Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Menggantungkan Hidup


__ADS_3

"Jika di awal, aku menganggap dia adalah sebuah kebetulan. Bagaimana dengan perasaan yang kini tumbuh sangat cepat?" ~ Adikara Suryo.


...****************...


Adikara bergeming. Matanya fokus ke depan jalan. Ia merasa tertekan dengan apa yang dia rasakan saat ini.


"Mas!"


"Aku bilang jangan bertanya apa pun soal wanita tadi! Kalau kau masih bertanya yang bukan-bukan, aku turuni kau di jalan!" ancam Adikara kini.


Mulut Arun mengaga tak percaya. Bola matanya terlihat tak bergerak sebelum berniat mengerjap dan mengalihkan pandangan ke arah depan. Arun sedikit menyayangkan sikap Adikara yang tak terbuka dengannya. Ya, Arun mulai memahami sosok Adikara di balik sikap diam pria itu.


"Ya udah ... kalau nggak mau jawab, nggak usah pake marah-marah segala kayak orang lagi datang bulan aja," gerutu Arun tanpa sadar mendapati lirikan Adikara. Mata Arun sebenarnya berkaca-kaca. Dia hanya tidak percaya, kalau pria yang pendiam itu bisa marah nggak jelas kayak sekarang.


Selang beberapa menit. Setir mobil dalam genggaman tangan Adikara berbelok memasuki perumahan. Mobil mewah itu berhenti sesaat di depan gerbang rumah. Adikara menyentuh tombol klakson sebagai pemberitahuan ke penjaga rumah. Gerbang yang menjulang tinggi itu pun terbuka lebar. Bergegas Adikara melajukan mobil masuk ke dalam.


Mobil baru saja menepi di area carport rumah dan mesin mobil belum sempat dimatikan Adikara, tapi Arun sudah lebih dulu menarik handle pintu dan keluar dari sana. Terdengar suara pintu yang ditolak kencang. Adikara menyoroti kepergian wanita itu dengan tatapan marah di wajah cantik Arun.


"Aku membuatnya marah," gumam Adikara lirih.


Keluar dari mobil dan membawa barang belanjaan ke dalam rumah, Adikara tak mendapati Arun di lantai satu. Sendirian pria itu mengeluarkan barang belanjaan dari pelastik ke dalam kulkas.


Perlengkapan Arun, pun dipisahkan Adikara untuk diberikannya nanti. Lima belas menit waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikan tugasnya. Merasa tak tenang, karena ia tidak melihat kedatangan Arun. Dia memilih untuk naik ke atas.


Sesampainya di dalam kamar, Adikara tak juga mendapati Arun di sana. Langkah kakinya mengarah ke kamar mandi dan mendapati pintu tertutup dari dalam. Adikara mendesahkan napas merasa lega. Satu langkah ke depan, Adikara menyentuh daun pintu.


"Run," panggil Adikara seraya mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari dalam.


"Hampir setengah jam di dalam, nggak mau keluar?" Adikara kembali mengetuk pintu.


"Aku lagi mandi."


"Nggak jadi makan?"


"Uda kenyang."


Jawaban singkat Arunika mengenyangkan perut Adikara seketika. Itu tandanya, wanita banyak bicara seperti Arun, sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Aku pesan makanan dari aplikasi, ya?"


Pintu terbuka memperlihatkan wajah Arun yang gak biasanya. "Aku gak mau. Kamu makan sendiri aja."


Arun berjalan keluar melewati Adikara yang sejak pertama mendapati dirinya mengarahkan pandangan ke wajahnya.


"Kau menangis?" Adikara menahan tangan Arun, tak membiarkan wanita itu pergi begitu saja.


"Nggak, cuma kelilipan doang," jawabnya dan menepis tangan Adikara.


Pria itu kini melihat Arun yang sudah berganti pakaian malah pergi keluar kamar. Sontak saja hati dan pikiran Adikara diselimuti ketakutan. Kedua kakinya berlari sekencang mungkin menyusul Arun yang tengah turun menapaki anak tangga.


Suara anak tangga yang bersentuhan dengan sandal rumah yang dikenakan Adikara menggema mengisi rumah penuh megah itu.


"Run?"

__ADS_1


"Kenapa, Mas? Kamu mau marah-marah lagi sama aku?"


Adikara gak berani mensejajarkan langkahnya di samping Arun. Dia mengekorinya dari arah belakang. "Tidak. Jangan marah lagi. Aku tau, kalau aku salah."


"Tumben?"


"Benaran nggak bermaksud. Jangan marah lagi ya."


"Aku lapar."


Adikara tersenyum tanpa disadarinya. "Aku pesan makanan dari aplikasi."


Arun menggeleng bersamaan mencapai anak tangga terbawah. "Aku mau masak sendiri aja."


"Aku bantu."


"Nggak usah. Aku mau mogok ngomong sama kamu, Mas. Ternyata, kamu bisa marah juga. Padahal, aku cuma tanya sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Aku juga sempat berpikir di kamar mandi. Ternyata, pria sepertimu yang susah diajak ngobrol pasti bakalam susah untuk marah. Biasanya kamu ngeselin, tapi nggak pernah sampai bentak-bentak aku. Kalau kamu lelah dengan aku yang kayak gini, tinggalkan aja aku, Mas. Aku udah terbiasa sendiri," ucap Arun terus berjalan ke arah dapur. Dia s


ama sekali tak berniat menoleh ke belakang.


Mendengar penuturan Arun barusan, sukses menghentikan kedua kaki Adikara. Netranya menatap punggung Arun yang kian lama menjauh dan hilang berbelok ke arah dapur.


"Bagaimana ini?" Ada rasa lain yang mendera di hati dan pikirannya. "Apa aku melakukan kesalahan besar?"


Perasaan tumbuh karena kebiasaan. Dan sekarang, Adikara malah kejebak dengan jalan yang ia pilih sendiri dari masalahnya 4 tahun yang lalu. Perlahan-lahan Arun mengusik kehidupannya sekarang. Tentu saja dia tahu tanpa harus berpikir keras.


"Kamu jadi makan apa nggak?" tegur Arun merasa bersalah dengan kata-katanya tadi. Dia gak sangka, kalau respon sang suami segitunya. Adikara tersadar dan membalas tatapan Arun. Seulas senyuman terbit di sudut-sudut bibirnya. "Tentu saja."


Lega. Adikara merasa rohnya kembali, kalau mendengar ocehan Arun yang panjang lebar. Meskipun, wanita itu masih marah dengannya, tapi kenyataannya Arun tetap memberikan perhatian tulus.


Adikara menggeleng dan memaju langkah mendekatinya. "Bukan seperti itu. Berjanjilah agar tidak meninggalkanku dalam keadaan apa pun nantinya, Run."


Tangannya menyentuh pergelangan Arun. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan mata, karena kager dengan sikap Adikara malam ini.


Arun mengangguk. "Tidak akan pernah, Mas."


Keduanya pun melanjutkan tujuan mereka. Masak dan menyantap makan malam pertama di rumah yang barusan mereka tempati untuk membangun rumah tangga bahagia.


***


Habis sudah masa cuti Arun. Seminggu menikah dengan Adikara, akhirnya ia kembali ke habitatnya sebagai karyawan di perusahaan SO Corp, milik keluarga Adikara.


"Selamat pagi, Mas," sapa Arun mendapati Adikara turun masih muka bantal.


Mengenakan kaus oblong putih dan celana karet panjang, rambut juga tampak masih acak-acakkan, Adikara berjalan ke arah meja makan sambil  menguap.


"Pagi. Kau mau ke mana?" tanyanya dan menarik salah satu kursi yang bersisian dengan meja makan.


"Kerja. Cuti nikah hanya satu minggu, Mas. Apa kamu nggak kerja, Mas?" Arun meletakkan satu piring kaca di depan Adikara. Satu gelas berisi susu putih hangat di samping kanan piring.


Adikara menggeleng. "Aku kerja dari rumah. Ganti pakaianmu."


Arun yang masih berdiri itu memiringkan kepala seraya mengerutkan kening. "Kenapa dengan bajuku?" Arun menoleh ke arah kemeja putih sifon yang cukup menerawang sebenarnya. "Terus ... Kerja apaan kamu, Mas? Kerja dari rumah dan punya rumah sebesar ini kamu kerja apaan? Aku yang kerja uda empat tahun aja, mobil pun tak terbeli. Lho, kamu?" tunjuknya ke Adikara. "Kamu nggak ngepet 'kan, Mas?"

__ADS_1


Adikara yang barusan meneguk air putih hampir saja tersedak. Kadang Arun mulutnya nggak bisa direm. Remnya blong setiap saat. Minta diservice kali.


"Kau pikir aku gila apa?"


Arun mengangguk. "Siapa tau, 'kan?"


"Jangan ngomong sembarangan. Sekarang duduklah. Habiskan sarapanmu. Aku yang antar ke perusahaan," tawar Adikara.


Bola mata Arun berbinar dan melebar. "Serius, Mas? Agh, jadi malu. Entar dilihati orang-orang gimana?"


Arun pun duduk masih tak percaya oleh kata-kata Adikara barusan.


"Serius. Aku antar, tapi nggak usah keluar dari mobil kalau kau belum siap go public," ucap Adikara kini menyendok lauk ke atas piring.


"Tidak begitu. Aku hanya takut, kalau Mas Adikara yang malu nikah sama aku."


Adikara menarik wajahnya ke depan. "Siapa yang malu?" beonya.


"Kamu," balas Arun dan melengos. Buru-buru tangannya menyentuh alat makan.


"Aku itu beruntung. Siap makan, gantilah pakaianmu. Aku agak risih," jawab Adikara menatap ke bagian dada Arun dan kembali menatap makanannya untuk memulai santap pagi.


Arun sempat terdiam sesaat, kemudian berkata, "baiklah. Aku ganti setelah ini."


Sudah keharusan bagi Arun menuruti ucapan suaminya. Meskipun dalam pikiran Arun—suaminya itu katrok soal pakaian, dia tetap saja menurut. Itu adalah janjinya ke sang mama.


***


Perusahaan SO Corp.


Mobil MVP silver yang dikemudikan oleh Adikara, kini terhenti di lapangan parkiran. Adikara sekilas menoleh ke Arun yang sudah bersiap untuk turun dari dalam mobil. Rambut panjang yang biasa digerai Arun, kini diikat rapi dalam satu kunciran ke belakang. Adikara tau betul, gaya rambut model itu menjadi kebiasaan Arun setiap hari bekerja.


"Aku pergi ya, Mas," katanya sembari mengulurkan tangan ke Adikara.


Adikara tersadar. Ia sempat berdiam. "Agh, iya. Semangat kerjanya."


Membalas jabatan tangan Arun, wanita itu pun mengecup punggung tangan suaminya.


"Makasih, Mas. Jangan lupa makan siang. Aku udah siapkan semuanya tadi," kata Arun. Senyumnya melebar. Tampak sangat girang.


Adikara tak lagi pelit dengan senyuman, meskipun itu samar. "Iya, Pulang nanti aku jemput."


Arun mengangguk sangat cepat. "Baik, Mas. Bye ...."


Turun dari mobil, Arun masih melambaikan tangannya ke Adikara, dengan senyum yang terukir di wajahnya pula. Tanpa disadari pria itu pun membalas lambaian tangan Arun. Setelah kepergian Arun menyisahkan bau parfum jenis musk di mobil Adikara, perasaan pria itu ada yang kurang sekarang.


"Apa sekarang aku benar-benar menggantung hidupku padanya?" gumamnya pelan sembari menyoroti tubuh Arun yang hampir menghilang dalam jarak pandangnya.


...Bersambung....


...****************...


Kak putu mecahkan rekor ^^

__ADS_1


Nah, tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya.


__ADS_2