
"Siapapun dia yang sebenarnya, aku cuma mau bilang, kalau aku nyaman dengannya." ~ Arunika Baskoro.
...****************...
Sebelum memberikan jawaban, kedua manik mata kami saling bertaut. Bedanya di sini bola mata hitam Mas Adikara kering, sedangkan milikku sendiri dibanjiri air mata kesedihan akan kenangan yang sempat terlintas sejak kepergian sahabatku. Mendapati bola hitam miliknya terselubung sebuah tanya atas maaf yang barusan kulambungkan padanya.
Wajar saja dia bingung. Aku saja bingung dengan apa yang barusan kuucapkan. Sejujurnya malu sih untuk mengakui kesalahan yang telah terlanjur terjadi, tapi kalau tidak mengakui kesalahan ini, rasanya punya hutang sama pria di depanku.
Dia benar-benar sangat sabar untuk mendapati jawaban dari mulutku. Buktinya sekarang, aku masih berdiam dia tetap aja menatap ke arahku.
"So-soal kemarin. Waktu di taksi uda nyalahkan Mas Adikara soal hape."
Reaksinya sedikit membingungkan. Kepalanya terlihat bergerak miring, mungkin sedang mengingat sesuatu.
"Soal hape, ya?"
"Iya ... karena waktu itu aku menyalahkan Mas mematikan hapeku. Ingat nggak?"
Dia menoleh padaku dengan sikap santainya.
"Lalu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Semakin tertusuk rasanya uluh hati ini. Kenapa perasaanku tak enak dengan pertanyaannya barusan.
"Hapeku ternyata habis baterai, Mas," kataku sembari menundukkan wajah. Gila, aku benar-benar malu untuk menemui matanya yang sedari tadi tak merubah pandangannya.
Suara hembusan napas diikuti dengan suara pergerakan tubuhnya dari atas tempat tidur, pun membuatku mengangkat wajah. Mas Adikara kini melayang tatapan ke arah lain.
"Bukan hanya itu saja, 'kan?" tanyanya tiba-tiba.
Otakku langsung berpencar mencerna maksud perkataannya. Sial, dia benar-benar perhitungan ternyata.
"Ada dua sih," balasku ragu-ragu padanya.
Kembali kudapati tatapannya yang mengarah padaku.
"Ya, ada dua. Dalam satu hari itu, kau memberikan tuduhan yang menyakitkan buatku."
Bola matanya menajam kini.
"Aku tidak bermaksud, Mas," balasku lagi.
"Hah, sudah salah terus masih bisa membela dirinya lagi," sindiran itu serasa menampar terang-terangan ke wajah ini.
"Sudah kukatan, aku tidak bermaksud kayak gitu, Mas. Mau maafkan aku apa nggak sekarang?" tanyaku penuh harap.
Alis sebelahnya terlihat terangkat. Kami saling pandang-pandangan seperti adegan romantis dalam drama percintaan yang kutonton bersama Dita dan Elee.
"Kenapa jadi liatin aku kayak gitu, sih, Mas?" Kembali menyembunyikan wajah darinya. Memanas pipi ini dibuat olehnya.
"Apa kau sangat cantik sampai aku terus memandangimu?"
Mendengar jawabannya barusan, membangunkan rasa kesal yang sempat kuurungkan. Kutarik napas dalam-dalam, sedalam lautan lepas yang hendak menggiring ombak memecahkan karang dan sekitarnya.
"Kalau aku nggak cantik mana mungkin Mas Adikara mau menikah denganku. Jangan sembarangan berkata. Aku ini memang wanita paling cantik dari antara berjuta wanita yang pernah Mas Adikara lihat, dan hanya satu-satunya wanita tercantik milik Mas Adikara sekarang. Tentunya setelah menikahiku," balasku menggebu-gebu padanya kayak orang kesurupan.
Kini kulayangkan tatapan tajam setajam silet yang bisa mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar area mulutnya, di balik mata yang kini terasa sangat perih efek menangis tadi.
Memanglah nasibmu minta dikasihani oleh semesta, Run. Sudah berkata dengan lantang tanpa jeda hingga membuat sesak napas, respon pria di depan itu cuma menghembuskan napas doang.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku berani. Sesungguhnya aku takut. Kepedean sih akunya. Kayak mana dong, kalau lagi emosi kadang otakku jadi korslet.
"Kau sangat cerewet."
"Agh, dasar suami tidak punya hati," gumamku kemudian beranjak dari atas tempat tidur.
Baru bergeser untuk turun, tiba-tiba tangan Mas Adikara menyentuh lenganku.
"Mau ke mana?" Dia menengadahkan wajahnya ke arahku.
Aku memajukan bibir. "Emangnya kenapa?"
"Kau belum mendengarkan jawabanku atas permintaan maafmu tadi. Jangan membuat alasan untuk tidak bertanggung jawab."
Sial.
Aku benar-benar sial. Sambil mendesahkan napas ke udara dengan malas, aku menyesali niatan baikku tadi padanya.
"Duduk," perintahnya.
"Astaga, Mas."
"Duduk kubilang," balasnya lagi.
Tentu saja harus menurut apa pun perkataannya seperti pesan mama sebelum meninggalkanku. Perlahan-lahan tubuh ini kembali duduk. Ya, duduk tepat di sampingnya. Tidak banyak jarak yang memisahkan antara kami seperti sebelumnya.
Kalau bisa menghilang atau ngumpet, ingin sekali rasanya kulakukan. Gimana tidak, kakinya dan kakiku saling bersentuhan di bawah sana. Panas dingin seluruh tubuh ini rasanya. Baru kena sentuhan secuil kulit saja, pun udah bisa membuatku menggila kayak sekarang. Apalagi kalau kami saling berpelukan. Pingsang dong.
"Dengarkan aku," katanya lagi. "Karena kau sudah menyalahkanku sebanyak dua kali. Jadi, kau harus menuruti permintaanku."
Aku menoleh ke arahnya dan mendapati tatapan dia tentunya. Kening ini mengerut seperti kain kanebo kering. "Jangan macam-macam, Mas."
"Macam-macam? Apa memangnya?"
"I-ya, maksudku. Jangan aneh-aneh. Emangnya apaan?" Mata pun mengerjap-ngerjap entah ke berapa kalinya.
"Nanti, kalau udah di Jakarta aja. Aku akan mengajukan soal maafmu. Sekarang, temani aku makan. Aku sangat lapar," katanya kemudian berdiri pergi meninggalkanku sendiri.
"Apa itu tadi?" tanyaku penuh keheranan.
Mas Adikara memang pria yang sangat special, dia lain dari pada yang lain dari semua lelaki yang pernah kutemui. Sifat santainya terkadang menghanyutkan. Sebelum dia marah, aku pun bergegas keluar dari kamar mama. Nanti, aku akan kembali lagi ke sani, karena ada sesuatu yang kuingat tentang perkataan mama saat kami di kamar pengantin.
"Duduklah," katanya, kini menarik kursi di sela meja. Ternyata dia menunggu kedatanganku.
"Kenapa gak duduk duluan, sih, Mas?"
"Aku harus makan dengan istriku. Kalau tidak, siapa yang akan mengisi piringku?" tanyanya dengan wajahnya yang serius itu.
"Tentu saja istri tetangga," balasku langsung mendapati pelototannya.
"Baiklah ... akan kucoba," jawabnya entang.
"Awas saja kalau berani," kataku sambil mengambil piring dan menyendokkan nasi. Tidak ada lagi suaranya yang menjawab ucapanku. Lapar memang bisa membungkan mulut seorang Mas Adikara.
"Ini, makan yang banyak," kataku sembari meletakkan piring berbahan kaca dengan motif bunga di setiap pinggiran.
"Terima kasih." Semakin menggelepar tubuh ini mendengarnya. Meskipun sikap pria ini berubah-ubah, tapi dia tahu sopan santun.
Terus saja membuatku memahami dirimu, Mas.
__ADS_1
"Kemana perginya semua orang?" tanyanya sambil menyantap makanan.
"Sahabatku uda balik sejak subuh, Mas. Kalau bang Boy dan kak Arini, keduanya pergi ke tempat keluarga mama. Ada barang titipan mama untuk mereka."
"Oooo ...."
Sekilas meliriknya dengan tampang O nya. Dia memang sangat istimewa dilihat dari arah mana pun.
"Jangan melihatku lama-lama, kalau jatuh cinta urusannya susah."
"Gila! Pede amat, sih?"
Kusantap makanan yang sudah tersedia di piringku dengan jantung yang hampir melompat karena perkataannya itu. Narsis juga manusia kaku ini.
"Pelan-pelan, nanti kau bisa tersedak," katanya menyadarkan tanganku untuk berhenti.
"Ahh, aku benar-benar bisa gila," rengekku pada diri sendiri.
"Habiskan makananmu. Siap ini kita bergegas ke makam mama dan papa. Habis dari makam, aku mau kita menginap di rumah orang tuaku satu malam, Run. Apa kau keberatan?" tanyanya melayangkan tatapan padaku.
Aku sempat berdiam untuk beberapa saat. Bagaimana pun, aku memang harus ikut ke mana aja Mas Adikara ingin pergi. Ya, meskipun rasanya masih ingin di sini.
"Kalau kau tidak mau, kita langsung ke Jakarta. Cuti kerjaku hanya satu minggu," katanya lagi.
Aku menggeleng. "Tidak, Mas. Yaudah, kita ke rumah orang tua, Mas. Aku juga belum benar-benar mengenal mereka. Tolong, kalau aku melakukan kesalahan tegur aja, ya, Mas. Aku masih anak-anak yang belum berpengalaman dengan namanya pernikahan."
"Aku juga baru menikah sekali seumur hidup," balasnya tak acuh, tapi nadanya kayak gak terima gitu.
"Oh, iya, aku lupa. Berarti, malam ini kita akan menginap di rumah orang tua, Mas. Besoknya?"
"Besoknya kita berpamitan. Aku mau membawamu tinggal di Jakarta. Karena aku bekerja di kota yang sama denganmu."
"Wuah, syukurlah."
Ada kelegaan dalam benakku. Sebelumnya aku berpikir, kalau Mas Adikara akan menetap di sini dengan keluarganya atau memintaku untuk berhenti bekerja. Namun, kenyataannya berbanding terbalik sekarang.
"Kenapa?"
"Aku hanya takut, kalau Mas mau tinggal di sini."
"Mana mungkin di sini. Ini rumah orang tuamu."
"Yaelah ... polos banget. Maksudku rumah orang tuamu, Mas," kataku lagi padanya.
"Jauh sebelum menikah denganmu, aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku tidak mau nantinya istriku merasa tertekan dengan orang yang belum dekat dengannya. Agh, kenapa aku harus menjelaskan ini padamu. Benar-benar menghamburkan kata," balasnya membuatku tersenyum.
Benar yang dikatakan Elee kemarin. Mas Adikara memang kena virusku. Dia sangat pintar bicara sekarang. Tidak sekaku sebelumnya. Sungguh sangat menyenangkan bagiku.
"Sering-sering menghamburkan kata, ya, Mas," balasku sambil melanjutkan aktivitas makan.
...Bersambung....
...****************...
...*Vote ...
...*Like...
...*Komentar...
__ADS_1
...*Hadiah...
...Terima kasih ^^...