Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

*Vote


*Komentar


*Hadiah


*Like


Kalau suka tolong bantui prmosi dong :) Follow IGku @_putritritrii kalau kalian share ke IG tag aku. Fb juga sama dengan nama pena. Ayo, ajak yang lain baca. ^^


...***...


"Kalau jatuh cinta, katakanlah padaku. Agar aku percaya diri untuk mengatakan hal yang serupa dengan perasaanmu." ~ Arunika Baskoro.


...^^^...


"Hati-hati di jalan ya, Bang," kata Mama Risa ke Mas Adikara.


"Iya, Mamaku. Uda 30 kali lho, Mama ngomong kayak gitu."


"Mama hanya khawatir, Bang. Kalian pengantin baru. Kenapa, sih, nggak bawa Marvin ikut kamu aja?"


"Kasian Marvin, Ma. Dia juga punya kesibukan sendiri. Nggak mungkinlah nempel terus sama Abang."


"Ya udah, Bang. Pokoknya hati-hati. Kamu bawa istri lho ini. Bukan sendirian. Kalau ngantuk ke hotel aja. Jangan dipaksain, Bang," saut Papa Suryo menimpali.


"Iya, Pa."


"Jangan lupa buat keponakan yang banyak, ya, Bang," sambung Elena membuatku malu mendengarnya.


"Sekandang kalau bisa Bang!" saut Erica, tak membiarkan Mas Adikara memberikan jawaban.


"Kamu pikir apaan, sih, Ca? Uda, jangan buat Abang dan Kakak kalian malu. Berangkat sana. Sampai di rumah, kabarin Mama dan Papa, ya, Bang?"


Mas Adikara yang berada di sisi kanan Mama Risa, pun beranjak dari duduknya. Dia menarik punggung tangan Mama Risa dan memberikan salim untuk izin berpamitan.


"Abang pulang, ya, Ma. Mama sehat-sehat. Kalau ada waktu, Mama ke sana atau kita yang ke sini," katanya. Kini keduanya saling berpelukan.


Aku rasa, Mas Adikara memang banyak ngomong cuma sama keluarganya doang. Tapi kalau sama aku? Agh, rasanya nggak adil banget.


Kini gantian aku yang memberikan salam untuk Mama, Papa dan kedua adik iparku, setelah Mas Adikara selesai berpamitan. Saling berpelukan dan cipiki-cipiki, kami pun diantar ke mobil dan berangkat pergi meninggalkan rumah kediaman Mas Adikara menuju kediaman orang tuaku.


"Bang ...."


Aku berlari setelah turun dari mobil. Masuk ke dalam rumah dengan leluasa, sebab pintu memang terbuka lebar. Mereka pasti menanti kedatanganku, karena aku sudah mengatakan lebih dulu.


"Arun."


"Bang," kataku memeluk tubuhnya yang membesar. Dia sudah mirip sama kak Arini yang kandungannya berjalan masuk ke empat bulan. Dan itu, memang hampir serupa dengan perut Bang Boy yang sekarang.


"Jangan nangis dong. Cuma beda hampir satu jam doang. Kalau rindu, bisa ke sana. Abang yang ke sanalah. Nggak usah nangis," katanya bergetar dan mengelus pundakku.


"Jangan nangis. Kamu sendiri juga nangis, Bang," ucapku padanya.


"Beda. Ini bukan nangis, tapi sedih keboh."


Aku mendorong pelan tubuh Bang Boy. Nggak jadi sedih kalau kayak gini. "Kenapa manggilnya gitu sih, Bang? Ada Mas Adikara," bisikku padanya.


"Bukannya itu nama panggilan sayang kita?" bisik Bang Boy lagi.


"Lihat-lihat situasi dong, Bang. Igh, kalau Mas Adikara dengar gimana?"


"Suamimu sendiri. Kenapa kau harus malu?"


"Dia agak lain, Bang."

__ADS_1


"Nggak lurus?"


Aku mengangguk. "Iya. Agak belok dikit."


"Sialan." Bang Boy terkekeh.


"Kenapa dengan kalian?" Kak Arini yang ikut tertawa, kini mendekat ke arah kami.


"Nggak apa-apa, Kak. Kamu sehat-sehat, ya. Jaga Babang Boy dan sibayik di sini," aku mengelus perut bumil yang menggemaskan. Uda jalan ke empat bulan. "Nanti sering-sering kabarin sama Arun, ya."


Kak Arini malah mengelus balik perutku yang datar. "Iya. Aunty Arun cepat nyusul, ya. Jangan lama-lama. Biar nanti si pumpkin punya sepupu langsung."


"Pumpkin? Labu dong."


"Nama kesayangannya."


Aku merona mendengarnya. Bagaimana bisa cepat-cepat punya anak, kalau pabriknya aja belum launching. Masih ori.


"Doakan aja ya, Kak," balasku malu-malu.


Kulirik ke arah Mas Adikara yang sedang berpelukan sama Bang Boy. Dia terlihat sangat akrab dengan Abangku itu. Tapi kalau sama aku jangan ditanyain. Agak aneh.


"Kami berangkat, ya. Bye Bang, Bye Kakak." Kedua tangan ini terangkat ke udara seiring mobil yang melaju pelan keluar dari halaman rumah, dengan setengah badanku yang keluar dari balik jendela mobil.


"Kabarin ya kalau uda sampai."


"Iya. Byeee ...," Bang Boy dan Kak Arini juga melambai ke arahku. Tampak mata Bang Boy sendu, sejak mengantarku keluar dari dalam rumah.


"Masuklah."


Perlahan tubuh ini turun hendak duduk dengan benar. Rasanya, aku benar-benar sangat sedih. Bukan apa-apa. Pulang ke apartermen dengan pulang di bawa pria sebagai suamiku ini, rasanya sangat berbeda. Kek ada asam-asamnya.


Kini aku duduk dan menatap kosong pada jalanan di depan sana. Nggak tahu mau ngomong apa dengan Mas Adikara.


"Kenapa diam?"


Kembali kutatap pada jalanan. Mas Adikara yang sempat melirik sekilas tanpa jawaban, pun ikut diam.


"Bangun," seseorang menepuk pundakku. Mengganggu mimpi yang barusan menghiasi tidur nyenyakku beberapa hari ini. Ya, karena tadi malam aku susah tidur. Mas Adikara buat kedua mata susah terpejam.


"Kita di mana, Mas?"


"Surga."


"Ngah?"


"Turunlah."


Melebarkan pandangan ke segala penjuru rumah saat kedua kakiku menjejak di atas lantai area parkiran mobil adalah respon lebayku.


Gimana nggak lebay coba? Suamiku ternyata sesukses ini. Mana halaman rumah yang barusan kulihat sangat luas ukurannya. Di depan sana terbentang rerumputan hijau dan batu pijakan berjejer rapi di kiri dan kanan. Di tengah-tengah halaman, juga terdapat air mancur dari bahan batu alam. Ini sederhana, tapi terkesan mewah.


"Masuklah."


"Agh, i-iya, Mas."


Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. Ini tampak seperti kuburan lebih tepatnya. Nggak ada siapa-siapa, karena aku lihat Mas Adikara membuka pintunya sendiri dari luar. Besar dan mewah terlihat dari dalam ruangan. Mewakili karakter Mas Adikara yang sudah ditebak. Dia hidup sendirian di sini.


"Kamarku di mana, Mas?"


Sepanjang kami berjalan masuk dan langsung menuju ke atas tidak saling bersisian, karena aku memilih berjalan di belakangnya. Kini melirik ke beberapa kamar yang ada di dekat kami.


"Itu," tunjuknya ke paling ujung.


"Oooo ... baiklah. Aku masuk dulu, Mas," kataku kemudian berjalan mendahuluinya ke kamar paling pojok sesuai intruksi yang diberikan.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngikuti aku, Mas?" Setelah membuka pintu dan hendak masuk ke kamar, kulihat Mas Adikara yang juga mau masuk ke dalam.


"Ini kamarku." Dia melirikku tanpa berkedip.


"Lah, ini tadi Mas bilang kamarku."


"Kamar kita lebih tepatnya."


Mas Adikara nyelonong masuk tanpa menanti sebuah jawaban penolakan. Meresahkan memang suami yang satu ini.


"Kamarku yang mana, Mas?"


Aku berjalan mengikutinya dari arah belakang tubuh yang berisi itu menuju sisi ranjang berukuran lebih besar dari kamarku dan kamar tamu di rumah orang tuanya.


"Kau pikir ini hotel?"


"Loh, apa iya? Kayaknya, aku nggak bilang ini hotel dech, Mas. Kita benaran tidur satu kamar, Mas? Di sini banyak kamar lho."


"Tapi kau istriku."


"Benar juga. Tapi, aku pikir kita bakalan pisah ranjang, karena uda nggak sama keluarga kita."


"Kapan aku berkata demikian?" Mas Adikara tiba-tiba menarik kaus yang ia kenakan ke atas.


Aku menganga mulut tidak percaya. Dengan santainya, dia memperlihatkan daging segar di bagian bidang dadanya yang berbentuk.


"Asal buka baju kamu, Mas," kataku sembari membalikkan badan. Aku merona malu. Ini gila. Cuma berduaan di rumah sebesar ini. Aku bisa apa, kalau Mas Adikara merebut kesucianku yang belum ternodai ini.


"Kau malu?"


Suaranya terdengar sangat dekat. Kurasakan hawa-hawa dingin dari neraka. Sepertinya, Mas Adikara memang mendekatiku sekarang.


"Ma-malu? Jangan aneh-aneh, Mas. Aku mau keluar dulu."


Belum sempat melangkah, tanganku sudah ditarik lebih dulu. Dia mendekap tubuhku ke dalam pelukannya. Wajah ini bersentuhan dengan daging-daging segar tadi. Gila. Aku susah bernapas kalau dihadapkan dengan anggota tubuh seseksi ini.


"Kau harus terbiasa dengan ini, Run. Kau dan aku adalah suami istri. Belajar untuk menerimaku."


"Menerima? Aku—"


"Aku tidak akan menyentuhmu, sampai kau sendiri yang memberikannya," pangkas Mas Adikara.


Kedua tangannya memeluk sangat erat. Aroma tubuh Mas Adikara berbau permen mint kali ini, menyeruak ke dalam indera penciumanku. Buat diri ini semakin mati kutu saja, ketika bibirnya mendarat di atas puncak kepalaku.


"Apa Mas udah jatuh cinta sama aku?"


"Apa aku harus mengatakannya?"


Aku mengangguk. "Tentu saja. Aku bukan cenayang yang bisa tahu isi hati dan pikiranmu, Mas."


"Apa kau tidak merasakan apa pun?"


Aku menggeleng. "Nggak. Kamu itu sulit ditebak, Mas. Aku gak mau kepedean kayak kamu yang nyuruh aku jatuh cinta sama kamu. Sementara kamu sendiri nggak tahu perasaanmu yang sebenarnya sama aku."


Aku menangkup dada Mas Adikara untuk menatap wajahnya. Dia yang sempat terdiam beberapa waktu yang lalu, kini mengulas sebuah senyuman.


"Kalau nanti kau tau yang sebenarnya, pastikan jangan meninggalanku sendirian di sini."


...Bersambung....


...***...


*Like


*Hadiah

__ADS_1


*Komentar


*Vote


__ADS_2