Hatimu&Hatiku

Hatimu&Hatiku
Peperangan Jilid 2


__ADS_3

"Sebesaar apa pun usahaku untuk berkata 'aku baik-baik saja'. Tetap aja tidak mampu menepis kekecewaanku terhadapnya." ~ Arunika Baskoro.


...***...


Arunika menatap pantulan dirinya dari cermin dengan mata yang masih tampak membengkak. Mengenakan pakaian formal yang jarang ia lakukan seperti pagi ini, terkecuali jika ada acara penting atau rapat penting yang mengharuskannya mengenakan blezer dan rok model span yang dipadu padankan dengan sepatu heels 5cm, yang jarang sekali ia kenakan di kedua kakinya.


Tapi wajah itu tampak sangat menyedihkan dan tak bersemangat dengan apa yang terjadi tadi malam. Dia santai meskipun dalam pikiran masih berkeliling tentang keterkaitan Adikara, Zayn dan Violet. Lalu dirinya sendiri.


Dirinya?


Arunika sempat mendesis pelan. "Apa yang sedang mereka permainkan di belakangku?"


Dia menarik napas dan beranjak dari tempat duduknya. Kedua kakinya melangkah ke arah ranjang mengambil hape memeriksa pesanan dan kemudian mengambil laptop yang ia persiapkan untuk melakukan presentasi di depan para petinggi perusahaan.


Sempat mendapati lantai kamar mandi basah, Arunika menduga suaminya itu sudah bangun lebih awal. Jadi, dia tidak lagi mempersiapkan pakaian suaminya. Apa lagi, Arunika ingat betul Adikara hanya bekerja dari rumah.


Meskipun tak jelas dan membuatnya penasaran, kerjaan apa yang membuat lelaki itu sekaya sekarang. Arunika tak mau repot-repot untuk mencari tau bak seoarang yang kepo akan kehidupan suaminya itu, meskipun penasaran terus melekat dalam pikirannya.


Mendengar derap langkah dari tumit sepatu sang istri. Adikara meletakkan gelas kopi yang sempat ia minta tadi pada si Mbak, saat dia tiba di ruang makan. Adikara menoleh ke belakang, karena sejak tadi, ia tidak mendapati suara Arunika yang biasanya sangat riang melihat keberadaannya.


Dia mendapati Arunika dengan tatapan datar dilayangkan ke Adikara. Tatapan yang tak pernah Arunika berikan padanya sekalipun kesal mendominasi diri wanita itu terhadap sikap Adikara selama ini.


"Selamat pagi," sapa Adikara.


Ada keanehan dan rasa yang mengganjal dalam benak Arunika pagi ini. Dia mendapati Adikara mengenakan pakaian formal bak seorang pegawai kantoran.


Terlihat sangat rapi dengan mengenakan dasi yang disimpul ketat menggantung di sela kerah kemeja suaminya.


"Pagi," balasnya datar. Adikara merasa dirinya benar-benar kena hukuman. Arunika berlaku dingin terhadapnya.


"Kau tidak duduk?" 


Melihat Arunika masih berdiri dam menenteng tas laptop serta tas kerjanya, sontak membuat Adikara bingung.


Arunika menggeleng. "Agh, aku buru-buru untuk ikut rapat. Tidak perlu diantar juga. Aku pergi."


Arunika berbalik badan hendak memaju langkah. Tapi tangan Adikara buru-buru menarik pergelangan tangannya seraya berdiri. "Run, aku antar."


Arun mencoba menepis tangan Adikara. "Pagi ini perasaanku lagi nggak baik. Dan rasa lapar tidak menyerang perut atau lambungku. Tolong jangan paksa aku."


"Aku antar," ulangnya.


Arun menggeleng. "Nggak perlu."


"Arun," panggilan Adikara membuat wanita itu menoleh padanya.


"Aku bisa berangkat sendiri. Tolong kasi aku waktu untuk diriku yang sedang gak baik-baik aja." Dia menarik samar sudut bibirnya dan tak berniat menatap Adikara berlama-lama. "Aku pergi."


Arunika benar-benar menarik tangannya dari genggaman Adikara tanpa adanya senyuman atau ocehan panjang yang biasa Arunika lantunkan suaminya.


Sesaat Adikara mematung menyoroti kepergian istrinya. Wanita yang ia sakiti tadi malam dengan tanpa sadar perbuatan itu tak seharusnya dia lampiaskan pada wanita sebaik Arunika. Rambut panjang hitam legam itu diikat ekor kuda mengikuti gerak tubuh Arun yang terlihat tergesa-gesa hingga menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Pak?" tegur si Mbak mengeluarkan Adikara dari lamunannya.


Adikara menoleh. "Iya, Mbak?"


"Bagaimana dengan sarapan, Pak? Bisa si Mbak letak di atas meja?"


"Nggak usah, Mbak. Saya berangkat kerja aja. Arun juga uda pergi duluan."


Kata 'pergi duluan' secara tak langsung memberitahukan ke si Mbak tentang keadaan pagi ini antara dia dan Arunika.


"Baik, Pak."


Adikara bergegas pergi untuk mengambil mobilnya. Dia tiak pernah membiarkan Arunika keluar sendirian tanpa dirinya selama mereka menikah.


Pria itu dengan rasa panik menyergap diri, cepat mengemudikan mobil keluar dari area parkiran rumah, segera mengejar Arunika yang dia tebak menaiki ojek online.


"Dia marah. Benar-benar marah, Di. Apa yang harus kaulakukan?"


Mengemudi dengan kebut-kebutan sampai beberapa pengguna jalan mengumpat Adikara, pun terjadi tanpa diaketahui.


Yang terpenting baginya sekarang adalah mendapatkan Arun yang sedang duduk di belakang abang ojol. Mengenakan rok span ketat di atas lutut dan menenteng tas laptop di atas pahanya, membuat Adikara benar-benar tak habis pikir akan kelakuannya yang berimbas ke Arun. 


Arun tak sadar kalau suaminya sejak tadi mengikuti dia dari belakang. Hanya berbeda satu kendaraan sebelum akhirnya Adikara kehilangan jarak yang cukup jauh, sampai membuat Adikara frustasi dan memukul stirnya.


"Sial!" 


Sampai di ruangannya, Arun disambut manis oleh geng Brokoli.


"Selamat datang, Mamanya anak Brokoli," sambut Ettan pertama.


Arunika tersenyum di balik perasaan yang masih belum stabil. "Makasih, semuanya."


"Tunggu dulu," cegah Dita menahan pundak Arunika.


Seluruh mata melirik pada keduanya yang berdiri saling tatap. Arunika paham apa yang Dita dapati di wajahnya. Sebesar apa pun usahanya untuk menyamarkan bentuk mata bekas menangis tadi malam dengan alat make-up, Arunika tetap aja gagal. Buktinya kedua mata Dita sangat liar bisa mendapati jejak sembab di kedua matanya.


"Kenapa matamu, Run? Kamu nangis?" Pertanyaan Dita berhasil menarik atensi Gala. Dia berdiri seketika dan mendekati Arun yang kini menunduk dalam.


"Kamu kenapa, Run? kasi tau aku. Siapa yang buat kamu kayak gini?"


Sepanik itu Gala dengan diamnya Arunika. Elee kemudian mendekati Arun dan yang lainnya. Dia rangkul pundak Arun, saat wanita itu memilih membisu.


"Kasi tau kami, Run, kalau kamu punya masalah," kata Elee.


"Iya, Run? siapa yang ngelakukan ini sama lo? beritahu gue. Gak terima gua lo diginikan. Adikara?" tembak Ettan lagi. Mulut lelaki yang satu ini memang susah buat di rem atau dijaga. Apa yang pertama dalam pikirannya, pasti itu yang dia keluarkan mentah-mentah tanpa disaring terlebih dahulu.


Arunika mengangkat kepala seraya tersenyum menatapi keempatnya. Pias sedih di wajahnya tak bisa diasembunyikan dari keempat orang yang selama ini mengenal betul dirinya.


"Nanti aja ya, kita bicarakan. Aku mau siapakan diri untuk presentasi nanti," elaknya.


"Ok. Kalau memang si Adikara yang buat kamu nangis kayak gini, Run. Siap-siap aja dia. Aku minta pertanggung jawaban sama dia nanti." 

__ADS_1


Gigi Gala bergemeletuk dengan tangannya yang mencengkram erat di bawah sana. Dia memilih kembali ke tempat duduknya dengan emosi. Keempat orang itu melihat Gala dan paham benar akan sikap Gala terhadap Arun. Garis bawahi 'Geng Brokoli'.


Arunika kembali meyakinkan keempatnya untuk kembali duduk di posisi masing-masing, sebelum dia kembali mendekati Gala untuk membahas pekerjaan mereka. Terutama rapat yang akan dihadiri oleh petinggi perusahaan untuk menguji kemampuamnua dalam bidang yang Arunika pegang.


"Run ... Ayo." Ibu Yanti selaku sekretaris departemen produksi memanggil Arun untuk bersiap masuk ke ruang rapat.


"Baik, Bu" 


Arunika berdiri dan membawa laptopnya. Geng Brokoli sontak berdiri dan memberikan pelukan dan doa sejenak, agar Arunika bisa menguasai segalanya yang ada di ruang rapat nanti. Apa pun yang menjadi pertanyaan untuknya nanti, mereka berharap Arunika lugas untuk menjawab semuanya.


"Makasih ya, kalian," kata Arun membalas pelukan mereka.


"Semangat ya, Ma. Kami ada untukmu." Dita mengeratkan sejenak pelukannya.


"Baiklah. Sudah cukup. Sekarang, biarkan Arun keluar dari sini," titah Gala yang terlebih dulu mengurai pelukannya. "Kamu pasti bisa, Run. Berjuang."


Sesuai memberikan semangat yang dianggukan oleh Arunika, kini wanita itu sudah berada di ruang rapat bersama seluruh anggota dan karyawan setiap divisi, karena bukan hanya Arunika saja yang menjadi satu-satunya karyawan yang akan diseleksi untuk kenaikkan jabatan. Dan di sini, Arunika tidak menyangka bertemu dengan keluarga suaminya.


Papa Suryo dan kedua adik kembar Adikara beserta kedua adik kandung dari papa Suryo. Sempat menyapa seadanya, karena tak ingin membuat karyawan lain tau siapa Arunika sebenarnya di perusahaan SO Corp.


"Sebelum kita memulai rapat ini. Kita akan menunggu kedatangan salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan SO Corp. Beliau sekalian akan kita perkenalkam untuk mengisi posisi yang selama ini tidak dipegangnya secara langsung di posisi Presiden Direktur perusahaan."


Suara derap langkah seseorang ke arah pintu ruang rapat menjadi tebakan sang moderator.


"Nah, yang dibicarakan sudah datang."


Sontak semuanya menoleh ke arah pintu tanpa terkecuali. Arunika menarik kedua kelopak matanya ke atas. Tatapan matanya bertabrakan dengan tatapan Adikara yang langsung menyoroti Arunika. Istrinya benar-benar terkejut akan apa yang dia dapati barusan.


Benar saja, Adikara adalah pemilik saham terbesar di perusahaan yang pernah di pimpin langsung oleh mendiang papanya.


"Silahkan duduk, Pak Adikara Suryo."


Dipersilahkan oleh moderator, Adikara tentu memaju langkah dan menyapa papanya serta petinggi perusahaan lain dengan sopan. Lalu, dia duduk di kursi yang memang kosong tepat di depan Arun yang sejak tadi tak lagi ingin menatapnya. Wanita itu kini tertunduk menyembunyikan ekpresi yang gak nyaman.


Setelah rapat dimulai dan beberapa wacana dibawakan oleh sang moderator sebelum akhirnya giliran Arunika untuk membagi materi yang sudah dipersiapkannya semalam. Tanpa dia tau sejak tadi, Adikara sama sekali tak melepas tatapannya dari wajah cantik Arunika yang kini berbalut blezer itu. Tampak sangat berwibawa.


Dia menghindariku.


Memang benar, Arunika memilih untuk tetap menatap laptop sejak rapat dimulai. Wajah yang biasa Adikara dapati dari kepolosan istrinya, tak lagi ia temukan sejak di rumah. 


Arunika berdiri dari duduknya.  "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang saya hormati karena sudah memberikan kesempatan untuk saya hingga bisa berdiri di sini sebagai salah satu kandidat yang dipercayakan. Tapi saya mau memohon maaf, kalau saya ingin undur diri dari penyeleksian posisi ini. Terima kasih."


Arunika setengang menunduk memberikahan penghormatan. Sebelum akhirnya, dia membawa laptop keluar dari ruangan meskipun banyak orang bertanya-tanya dengan sikap yang dialakukan barusan.


Adikara? dia berasa kena tamparan keras akan sikap Arun barusan akan penyambutan dirinya di perusahaan di mana istrinya itu bekerja. Bola mata keluarga Adikara kini ditujukan ke arahnya.


Sebelum benar-benar dibombardir oleh keluarganya. Adikara beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan hendak mengejar istrinya.


Di mana Arunika yang kukenal?


Bersambung.

__ADS_1


***


Aku kok sedih :(


__ADS_2