
"Bukan keinginanku untuk mengorbankan perasaan demi sesuatu yang sia-sia." ~ Adikara Suryo.
...****************...
Spam komen sampai 100, aku update 1 bab lagi. Bisa yuk ^^
...****************...
"Kau sedang apa?" Teguran barusan bukan hanya menghentikan tangan Arun dari aktivitasnya, tapi menarik atensi Arun ke arah belakang tubuhnya.
"Sedang bernyanyi. Tidak bisakah melihat aku lagi ngapain, Mas?"
Arun sedang membersihkan beberapa tanaman di pot samping rumah mereka. Sengaja, karena dia sedang menghindar dari Adikara yang terus berada di kamar tak berpindah tempat dari duduknya di atas tepian ranjang. Arun tidak bisa bernapas lega, jika harus belama-lama di dalam kamar dan berdiam saat berada di atas ranjang yang sama.
Tadinya, Adikara sempat kewalahan mencari wanita itu ke penjuru rumah. Malahan yang dicari itu sedang beberes tanpa diminta atau disuruh Adikara. Itu udah malam, tak lazim menurut Adikara.
Adikara bersedekap. "Kau sedang menghindariku?"
Bola mata Arun berkeliling. Tangannya terhenti dari atas pot dan sejenak berdiam sebelum memutar kepala dengan bibir yang dimajukan hingga kedua pipinya mengembang.
"Tidak. Perasaan kamu saja," balasnya malas.
"Kalau gitu masuk."
"Ini masih kotor, Mas."
"Besok pagi pekerja di rumah ini datang."
"Terus ... tugasku di sini apa?"
Keduanya saling menatap dalam diam. Arun yang masih berjongkok pun ikut diam sesaat tanpa melepas pandangannya dari kedua iris Adikara.
"Kau hanya bertugas mengurus suamimu."
Arun tersenyum. "Benarkah?"
"Ya, kemarilah. Bersihkan tanganmu, temani aku berbelanja."
"Ok, suami bos!" balas Arun senang. Dia berdiri dan mendekati Adikara yang menanti kedatangannya. Bersama-sama mereka berjalan masuk ke dalam rumah untuk bersiap pergi.
Melintasi jalanan ibu kota malam ini, Adikara mengemudikan mobil dengan ditemani istrinya. Kalau biasanya di jam tujuh malam, Adikara berada di ruang kerja tidak untuk malam ini. Arunika Baskoro menemani kesendirian pria itu sekarang. Menggantikannya dengan suara wanita yang tiada henti berbicara sejak mereka keluar dari rumah. Lantas, itu yang ia sukai dari Arun sejak mereka menikah dan bersama.
Biasanya pria itu menyukai suasana hening dan sunyi. Adikara tidak suka mendengar orang-orang yang banyak bicara terkecuali mama Risa . Berbeda dengan hidupnya yang dulu dengan sekarang, dia seperti kena karma yang membenci orang-orang berisik. Dan sekarang, dia menyukai satu ciptaan Tuhan seperti Arun. Sangat berbanding balik dengan dirinya sendiri.
"Mas ...."
"Hemmmm?"
"Kenapa dari tadi diam aja, sih? Apa sekarang Mas yang menghindariku?"
Ingin sekali Adikara tertawa. Kepolosan Arun terkadang menyiksa batinnya.
"Tidak. Aku anggap kau sedang bernyanyi."
"Apaan? Aku dari tadi kumur-kumur, Mas," balasnya sedikit kesal. "Sama kamu lho aku ngobrol, Mas. Itu lho, sejak kapan Mas tinggal di Kemang. Sendirian pula? Apa selama ini Mas gak punya teman? nggak punya kekasih? Atau ... gadis yang Mas cintai sebelum menikah denganku gitu? Apa Mas selama ini normal?" untuk sekian banyaknya pertanyaan yang keluar dari mulut Arun, untuk pertanyaan yang terakhir kalinya pula sukses membuat mata Adikara nyalang ke arahnya.
Arun merasa salah bicara. Dia pun tertawa kecil seperti orang yang meringis kesakitan. "Ampun, Mas."
__ADS_1
"Kau terlalu banyak bertanya hari ini."
"Tapi tak satu pun kamu menjawab, Mas."
"Kau mulai tertarik denganku?"
"Tentu saja. Aku akan menua denganmu, Mas. Apa kamu berencana meninggalkanku?"
"Tidak akan mungkin," gumamnya pelan.
"Kalau begitu ... aku akan mencari tau sendiri tentang kamu, Mas." Arun kembali mengarahkan tatapannya ke depan jalan. Dia menyerah sekarang. Rasa keingintahuannya tentang Adikara sangat besar, tapi pria di samping seoalah-olah tak memberi jalan.
Adikara sendiri menegang di posisinya. Diam adalah senjata terbaik bagi pria irit bicara sepertinya. Tidak butuh waktu lama untuk Adikara menepikan mobil di parkiran bawah tanah salah satu mall dekat kediamannya. Bersama Arun, dia menyusuri keramaian pengunjung. Hingga mereka tiba di tempat perbelanjaan kini.
"Beli stok masakan," kata Adikara sembari mendorong troli ke arah etalase bahan masakan.
"Aku nggak bisa masak, Mas."
"Jangan bohong."
Arun mendelik. "Kamu tahu, aku bisa masak, Mas?"
Adikara mengangguk samar tanpa merubah tatapan. Tangan satunya sibuk melihat sayuran hijau yang dibungkus rapi dalam kemasan plastik. "Aku tahu."
"Dari mana?" Arun sama sepertinya. Mengambil salah satu jenis sayuran lainnya dan melihat-lihat sejenak.
"Aku melihatnya dari akun sosmedmu." Dia melemparkan satu bungkusan sayur ke dalam troli.
Arun menoleh. "Kamu penguntit, Mas?"
"Bisa dikatakan seperti itu," balasnya kemudian mendorong troli meninggalkan Arun.
"Jangan banyak tanya. Percepatlah memilih."
Auri memberutkan bibir. "Kamu menggemaskan, Mas."
Arun memilih mendahului Adikara dan mengambil beberapa yang ia perlukan di dapur. Bahan makanan dan beberapa peralatan untuk memasak, serta meminta Adikara menemaninya membeli sabun pembersih wajahnya yang hampir habis dan keperluan pribadi lainnya.
"Aku akan membayar sendiri barang-barang yang kuambil," ucap Arun seraya memisahkan keperluan pribadinya dengan belanjaan rumah.
Adikara mengening melihat sikap aneh Arun. "Kau ingin membuatku malu?"
Rambut panjang yang dibiarkan tergerai oleh Arun ikut tersingkap ke arah gerak tubuhnya menoleh tatap ke Adikara. "Malu gimana, Mas?"
"Aku suamimu, Run. Biar aku yang bertanggung jawab atasmu. Letakkan," katanya dengan tegas.
Arun tak lagi bisa berkata-kata. Setelah meletakkan barang yang sempat ia genggam, kini dia hanya berdiam diri di depan Adikara menunggu antrian kasir.
"Kau ingin makan apa?" sekilas Adikara menoleh ke Arun yang sejak tadi hanya diam.
Wanita di sampingnya mengedikkan bahu. "Entahlah. Terserah Mas aja."
Tidak lagi bertanya, keduanya hanya diam dan berjalan ke depan. Adikara tahu, ke mana mereka makan malam ini.
Brug ....
"Agh, ma-maaf," kata Arun ketika ia menabrak tubuh seseorang dari arah berlawanan. Adikara yang sempat menoleh ke sisi lain melihat-lihat kaget mendengar suara Arun.
__ADS_1
"Ti-tidak apa-apa, Mba, saya yang salah," balas si penabrak dan refleks ikut berjongkok membantu Arun yang memunguti barang belanjaan si penabrak.
"Saya yang salah, Mba. Nggak lihat-lihat."
Sekilas si penabrak melirik ke wajah Arun dan melirik ke Adikara yang menjadi patung di posisinya. Bola mata pria itu melebar sempurna kini.
"Sudah semua. Sekali lagi, saya minta maaf ya, Mba."
Si penabrak berdiri dan menerima kantung pelastik dari tangan Arun. "Terima kasih, saya yang minta maaf."
"Ayo," ajak Adikara tiba-tiba. Ia pun bergegas pergi.
"Kau tidak ingin mengenalkannya ke aku, Dik?" Kedua mata Arun seolah terhenti, saat gadis di sampingnya mengenal sang suami. Melihat kepergian Adikara dan kaki yang terhenti karena pertanyaan dari gadis asing itu, Arun yakini kalau mereka saling mengenal.
Adikara berbalik tanpa menatap sedikitpun melepas tatapannya dari Arun. "Aku bilang jalan."
Arun tersadar. "A-agh iya. Maaf ya, Mba, aku pamit dulu."
Senyuman terulas dari sudut bibirnya dan mengangguk ramah ke Arun. Adikara lebih dulu memaju langkah. Hampir saja, Arun tak bisa menyamakan langkah lebar dari pria itu. Sedikit bingung dengan perubahan Adikara yang tak biasa. Arun memilih membisu di samping pria itu.
"Mas ... kita mau ke mana sekarang? Kakiku udah sakit," teguran Arun berhasil menghentikan kedua kaki Adikara. Sejak tadi, dia tidak konsen hingga tak menyadari keberadaan Arun di sampingnya.
Perlahan ia bergerak menatap Arun yang memang tampak kelelahan. Wanita itu sedang menyesuaikan napasnya.
"Maaf, Run."
"Kenapa sih, Mas? Siapa wanita tadi? Kenapa nggak menyapanya kalau kenal?"
"Bukan siapa-siapa. Ada baiknya kita pulang sekarang," balas Adikara datar dan kembali melanjut langkah.
"Egh, tapi kita mau makan malam? Gimana, sih?"
Tidak mengindahkan pertanyaan Arun, Adikara terus melangkah pergi ke arah lift dengan membawa dua kantung besar belanjaan mereka. Arun tak membawa apa pun, karena Adikara sendiri yang memintanya.
Sampai di dalam mobil, tidak juga ada pembicaraan dari keduanya. Arun semakin bertanya-tanya tentang wanita tadi.
"Dia berubah aneh sejak bertemu wanita asing tadi. Apa mereka saling kenal? Atau jangan-jangan ... dia mantannya Mas Adikara?"
Sekilas Arun melirik Adikara yang kini mengemudikan mobil keluar dari ruang parkiran bawah tanah hingga menembus jalanan malam ibu kota.
"Mas ...."
"Kalau kau ingin bertanya tentang wanita tadi! Aku rasa lupakan saja!"
Suara Adikara sedikit meninggi menelusup masuk ke indera pendengaran Arun. Untuk pertama kalinya, Adikara marah betulan. Sebelumnya, ia merasa tak pernah pria itu menaikkan intonasi nadanya seserius malam ini.
"Kenapa marah-marah, sih? Aku salah apaan?" tanya Arun polos dengan mulut yang memberut.
Adikara mengerjapkan mata. Perkataan Arun membuatnya sedikit sadar, kalau dia sedang keterlaluan.
"Maaf."
"Dia mantan kekasihmu, Mas?" tembak Arun seketika.
...Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Spam komen sampai 100, aku update 1 bab lagi. Bisa yuk, samain likenya. Like 150 nembus, tapi komennya gak sampe segitu. Komentar kalian semangatnya aku, kalau cerita mereka ini memang ditunggu apa nggak ^^