
“Dia akan membawaku kemana?”
Alea menatap ke sekeliling, lalu pandangannya turun ke bawah di mana sang suami menggendongnya.
Jelas, hatinya gak karuan yang diiringi degupan jantung yang tak menentu setiap langkah tegap tanpa keraguan itu membawanya pergi.
Sejak lima menit yang lalu, Alea tak mendengar satu katapun yang keluar dari bibir sang suami setelah keluar dari gedung tua tempat dimana pesta pernikahannya berada.
Alea tersenyum dalam hati, otaknya dan hatinya yang tengah berbahagia pun tentunya berpikir hal yang indah-indah bukan?
Apa lagi Alea dan Evans pengantin baru.
“Duh, jadi dag dig dug ini jantung. Ini Evans mau ajak aku kemana? Apa dia akan mengajakku pergi honeymoon ke suatu tempat?”
“Kejutan apa lagi yang akan pria itu berikan lagi padaku?” batin Alea penuh percaya diri.
Hh—percaya diri lebih dulu itu lebih baik daripada berpikiran negatif bukan?
“Loh kok, ke sini?” batin Alea kembali berkata. Langkah sang suami membawanya menuju mansion pribadinya.
“Ah—Kamu ini Alea. Bukannya jalan utama dari mansion ini adalah mansion pribadi, Evans? Dia akan mengajakku keluar dan pergi kesuatu tempat yang indah tentunya.
Pikirannya yang terlalu tinggi dengan angan-angan berbulan madu di suatu tempat yang indah bersama dengan sang suami, sepertinya masih di luar jangkuan Alea.
Diamnya sejak tadi keluar dari gedung tua tak lepas dari pikiran akan pria itu yang tidak bisa Alea tebak.
Bola mata Alea membulat seketika, ketika sesuatu hal yang begitu saja keluar dari otaknya.
“Apa Evans akan mengajakku langsung ke dalam kamarnya?”
Wajah Alea dan tubuh Alea mendadak panas dingin. Alea bingung sendiri. Entah ia harus bagaimana nanti menghadapi Evans di atas tempat tidur? Seperti apanya, Alea tidak tahu.
Pria itu benar-benar sat set sat set. Secepat kilat dalam hitungan menit baru saja mereka dikatakan sah di depan penghulu dan juga semua orang di gedung tua. Evans sudah membawanya pergi begitu saja.
Pergi dan membawanya ke dalam kamar pribadinya.
“Ya, Tuhan. Pria itu—” kata Alea dalam hati.
Entah harus bagaimana Alea mengatakan akan pria satu itu. Padahal, dia sudah membanyakan ucapan selamat dari semua orang.
Alea pun sudah membayangkan bisa makan bersama, bercengkrama bersama dengan keluarga Evans. Eh, ini malah dibawa pergi langsung ke kamarnya.
Bola mata Alea dan pandangannya kembali terfokus pada wajah tampan sang suami.
“Ya Tuhan. Sungguh tampannya suamiku. Dia begitu Tangguh dan juga berkarisma.”
Sayangnya, Alea hanya bisa memujinya dari dalam hati. Dia masih malu untuk mengungkapkan kekaguman pada seorang Evans Colliettie yang memang tampan.
Melihat wajah Evans yang tampan, Alea jadi teringat ketika pertemuan pertama kalinya di bangunan kosong, di mana Evans tengah membunuh orang dan juga pertemuan keduanya di dermaga itu.
Sungguh Alea tidak bisa membayangkan kalau pria jelmaan devil itu akan setampan menyerupai angel dan pria itu kini menjadi suaminya.
“Kamu akan selalu melihat wajahku yang tampan ini setiap detik, menit, jam dan tentunya setiap harinya,” kata Evans pelan.
Namun, perkataan itu sontak membuat Alea terkejut. Alea malu karena dia ketahuan memandangi sang suami dalam diam.
“Nggak usah malu kayak gitu, sayang.”
Entahlah, ketahuan seperti ini dan di ledek oleh Evans wajah Alea semakin memerah.
“Harus dibiasakan mulai dari sekarang ya, sayang.”
“Hmm… kamu salah paham,” ujar Alea, bohong. Dia malu kalau terus di gombalin Evans seperti ini. Gombalan bukan sih?
__ADS_1
“Maksudku tadi bukan seperti itu kok.”
Alea memalingkan wajahnya, Evans hanya tersenyum karena tahu istrinya grogi hingga salah tingkah. “Sudahlah, nggak usah malu-malu karena aku sama sekali tidak keberatan kok, sayang. Aku malahan suka.”
Alea kembali menatap Evans, melihat Evans terus tersenyum tampan seperti ini hati Alea meleleh. “Senyumannya itu loh. Ya ampun hatiku jumpalitan kayak gini dibuatnya,” batin Evans.
Alea memandangi ke depan sampai Evans berhenti berjalan. Dia baru menyadari kalau kini dia sudah berada di depan itu kamar Evans.
Mendadak Alea panik. “Ev…”
“Ya, sayang.”
“Seharusnya kita tidak meninggalkan pesta pernikahan kita bukan di gedung tua itu?
“Harusnya kita berjabat tangan dan menyambut semua keluargamu yang turut datang di pernikahan kita bukan?”
“Bercengkrama bersama-sama dan menerima ucapan selamat dari Ayahmu dan juga keluargamu terlebih dulu bukan?” cecar Alea bertanya dengan ekspresi tegang. Namun, tak lepas dia memberikan senyuman yang dipaksakan.
“Tidak sopan kalau kita meninggalkan para tamu, Ev. Seharusnya kita menghampiri mereka yang sudah mau datang jauh-jauh kesini untuk menghadiri pernikahan kita. Bukan melarikan diri seperti ini!”
Evans menarik nafas sejenak. “Aku malas bertemu dengan mereka semua, sayang. Emangnya di sini siapa yang akan berani menentangku dan juga menghentikanku, hmm?”
Tentu saja pertanyaan Evans membuat Alea bungkam. Ia melupakan kenyataan kalau tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikan seorang Evans Colliettie melakukan apapun yang diinginkan di mansionnya sendiri.
“Ya, kamu benar, Ev. Tidak ada yang bisa menantang seorang Evans Colliettie.”
Alea mendesah pelan. “Semoga saja mereka tidak kecewa padaku dan juga padamu akan sikap menyebalkan yang seenaknya ini. Semoga saja keluargamu bisa memaklumi,” gumamnya.
Evans bukannya marah, namun pria itu malah tertawa. “Mereka sudah tidak asing lagi dengan sikapku, Lea. Jadi tidak usah mempermasalahkannya hal yang tidak penting ini!”
Bola mata Alea mengedip cepat, ketika memasuki lebih dalam lagi kamar pribadi Evans yang…. Berbeda.
“Kamu merubah kamarmu?”
Kamar pribadi Evans terlihat begitu maskulin dengan aura Evans yang terpancar kuat. Kini yang Alea tangkap sebuah ruangan yang terkesan elegan yang di dominasi warna putih sejati dari Evans yang masih terasa.
Alea mengernyit bingung. Bagaimana ceritanya, mawar putih dan hitam terlihat bersanding bersamaan di dalam satu vas bunga memperlihatkan pemandangan yang indah.
“Aku hanya ingin menyesuaikannya saja.”
Evans menutup pintu kamarnya dengan satu kakinya membuat suara pintu terdengar menggema membuat Alea sedikit kaget.
“Karena malam ini dan malam seterusnya akan ada yang menemaniku tidur. Aku tidak akan tidur sendirian lagi mengingat aku kini sudah punya istri,” kata Evans.
Suatu perkataan yang langka yang kini menjadi nyata. Alea malu dan yang bisa ia lakukan hanya menundukan wajahnya seraya menghindari tatapan Evans yang selalu bisa membuat degupan jantung nya yang tak pernah normal. Masih saya terus berdetak cepat.
Alea tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi setelah Evans membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia hanya berpikir hal yang baik saja hingga tanpa sadar ia menggigit bibirnya sendiri dengan pandangan kosong.
Evans yang berada di depan sang istri pun jelas tahu kalau istrinya itu tengah tegang dan entah memikirkan hal apa karena bisa dilihat sangat serius.
“Apa mungkin Alea takut dengan malam pertama kita?” batin Evans.
Evans tersenyum miring, ia tahu harus bagaimana dengan istrinya.
“Nikmatilah ketegangan saat ini karena nanti aku yakin kamu akan melupakan semua hal yang ada di dalam pikiranmu itu!”
Bola mata Alea membulat sempurna dengan ekspresi terkejut. Kesadaran Alea pun seolah ditarik paksa akan perkataan Evans di mana ia tengah melamun.
Evans membawa Alea ke tempat tidurnya. “Kamu harus tahu sayang. Hanya melihatmu menggigit bibir bawahmu seperti itu saja sudah membuatku tidak bisa menahan diriku lagi.”
Bola mata Alea kembali mendelik, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat takut.
“Dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku melakukanya.”
__ADS_1
Bola mata Alea semakin membulat lebar dan menatap tajam pada Evans. Jelas, perkataannya itu membuatnya terkejut.
Sedangkan, si pelaku hanya tertawa pelan. ‘Apa dia akan meminta haknya detik ini juga? Oh, tidak. Aku belum siap dengan hal satu itu,’ gumam Alea dalam hati.
Evans mendudukan Alea di sofa depan ranjangnya. Ia berlutut diantara kedua kaki Alea.
Pemandangan ini sontak membuat Alea lagi lagi syok sekaligus herna. Tanpa terduga Evans mengangkat satu kakinya ke atas dan menaikan ekor gaun nya ke atas sehingga kaki jenjangnya begitu saja terlihat
Alea panik. Nafasnya tercekat. Wajahnya yang merona pun mendadak pucat seketika diiringi dengupan jantung yang terus berdetak cepat.
‘Sebenarnya apa yang pria itu lakukan di bawah sana?’
Evans menengadahkan kepalanya ke atas untuk menoleh ke atas. Pria itu pun kembali memberikan senyuman hangat.
‘Tatapannya ya, ampun. Kelihatan seksi sekali.”
“Sebenarnya apa yang kamu lakukan, Ev?”
Evans menaikan pandangannya ke atas lalu berikan Alea senyuman lagi.
“Tentunya, melakukan yang seharusnya pengantin pria lakukan, sayang,” sela Evans cepat.
Mulut Alea menganga, Evans senang melihat ekspresi sang istri. Apa lagi ketika panik seperti ini.
Alea menelan ludah, saat sentuhan telapak tangan Evans berada di atas permukan kulit pahanya membuat tubuhnya meremang.
Dia menahan geli akan lembutnya telapak tangan Evans yang tak berhenti mengusap pahanya.
Pria itu tersenyum ketika menemukan garter hitam berenda yang terpasang di pahanya.
“Ya, Tuhan.”
Alea membekap mulutnya tanpa memutuskan pandangannya. ‘Jadi, Evans cuman berniat untuk melepaskan garter yang aku pakai?’ batin Alea.
Pikirannya sudah melayang dan traveling kemana-mana. Eh, ternyata hanya itu. Wajah Alea memerah malu.
Evans memajukan kepalanya. Diciumnnya paha telanjjang yang begitu mulus milik sang istri bersamaan giginya menggigit ujung garter berendra hitam yang diiringi tatapan intens ada sang istri.
Tubuh Alea sontak tegang, mencoba menahan gelenyar yang membuat tubuhnya bergejolak. Tak tahan, Alea memalingkan wajahnya. Dia malu bila terus menatap sang suami.
“Hmps—” lirih Alea pelan. Dia menahan nafas saat merasakan gesekan dagu Evans yang perlahan menarik turun garter hitam yang menempel di pahanya.
Alea kembali memandangi sang suami setelah menutup mulutnya. Namun, perlahan nan pasti bibir Evans membawa garter dengan cara menggigit hingga sampai ke ujung kaki yang masih mengenakan sepatu heelsnya.
Evans tersenyum penuh kemenangan saat melepas garter yang sudah berada di bawah kakinya. Dilepaskan hills dengan tangan sambil pria itu berdiri dan mencium benda yang digenggamnya.
Bola mata Alea kembali membulat, Evans menghirup dalam-dalam garter yang tadi ia kenalkan.
Alea kembali dibuat terkejut lagi ketika Evans mengatakan, “Harum sekali.”
Alea memalingkan wajahnya karena malu, Evans benar-benar membuatnya malu hingga ke ubun-ubun akan aksinya.
Entahlah, detik dan menit ini dia dibuat terkejut oleh tingkah Evans. Apa lagi, jantungnya yang sejak tadi tak berhenti terus berdetak kencang saat Evans melepaskan tuxedo yang dikenakan seraya menatapnya lekat.
Kedua jemari Evans pun membuka cepat kancing kemeja hingga bidangnya terlihat begitu jelas. Alea tak berkedip ketika melihatnya. Evans terlihat menggodanya.
“Ada apa denganmu, sayang?”
“Hm?” jawab Alea dengan berdehem seraya mengatur degupan jantung yang kian detik kian cepat.
Tak lepas itu, Alea tak berhenti dikejutkan dengan perkataan Evans yang terdengar begitu seksi namun juga mendebarkan.
“Let’s play, my wife.”
__ADS_1