
"Tidak pernah kusangka, jika rasa cintaku padamu mengalahkan rasa sakit yang sempat menusuk jiwa." ~ Adikara Suryo.
Sepulang kerjanya, Arunika disambut dengan kehadiran sang suami di tempat biasa. Pria itu berdiri dan bersedekap sambil bersandar pada badan mobilnya.
Dia menanti kedatangan Arun sejak sepuluh menit yang lalu. Menatap ke arah kedua sepatu yang ia kenakan, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Arun di sana berhenti dan mengambil hape. Perasaan ini tiba-tiba timbul dalam hatinya. Dia ingin memotret pose Adikara yang tampak sangat keren menurutnya.
Adikara malah menoleh dan Arun kedapatan. Dia kaget dan terburu-buru memasukkan hape ke dalam tas untuk menghilangkan jejak.
Pria itu malah tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Arunika. Bak tomat merah yang ranum, Arun tampak malu mendekati suaminya.
"Kenapa?"
Arun menggeleng canggung. "Nggak apa-apa."
"Tadi ngapain?"
"Ouuu ... foto langit itu," dia menunjuk ke atas. "Indah, Mas. Warnanya itu lho."
"Bohong."
"Nggak, kok. Kamu udah lama nungguin?" Arun yang terus ditatap mengalihkan topik pembicaraan.
"Baru sepuluh menit yang lalu. Yuk."
"Runnnn ...."
Teriakan seseorang menghentikan gerak tubuh Arun dan Adikara. Keduanya menoleh ke arah mana datangnya suara. Gala, laki-laki itu berlari ke arah Arun.
"Kak Gala?"
Gala berhenti tepat di depan Arun. Dada laki-laki itu kembang kepis. Dia sedang mengatur napasnya. Gala sama sekali tidak memedulikan Adikara yang berada tidak jauh darinya dan Arun. Tatapan penasaran tersemat di binar mata Adikara.
"Kenapa, Kak? sampai keringatan gini lho." Dengan penuh perhatian, Arunika mengambil tisu dari dalam tas. Dia usap kening Gala tanpa memikirkan keberadaan Adikara yang kini menatap nggak suka pada tangannya.
Gala menarik tisu dari tangan Arun. "Aku bisa sendiri. Nih," Gala memberikan flashdisk.
"Apa ini, Kak?"
"Drakor. Materilah buat besok. Kalau dari bu Yanti, aku nggak tau bisa bantu kamu apa nggak, Run. Coba aja kamu lihat sendiri. Aku udah rangkum semua ini dari pagi tadi." Gala tersenyum menatap Arun. "Kamu harus tetap semangat ya, Run. Selangkah lagi buat gapai keinginan kamu."
Arun tampak haru. "Makasih banyak, ya Kak."
"Nggak. Ini bukan apa-apa. Pokoknya, kalau kamu naik jabatan. Brokoli Family pasti juga senang. Kita support kamu, Run."
"Boleh peluk nggak?" dia terlihat sedih karena haru.
Adikara semakin menajamkan kedua matanya. Gala menoleh ke Adikara yang kini beradu tatap padanya. Bukan Arun.
"Nggak boleh! Tar dipikir laki lo, kita selingkuhan lagi."
"Mas?"
Adikara malah pergi mengarah jok kemudi. Arun paham itu adalah penolakan. Bukan sebuah izin. Susah ya, kalau uda sold out. Batin Arun.
"Kamu pokoknya harus semangat. Jangan sampai begadang, Ok?"
"Siap, Kak. Makasih banyak, ya."
Gala melambaikan tangan meminta Arun untuk masuk ke dalam mobil. Dia tidak ingin membuat suami Arun cemburu atau berpikir yang bukan-bukan tentangnya.
__ADS_1
Benar saja dugaan Gala. Adikara sejak tadi memperhatikan keduanya dari dalam mobil. Api cemburu melanda dirinya. Panas bak minyak goreng di atas wajan.
"Kok diam aja, Mas?" tegur Arun.
Selama diperjalanan pulang, Adikara memilih membisu. Arun bisa merasakannya, karena pria itu terlihat berbeda sejak ia masuk ke dalam mobil.
"Mas? Aku dikacangin?"
"Sama."
"Apanya yang sama, Mas?" Arun menoleh, dia mengerutkan kening.
"Tadi ngapain? Nggak lihat aku di situ juga? Kebiasaan."
"Kamu cemburu?"
"Ya?! Salah?"
"Nggak sih. Kok kamu gemesin lho, kalau cemburu kayak gini. Jujur lagi." Dia sentuh dagu Adikara. Semena-mena si Arun. Adikara menatap tajam untuk menepis tangan istrinya. Arun bukannya takut, dia terkekeh.
Ngoceh sepanjang jalan hingga sampai di rumah, Adikara tetap diam dan memaju langkah lebih dulu ke dalam rumah.
"Mas oh Mas. Kok aku ditinggal sih?" Adikara menoleh dari atas tangga. Arun menjulurkan lidahnya menyoroti kepergian Adikara yang masih tampak kesal itu.
"Merajuk ya, Mbak?"
"Iya, Bu. Cemburuan."
"Itu tandanya sayang lho."
Arunika meletakkan tasnya di atas meja bartender. "Mas Adikara emang gitu sih, Bu. Nggak ada romantis-romantisnya. Cuma ya gitu caranya dia nunjukkin perasaan sama Arun."
"Lama-lama juga bakalan romantis kok, Mbak." Keduanya sibuk memindahkan makanan ke atas meja makan.
"Iya, Mbak. Udahan, susul Masnya. Di sini biar Ibu aja. Entar baju Mbaknya kotor."
"Wokey, Ibu. Arun ke atas dulu." Dia bergegas pergi untuk menyusul Adikara ke kamar.
Sampai di kamar, Arun mendapati Adikara sedang menyisir rambut di depan cermin. Dia sudah mengganti pakaiannya.
"Mas?"
"Hemmmm?"
"Masih marah, ya?"
"Hemmm."
"Mau aku peluk?"
"Ngomong apa aku ini?" Batinnya sesaat mendapati tatapan Adikara yang sama dengannya. Bingung.
Arun malah tertawa seolah lucu. "Kalau nggak mau, ya nggak apa-apa. Aku mau mandi."
Arun berjalan tanpa menatap Adikara yang tak merubah tatapan sama sekali. Dia menarik lengan Arun saat melewati dirinya.
"Aku mau."
Adikara lebih dulu menarik tubuh Arun. Dia memeluknya erat. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Arun. Sampai-sampai buat Arun tak berkedip. Merasakan dekapan Adikara bagaikan disambar petir. Ngeri.
"Seharusnya ... pelukan ini buatku, Run. Jangan pernah pegang-pegang laki-laki lain. Aku nggak kuat," gumam Adikara pelan.
__ADS_1
Arun spontan mengangguk kepala. "Kamu benaran marah karena itu?"
Pake tanya lagi. Ya iyalah, Run. Suami mana yang nggak marah istrinya perhatian sama laki-laki lain. Sekalipun itu sahabatnya. Batin Author.
Adikara mengangguk. "Aku nggak suka."
"Oooo ... biar kucatat."
"Catat?"
Dia kembali menganggukkan kepala. "Iya. Kamu bukan hanya nggak suka aku nangis 'kan, Mas? Aku catat nanti, kalau kamu nggak suka aku pegang-pegang laki-laki lain."
Sontak saja Adikara tertawa. Polos banget sih bininya ini. Pikirnya.
Adikara melepas tubuh Arun yang buat ngangeni selama jauh dari istrinya. Dia membalas tatapan malu-malu Arun, tapi masih tak melepas iris mata Adikara darinya.
"Uda nggak marah lagi, 'kan?"
Adikara menggeleng. "Nggak. Ya udah mandi. Aku uda siapkan air hangat."
Seperti biasanya, Adikara lebih dulu ke kamar untuk mempersiapkan air mandi buat Arun. Perhatian kecil dari Adikara kayak gitu bikin Arun nyaman dengan lelaki yang jarang mengumbar kata-kata cinta.
***
Selesai makan malam. Keduanya saling izin untuk mengerjakan tugas dari kerjaan mereka. Adikara ke ruang kerjanya sedangkan Arun, dia memilih di kamar.
Sama-sama berada di depan layar. Adikara di depan layar komputer, Arun sendiri berada di depan layar laptop.
Seketika kepalanya sakit melihat materi yang diberikan bu Yanti—sekretaris yang dipercayakan oleh atasan lain.
"Ini gimana sih? Apa aku tanya sama Mamas Adi aja, ya?" Sudah lebih dari 30 menit, dia berkutat dengan materi perdagangan serta perindustrian dari perusahaan tempatnya bekerja.
"Itu 'kan punya keluarga Mas Adi. Sedikit banyaknya, Mas Adi taulah tentang perindustrian mereka."
Penuh semangat dan keyakinan yang tinggi, Arun membawa laptopnya di atas kedua lengan dan keluar dari kamar. Hanya berjarak beberapa kamar tempat ruang kerja Adikara. Tepatnya di pojokan berlawanan.
Sampai di depan pintu sliding berbahan alumunium dan dilapasi kaca tembus pandang itu, Arun sedikit mengarahkan kepalanya ke dalam.
Refleks Adikara menutup buku yang sempat ia genggam sejak tadi, dan meletakkannya di atas meja, karena merasakan kehadiran Arun.
"Masuklah."
Mendengar suara Adikara dan merasa kedapatan, Arun mendorong pelan pintu dan masuk. Untuk pertama kalinya, Arun memijakkan kaki di sini.
"Kenapa?" tanyanya ketika Arun berdiri tepat di depan meja.
Dengan menopang dagu, Adikara menatap wajah Arun. Rambut panjang wanita itu dibiarkan tergerai, yang selalu sukses buat Adikara memuji kecantikan istrinya.
"Mas sibuk?"
Adikara menaikkan salah satu alisnya. "Sedikit. Ada apa?"
"Aku ke—"
Nada dering hape Adikara memangkas ucapan Arun yang belum sempurna dia ucapkan. Adikara juga menyaut hapenya dan terlihat serius mendapati nama yang muncul di atas layar benda persegi itu.
"Aku angkat telepon dulu. Kau tunggulah di sini." Dia beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi.
"Oh, iya. Tolong jangan pegang apa pun yang ada di sini. Kau mengerti?"
Bersambung.
__ADS_1
***
Aku pecah jadi 2. Kalau uda baca yang ini tekan like dan kasi komentar kalian banyak² hahaha.