HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Luka Lama!


__ADS_3

“Apa kamu sudah menemukan apa yang aku minta?”


Pria paruh baya yang berdiri di samping kursi roda pun menghela napas panjang seraya turut menikmati hamparan taman luas yang berwarna hitam.


“Pulihkanlah dulu, baru kamu bertanya perihal hal itu!”


“Ck! Aku butuh jawaban, bukan nasehat darimu!” tekannya.


“Tinggal menjawab, apa susahnya!” sambungnya tanpa menoleh ke samping.


Kedua matanya terfokus pada taman yang luas dan juga subur, tetapi otaknya tidak pernah lepas memikirkan seseorang yang dicintainya.


Duduk di kursi roda dua minggu ini membuatnya bosan, ketika kondisinya dinyatakan lolos dari kematian sekalipun perban masih melingkar di kepalanya.


Tetapi, kenyataan pahit yang begitu menggores hatinya cukup dalam harus diterimanya dalam-dalam sekalipun ia tidak terima.


Jika, kondisinya tidak mengalami kelemahan otot lebih tepatnya di dua kakinya yang tidak bisa berjalan, membuatnya mau tidak mau harus kemana-mana menggunakan kursi roda.


“Apa kamu sudah menjalankan apa yang aku inginkan?” tanyanya lagi.


Sungguh, hati dan jiwanya sudah tidak sabar ingin sekali bisa lekas berdiri dan berjalan seperti dulu kala.


Dia ingin berlari kencang untuk mencari sendiri tanpa mengandalkan orang lain untuk mencari seseorang yang dicintainya.


Seseorang yang terpenting dan berarti di kehidupannya. Tetapi, kini….


“Sudah.”


“Lalu?”


Pria paruh baya itu diam, lagi lagi menghela nafas panjang.


“Pulihkan saja kondisimu, lebih dulu!”


“Aku bertanya padamu.”


Dia sudah tidak sanggup lagi dengan tidak ada jawaban yang terucap.


Padahal dia membutuhkan jawaban cepat. “Aku hanya ingin kamu terfokus saja lebih dulu pada pengobatan mu dan juga terapi mu agar kamu kedua kakimu sembuh.”


“Ya, itu sudah aku lakukan. Tapi, aku ingin jawaban yang pasti dari mu. Kenapa sejak tadi kamu hanya diam dan selalu mengalihkan pembicaraan hah?”


Padahal hatinya sudah tidak sabar menunggu kabar dari orang kepercayaan. Dia butuh informasi kalau wanita yang dicintainya yang menghilang entah kemana itu, dalam keadaan selamat dan baik-baik saja.


Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu dan juga nasibnya yang entah di mana itu.


“Aku sudah mengerahkan anak buah kita untuk mencari keberadaanya.”


“Jadi kamu belum juga menemukannya selama ini?”


“Kamu baru tersadar satu minggu ini. Aku tidak ingin kamu fokus pada wanita lebih dulu!”


“Ya, aku tahu dan tolong jangan ingatkan aku lagi. Tapi aku butuh jawaban yang pasti!”


“Hampir satu tahun kamu terbaring dengan bantuan alat medis. Aku hanya ingin kamu sembuh terlebih dulu. Bila kamu ingin mencarinya.”

__ADS_1


Itu dan itu lagi yang pria itu bicarakan seolah enggan membantunya untuk menemukan wanitanya.


Padahal, sudah dua minggu ini dia pun sama berusaha keras untuk sembuh dari musibah yang menimpanya.


‘Aku hanya takut kamu mengejar wanita itu. Aku pun tidak ingin kehilanganmu lagi,’ batin si pria.


“Kamu harus tetap berada di sini.”


Pandangan teralihkan, pria yang tak lain Mike Shander pun menoleh pada pria paruh baya yang berdiri dengan setia di sampingnya.


Kening Mike Shander mengernyit menatap lekat. “Sebelum kamu sembut total kamu harus berada di sini.


“Aku tidak mengizinkan kamu keluar sekalipun melakukan terapi. Aku sudah menyuruh dokter dan semuanya untuk melakukan terapi di rumah saja!”


“Kenapa?”


Pria itu menghela nafas panjang. “Banyak orang di luaran sana yang tengah mencari keberadaanmu dan juga mengincarmu saat ini, Mike.


“Jadi, tolong pahamilah. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya keponakanku!” tegasnya.


“Ck! Aku sama sekali tidak peduli akan hal itu. Aku harus mencari wanitaku!”


“Aku akan mencari kemanapun dia berada saat ini,” serunya terdengar marah.


“Alea berada di Italia!”


Mike menatap sang paman dengan kernyitan dalam. Kursi roda yang sejak tadi memunggunginya pria itu pun berputar dan menatapnya penuh tanya.


“Italia?”


“Kita masih mencari keberadaanya.”


“Tolong cari sampai Alea ketemu!” pinta Mike yang dianggukan pria paruh baya tersebut.


“Pria Korea pun sama mencari keberadaan Alea.


“Jadi Alea tidak bersama dengan Jeon?”


“Tidak. Hampir satu tahun ini pria Korea itu pun sama mencari keberadaan Alea termasuk mencari keberadaanmu yang hilang seperti ditelan bumi!”


“Bila Alea tidak bersama dengan Jeon? Lalu bersama dengan siapa Alea ku?” tanya Mike dengan helaan nafas panjang.


Astaga, ia orang yang paling sangat menyesal bisa sampai seperti ini.


“Lalu kemana perginya si wanita sialaan itu?”


Bila Gina masih hidup dan orangnya menemukannya, sumpah demi apa Mike akan membunuhnya detik ini juga karena Gina. Ia kehilangan Alea nya.


Bahkan hampir satu tahun kepergian Alea pun tidak ada orang yang tahu bagaimana nasib dan keadaan Alea sekarang ini.


“Gina sudah mati di tangan mafia. Entah, siapa dan aku sama sekali tidak peduli! Dia hanya wanita licik yang menghabiskan kekayaan mu, Mike!”


Ah, itu memang benar. Gina memang menghabiskan uangnya di meja judi dan wanita itu pun sudah menjual kekasihnya ke mafia Inggris Santos Brighton.


“Apa Alea berada di tangan Santos Brighton?”

__ADS_1


Pria itu menarik nafas panjang. “Tidak! Aku dengar Santos Brighton mati di tangan The Black Rose!”


Pandangan pria paruh baya itu pun kini turun menatap keponakannya.


“Dan yang aku dengar The Black Rose pun tengah mencarimu.


“Pria itu menyebarkan banyak anak buahnya untuk mencari keberadaanmu. Maka—”


Pria tersebut menarik nafas sejenak. “Aku ingin kamu berhati-hati.”


Kedua alis Mike saling bertautan. “The Black Rose?” uang Mike seraya mengingat nama yang tidak asing.


Meksi Mike pernah mendengarkan nama tersebut, tetapi tidak pernah sama sekali berurusan dengan The Black Rose yang terdengar Mafia penguasa seantero Italia tersebut.


“Ya. The Black Rose, Evans Colliettie tengah mengincarmu, Mike!”


“Evans Colliettie? Untuk apa?”


Mike heran, sama sekali dia tidak punya masalah disini, lalu kenapa pria itu mencarinya.


“Aku sama sekali tidak ada urusan dengan mafia italia itu. Lalu kenapa pria itu bisa mencariku sampai menyebarkan banyak orang?”


“Apa kamu takut?”


“Tidak! Aku sama sekali tidak takut sekalipun itu The Black Rose!” tekannya.


Pria paruh baya itu membalikan tubuhnya dengan helaan nafas yang terdengar lirih.


Sebelum mengatakan hal ini, ia takut sesuatu hal yang buruk terjadi pada keponakannya itu.


“Katakan padaku. Kenapa pria itu mencariku, hah?”


“Dia mencarimu karena sebuah luka lama!”


Kening, Mike mengernyit yang diiringi tatapan bingung.


“Maksudmu, apa?”


“Luka lama?”


Pria itu menatap keponakannya dengan tatapan dalam yang diiringi helaan nafas kasar.


“Suatu saat nanti kamu akan paham dengan apa yang aku katakana. Aku tidak ingin membuat kepalamu sakit untuk mengingatnya. Jadi—”


Pria paruh baya itu membungkukan punggung nya. “Aku hanya berharap padamu tidak memikirkan hal lain karena kesembuhanmu lebih penting dari apapun!”


Mike mendengus pelan. “Kesehatanmu lebih penting dari wanitamu dan juga orang yang mengejarmu. Kamu harus sembuh dan kembali melanjutkan hidupmu. Perusahaanmu jauh membutuhkanmu dari apapun itu!”


“Ck! Aku sama sekali tidak peduli dengan semuanya!”


“Ya. itu benar karena kini matamu di butakan oleh Alea! Maka sembuhkan dulu baru kamu mencari wanita itu tanpa mengurangi tanggung jawabmu sebagai pemimpin MS crop!


"Jangan pernah menyia-nyiakan perusahan yang sudah dibangun susah payah oleh ayahmu, Mike. Ingat itu!” tegasnya seraya berlalu pergi.


Yuk bantu coment, like dan giftnya, terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2