Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Mau Apalagi Dia?


__ADS_3

"Kebersamaan ini harus dinikmati dengan sebaik mungkin. Itulah keluarga." ~ Arunika Baskoro.


...***...


Berada di GI—mall yang paling dekat dengan perusahaan miliki keluarga Suryo dan tempat di mana Arunika bekerja, menjadi tempat pilihan mereka untuk melakukan janji temu antar keluarga tanpa Papa Suryo. Pria itu mendapati tugas ke luar kota dan akan pulang nanti malam.


Hanya Erica, Elena, Mama Risa, Arun dan Adikara di sini. Mereka sedang kumpul dan makan bersama dengan menu pesanan masing-masing.


"Jadi, yang dikatakan Elena itu benaran? kalau Bang Adi sama Mbak Arun uda 100% jadi suami istri, nih?" ledek Erica yang kini duduk tepat di depan Adikara dan Arunika.


"Cintanya Mbak Arun, masih 40%," timpal Elena.


Kedua orang yang dimaksud sama-sama saling menatap satu sama lain. Adikara yang sedang mengunyah makananya tersenyum manja ke arah Arunika yang masih menatapnya dengan ekspresi malu, dan Adikara tau itu.


"Kenapa dengan ekpresi kalian berdua?" Mama Risa malahan terlihat ikut meledek keduanya.


Itu sungguh menggemaskan bagi Erica dan Elena yang sama-sama tau bagaimana sikap abang mereka selama ini.


Jarang sekali bercanda, jarang sekali tersenyum dengan manis dan jarang sekali mengekspresikan rasa sayangnya. Pun dengan mereka berdua. Meskipun begitu, Elena dan Erica tau, kalau kasih sayang Adika terhadap mereka benar-benar sanga besar.


Berbeda hal dengan sekarang. Melihat Adikara yang tidak sekaku dulu, tentu saja membuat keduanya senang. Bukan hanya Erica dan Elena. Mama Risa juga ikut turut senang atas perubahan Adikara selama menikah dengan Arunika.


Dia memang tidak salah pilih untuk meminta mendiang mamanya Arun menjodohkan mereka berdua yang ternyata adalah cinta pertama Adikara sendiri.


"Lihat saja itu, Ma, senyum-senyum sendiri si Abang. Mbak Arun malah malu-malu kucing. Senang dech lihat kalian berdua kayak gini. Semoga terus begini ya, Bang, Mbak. Jangan gado-gado lagi," saut Elena merasa bahagia.


"Kalau begado, tapi ujungnya fight di atas ranjang. Kenapa nggak?" ceplos Erica sesuka hati.


Plakkkkkkk ....


"Awwww!" pekik Elena seraya menyentuh kepalanya yang ditimpuk sama Mama Risa dengan buku menu. "Sakit tau, Ma."


Adikara tertawa bahagia. Meskipun Mama Risa terlihat berada di pihak adik-adiknya, tapi itu hanya kelihatannya saja. Adikara selalu saja mendapatkan pembelaan tanpa diminta olehnya.


"Kenapa kamu tertawa, Bang!" protes Erica kesal.


"Habisnya kamu itu ya, Ca. Nggak malu di depan Abang dan Mbakmu. Kamu itu masih kecil uda ngomong kayak gitu aja. Siapa yang ngajarin kamu?" tanya Mama Risa dengan mata kesalnya.


Erica mendengus. "Ma, Eca uda besar Bukan anak kecil lagi. Uda umur 20 tahun juga. Uda bisa dilepas di hutan belantara kali, Ma," kata Erica membuat Elena tersedak dari makannya.


"Kenapa jadi ke hutan sih, Ca? kek nggak ada tempat yang lebih baik apa?" protes Elena kembarannya.

__ADS_1


"Biar irit kali, ya?"


"Kalian berdua yang dari awal masuk ke restoran ini dan itu-itu aja yang kalian bahas. Mbak kali bisa malu lho. Ini urusan rumah tangga mereka, kenapa dibawa-bawa terus? Kalau mau nambah lagi 'kan jadi was-was kalau kayak gini," ujar sang Mama membuat Arunika semakin tak berdaya menghadapi kegilaan keluarga Adikara.


Arunika cuma bisa mendengar dengan senyum malu dan merasa tidak enakkan saja untuk membahas sampai ke hal-hal yang menurutnya tidak layak untuk dibagi bersama. Ingat, Arun nggak mau berbagi rasa.


Tapi ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Besok saat dirinya masuk bekerja, Arunika mungkin lebih dari ini diolok sama sahabatnya. Terutama Dita dan Elee. Ini sudah sangat jelas.


"Nggak apa-apa, Ma. Arun juga senang tuh digodain mereka kayak gitu," saut Adikara membuka suara seusai menyantap habis makannya.


Dia menatap Arunika yang juga ikut membalas tatapan Adikara, "iya 'kan, Sayang?"


"Cieeeeee ... uda pake sayang-sayangan ternyata," puji Elena heboh.


Mama Risa yang terlihat berbunga-bunga dan merona menatap anak dan mantunya itu tampak mesra.


"Iya, dong. Sudah seharusnya, dek. Dari pada dipanggil ayam dan pak tua? Rasanya sakit banget," sindir Adikara seraya menyentuh bagian dada.


Seluruh perempuan itu berkerut kening.


"Siapa yang panggil kamu ayam dan pak tua, Mas?" tanya Arun lupa ingatan.


"Iya, Di. Siapa yang panggil kamu kurang ajar kayak begitu?" tanya Mama Risa penasaran.


"Igh, nggak lucu, Bang. Siapa sih, jadi penasaran juga. Masa Bang Adikara kita yang tampannya melebihi gunung es di padang gurun, kok dikata ayam?" Elena mulai ngawur ke mana-mana.


"Apaan gunung es di padang gurun? punya kembaran kok gini amat, ya? malu gue," cerocos Erica mendapati bibir Elena yang memberut.


"Udaan kasi tau dulu. Siapa sih yang ngatain kamu kayak gitu, Di? Mama penasaran," desaknya.


"Siapa lagi kalau bukan dia yang mabuk di sampingku ini, Ma," sindir Adikara menahan tawa.


Arunika terjingkat kaget dengan mata yang membesar sempurna. "Aku?"


Adikara mengangguk dan tersenyum sambil menopang dagu menatap istrinya yang polos itu." Iya, kamu. Kamu bilang gini," Adikara membenarkan posisi duduknya untuk mengulang sesuatu yang barusan dia ingat sejak mereka berangkat menuju GI. "Menjauh dariku! Kau sangat berat ayam! pergilah ... pergi dariku."


Seketika itu juga Mama Risa terkekeh diikuti Erica dan Elena. Jatuh sudah harga diri Arun. Dia menunduk malu melihat tingkah keluarga sang suami.


Apalagi Adikara. Pria itu memang sangat berubah 180° dari sebelumnya. Benar-benar sangat malu, apalagi ketiga perempuan itu tertawa lepas hingga menarik atensi pengunjung restoran ke arah meja mereka.


Adikara merasa tidak tegaan melihat Arun yang diam dan menunduk malu. Dari belakang tubuh Arun tangannya merangkul pinggang sang istri dan berbisik, "kamu marah?"

__ADS_1


Arunika menoleh. Terilhat wajahnya itu sudah memerah bak tomat mateng, "nggak. Aku cuma malu, Mas. Kita di tempat umum lho. Malahan jadi bahan tontonan orang karena kamu melucu."


Kata melucu membuat Adikara kembali tersenyum, "kebahagiaan layak untuk dibagikan, Sayang. Jadi, hitung-hitung bonus buat malu mereka."


"Pada bisik-bisik apaan nih. Duh, kalian kok romantis banget sih sekarang, Bang. Aku 'kan jadi pengen. Jiwa jomloku merontan-ronta," ucap Elena memuji.


Tawa mereka menyurut sesaat sadar akan tatapan orang-orang, kini berganti tatapan memuji ke arah keduanya atas aksi Adikara yang gak malu-malu mempertontonkan kemesraanya bersama Arunika di depan mereka.


"Mau tau aja kamu. Masih anak-anak juga," celetuk Adikara.


"20 tahun uda dewasa ya!" protes Elena.


"Mas, aku mau ke kamar mandi," bisik Arunika.


"Aku temani."


"Mau ke mana, Di?" tanya Mama Risa melihat pergerakan anaknya.


"Arun mau ke toilet, Ma. Biar Adi aja yang temani," balasnya kini berdiri dan menanti Arunika keluar dari tempat duduknya.


Melihat kepergian Adikara dan Arunika, tampak membuat Mama Risa, Erica dan Elena benar-benar senang dan lega. Kompak, ketiganya memuji cara Adikara memperlakukan Arunika penuh mesra.


Ya, tangan Adikara terus melingkar di pinggang Arun saat berjalan melewati keramaian pengunjung restoran menuju ke kamar mandi. Dia tidak malu-malu lagi, pikir Mama Risa dan lainnya.


"Pegang dulu ya, Mas," Arunika menyerhakan tas tangan yang ia bawa tadi.


"Iya, hati-hati. Andai bisa masuk buat nemani kamu," jawabnya sambil menerima tas Arunika.


Arunika mengerutkan kening. "Maunya kamu." Adikara terkekeh.


Berlalunya Arunika ke dalam kamar mandi, menyisahkan Adikara yang berdiri tidak jauh dari pintu toilet bertuliskan woman.


Dering hape Arunika mengagetkannya. Merasa bising dan terus berulang-ulang berdering, Adikara memilih mengambil benda persegi dari dalam tas wanita itu.


"Zayn?" tanya Adikara sesaat mendapati layar hape milik Arunika.


"Mau apa lagi dia?"


Bersambung.


***

__ADS_1


Mau fight sama kamu, Mas kwkwkwkw.


Egh, mana dukungannya?


__ADS_2