Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Sepenggal Masa Lalu


__ADS_3

"Sebesar apa pun kemarahanmu terhadapku. Kupastikan perasaanmu sama denganku." ~ Adikara Suryo.


***


Adikara berjalan keluar ruangan dengan perasaan tak menentu. Saat berada di luar ruang rapat, tak ia temukan keberadaan Arunika melainkan Marco yang datang mendekatinya dari arah berbeda.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"Agh, kamu lihat istri saya barusan?" Adikara menunjuk ke arah sisi kanan lorong.


Marco sedikit berpikir. "Tidak, Pak. Maaf, sebelumnya saya barusan keluar dari ruang ujung.''


"Ooo ... nggak apa-apa, Marco. Kalau gitu tolong bantu saya tunjukkan ruang divisi produksi."


"Baik, Pak. Silahakan ikut saya." Adikara mengangguk dan mengikuti Marco yang kini menuntun jalan di depannya.


Sorot mata beberapa karyawan yang ada di kubikel, mengarah tatap ke Adikara. Tak sedikit pula yang memuji ketampanan tuan rumah mereka yang selama ini menjadi tanda tanya besar keberadaannya. Seperti apa rupa dan sosok atasan itu sekarang terpecahkan sudah.


Beberapa karyawan memberanikan diri menyapa Adikara, saat melewati kubikel-kubikel menuju ruang sang isrtri.


Adikara mengangguk sebagai bentuk jawaban. Itu saja sudah bisa membuat karyawan kaum hawa mengucap syukur sebagai keberuntungan.


"Silahkan, Pak Presdir." Adikara mengangguk kepala sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan.


Keberadaan ruang rapat memang satu lantai dengan ruangan Divisi produksi. Kedatangan Adikara itu pun, mengagetkan keempat sahabat Arunika yang sempat sibuk dengan kerjaan masing-masing.


"Laki Arun?" gumam Elee kaget.


"Pak Presdir?" gumam Dita tak percaya.


Ettan melirik hal serupa dengan ketiga sahabatnya yang masih tak berpindah tatapan menangkap kegelisahan di kedua mata Adikara. Gusar dan malu, sedikit saja perbedaannya untuk lelaki ini.


"Adik ipar mau cari Arun ya?" Ettan berdiri dengan beraninya.


"Arun ada di ruangan rapat, Pak," saut Gala memberitahu.


Adikara yang masih canggung cuma bisa mengangguk kepala. Dipanggil Bapak membuatnya merasa aneh.


"Terima kasih." Kedua kaki Adikara hampir bergerak meninggalkan ruangan, tapi Gala kembali memanggilnya.


"Sebentar Pak Presdir."


Adikara menoleh. "Ya?"


Seluruh pasang mata menyoroti kedatangan Gala menghampiri Adikara. "Apa Anda tidak tau Pak Presdir, kalau rapat sedang berlangsung sebagaimana mestinya dengan para petinggi perusahaan. Apa yang Anda lakukan ke Arunika?"


Tegas dan berani. Itulah sorot mata Gala yang selalu Adikara ingat di antara sahabat Arun lainnya.


Adikara tak melepas iris hitam milik Gala. "Apa harus saya jawab?"


Ettan sontak berdiri ke samping Gala. Dia pun berbisik. "Lo jangan cari ribut, Gal. Presdir itu," bisiknya sebelum kembali menatap kesal ke Adikara. "Kalau ada apa-apa sama Arun, kita lawannya Anda, Pak Presdir. Ini mimpinya Arun 4 tahun yang lalu. Dipecat pun saya bersedia."


Gala menoleh cepat ke Ettan dan menyikut lengannya. Adikara cuma memperhatikan wajah keduanya secara bergantian.


"Saya nggak punya urusan dengan kalian," katanya sambil lalu keluar ruangan. "Marco ... periksa ke bagian CCTV. Lihat dari lantai sini ke mana istri saya perginya."


"Baik, Pak.'


Kepergian Adikara mengundang tanya dan kehebohan dari seluruh sahabat dekatnya. Satu sama lain berhamburan dan saling tanya.


Di mana dia?

__ADS_1


"Anda bisa duduk di ruangan, Anda, Pak. Saya akan ke ruangan CCTV."


Bukan Adikara yang bisa bersikap tenang untuk duduk diam dan menunggu hasil. "Kamu hubungi nomor saya kalau uda dapat kabar. Saya coba ke rooftop."


Adikara langsung melenggang pergi tanpa menanti jawaban Marco. Bila diingat-ingat, kesalahan kemarin memang murni salahnya dia. Kesalahan menikah dengan Arun pun murni adalah kesalahan Adikara sendiri.


Selama berjalan menuju pintu lift, Adikara coba mengingat ulang setiap janji yang ia katakan ke mendiang mamanya Arun.


"Arun itu nggak biasa nunjukkin kesedihannya di depan orang, tapi kalau dia udah benar-benar di titik terendahnya, dia pasti bakalan nangis juga. Anaknya manja, tapi mandiri. Nggak pernah nuntut apa pun. Kalau marah pun, Arun itu nggak bakalan kek orang kesurupan, tapi malah lebih milih diam." Senyum mengembang di kedua sudut bibir mama Arun. "Kamu siap nerima Arun kayak gitu, Nak Adi?"


"Saya siap, Tan," jawabnya tanpa pikir. Ini adalah jawaban kedua bagi Adikara. Pertama kali diminta saat di rumahnya, Adikara sendiri yang menawarkan dirinya untuk dijodohkan dengan Arun, setelah melihat Arun sedari dekat.


Bukan mama Arun aja yang menarik sudut bibirnya. Mama Adikara pun sama dan merasa lega mendengar ucapan putranya.


"Adikara uda lama suka sama Arun, Jeng. Jadi, nggak perlu ada yang diragukan lagi."


"Oh, iya? Kok bisa?" Wajah keterkejutan jelas tercetak di raut wajah mamanya Arun.


"Ma," panggil Adikara tak ingin ada lanjutan.


"Biarin. Kamu ini," balasnya melirik kesal. "Itu lho, Jeng. Adikara ini dan Arun pernah satu sekolah dekat perumahan kita. Arun baru naik kelas berapa gitu di SD, Adikara baru tamat SMP. Sempat suka lihat aja beberapa kali katanya, tapi gak sampai kenalan."


"Agh, gitu. Kebetulan sekali ya."


"Ya, tapi sayangnya, Adikara 'kan pindah sekolah ke Jakarta sampai kuliah sama temannya di luar negeri. Egh ... ketemu lagi sama Arun gak taunya—"


"Ma, udahan, ya. Pokoknya, Adikara terima perjodohan ini," pangkasnya cepat. "Tante, terima kasih. Adikara bakalan jaga Arun sampai kapan pun." Itulah janji Adikara saat mama Arun masuk rumah sakit.


Sempat terpotong olehnya. Setelah lulus SMA, Adikara mendapatkan beasiswa bersama Violet di London karena itu mereka tiga rencanakan, tapi tidak dengan Zayn. Lelaki itu minim sama mata pelajaran hitung-hitungan dibanding kedua sahabatnya.


Ketiganya yang dipertemukan saat duduk di bangku SMA pernah saling berjanji untuk bersama melewati pendidikan ke jenjang kuliah.


Beda lagi dengan janji di antara Adikara dan Zayn, kalau mereka harus menjaga Violet dan tak membiarkan gadis itu bersedih, karena Violet adalah anak yatim.


Zayn marah pada Adikara tanpa mengatakannya. Dia tau betul, kalau Adikara tau soal perasannya ke Violet. Dia mencari tau keberadaan Arunika yang ternyata satu kuliah dengannya, lebih tepatnya adik kelas Zayn sendiri.


Mereka pun saling kenal dan saling tukar nomor hape. Kecemburuan Zaynlah yang membuat persahabatan ketiganya renggang.


Adikara tersadar, ketika Zayn mengunggah foto bersama Arunika di Instagram dengan mesra. Ketika itulah, Adikara merasa tidak terima. Dia dan Violet tidak benar-benar membuat hubungan spesial. Maksud Adikara mencari Arunika setelah resmi bekerja pun, akhirnya sirna.


Merasa dijauhi oleh Zayn, Adikara dan Violet bertingkah layaknya epasang kekasih seperti kemauan Violet sendiri tanpa persetujuannya. Padahal, Adikara memang tak pernah menyatakan perasaan melebihi sebatas persahabatan yang pada akhirnya menimbulkan sedikit perasaan cintanya ke Violet. ( To be continued)


"Pak, benar dugaan Pak Adikara."


"Saya sudah sampai."


Sampai di rooftop perusahaan, Adikara hanya berdiri di depan daun pintu dua sisi. Dia memandangi Arunika yang duduk di sisi salah satu tembok taman kecil yang terletak di tengah halaman. Wanita itu sedang menangis. Pundaknya naik turun seiring dengan suara tangisan sedikit tertahan.


Sejak tadi, Arunika sama sekali tak menyadari, kalau Adikara berada di depan pintu. Jam segini memang tidak ada karyawan yang datang untuk sekadar mencari angin atau pun merokok. Hanya berdua.


Apa yang harus aku lakukan?


Dia mendesahkan napas ke udara merasa berat untuk muncul di depan istrinya. Seperti yang ia katakan ke Arun, hal yang paling nggak disukai Adikara adalah melihatnya menangis. Air mata dan diamnya Arun adalah kelemahan Adikara. Itu dia sadari sendiri.


Tidak berpikir lama lagi, Adikara memberanikan diri untuk memaju langkah. Kalau di usir, toh Adikara harus berusaha lagi pikirnya.


Mendengar derap langkah kaki seseorang, Arunika menoleh dan buru-buru membalikkan badan sembari mengusap air matanya.


Adikara tak menyerah. Dia malah berdiri tepat di depan Arun yang kini memilih menunduk wajah. Air matanya masih berjatuhan seraya menatap kedua sepatu pantofel yang dikenakan suaminya. Pria itu benar-benar berbeda dengan balutan jas dan sepatu mahalnya, pikir Arun.


"Run," panggilnya.

__ADS_1


"Mau apa?!"


"Aku mau minta maaf."


"Apa ada lagi yang kamu sembunyikan dari aku, Mas?"


"Nggak ada. Maafkan aku, Run." Adikara berjongkok menyamakan posisi Arun. Tangannya menyentuh dagu Arunika agar menatap dirinya.


"Jangan marah lagi. Aku benar-benar minta maaf."


Arunika menggeleng. "Kamu masih punya rahasia lain, Mas. Kapan sih, kamu mau belajar jujur? Apa kamu mau disekolahkan lagi? Percuma aja lulusan luar negeri," katanya mengagetkan Adikara. "Lebih sakit tau tentang kamu dari orang lain dari pada tau dari mulut kamu sendiri, Mas."


Arun melengos dan membiarkan matanya menatap ke arah lain. Asal tak melihat biji mata suaminya aja, agar dia tak cepat luluh dengan masalah kemarin malam dan pagi ini.


Aku nggak akan mengalah!


"Aku benar-benar nggak berniat buat bentak kamu kemarin, Run. Maafkan aku. Sola Violet dan Zayn akan aku jelaskan sama kamu."


Kini dia memberanikan diri menatap ke Adikara. Kelopak mata yang kemarin bengkak bertambah bengkak di balutan air matanya. "Apa, Mas? Apa karena sebuah pembalasan dendam?"


Adikara terkesiap. Mulutnya sempat menganga sebelum akhirnya tertutup rapat mendengar ucapan Arunika.


Jeda beberapa detik, Arunika tak mendapati jawaban Adikara. Dia tersenyum getir di balik air mata yang terus meluncur dan mengarah pandangan ke tempat lain.


"Benarkan? Kamu nggak bisa jawab, Mas. Benar dugaanku satu malam ini. Kamu nikah sama aku cuma karena mau balas dendam sama Zayn, 'kan? Selamat, Mas, kamu menang."


Arunika menarik laptopnya dan bergegas pergi dari sana. Perasannya semakin memanas saat mencoba mengkonfirmasi secara langsung ke Adikara.


Dari diamnya Adikara, Arun pastikan jawabannya tetap sama dengan pikirannya. Arun tak membutuhkan jawaban Adikara lagi.


Awalnya memang seperti itu, Run. Tapi tidak setelahnya. Aku benar-benar mencintaimu sejak awal sampai detik ini.


Adikara mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menengadah ke atas langit, dan meyakinkan kalau ini adalah karmanya sendiri.


Bersambung.


***


Yeay. Lihat kemarin komentar kalian rame. Kusuka hahahah. Maaci.


Oh, ya. Aku mau infoin karya aku yang lainnya.


K B M A p p


*Jodohku Ternyata Kamu (On Going)


*Menikah Dengan Duda Tampan (On Going)


K a r y a k a r s a


*ZonAnora (On going)


*Are You Kidding Me (On going)


N o v e l m e


*Menikah Karena Syarat (TAMAT)


I n n o v e l/ D r e a m e


*I Choose To Love You (On going)

__ADS_1


Karena itu aku berbagi jadwal update. Hihihi. Cuma di sini dan I n n o v e l yang gratis. Yang lain berbayar. Kalau minat mampir ya. Makasih. Semuanya dengan nama pena yang sama putritrirrii ^^


__ADS_2