dengannya. "Bangun, Sayang. Ini sudah pagi."
Arunika terlihat malas untuk membuka kelopak matanya. "Ini 'kan weekend, Mas. Kita tidur lagi aja yuk?"
Giliran Arunika yang merangkul Adikara dan masih tak membuka kedua mata.
"Lihatlah, Sayang. Di luar sedang hujan. Itu tandanya?"
"Kita tidur lagi," balasnya.
"Iyak, pintar kamu ya. Bukaaaan!"
"Duh Mas, kamu berisik banget. Aku lelah banget tau, Mas."
"Lelah? Tadi malam, kita nggak absen sayang, kalau kamu lupa," bisik Adikara tepat di daun telinga Arun dan mengecupnya kemudian.
Arunika merinding dan cukup membuat dirinya tersadar untuk menarik kedua kelopak matanya dengan sempurna. Iris mata mereka saling bertemu tatap. Yang satu tampak galak yang satunya tampak senang.
"Kamu genit banget ya, Mas?"
"Aku?"
"Iya. Kenapa sih, mesti tiap hari juga?"
"Biar bisa cepat punya anak."
"Ya, tapi nggak tiap hari juga, Mas," rengek Arunika.
Adikara terkekeh, "iya, iya, ya udah. Lain kali aku minta sama istri tetangga aja."
"Lah, segitunya kamu, Maassss?" Arunika gusar dan memaksa dirinya keluar dari dekapan Adikara dan memilih posisi duduk yang diikuti oleh Adikara.
"Kamu mau main gila sama istri orang, Mas?"
"Nggaklah."
"Tadi itu?"
"Supaya kamu bangun."
"Sebegitunya, Mas?"
Adikara kembali tersenyum dan merangkul pinggang sang istri seraya menariknya.
"Mana mungkin bisa aku main gila sama istri orang. Kalau istri sendiri lebih cetar," godanya.
Arunika memberut kesal, "pagi-pagi, kamu uda buat moodku rusak, Mas."
"Kalau nggak begitu, kamu bakalan nyempil terus di dalam selimut. Ayoo bangun dan mandi. Aku turun ke bawah dulu untuk lihat Mama." Dia mengelus pipi Arunika dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Adikara mengecup dalam pipi sang istri, sebelum kedua kakinya beranjak turun dari atas ranjang. Arunika sendiri sebenarnya belum mendapatkan kesadarannya kembali 100%.
Dia menguap sambil menggaruk-garuk kepala. Hendak turun dari atas ranjang, layar hape Arunika di atas meja kecil tampak menyala.
Dia merasa penasaran dan mengambil hape terlebih dahulu, kemudian bangkit dari atas ranjang.
Mengusap layar dan membaca pesan dari grup sukses mengembalikan kesadaran Arunika.
"Ngah? Elee mau dijodohkan? Benar nih?"
Arunika memaksa otaknya untuk berpikir keras. Dia cari nomor kontak Gala dan menekan tombol panggilan. Amat sangat disayangkan, karena nomor itu tidak aktif.
Arunika beralih ke grup. Dia mengetikkan sesuatu di sana.
Arunika: Itu seriusan, Tan?
Ettan: Seriuslah. Kemarin si Elee sendiri yang bilang ke kita waktu lo uda turun dari mobil.
Arunika: Loh, kok jadi gini? Kek mana sama kak Gala?
Ettan: Mboh. Gue nggak tahu. Dia biasa aja kok responnya. Coba tanya sama si Elee. Gala ada nggak ngehubungi dia buat lari dari perjodohan.
Dita: Bising amat sih kalian? Gue rencananya mau tidur sampe siang. Mana kalian pagi-pagi uda gosip?
Arunika: Entah ini, si Setan. Gue juga baru bangun karena istri tetangga.
Ettan: Apaan lagi istri tetangga?
Dita: Yang jelas hari ini Elee bakalan dijodohkan. Dia uda memantapkan hatinya, karena Gala nggak kunjung buka hati buat dia. Perempuan mana yang tahan? Gue kalau jadi Elee juga bakalan terima perjodohan itu. Denger-denger 'kan, cowok itu anak tunggal.
Ettan: Punya kebon sawit.
Dita: Punya pabrik roti.
Ettan: Punya peternakan sapi.
Dita: Punya tambak udang
Ettan: Punya tokoh elektronik.
"Kenapa masih di sana? Kok belum mandi, Run?"
Arunika tersadar dan menoleh ke arah pintu akan kedatangan sang suami. "Mas? Elee bakalan dijodohkan hari ini."
"Oh, ya? Bagus dong. Kenapa kamu jadi bingung?"
Adikara memeluk Arunika dari belakang dan mengecup tengkuk lehernya.
"Iya, karena aku merasa, kalau yang mereka katakan dari setiap usaha yang ada pada calon Elee, sosok yang aku kenal."
"Benarkah? Bagaimana bisa?" tangannya mulai menjalar ke mana-mana.
Arunika merasa geli, tapi tak merubah pikirannya untuk menebak, siapa yang ada dalam pikirannya.
Aku yakin itu dia, gumamnya dalam hati. Tanpa sadar, kalau kancing piyamanya uda terlepas satu persatu.
***
Di salah satu perumahan di Bandung, tepatnya di daerah Padalarang, Bandung Barat. Salah satu rumah tampak sangat sibuk di pagi menjelang siang itu.
Terlihat dari setiap orang yang hilir mudik dan masuk ke dalam silih berganti, memperlihatkan segala aktivitas untuk menyambut keluarga laki-laki yang akan dijodohkan dengan Elee.
Ya, ini adalah rumah keluarga Elee di Bandung. Yang baru saja ditempati setahun belakangan oleh keluarganya, karena sang papa ingin mengembangkan bisnis dan memang asli orang sini, dia pun memboyong anak dan istrinya tanpa Elee.
"Duh, anak Mama cantik banget," puji Mama Atika. Mama Elee yang tampak masih mudah di usianya.
Elee tersenyum dari depan cermin. Dia memang sudah selesai dirias dengan tangan maha karya sang make-up artis. Tampak sangat alami dan tidak kelihatan menor. Bahkan, rasa lelahnya yang berangkat di subuh hari pun tak kelihatan di wajahnya.
Itu cocok bagi Elee yang kini sedang mengenakan gaun proom night ala putri duyung panjang berwarna putih dan sukses membentuk lekukan tubuhnya.
Di bagian pinggang gaun, tampak kemilau cahaya dari batu permata yang menjadi aksen di gaun yang ia kenakan.
"Makasih, Ma."
__ADS_1
"Kamu tampak bersemangat, Sayang."
"Tentu harus dong. Kenapa harus bersedih? Arunika saja yang dijodohkan bisa berbahagia sama pilihan mamanya. Semoga aja, kebahagiaan Arunika tertular sama Elee, Ma."
"Mama yakin banget, kalau kamu sangat senang, Sayang."
"Kak," panggil Ilana–adik Elee yang barusan masuk ke dalam kamar.
"Kenapa, Na?"
"Pengantin pria uda datang."
"Sial. Pengantin, ya? Kamu ini bercanda aja."
Mama Atika tertawa kecil melihat kakak beradik itu.
"Ya, 'kan calon. Anggap aja ini sedang latihan. Mama bilang, perjodohan ini sekalian tunangan. Gimana sih kamu kak?"
Elee membalikkan tubuhnya menatap cepat pada sang mama.
"Bener, Ma?"
Mama Atika mengangguk kepala, "iya. Karena permintaan calon suami kamu, Le."
"Astaga ... ngebet banget. Kenal aja kagak uda main minta tunangan segala. Mana sih orangnya, Ma? Elee jadi penasaran." Elee berdiri dengan mengangkat gaunnya setengah betis.
"Ayo, kita lihat sama-sama."
Ketiganya pun keluar dari kamar utama. Dengan berpegangan pada besi tangga, Elee menuruni anak tangga dengan sangat elegen dalam balutan yang menampilkan lekukan tubuhnya. Suara obrolan di ruang tamu terdengar dari posisinya.
Tiba di bawah dan hendak berbelok menuju ruang tamu, Elee menghentikan langkah kakinya.
Bersama dengan keluarga sang calon tunangan dan keluarga besarnya yang memang berada di Bandung, Elee terpaku di tempatnya. Lelaki itu tampak ikut memandangnya dengan tatapan teduh.
Senyuman terulas di bibirnya yang jarang sekali mengulas senyuman. Elee mencengkram erat kedua telapak tangannya.
Bibir itu bergetar dan luapan emosi mulai menghampiri diri.
"Kenapa lo ke sini?!" serunya lantang.
Seluruh orang yang berada di ruangan pun kaget mendengar teriakan Elee.
"Elee?" tegur Mama Atika dari belakang.
"Mau apa lo ke sini?! Apa nggak cukup buat gue sakit hati?"
Air matanya mulai menggumpal di area mata.
"Le," gumamnya pelan dan terheran.
Elee berbalik badan dan hendak kabur dari ruang tamu. Lelaki itu sigap berdiri dan mengejar Elee yang bersusah payah untuk berlari dengan mengenakan gaun dan sepatu tumit tahu yang ia kenakan.
Suara Mama Atika ikut heboh melihat keadaan tak sesuai harapannya.
"Le! Tunggu." Akhirnya, sebelum sampai di depan pintu, lelaki kuat itu mendapati lengan Elee.
"Lepaskan! Lo nggak berhak ada di sini. Gue nggak akan mau tunangan sama lo!"
Elee meronta-ronta dalam genggaman erat telapak tangan lelaki itu.
"Le, tolong kasi gue kesempatan buat jelaskan ke lo."
"Gue nggak mau." Elee tertunduk dan menangis, karena merasa nggak mampu untuk lari.
Dia tarik tubuh Elee yang memiliki tinggi yang hampir sama dengannya. Dia dekap dan menepuk pelan pundak Elee yang kini naik turun.
"Gue harap ... kali ini gue punya kesempatan buat ngejar lo, Elee."
Bersambung.
***
Duh, sepertinya aku bakalan stop cerita mereka dulu untuk sementara. Karena, aku mau menyelesaikan cerita yang ngegantung di K B M, sebelum tanggal 01 November nanti, aku bawa cerita baru yang berjudul Gravity Of Love di sini.
Itu kisah tentang malam panas antara Asad Banan dan Lovata Felysia.
__ADS_1
Jadi, nanti mereka akan beriringan. Nggak apa-apa, ya. Karena aku mau hiatus dulu dari aplikasi hijau.
Aku sarankan untuk simpan poin kalian, buat karya baruku nanti di sini. Dan itu kontrak lho di sini. Mohon dukungan kalian ya, biar nanti nggak sia-sia. Sapa tau aja, bisa masuk ke rank karya baru. Ngarep hahahaha. Makasih :)