
"Andaikan dia tahu, kalau aku pernah jatuh cinta dengannya sangat dalam." Elee Zakeisha.
***
"Gue rasa ... Arun sama pak Adikara benar-benar uda saling jatuh cinta ya," ucap Dita setelah kepergian Arunika.
"Gak usah pake embel-embel bapak segala. Nggak ada orangnya juga bebas panggil nama," protes Ettan sok kuat.
"Egh setan! Meskipun kayak gitu, siapa tau aja nanti di antara kita ada yang bermulut besar. Bisa aja 'kan itu e lo. Terus, waktu lo dendam sama gue, malah ngadu ke pak Adikara biar gue kena pecat," cerocosnya.
"Gue rasa si Tata lagi ngeheng. Kapan juga, gue dekat sama pak Adikara?"
"Nah itu lo manggilanya pake pak. Takut lo, 'kan?" Dita tunjuk pake jari ke bibir Ettan yang memberut.
"Kenapa jadi pada ribut sih, sama nama doang. Seantero Jakarta ini, apa perlu dengar kalian duel?" Elee sampai terpaksa menoleh ke arah belakang untuk memarahi keduanya pake sorot mata yang bisa menembus apa pun.
"Ya gak gitu, Lele. Ini teman lo aja yang sewot," jawab Ettan.
"Masih jawab juga lo, Tan. Benaran naik angkutan umum aja, kalau lo berdua ribut lagi. Konsentrasi gue 'kan jadi terganggu."
Gala mulai ikut protes. Mendengar suara Ettan berasa mendengar suara dari nama panggilan sayang Ettan dari mereka.
"Iya, turuni aja, Gal. Ini yang dua gak lihat-lihat tempat, kalau lagi berantem." Elee menjadi kompor yang siap meledak.
"Sama 'kan? Lo juga bakalan gue turuni kalau ikut bising," nyinyirnya. Elee memberengut kesal akan perkataan Gala yang gak mengecualikan dia.
"Jahat lo, Gal. Buat si Elee kecewa mulu. Makanya, Le, jangan berharap banyak ke Gala. Dia itu nggak niat buat nembak lo sampai umur lo menginjak 27 tahun. Kasihan gue sama lo."
"Mati dong," saut Dita di sana.
"Gue juga nggak berharap lagi sama dia. Jadi gak usah buka-buka masa lalu yang gak penting, Tan. Gue 'kan uda dijodohkan sama emak gue. Weekend besok, gue balik ke Bandung. Mau dipertemukan sama keluarga si cowok. Semoga aja nasib gue kayak Arun dapat laki sebaik pak Adikara meskipun misterius."
"Lo benaran, Le?" Ettan histeris mendengarnya.
Gala?
Jangan ditanyakan perasaan dalam hatinya dipenuhi nyala-nyala api yang siap membakar apa saja yang berada disekitarnya. Syukur, Gala masih bisa menahan diri untuk fokus ke jalanan.
"Seriuslah," kata Elee dengan entengnya. Dia lirik Gala menggunakan ekor matanya yang menajam. Setajam silet. "Emak dan bapak gue itu uda pengen lihat anak cewek satu-satunya kawen. Mana gue dipikir nggak laku lagi, sama bapak gue."
"Nikah! Kawen mah bisa sekarang," celetuk Ettan lagi.
"Kok lo nggak bilang-bilang sama kita sih, kalau lo mau dijodohkan, El? Kapan emangnya perjodohan kalian direncenakan sama emak lo, El?" Dita menarik tubuhnya ke depan dan bersandar ke sisi jok penumpang depan seraya menatap ke Elee.
__ADS_1
"Dua minggu yang lalu. Sebenarnya, gue nggak mau cerita soal ini. Benaran pengen kayak Arun, kalau uda tiba harinya gue baru bilang sama kalian. Tapi karena si Setan, gue jadi keceplosan," cetusnya masih kesal. Nada suaranya seakan menyindir Gala yang tak sedikitpun menatap ke arahnya.
"Mantap, Le. Gue doakan lo jadi sama calon pria yang dijodohkan sama emak lo," ujar Ettan mendapati tatapan sinis Gala dari kaca spion depan.
Jangan pikir Ettan takut. Lelaki itu malah terkekeh di sana dan semakin menjadi-jadi.
"Biar dia tau rasanya, kalau jual mahal belum tentu dapat yang murah!"
Elee menoleh cepat ke Ettan, "jadi maksud lo? Gue murah gitu, Tan?"
Tawa Ettan menyurut sudah. Dia cepat-cepat mengangkat telapak tangannya menepis perkataan yang ia keluarkan barusan.
"Bukan lo maksud gue, Le. Cewek di luaran sana."
"Wayo lo, Setan. Ciut lo, 'kan?" Kali ini Dita yang tertawa senang atas ekspresi wajah Ettan yang berubah kalang kabut.
"Sialan lo, Ta."
"Kesian aja sih gue lihat lo, apalagi Gala," sambung Dita masih tertawa senang. "Gue itu masih ingat kayak apa Elee di depan kelas ngomong dengan pedenya, kalau dia suka sama Gala. Egh, malah langsung ditolak mentah-mentah. Bukannya malu malah diulangi lagi di depan lapangan sekolah. Kok gue geli ingat lo, El?"
Ettan dan Dita sama-sama tertawa bernostalgia masa-masa mereka duduk di bangku SMP dulu. Di antara mereka berlima, Elee emang paling berani.
Berbeda hal dengan Elee dan Gala yang memilih diam. Diamnya Elee, itu tandanya ucapan Dita mengena ke hatinya. Bukan sakit hati, dia malu kalau masa lalunya yang memalukan itu kembali dibuka. Padahal, Elee bersusah payah untuk melupakan semuanya.
Elee sampai sekarang tidak pernah tau apa alasan Gala menolak dirinya. Tapi Arun mencoba menenangkan Elee dengan mengatakan, kalau Gala tidak mau merusak persahabatan mereka. Kalau saja nantinya, keduanya tidak berjodoh.
Sejak saat itulah, Elee menutup perasaannya untuk Gala. Apalagi dengan sikap Gala yang tidak ada lembut-lembutnya ke dia. Elee semakin yakin untuk tidak menaruh harapan lagi pada lelaki yang merupakan cinta pertamanya.
Keempat orang itu akhirnya tiba di perusahaan. Dengan santai mereka keluar dari lift menuju ruang kerja. Tapi sangat mengejutkan, ketika mereka mendapati selembar kertas berwarna putih di masing-masing meja kerja mereka.
Ettan yang lebih dulu tiba di depan meja, mengambil kertas tersebut.
"KALIAN BEREMPAT KE RUANGAN SAYA! TERTANDA, PAK KUMAR."
"Gilaaaaaa! Kita kena panggilan weh," ujarnya heboh ke yang lain.
"Iya nih, Pak Kumar. Kenapa dengan kita?" Elee malah melihat ke Gala yang sejak tadi tak berbicara sedikitpun. Lelaki itu menjadi pendiam dan tidak menghiraukan Ettan yang juga menggodanya.
"Gue rasa, karena ruangan divisi kita kosong," kata Dita menerkah.
"Benar juga, Dit. Jadi, kita gimana?"
"Semuanya keluar," kata Gala dan lebih dulu memaju langkah keluar ruangan.
__ADS_1
"Chat si Arun dulu, Le. Kasi tau, kalau kita jadi tawanan karena nolongi dia tadi."
Elee dengan cepat mengangguk dan menjalankan perintah Ettan tadi. Mengetikkan pesan lewat grup, kalau mereka kena teguran karena mengantarkan Arunika bertemu sang pangeran tercinta.
Suara pesan masuk terdengar dari posisi Arunika yang sedang duduk di jok depan, masih dalam perjalanan pulang ke kediaman mereka.
Tangan Adikara yang terus menggenggam salah satu telapak tangan Arun sejak tadi, terpaksa harus terlepas ketika sang istri harus bergerak mengambil hape dari dalam tas.
Setelah mendapati hape, Arunika mengusap layar kunci dan mendapati pesan dari keluarga Brokoli.
Keluarga Brokoli.
Elee: Danger, Run. Kita berempat kena tahan sama sang penyabut jabatan. Pak Kumar tau, kalau kita nggak ada di ruangan. Jam istirahat kita colong buat nyelamati lo tadi, Run. Tolongi kita ya, Run.
"Kenapa, Sayang?"
Melihat kerutan di kening Arunika menarik minat Adikara untuk tau, apa yang mengubah ekspresi wajah kekasihnya itu.
"Geng Brokoli kena tahan, Sayang." (Eyakkkk ... bisa-bisanya. Wkwkwkwkw)
"Kena tahan?" Adikara sontak saja histeris mendengarnya. "Kena tahan di mana mereka?"
Adikara sekilas menoleh ke Arunika dan jalanan. Mendengar itu perasaan Adikara jadi tak menentu, mengingat geng istrinyalah yang tadi memberikan tumpangan.
"Sama pak Kumar bagian personalia. Mereka ketahuan baliknya telat karena nolongi aku tadi, Mas Sayang."
Adikara menggeleng kepala seraya tersenyum. Dia pikir, orang-orang bar bar itu ditahan sama pihak yang berwajib.
Dia sayang puncak kepala Arunika yang sedang menatapnya dengan penuh manja dan bibir memberut. Adikara tau apa maksudnya.
"Ya udah, bilang sama mereka nggak usah takut. Ikuti aja apa kata pak Kumar. Ini aku hubungi si Marco buat kasi penjelasan."
"Syukurlah, Mas ada kamu. Kamu benar-benar blasteran dari surga ya, Mas," katanya memuji dengan suaranya yang centil itu.
Adikara semakin jatuh cinta saja dengan sikap Arunika yang terang-terangan mengekspresikan perasaan cinta di antara mereka. Manjanya Arunika dan buaian dari kata atah suara sang istri yang penuh manja, adalah tambahan baru dalam list kesukaannya ke Arunikara.
"I love you."
Bersambung.
***
Ayooooo gas keun. Yuk yang punya telegram ramaikan chanel aku yok. Kalian bisa ketik di pencarian "PASUKAN HALU"
__ADS_1
Makasih :)