Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Peperangan Jilid 1


__ADS_3

"Kata maaf pun tak bisa mengahapus lukanya." ~ Adikara Suryo.


...----------------...


Arunika menatapnya dan mengangguk kepala. Setelah itu, Adikara kembali memaju langkah keluar dan menutup pintu. Ada panggilan penting yang harus dia terima.


Arun meletakkan laptopnya di sisi meja. Manik hitam dibalik bulu matanya yang lentik itu, Arun mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan.


Dia tampak terpukau mendapati interior di setiap ruangan Adikara. Ada banyak buku tersusun rapi pada rak gantung. Lukisan serta foto keluarga Adikara juga menjadi penghias ruangan. Arun merasa suasana ruang kerja Adikara tampak menggambarkan dirinya yang penuh rahasia dan irit bicara. Sederhana, tapi berkesan.


Berbalik lagi ke depan, ekor mata Arun berakhir pada buku yang tergeletak di atas meja Adikara. Itu seperti sebuah novel lama. Ia memiringkan kepala sejenak.


Arun yang merasa penasaran dengan judul di atas sampul, pun mengambilnya. Dia melupakan perkataan Adikara tadi.


"Sayapku Yang Patah," kata Arun membaca. Novel itu lumayan tebal isinya.


Merasa ada yang mengganjal di bagian halaman tertentu, kening Arun mengerut. Perlahan, dia membuka lembaran itu. Tidak disangka, Arun mendapati beberapa lembar foto terselip di balik halaman.


"Zayn dan Violet?" gumamnya. Dia membalikkan foto lainnya. "Mas Adikara dan Violet?"


Foto kedua menunjukkan kemesraan Adikara dan Violet. Lama, Arun menatap pada foto Adikara yang tampak bahagia dalam pelukan Violet. Berbeda dengan Adikara yang bersamanya sekarang. Tapi ada keanehan dari foto ketiganya.


Tiba-tiba aja Adikara masuk ke dalam ruangan dan menatap Arun. Dia dapati wanita itu diam dengan buku miliknya. Secepat yang Adikara bisa berjalan dan menarik kasar buku tersebut dari tangan Arun seraya menutup halaman buku.


"Apa kau gak punya sopan santun?! Dengan sembarangan menyentuh barang yang bukan milikmu. Bukankah tadi sudah kuperingatkan padamu, jangan menyentuh apa pun yang ada di sini! Kau tuli? Jangan berlaku senaknya kayak gini. Kau pikir kau siapa?!"


Adikara membentak Arun tanpa jeda. Emosinya kian menyala-nyala. Tanpa dia sadari, wanita di hadapannya masih berfokus pada apa yang dialihat tadi.


Keterkejutan Arun bertambah dua kali lipat mendengar suara tinggi Adikara yang tertuju padanya. Bahkan, kedua tangan Arun masih sama dengan posisi tadi. Menggantung di udara.


Kini dia menatap manik mata Adikara yang penuh emosi ke arahnya. Cairan bening mulai menggumpal di area mata. Sekuat yang Arun bisa menahannya. Dia tidak ingin menangis di depan Adikara.


Melihat wajah Arun berubah, Adikara tersadar dengan apa yang dialukan barusan. "Ma-maafkan—"


"Maaf, Mas." Arun langsung berbalik badan mengambil laptopnya. Dia pun meninggalkan Adikara yang kini penuh penyesalan.


Air mata Arun jatuh mengiringi kepergiannya dari ruang kerja sang suami. Seumur-umur bagi Arun, pria itu yang pertama kali membentaknya dengan nada paling tinggi. Bahkan, Zayn sekalipun yang berstatus mantan nggak pernah berlaku kasar kayak gitu ke dia. Batin Arun.


Adikara menghembuskan napas kasar. Penyesalan kini ia dapati. Arun, wanita yang berusaha dia berikan kebahagiaan itu, kini tersakiti karena keegoisannya sendiri.


Dia lempar buku tadi ke sembarang tempat. Adikara berdiam diri dan tidak mengejar Arun. Wanita itu berada di kamar sekarang.


Duduk di depan meja rias dan meletakkan laptop di atas meja yang sama, Arun menangis sesenggukan. Dia melihat dirinya dan bertanya pada cermin, "kenapa marah sampai segitunya?"

__ADS_1


Tak henti-hentinya air mata memenuhi wajah. Dadanya ikut sesak, karena menahan luka.


Tak berapa lama, Arun mendengar pesan masuk dari WA yang ia hubungkan di laptopnya tadi.


Keluarga Brokoli.


Gala : Gimana, Run? Kenapa nggak ada kirim pesan apa pun ke kita? Kalau ada yang gak paham, lo bisa tanyakan di sini.


Ettan : Hemmmm ... sebelum gue tidur nih. Mana materi yang nggak Mama tau.


Gala : Tidur aja kalau ngantuk. Masih ada yang lain.


Dita : Arun emang uda siap besok?


Ettan : Siap nggaknya, dia harus tetap siap. Besokkan uda waktunya.


Arun semakin menangis membaca pesan dari sahabatnya. Kenapa, dia nggak teringat pada sahabatnya itu. Kini, jemarinya menyentuh setiap huruf pada keyboard laptop. Dia mengetikkan balasan di sana.


Arun : Aku salah apa sih?


Dita : Salah apaan? Lo ngigau?


Gala : Apanya yang salah? Lo salah makan apa, Run? Uda siap belum?


Ettan : Salah lo itu kenapa kepintaran? Elee mana weh?


Air mata Arun semakin deras membanjiri pipinya. Dia terisak pedih mengingat suara Adikara terlalu kuat menembus perasaan dan hatinya.


Gala : Woi Run? Lo benaran uda paham apa belum? Gue tunggui dari tadi lo. Kalau memang uda ngarti, gue tinggal. Biar besok cepat bangun dan latihan sama lo.


Ettan : Ini anak kenapa, ya? Lo ada masalah, Run?


Tidak mendapati balasan Arun kayak biasa, Ettan malah curiga di sana.


Elee : Gue ketiduran. Gimana lanjutannya, Run? Kita uda on nih?


Arun : Tadi ... ada yang gak gue pahami tentang indusrti sama perdagangan di perusahaan cabang milik perusahan inti. Terus ... gue tanya ke Mas Adikara.


Elee : Jawabannya?


Dita : Laki lo pasti ahlinya.


Ettan : Ya, harusnya lebih pahamlah. Perusahaan keluarga bokapnya. Apa dia jawab, Run?

__ADS_1


Arun tak lagi kuat mengetikkan balasan. Berulang-ulang dia mengingat suara Adikara membentaknya tanpa perasaan. Bukan masalah foto yang ia dapati tadi, tapi respon Adikara yang sangat berlebihan menurutnya.


Ia mencoba menenangkan diri sejenak, tapi Arun tetap tidak bisa. Buliran cairan bening itu terus berproduksi meluapkan perasaan sedih dan kekecewaanya.


Mengangkat kedua kaki dan ditekuk di atas kursi yang ia duduki. Arun menenggelamkan wajahnya di atas sana. Dia menumpahkan seluruh kesedihan, tanpa menghiraukan pesan yang terus masuk menunggu balasannya.


Satu jam kemudian berlalu. Adikara yang tampak frustasi akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar setelah memastikan Arun tertidur.


Benar saja, Adikara sudah sejak tadi berada di depan pintu kamar mereka. Sepuluh menit berdiam diri di ruang kerjanya, Adikara baru berniat menyusul Arun ke kamar.


Tidak menyangka apa yang ia dapati. Kedua kakinya berhenti saat tak sengaja melihat Arun menangsi di depan laptop. Pintu kamar itu sempat tak tertutup rapat, karena Arun memang buru-buru masuk ke dalam sana.


Adikara berjalan pelan mendekati posisi Arun, yang kini sedang tidur di atas meja rias dekat laptop dengan layar masih terbuka. Adikara tanpa sengaja mendapati pesan grup dari sahabat Arun. Itu memang dalam posisi tampil di layar.


Dengan jelas, Adikara bisa membaca setiap pesan yang masuk, hingga bisa merasakan sakit hati yang Arun rasakan saat ini karenanya.


Berpindah dari layar, kini dia dapati wajah sembab Arun sehabis menangis lama. Kelopak mata yang tertutup rapat itu pun terlihat memerah dan bengkak.


"Maafkan aku, Run," bisiknya lirih. Ingin sekali dia memeluk tubuh Arun dan memohon maaf sebanyak-banyaknya, tapi dia urungkan. Adikara takut membuat kesedihan Arun bertambah.


Pria itu pun memilih memindahkan Arun ke atas ranjang. Dengan penuh hati-hati, Adikara menarik tubuh Arun ke dalam gendongannya. Wanita itu bergerak, saat merasakan pergerakan dari tubuhnya.


Di balik kelopak mata yang perih dan mata yang memerah, Arun mendapati wajah Adikara. Pria itu tak berani menatapnya kini.


"Tidurlah," ucap Adikara, setelah membaringkan tubuh Arun di atas ranjang. "Aku akan tidur di kamar sebelah agar kau tenang."


Arun tak menjawab apa pun dan tak berniat membalas tatapan Adikara yang kini mencoba melihat keadaan Arun sedari dekat. Diamnya Arun adalah hukuman buat Adikara. Dia tentu tau itu.


Adikara pun kembali berdiri dan meninggalkan ruangan yang menjadi hampa tanpanya bagi Arunika.


"Uda buat orang sedih malah menghindar. Hatimu terbuat dari apaan sih, Mas?" Arun kembali menangisi keadaan. Rasa kantuknya hilang seketika melihat sikap Adikara yang sulit untuk dia pahami.


Lolos dari pintu kamar. Adikara bersandar pada dinding. Air mata yang semula ia tahan, pun kini mengalir. Melihat Arun tampak menyedihkan dan mengetahui alasan Arun mencarinya ke ruang kerja tadi, membuat perasaan Adikara tak menentu.


"Kau terlalu bodoh, Di! Bodoh! Bodoh!"


Merutuki diri sendiri terus ia lakukan. Dadanya sempat sesak, dia pukul untuk mengaliri udara memenuhi rongga paru-parunya.


Adikara menyesal. Dia tak pernah menduga, kalau Arunika mampu merampas seluruh perasaannya yang sempat dia sumpahi untuk tak lagi mencintai siapa pun setelah pengkihanatan Violet dan Zayn padanya.


Akhirnya, Adikara menyadari kalau dia benar-benar jatuh cinta pada Arun. Tak sama dengan tujuannya menikahi Arun. Pria itu kini terjebak dalam api yang ia nyalakan sendiri.


...Bersambung....

__ADS_1


...***...


...Silahkan hujat Adikara dengan lantang dan sejahat-jahatnya. Terima kasih :)...


__ADS_2