
"Dari wajahmu yang terlihat sangar, kurasakan rasa pedulimu untukku." ~ Arunika Baskoro.
...****************...
Di tengah keramaian pengunjung tempat wisata yang ada di Depok, aku dan Mas Adikara berjalan dengan bergandengan tangan. Iyes! Akhirnya ada sesuatu yang manis di antara kami. Bukankah ini kemenangan pesat untukku? Hahaha, sungguh sangat berharap sekali kau Arun.
Hah, Mas Adikara memang pemalu dan dingin. Setidaknya, aku tahu kalau dia peduli denganku. Tempat ini sangat nyaman untuk tempat bersantai bersama keluarga atau juga kekasih. Ini sebuah bukti bukan? Dia mau menghibur dengan caranya sendiri.
Dari sudut pandang mata melihat, banyak pondok yang berjejer rapi berada di pinggir kolam pancing. Ini tempat yang pernah kukunjungi bersama keluargaku.
"Kau mau duduk di mana?"
Aku yang sempat mengedar pandangan ke seluruh tempat, kini menengadah ke arah wajahnya. "Terserah. Yang penting bisa duduk aja."
Tidak lagi kudengar jawaban, dia pun memilih pondok yang bagian tengah. Di sini itu sangat nyaman dan asri, karena mengusung khas alam terbuka. Ada perahu, playground, taman bermain anak, live music, koleksi satwa, pun tempat memancing yang ada di hadapan kami. Sampai di dalam pondok, Mas Adikara sempat berdiam sebelum akhirnya melepas pegangan tangan kami.
Lebih dulu aku mengambil posisi duduk di pojok kanan dekat kolam. Dan kulihat, dia menyusul tepat di depanku dan saling berhadap-hadapan.
"Kau mau makan apa?" tanyanya sambil membuka buku menu.
Sepintas berpikir dan ikut melihat pada buku menu. "Apa, ya? Bingung, Mas. Kamu makan apa?"
Dia melirikku sejenak dan kembali melihat ke arah buku menu. Ngeri sekali itu tatapan, bisa buat anggota tubuh bagian dalam pada menggeleper karena takut disorot.
"Apa yang kau inginkan?"
Sial, malah balik tanya lagi.
"Aku ngikut kamu aja, Mas."
"Jangan."
"Kenapa?"
Dia menutup buku menu dan memangdangku dingin.
"Pesanlah yang ingin kaumakan. Bukan yang ingin kumakan," ketusnya padaku.
Aku mencebikkan bibir. "Galak amat, sih?"
Kembali kulihat buku menu dan mencoba memesan makanan yang pernah kupesan saat bersama mama, papa dan bang Boy.
"Aku mau Ikan Gurame bakar, udang peprek, sama cah kangkung. Kalau minumnya, mau kelapa bulat," ucapku padanya.
"Baiklah."
"Mas pesan apa?" dia hampir beranjak dari posisinya kini.
"Sama denganmu," jawabnya kemudian berlalu pergi meninggalkanku. Mungkin saja Mas Adikara sudah kelaparan banget sampai-sampai turun tangan ke lapangan.
Sekalian dech Mas ikut masak gitu, biar tambah cepat. Aku pun terkekeh membayangkan itu terjadi.
"Kau gila?"
Sekejap kekehanku pun sirna, saat dia kembali duduk di hadapanku. Bibir ini memberut tak terima. "Aku sama kayak Mas, waktu di kamar tadi itu. Tertawa nggak jelas," sindirku padanya, dan melengos.
Dalam suasana yang ramai, kami kini berdiam, tak ada lagi pembicaraan setelah Mas Adikara memilih tidak menjawab ejekan tadi. Aku tidak ingin mengurangi harga diri hanya untuk mengajaknya bicara lebih dulu dan mencairkan suasana.
__ADS_1
Menatap tempat arena memancing dan keluarga yang berkunjung, seolah mengembalikan memori ingatanku saat kebersamaan yang lengkap di momen masa indah keluarga berada di sini. Perahu kecil yang melintas di hadapanku, pun mengingatkan diri ini sama bang Boy yang mengajak aku untuk naik dan berkeliling.
"Kau mau naik perahu?" tanyanya setelah dia berdiam untuk beberapa saat.
Aku menoleh ke arahnya sembari menggeleng kepala. "Nggak."
"Kalau mau biar ditemani."
"Nggak mau. Mas aja sana," kataku padanya.
Dia hanya melirik dan kembali sibuk dengan hapenya. Ingin sekali kutanyakan sesuatu yang ada di kepala ini sejak kemarin.
"Mas," panggilku memberanikan diri.
Dia mengangkat wajah. "Ehem?"
"Boleh tanya sesuatu nggak?"
"Nggak boleh," katanya kembali mengarah tatapan ke hape.
"Isss ... sok banget sih."
"Terserah."
"Aku ingin tahu kamu, Mas."
Kulihat jemari yang sempat sibuk di atas layar hape terhenti bersamaan dengan matanya yang terarah ke arahku.
"Apa yang ingin kau tahu tentangku?"
Terlihat sangat sopan. Mas Adikara kini meletakkan hapenya di atas meja. Kemudian, ia melihatku lekat-lekat, seolah menunggu mulut ini terbuka untuk melanjutkan pertanyaan dariku.
Giliranku meletakkan tangan kanan di atas meja dan menopang dagu. Samar-samar kulihat ekspresi wajahnya berubah.
"Mama tidak memberitahukannya padamu?"
Aku menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya disuruh cepat-cepat nikah sama kamu, karena mama takut kamunya dipepet sama cewek lain lebih dulu. Aku cuma tahu itu."
Wajahnya kini benar-benar tak bisa terbaca olehku.
"Ouuu ... aku dan mama dipertemukan di lorong perumahan blok B. Aku yang saat itu barusan tiba di Depok dan masuk ke blok B, melihat mama terjatuh di tengah jalan. Aku langsung turun dari mobil untuk bantu berdiri, karena saat siang hari di perumahan sepi. Yaudah, aku tanyain mau ke mana, ternyata mama mau ke rumah orang tuaku," jawabnya dan tiba-tiba berdiam. "Kenapa aku banyak ngomong setelah bersamamu?" Dia memutus kontak mata ke arah lain.
"Mas!"
"Eheeemmm?"
"Lanjutkan. Kamu banyak ngomong cuma sama aku. Orang di sini juga nggak ada yang kenal kamu, 'kan? Jangan setengah-setengah dong," cetusku kesal.
"Nanti saja. Makanan kita udah datang."
Benar dugaanku. Mas Adikara memang sangat lapar sekarang. Yaudah, mau dikata apa lagi? Harus menanti saat waktu kami benar-benar kosong. Aku ingin tahu tentangnya dan mamaku.
"Selamat makan," ucap Mas Adikara sesaat semua menu makanan kami terhidang di atas meja.
"Apanya yang selamat makan? Piring kamu masih kosong." Terkadang kulihat pria ini ingin melawak, tapi sayangnya canggung.
Dia menanti tanganku menyendokkan nasi ke atas piringnya. Pria ini memang sangat berbeda dari pria-pria yang sempat dekat denganku. Sssttt ... Mas Adikara nggak boleh tahu, kalau selama ini aku memang jomlo, tapi banyak kenalan cowok yang kujadikan teman tapi bukan pacar.
__ADS_1
"Sudah cukup?" Dia mengangguk dan hendak mengambil menu makanan.
"Bentar dulu, Mas!" kataku mencegah tangannya yang mau mengambil ikan bakar di atas meja.
Dia melirikku. "Kenapa?"
Aku tertawa kecil. "Foto dulu, Mas."
Kulihat gerak tubuhnya yang sempat condong ke depan, kini berangsur mendorong tubuhnya ke belakang.
"Sebentar saja. Aku mau abadikan momen pertama kita di sini," kataku beralasan, sambil mengambil hape dari dalam tas selempangku.
"Kau pasti mau membagikan ini ke sosmedmu," katanya pelan, tapi bisa kudengar.
"Kok, Mas, tahu? Mas stalking akun Igeku, ya?" tanyaku seraya mengambil foto makanan dari atas.
"Ck! Aku tahu dirimu sangat baik."
"Apa, Mas?"
"Tidak apa-apa. Sudah belum?"
"Ayo senyum," kataku lagi sambil mengarahkan kamera depan yang menampakkan wajah kami berdua.
"Senyum dong, Mas!"
Akhirnya Mas Adikara menarik sudut bibirnya. Dan inilah foto pertama kami berdua selama menikah tapi tak pernah pacaran.
"Silahkan makan," kataku sekarang.
Dia tidak berkata apa pun lagi. Kini ia menyantap makanannya dengan tenang. Aku tidak langsung menikmati makanan, sebab jemari ini rasanya gatal mengingat para sahabatku yang jomlo.
...Keluarga Brokoli...
Aku : send picture
send picture
Selamat ngiri anak-anak :)
(visual Adikara dan Arunika ada di akun w a t p a d d aku ya. Dengan judul dan nama pena yang sama)
Aku mengirimkan foto kami berdua dan juga menu makanan yang sempat kufoto. Meletakkan hape di atas meja dan menyantap makanan dengan hati yang gembira. Bahagia itu sederhana ya, Bun. ^^
...Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa berikan dukungannya, ya. ^^
*Like
**Komentar
*Hadiah
Vote
__ADS_1
Visual Adikara dan Arun ada di W a t t p a d. Yuk kepoin di akun dengan judul dan nama pena yang sama** ^^