
"Akhirnya aku mendapati kelebihan dalam dirimu. Kau sangat pintar menyimpan rasa sakit dan kesedihanmu sendiri." ~ Adikara Suryo.
...****************...
Arun menarik napas dalam-dalam, "apa Mas pikir kamarku ini tempat penangkaran buaya?" tanya Arun menahan kesal.
Adikara yang lebih dulu memaju langkah melewati Arun, pun kini terhenti dan memutar tubuhnya. Ia menatap mata kecil Arun yang terlihat membengkak.
"Tertulis di daun pintu. Apa aku termasuk salah satunya?"
Arun menghembuskan napas sambil mendorong pintu untuk menutup.
"Hanya Mas dan Tuhan yang tahu soal itu," cetusnya malas.
Adikara tidak menjawab, tapi kedua bola hitam itu mengikuti pergerakan tubuh Arun yang berjalan melewatinya mengarah pada meja kecil di ujung dinding dekat jendela kaca.
"Aku mau mandi, Mas. Setelah aku siap, kemudian Mas yang mandi. Aku benar-benar sangat gerah sekarang."
"Baiklah. Silahkan ...."
"Beristirahatlah sejenak," kata Arun sebelum berlalu ke kamar mandi, sesudah mengambil handuk dan pakaian dari dalam lemari.
Adikara hanya menyoroti kepergian Arun, kemudian ia memilih duduk di tepi tempat tidur Arun yang serba pink. Matanya kini berkelana, dimulai dari memperhatikan dinding kamar yang juga berwarna pink dari wallpaper bertemakan Bunga Sakura.
Perlahan matanya berpindah ke arah foto yang menggantung sejajar satu sama lainnya, hingga terkesan sangat rapi. Ada foto Arun kecil, foto keluarga, sahabat, foto wisuda, hingga foto mantan Arun. Ya, Adikara sangat mengenal lelaki itu.
"Belum bisa melupakannya?" gumam Adikara dalam hati.
Setelah puas memandang foto Arun bersama sang mantan, Adikara kini tertarik dengan piagam dan piala, juga tersusun rapi di atas meja yang sejajar di bawah TV.
"Anak yang sangat pintar," komentarnya dalam hati.
Sekarang ia berganti pandangan ke arah lain dari meja depan menuju rak buku yang menjadi pembatas ruang kamar dan kamar mandi.
"Kutu buku," gumamnya lagi di dalam hati.
Hendak memandang ke tempat lain, namun terurungkan ketika mendapati Arun telah selesai mandi. Rambut hitam panjang Arun tergerai setengah basah. Menggunakan stelan piyama celana panjang berbahan katun kilat berwarna pink, Arun tampak lebih segar menurut Adikara.
Kedua mata mereka kini saling bertemu. Arun masih memilih berhenti tepat di samping rak buku sebagai pembatas.
"Mandilah, Mas. Nggak ada air hangat di sini, karena itu rusak. Dan kamar ini kosong, jadi aku meminta untuk tidak dibenarkan. Karena apa? Karena aku nggak mau orang lain masuk ke sini tanpa sepengetahuanku. Jadi, aku sudah menampung air dingin di bathtub. Kalau mau berendam silahkan, tapi ingat kesehatan," balasnya kemudian memutar badan lagi. Arun berjalan ke arah lemari, tempat di mana ia menyimpan pakaian Adikara sebelumnya.
"Aku merasa lega, ketika dia banyak bicara seperti biasa," kata Adikara dalam hati.
"Kenapa masih duduk di sana, Mas?"
Adikara tidak menjawab, namun kaki dan tubuhnya menurut. Ia berdiri mengarahkan langkah ke kamar mandi.
__ADS_1
"Pakai handuk ini, Mas. Nggak ada barang laki-laki di sini. Jadi, aku harap Mas nggak keberatan." Arun memberikan handuk berwarna pink, sembari memberikan pakaian luar dan dalam Adikara ke arahnya.
"Kau tidak keberatan untuk ini?" tanya Adikara setelah mengambil pakaian dan handuk dari tangan Arun.
Arun masih menegaskan tatapan meskipun sekitar mata masih berasa perih, kemudian mengedikkan bahu.
"Tugas seorang istri, bukan?"
"Jika keberatan, jangan lakukan. Aku tidak akan memaksa seorang istri melakukan tugasnya. Apalagi istrinya masih mengenang perasaan dari masa lalunya. Urus saja dirimu sendiri," kata Adikara datar dan berlalu masuk ke kamar mandi.
Arun mengerutkan kening dan menatap pintu kamar mandi yang barusan tertutup sangat rapat. Jangan lupakan, kalau pintu kamar mandi itu juga berwarna pink.
"Ada apa dengannya? Apa dia kumat? Entahlah ...."
Adikara membuang napas kasarnya, setelah sukses mengunci pintu dari dalam. Sejenak, ia menopang kedua tangan di atas tembok wastafel, wajahnya tertunduk.
"Apa dia memang suka sama semua lelaki?" tanya Adikara kini.
Wajah Adikara kini terangkat menatap pada kaca di depannya. "Bagaimana bisa tadi itu dia suka-suka memeluk semua lelaki di bawah sana. Apa dia membuka jasa pelukan atau semacamnya? Agh, wanita macam apa dia itu? Jelas-jelas, dia tahu aku berada di sekitarnya. Setelah masuk di dalam kamarnya, ada foto mantan brengsek yang tega meninggalkannya sendirian, kemudian dia menangis tanpa malu? Siapakah dia ini?" omel Adikara panjang lebar pada cermin. Dengan kasar, ia mengusap wajahnya merasa tidak terima akan apa yang ia rasakan.
"Aku bisa gila karenanya," kata itu menjadi penutup dan memutus segala emosi yang sempat ia pendam.
Adikara kini berjalan mengarah bathtub, dan masuk ke dalam untuk berendem sejenak. Biasanya ia akan berendam air hangat, namun wanita itu memberikannya air dingin. Sungguh tahu sekali dia, kalau Adikara membutuhkan air dingin untuk meredam hati dan pikirannya yang panas.
Butuh lima belas menit, akhirnya Adikara selesai dari mandi. Dia mengenakan pakaian santai. Kaus hitam polos dengan celana karet panjang abu- abu, pun menjadi pilihan Arun untuknya. Ia Keluar dari kamar mandi, tapi tidak mendapati Arun dalam kamar. Adikara berinisiatif untuk keluar dari kamar, melewati dinding yang memperlihatkan foto Arun dan mantanya. Ia melebarkan tatapan ke arah foto tersebut, sembari jalan dan berlalu keluar.
Sesampainya di bawah, Adikara mendapati Arun dan sahabatnya duduk santai di ruang dekat dapur. Ruang terbuka yang di design khusus oleh papanya untuk berkumpul bersama. Di atas karpet berbulu berwarna abu-abu, kelimanya duduk saling berbincang santai.
"Ayo, kita makan malam." Boy datang dari arah belakang dengan menepuk pundak Adikara.
Adikara menoleh ke arahnya, "ayo."
"Keluarga Brokoli," panggil Boy sebelum mengayun langkah, "ayo, kita semua berkumpul ke ruang makan." Boy masih merangkul pundak Adikara. Setelah mengajak kelima orang tersebut, keduanya kini melangkah ke ruang makan.
"Okey, komandan," saut Ettan kemudian.
"Jangan ditanggapi sahabat Arun ya, Di. Jangan cemburu maksud gua," bisik Boy pada Adikara.
"Tentu saja tidak," balasnya singkat.
"Baiklah, duduklah duluan. Mereka akan segera menyusul," ucap Boy melepaskan rangkulan, dan ia datang pada Arini yang kini membantu dua pekerja mereka memindahkan sisa masakan.
Adikara masih berdiri di salah satu kursi dengan bersandar di ujung kursi. Dia menantikan kedatangan Arun lebih dulu. Namun, dari mulut yang tertutup rapat, ia berkata dalam hati.
"Bagaimana mungkin tidak ditanggapi, Bro. Dia wanita yang sah kujadikan istri semalam. Aku saja belum pernah memeluknya. Sial ...."
"Kenapa masih berdiri, Mas?" tegur Arun membuat Adikara sedikit terjingkat kaget.
__ADS_1
Tidak membalas pertanyaan Arun, tangan Adikara menarik kursi yang sempat menjadi sanderan kedua tangannya.
"Duduklah," titahnya mendapati tatapan kaget keluarga Brokoli.
Arun sekilas melirik pada sahabatnya yang sudah duduk bersamping-sampingan terlebih dahulu, dan berakhir dengan tatapan Adikara. Kepala Adikara bergerak, memintanya menurut.
"Baiklah," balas Arun dan duduk.
"Romantis juga," bisik Dita pada Elee.
"Tidak seperti yang dikatakan Arun, 'kan?" balas Elee kemudian.
"Pria baik-baik sepertinya, Bro!" bisik Ettan pada Gala.
Sejurus kemudian, Gala menatap pada Adikara dan menggerakkan wajahnya menemui Ettan.
"Bukan urusanmu," balasnya singkat. Lelaki itu membuang pandangan ke arah lain.
Ettan membelalakan mata. Kesal saja dengan respon Gala yang gak ada benar-benarnya.
"Ayo, diambil masing-masing makanannya. Anggap saja rumah sendiri," kata Arini membuka segala menu hidangan.
"Makasih Kak Arini," ucap Dita senang.
"Iya, makasih ya, Kak," sambung Elee.
"Sudah, jangan pada berterima kasih. Kalian disambut di sini. Kalian datang jauh-jauh, dan memberikan penghiburan untuk kami. Sepantasnya kami yang berterima kasih. Kesedihan hari ini sedikit berkurang untuk kami karena adanya kalian semua," kata Boy dengan menahan air mata.
"Ouuuggh ... Kakakku ganteng, kamu memang yang terbaik untuk kami," balas Ettan memuji.
"Iya, Kakak yang terbaik," sambung Elee.
"Kalian juga yang terbaik. Ayo, kita makan." Boy kembali mempersilahkan. Suaranya terdengar parau.
"Makanlah Di, nggak perlu sungkan dengan mereka. Mereka bukan sejenis Karnivora, Herbivora, atau Omnivora," ucap Boy.
"Tapi amfibi," sambung Ettan membuat seluruhnya tertawa kecuali Adikara.
Lelaki itu melihat ke arah Arunika Baskoro, wanita yang berada di sisi kirinya, sedang mengudarakan tawa di sela kesedihan tanpa tahu Adikara memperhatikannya diam-diam.
"Kau memang wanita yang ajaib, Run," kata Adikara dalam hati.
Tanpa sengaja, Arun malah menoleh mendapati tatapan teduh di kedua bola mata Adikara. Lelaki itu pun tak bisa lagi menghindar, ia hanya menarik kedua sudut bibirnya tipis, tapi Arun bisa melihatnya hingga menyurutkan tawa dari wajah Arun sendiri.
...Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Kakak-kakak, minta tolong dong. Yang punya aplikasi N o v e l M e, bantu subscribe karyaku di sana yang judulnya "Menikah Karena Syarat" tolong ya. Terima kasih.
Jangan lupa dukung Adikar dan Arunika lewat like, komentar, vote, dan hadiah ^^