
"Berharap itu bukan kamu, tapi faktanya memang kamu." ~ Arunika Baskoro.
...****...
Masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai ruangannya, Arunika mencoba menenangkan diri sejenak. Sembari memeluk laptop, tangan kanannya mengusap setiap buliran air mata yang jatuh. Terlihat pantulan diri dari depan pintu lift. Itu terlihat menyedihkan.
Arunika sempat terisak sesekali, sebelum kembali menguasai diri saat benar-benar tiba di lantai ruangannya.
Suara lift terbuka pun terdengar. Satu kali lagi, Arunika menarik napasnya dalam-dalam. Rasa getir dan kekecewaan menjadi temannya berjalan melewati setiap kubikel dengan wajah yang ia sembunyikan sedemikian rupa. Beruntung, karyawan di perusahaan ini tak tau, kalau dia adalah istri Adikara.
"Lo kenapa, Run?"
Arunika terhenti, mendapati Gala yang datang dari arah berlawan antara lorong arah ruangan mereka dan toilet. Bola mata Arun sempat berkeliling menutupi kesedihannya sebelum benar-benar bisa memberikan jawaban.
"Gak apa-apa, Kak." Dia tersenyum palsu.
Gala memandangnya miris, kemudian menarik napas sejenak sebelum dia memaju langkah mendekati Arun. Gala menarik laptop dalam dekapan Arun untuk diabawa. Tangan kanan Gala merangkul pundak Arun seraya mengajaknya untuk kembali melanjut langkah menuju ruangan.
"Ok. Gue nggak akan tanya apa pun tentang lo atau tentang pak presdir yang nyatanya suami lo sendiri. Atau ... tentang mimpi yang pernah lo inginkan sejak 4 tahun yang lalu. Yang ingin gue tau sekarang itu keadaan lo, Run. Lo baik-baik aja, 'kan?" Gala melirik ke Arun yang memilih berdiam diri tak berani membalas tatapan Gala.
"Gue baik kok, Kak."
"Berarti itu tandanya gak baik-baik saja. Sudalah ... ada baiknya kamu izin pulang dulu, Run. Setelah ketemu sama Bu Yanti. Pasti dia marah besar sama kamu."
Arun mengangguk kepala. "Nggak masalah, Kak."
"Runnnnnn!" panggil Ettan dengan wajah yang memberut sedih. Lelaki itu berdiri di depan pintu ruangan mendapati keduanya mendekat.
"Kenapa, Tan?" Yang lainnya pun ikut keluar memberikan pelukan.
"Lo ada masalah ya sama suami, lo?" Dita memeluk Arun. "Katakan sama kita, Run. Biar kita yang lawan."
"Jangan! Kita harus buat Arun dan suaminya kembali rujuk. Bukan makin bertengkar," saut Elee tak setuju.
"Tapi ini gak adil buat Arun, Lele. Ini kebohongan namanya." Ettan protes tak terima.
"Udalah. Kalian jangan buat dia tambah pusing. Masuk dulu." Gala kembali menarik pundak Arun untuk memaju langkah ke dalam ruangan. Yang lain pun mengikuti.
Waktu berlalu sangat cepat. Arun memilih untuk izin seusai kena ceramah oleh Bu Yanti dan atasan dari Divisinya, karena tidak bertanggung jawab atas kerjaannya dan meninggalkan ruang rapat di depan para petinggi perusahaan.
Keluarnya Arun dari perusahaan, bukan berarti tidak diketahui oleh Adikara. Dia mendapati info dari asisten pribadinya, kalau Arun kena teguran oleh atasannya dan izin dari kerjaan.
"Apa saya harus menikuti Bu Arun, Pak?" Marco berbicara lewat hapenya. Dia sejak tadi ditugaskan untuk memperhatikan Arun dari kejahuan.
Adikara mengangguk dalam posisinya. "Boleh. Tolong kabari saya ke mana Arun pergi, Marco."
"Siap, Pak."
Menyudahi panggilan dari Marco yang sejak tadi memantau Arun, kini pria itu memilih memandang jauh ke arah pemandangan kota Jakarta, yang ia lihat di balik jendela berbahan kaca ruangannya.
Sejenak dia menarik napas dalam-dalam. Menyilangkan kedua tangan di atas dada. Matanya fokus ke depan, tapi kosong seperti pikirannya.
Bagaimana aku harus memulainya?
Sesuatu yang dimulai dengan tidak baik, apakah bisa berakhir baik?
Itu keraguan Adikara sejak sebelum keadaan hubungannya dan Arun menjadi rumit.
***
Arunika berhenti disalah satu tempat nongkrong terbaik yang pernah ia kunjungi di saat-saat waktu luang. Kona Beans namanya. Pelan ia mendorong daun pintu dan disambut ramah oleh para karyawan cafe yang cukup mengenal dia dengan baik.
"Selamat datang kembali, Mbak Arun," sapa salah seorang staff lama dari kafe.
__ADS_1
Arunika yang lesu menoleh ke arah staff dan refleks menarik sudut bibirnya. "Hay, Mar. Apa kabar?"
"Baik, Mbak. Sendiri Mbak? Uda lama gak ke sini," jawab Maria, si staff yang paling ramah dan mengenal Arunika sebagai pelanggan tetap kafe.
Arunika kembali mengulas senyuman, sebelum datang mendekati Maria dan sama-sama berjalan ke arah etalase. "Aku nunggui seseorang, Mar."
"Ok, Mbak. Uda makan siang, Mbak?"
"Belum. Aku mau pesan apa, ya?" Dia menatap satu persatu isi dalam etalase. Banyak macam jenis cake dan roti. "Kayak biasa aja dech, Mar."
Maria tersenyum. "Menu andalan ya, Mbak? Minumannya juga sama 'kan, Mbak?"
Arunika mengangguk kepala. "Iya. Aku duduk di tempat biasa. Nggak ada orang, 'kan, Mar? Kalau ada pun aku duduk tempat lain aja."
"Saya lihat dulu ya, Mbak. Pesanan Mbak Arun uda disampaikan ke bagian kasir." Arunika mengangguk kepala mengiringi kepergian Maria.
Tidak beberapa lama setelah membayar pesanannya, Arunika membawa nampah berisi satu slice cheesecake dan cokelat panas. Bersamaan itu pula, Maria kembali datang.
"Gak ada orang kok, Mbak. Bisa langsung duduk," kata Maria kembali memberitahu. "Sini, biar saya aja yang bawa, Mbak."
"Gak apa-apa, Mar. Aku aja. Kamu balik kerja aja. Makasih ya, Mar."
"Baiklah, Mbak. Selamat menikmati," katanya mendapati senyuman Arunika.
Tempat di bagian tengah dekat dinding kaca mengarah pada jalanan kota Jakarta adalah tempat favorit Arunika. Ya, baginya kesendirian seperti ini bukan kali pertama yang ia alami. Sedihnya memang bukan hal mudah untuk dijalani atau dilalui secepat membalik telapak tangan.
Bukan 35% lagi rasanya. Ini sudah 100%.
Arun duduk dengan suapan pertama dari cakenya. Bola mata hitam legam yang meredup mengitari lalu lalang jalanan kota yang padat siang itu.
Banyak pengunjung datang untuk makan siang. Pun dengan sekitaran kafe lainnya menjadi hilir mudik tempat para karyawan kantoran untuk menghabiskan jam istirahat.
Berharap mendapatkan jawaban yang tidak sesuai kenyataannya.
Panggilan seseorang melempar Arun kembali ke alam sadarnya. Sempat menikmati cheesecake, kini matanya melotot dalam diam mendapati sosok Zayn (aku uda rubah nama mantannya^^)
"Hey? Kok melamun?"
"Agh, maaf, Buaya. Duduklah ...."
Zayn menarik napas dalam-dalam. "Kamu nggak mau ganti nama aku dengan sebutan yang lain?"
Arun menggeleng dan masih tak berniat menatap pada Zayn. "Aku gak bisa. Kamu memang buaya setelah memutuskanku tanpa alasan yang gak bisa kuterima."
Zayn yang udah duduk di hadapan Arun, kini menatap sendu ke arahnya. Dia memang tak menampik, betapa baiknya Arunika selama menjadi kekasihnya. Bahkan, Arun tak pernah menuntut apa pun ke Zayn saat mereka bersama dan jarang bertemu.
Jarang bertemunya mereka selama bersama, bukan karena kesibukan Zayn yang menjadi alasan yang dimaksud pria itu ke Arun. Alasannya sederhana. Zayn benar-benar takut jatuh cinta pada Arun melebihi rasa cintanya ke Violet.
Pantesan saja Adikara bisa mencintai Arun sejak pertama kali mereka bertemu. Zayn yang awalnya cuma ingin mendekati Arun untuk membuat Adikara menyesali perbuatannya sempat menaruh setengah hatinya pada wanita di depan ini.
"Kenapa kamu natap aku kek gitu banget? Lupa, kalau kamu uda jadi suami orang?"
Zayn tersenyum lalu bertopang dagu membalas tatapan kesal Arunika. "Kamu makin cantik, Run. Semakin baik dan semakin dewasa. Kenapa aku dulu gak bisa menggantikan sosok yang sekarang denganmu ya?"
Arunika mendesahkan napas dalam-dalam. "Jangan gombal! Aku ke sini bukan untuk mendengar ucapanmu yang gak berguna itu!"
Pria itu tertawa. "Terus ... apa yang mau kamu tau dari aku? Adikara?"
Arun menggangguk kepala. Tangannya mencengkaram erat kedua pahanya di bawah meja. "Bener. Apa hubungan kamu dengan Adikara? Terus ... Violet."
Tidak langsung menjawab pertanyaan Arun. Zayn masih menatap dalam kedua iris wanita di hadapannya. Ada ketakutan dan keraguan dia selami di sana. Itulah Arun yang polos.
Merasa nggak bisa menghindar dari tatapan Zayn. Arunika memutus kontak mata mereka terlebih dulu. Walaupun tak ada cinta yang tulus dari Zayn untuk Arunika, pria itu sangat tau betul bagaimana seorang Arun.
__ADS_1
"Kamu yakin memang mau tau dari aku?" Zayn kembali memastikan.
"Iya. Mas Adikara nggak mau kasi tau soal kalian. Lebih baik aku tau langsung dari sumber utamanya. Kamu. Bisa?"
"Kamu bakalan lebih membenci aku, Run. Pun dengan Adikara. Aku gak apa-apa. Kalau Adi? Dia baru aja jadi suami kamu, 'kan? Baru mau tiga bulan. Aku rasa lebih baik tau dari dia langsung."
"Aku mau tau dari kamu! Jangan buat aku semakin bingung, Zayn!" Arunika akhirnya meluapkan emosi dalam ketakutannya.
Zayn terkesiap mendengar suara tinggi Arunika. Bagi Zayn itu adalah hal yang langkah dan tak pernah terjadi.
"Buruan, Zayn," desak Arunika lagi. Ada getaran dalam ucapannya. Area mata Arunika memerah menahan gumpalan cairan bening.
"Baiklah. Kalau ini memang pilihanmu, Run." Zayn membenarkan duduknya terlebih dahulu. "Pada awalnya, aku mendekatimu karena Adikara berpacaran dengan Violet. Yang kutebak, Adikara menikahimu karena aku menikah dengan Violet."
Arunika mengedipkan mata menyalurkan rasa sedihnya dari air mata yang kini jatuh membasahi pipi. Dia tertunduk dan tersenyum getir kemudian. Bukan jawaban yang seperti ini Arun mau.
Nggak bisakah di luar dari kenyataannya?
"Sebrengsek itukah kalian?"
"Maafkan aku, Run."
"Tidak perlu lagi, Zayn. Semua uda berlalu. Tapi ... aku benar-benar gak sangka dengan kalian."
Zayn mengambil tisu yang ada di atas meja. Ia serahkan ke Arun. "Hapus dulu air matamu."
"Lalu? Violet?" Arunika mengusap air matanya dan kembali menaikkan wajah untuk menatap Zayn.
Pupil Zayn mengembang mendapati setiap gerakan tubuh dan mata Arun yang tampak tidak sebaik di awal.
"Violet? Sebenarnya ... Adikara nggak benar-benar berhubungan sama Violet, Run. Maksudku, bukan pacaran yang kayak kita dulu. Ini agak rumit sebenarnya. Aku yang menebak kedekatan mereka dari unggahan foto di sosmednya Violet. Tapi pada kenyataanya, Violet gak mendapatkan hal yang sesuai dengan perasaannya sama Adikara. Adikara cuma sayang karena merasa Violet itu butuh sosok laki-laki buat lindungi dia. Yang dicintai Adikara cuma kamu."
"Gak mungkin," tepis Arun cepat. "Kalau dia mencintaiku kayak kamu katakan, kenapa dia marah saat aku tanya tentang Violet. Waktu kami nggak sengaja ketemuan di mall dengan Violet, terus nomor hape Violet dengan wallpaper mereka berdua dan foto kalian yang aku dapatkan di bukunya. Apa itu yang namanya cinta, Zayn? Aku jadi pelarian kalian berdua karena Violet! Karena istri kamu." Runtuh sudah pertahanan Arun di depan Zayn. Dia kembali menangis tersedu sedan.
"Benar. Kamu memang pelarian kami berdua. Tapi pada awalnya, Adikara menyukaimu saat pertama kali kalian ketemu di sekolah yang sama."
Arunika menarik wajahnya seiring dengan isak tangis yang terhenti. "Dari sekolah yang sama?"
Zayn mengangguk. "Iya. Kamu nggak tau?"
"Nggak pernah tau. Mas Adikara sangat tertutup. Dia punya dunianya sendiri yang gak bisa kumasuki, Zayn. Apa aku layak disebut seorang istri?" Cairan bening kembali tertumpah mengaliri kedua pipinya.
"Jangan menangis, Run. Mungkin, Adikara masih belum benar-benar terima keadaan."
"Keadaan apa, Zayn?"
"Keadaan yang sempat membuatnya menyerah atasmu karena kelakuanku, Run. Aku menghancurkan harapannya. Saat hatinya mulai diisi sama Violet dan dia melepasmu untukku, Adikara malah kehilangan Violet. Tidak beberapa lama kami menikah. Mungkin, inilah yang membuat Adikara bingung. Kembali ke belakang. Saat itu, saat aku memutuskanmu dengan alasan pacaran sama Laudia di kafe dekat kantormu, tanpa kita sadari, Adikara ada bersama kita saat itu"
Arunika semakin terkejut akan penuturan Zayn.
'Ada bersama kita'
Arunika mencoba mengingat saat-saat, Adikara dan dia berada di kamarnya setelah kepergian sang mama.
Pria itu mendapati foto Zayn dan dia merasa terusik. Di sanalah dia paham, bagaimana Adikara tidak menyukai dirinya yang menangis. Bukan tanpa alasan. Arunika masih ingat jelas, bagaimana hancurnya dia ditinggal Zayn saat itu.
Bersambung.
***
Masih adakah maafku dari kalian? tanya Adikara pada pembaca ^^
.
__ADS_1
Heyyy ini 1.800 kata. Mana dukungan kalian dan komentar kalian. Yuk, pecahkan sampe 100 per bab ini ^^