
"Dia menjadi candu dalam hidupku yang sempurna." ~ Adikara Suryo.
...****...
Adikara membuang napas. "Mau aku ceritakan?"
Manik teduh hitam legam Adikara menatap ke dalam bola hitam kepunyaan Arunika dengan sangat teduh. Ia bahkan sampai menunduk wajah untuk menulusuri bagian milik istrinya yang dipahat sangat indah oleh sang pencipta.
Arunika kemudian tersenyum dan mengangguk. Kemurnian tatapan milik Arunikalah yang bisa membuat Adikara luluh dalam semalam dan menjanjikan dalam dirinya sendiri, agar menjaga baik-baik perasan wanita yang teramat dikasihinya.
"Ok ... aku mulai dari pohon mangga aja, ya?" Ibu jarinya masih sibuk mengusap punggung tangan Arun. Demi kenyamanan bersama, Adikara harus mendengar pendapat Arun lebih dulu.
"Terserah kamu, Mas. Yang penting, aku mau dengar cerita dari kamu. Ayooo, mari menghamburkan kata-kata." Gelak tawa keduanya malah mengudara di dalam kamar, sebelum Adikara memulai pembukaan cerita.
"Kamu masih mengingatnya dengan baik, Sayang," bisik Adikara menggoda, tepat di bagian telinga Arun. Segala bulu yang ada di tubuh Arun bangkit seketika.
"Merinding aku, Mas," jawabnya agak ngeri.
Adikara tertawa lepas dan tampak sangat bahagia. Memang benar, Arunika masih gak terbiasa akan perubahan suaminya yang sangat besar itu. Sedangkan Adikara sendiri, malah sangat senang akhirnya bisa leluasa mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya ke Arun.
"Ok ... ayo kita mulai," ucap Adikara dengan lantang.
"1,2,3."
"Lho, kok kayak mau lari maraton?"
Kini Arunlah yang tertawa. "Nggak kok. Ya udah serius. Nanti kamu diamuk sama mamak-mamak lho. Tuh, mereka uda nunggui. Yuk cerita."
Kini keheningan menemani keduanya sebelum akhirnya Author mewakili kilas balik Adikara untuk memulai cerita dari masa lalu yang membawa dia mencintai Arunika dengan perasaan yang tak pernah pudar hingga hari ini.
Ingatan masa lalu.
"Bolaku," rintih seseorang siswi kelas 6 SD di depan pohon mangga yang ada di lapangan sekolah. Siswi itu bernama Nana.
Gadis kecil lainnya yang berada di sisi kanan Nana ikut memandang ke arah pohon mangga yang lumayan tinggi dari ukuran tubuhnya.
"Gara-gara kamu nih, Run," sentak anak lain ke Arun.
"Dia selalu aja bikin susah kita!" saut anak lainnya.
"Aku minta maaf, Na," ucap Arunika. Ia menunduk kepala memperlihatkan bando pita berwarna biru muda, terhias di atas kepalanya.
"Kalau maaf bisa diterima dengan mudah, kenapa harus ada hukuman?!" kata Nana dengan air mata yang masih mengalir. "Aku pokoknya mau bolaku kembali, Run! Itu papaku yang kasi dari hadiah ulang tahunku tahun lalu. Kalau kamu gak bisa ngambil bola itu, aku adukan kamu sama mamaku dan ibu guru!"
Usai berteriak dengan leluasa ke Arunika. Nana berlari meninggalkan Arun dan disusul oleh teman-teman lainnya. Menatap pada pohon mangga dengan manik mata sedihnya, Arunika merasa amat bingung untuk melakukan apa.
Diamnya Arun, tak lama mendapatkan ide di kepalanya. Dia berjongkok dan menarik ikatan tali sepatu yang ia kenakan. Lalu, gadis kecil itu menarik sepatu dan melepasnya dari kaki.
"Mungkin dengan ini bisa jatuh ke bawah," Arunika kembali berdiri dengan satu kaki tanpa alas, dia pijakkan di atas kaki lainnya. Kini, tangan itu bersiap untuk melempar sepatu yang dia pegang.
Bruggggg ....
Sepatu jatuh ke bawah, tapi tak sampai tepat ke sasaran. Arunika tampak bersedih memandang sepatu yang jatuh di atas tanah.
"Sungguh sangat disayangkan sekali. Kenapa kamu malah turun ke situ? Naik dong, ambil bolanya." Arun terisak sedih sendirian. Di mana dia tau, kalau jam istirahat sudah usai.
Dia menoleh ke arah sekelilingnya sekilas. Dan kembali menatap sepatu dan menatap ke atas pohon mangga.
"Butuh bantuan?" tanya seseorang tak mengubah pandangan Arunika.
"Bola di atas yang butuh bantuan," jawabnya.
Siswa SMP itu sempat berkerut kening sebelum mengindahkan perkataan Arunika. Sekilas, dia menatap ke pohon mangga dam tidak langsung melakukan seperti yang ia pahami dari ucapan gadis kecil itu.
"Pakai dulu sepatumu."
__ADS_1
Mengambil sepatu dari atas tanah, siswi SMP yang adalah Adikara remaja berjongkok di depan Arunika. Wajah gadis kecil itu menunduk ke bawah saat merasakan sentuhan tangan dirasakannya di bagian kaki.
"Biar aku pake sendiri, Kak," kata Arun yang tau itu adalah kakak kelasnya dari seragam sekolah yang ia kenakan.
"Udah di sini juga. Pakailah."
Mau tak mau, Arunika memasukkan kakinya sesuai arahan tangan Adikara. Dengan cekatan pula, jemari Adikara mengikat tali sepatu menjadi ikatan simpul.
Melihat Adikara hendak berdiri. Arunika kecil menarik wajahnya ke atas dan tak berniat menatap ke arah Adikara. Dia tampak sangat tegang berhadapan dengan kakak kelas.
Adikara berdiri seraya menepuk-nepuk telapak tangan dan kembali menatap bola basket yang masih menggantung di atas ranting pohon, dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Tunggulah sebentar di sini. Kakak ambilkan bambu panjang." Adikara langsung bergegas pergi tanpa melihat ke Arunika sejak di awal. Lebih tepatnya, dia hanya senang menolong kesusahan sesama penghuni sekolah.
Arunika menoleh ke belakang. Ia menyoroti kepergian Adikara dan membuang napas lega.
"Apa aku selamat kali ini?"
Tidak butuh lama. Arunika yang masih setia menatap bola di atas sana, mendengar suara Adikara dari arah belakang.
"Menjauhlah."
Dengan semangatnya, Adikara mengarahkan bambu panjang yang ia ambil dari kantin belakang di dekat lapangan dan memukul bola agar terjatuh ke bawah.
Melihat bola itu bergelinding jatuh ke atas tanah, Arunika buru-buru berlari untuk mendapatkan bola itu. Setelah mendapati bola, dia tersenyum ke arah Adikara yang cukup jauh jaraknya dari tempatnya berdiri.
"Terima kasih, Kakak kelas." Arunika melambaikan tangan dan tersenyum dengan senang. Kemudian, dia berlari pergi meninggalkan Adikara yang melihatnya dengan tatapan bingung.
Itulah pertemuan mereka di awal yang barusan diingat Adikara, saat ia melihat sepatu dan bando milik Arunika di foto masa kecil yang ada di laptop Arunika.
"Jadi ... itu yang pertama, Mas?" Arunika tampak heboh mendengar semuanya.
Adikara mengangguk kepala. "Itu yang pertama. Saat kamu mendapatkan bola basket itu, di saat itu pula aku baru bisa lihat wajahmu sepintas, Run. Untuk yang kedua kalinya, aku dapati kamu dekat kantin. Makanan kamu jatuh dan aku gak berani buat dekati kamunya. Di situ, aku gak tau kalau itu kamu yang pergi setelah mendapatkan bola. Kalau aku tau, mungkin uda kusamperin."
"Benar-benar mengamburkan kata-kata," ejek Arunika dengan menepuk tangan.
"Nggak, kok. Aku suka sama kamu dari awal, pertengahan hingga akhir, Mas." Arunika cengegesan dan dengan berani mengecup pipi Adikara. Hanya singkat, tapi bisa membuat bola mata Adikara melebar.
"Uda mulai berani, ya?"
Arunika mengerutkan kening. "Kalau kamu berani, kenapa aku harus takut?"
"Kamu ngajak nih?"
Arun
ika kembali mengening. "Ngajak apaan, Mas? Kamu benaran gak lelah? Aku masih sakit lho?"
"Seriusan?"
"Iya, Mas. Kamu kok jadi genit gitu, sih? Nggak punya malu juga sekarang ya, Mas?" Adikara merasa tersindir sekali. Tapi bukan ya sakit hati, dia malah tertawa.
"Kamu itu lho yang buat nagih."
"Masssss!" teriak Arunika memekakkan telinga Adikara.
"Jangan teriak-teriak gitu dong, Run. Sakit ini," dia menyentuh bagian telinga yang mendengung.
Arunika memberut kesal. "Habisnya sih, kayak nggak ada waktu lain aja kamu."
"Kalian sudah siap buat anaknya?" teriakkan dari luar mengagetkan Arunika dan Adikara yang sempat saling melempar bantal.
"Karena kamu itu," lirih Arunika malu.
"Bentar."
__ADS_1
Adikara turun dari atas tempat tidur menuju pintu kamar. Dia mendapati wajah Mama Risa yang berseri-seri.
"Kenapa, Ma?"
"Lagi apa, Bang? Buat cucu lagi?"
"Idih, Mama? Apa gak malu tuh?"
Mama Risa cengengesan. "Kenapa jadi Mama yang malu? Soalnya tuh, dari tadi kalian nggak turun. Mama takut ganggu kalian berdua."
"Lagi bernostalgia, Ma," saut Arunika dari belakang Adikara.
Mama Risa menggerakkan tubuhnya agar mendapati wajah Arunika yang kini berdiri tepat di samping Adikara.
"Bernostalgia?" tanyanya mengulang. "Jadi, kamu uda tau dong kayak mana bucinnya Adikara."
Arunika mengangguk. "Uda, Ma. Tapi Arun suka kok, Ma."
Adikara merasa terpuji mendengar itu dari Arun. Bangga pula dia dengan perubahannya. Mama Risa malah bertepuk tangan seraya tertawa ke arah Arunika.
"Jadi ... karena kalian uda saling terbuka, saling bertukar tenaga dalam, saling bernostalgia. Gimana, kalau kita rayakan dengan makan siang bersama? Selagi Mama di sini dan adik-adik kalian masuk kantor. Mau, ya?" tanya Mama Risa penuh harap. Dia bergantian menatap ke arah Arun dan Adikara.
"Boleh, Ma. Ayok," terima Arun tanpa pikir.
"Serius kamu mau, Run?"
"Maulah. Kita bawa Mama jalan-jalan juga. Ok?"
Binar mata Mama Risa tampak sangat senang. "Mama mau, Run."
"Ayo, Ma. Kita ganti baju dulu. Ya, 'kan, Mas?"
Adikara yang sempat terbaikan itu pun terus mengangguk.
"Iya, ayok. Lagian, aku juga jarang bawa Mama jalan saat berkunjung ke sini. Waktunya memanjakan para perempuan kesayanganku. Yok ...."
"Ayokkkk. Mama siap-siap dulu ya, anak-anak."
Kepergian Mama Risa membuat kedua orang itu tersenyum. Mereka ikut merasakan kebahagiaan Mama Risa.
"Ayooo kita ganti pakaian juga, Mas." Arun lebih dulu masuk ke dalam kamar dan disusul oleh Adikara.
"Aku mau digantiin bajunya sama kamu, Run."
"Astagaaaaa, Mas! Ganti sendiri. Punya tangan, 'kan?"
"Punya."
"Ya udah ganti sendiri."
Sampai di depan lemari, Arunika mengambil pakaian milik Adikara terlebih dulu, tapi pria itu malah sibuk memeluk tubuh Arunika dari arah belakang dengan penuh manja.
"Kamu bikin aku jadi candu, Run. Benaran," bisiknya mendapati tatapan Arun yang menusuk.
Bukan Adikara namanya, kalau mengalah dengan satu tatapan tajam milik sang istri.
"Pokoknya, kita harus punya anak dalam bulan ini, Run."
Dalam bulan ini?
Anak apaan?
Bersambung.
***
__ADS_1
Eyakkkkkkk ... mana ini sorak sorainya buat Mamas dan si Mbak ^^