HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Pembangkang!


__ADS_3


Alea kembali tersenyum dengan satu tangannya menunjuk ke arah depan vas bunga yang berisi mawar hitam dan juga putih yang terdapat sepasang merpati.


“Lihatlah, menurutmu cantik bukan?”


“Siapa yang mengizinkan kamu pergi?” desis Evans.


“Tidak ada. Tapi aku sudah meminta izin padamu yang terus tertidur,” jawab Alea santai.


Evans menyipitkan dua bola matanya. “Haish, mana bisa begitu, sayang. Mana bisa aku memberikan izin padamu ketika aku belum siuman,” protes Evans, tidak terima kalau istrinya pergi tanpa seizinnya.


Alea mengecup pipi sang suami agar emosinya reda dan tidak meledak seperti ini.


“Nggak usah marah-marah ya, sayang. Kan kamu baru juga siuman,” bujuk Alea seraya menatap sang suami dengan tatapan sayang.


Evans menarik nafas sejenak tanpa memutuskan kontak mata dengan sang istri yang menggemaskan. Ditariknya kembali tubuh sang istri untuk berada di dalam pelukannya.


“Kamu itu nggak usah mencemaskan aku berlebihan, sayang. Aku hanya pergi kembali kesana untuk membeli itu.”


Evans melotot, namun setiap pelototan tajam selalu di hadiahkan ciuman oleh Alea sehingga pria itu tidak bisa marah lagi. “Aku pergi kesana tidak sendiri kok. Hehehehe, aku menyeret kaki tanganmu yang setia itu untuk menemaniku membelinya!”


“Ahhh… sepertinya aku harus menghukum, Mika kalau begitu.”


“Haah? Tidak! Aku tidak setuju, aku yang salah kenapa orang lain yang harus kamu hukum. Jangan seperti itu ya, sayang. Jujur, aku nggak suka. Toh, aku juga baik-baik, saja,” ucap Alea seraya memohon pada Evans untuk tidak menghukum Mika.


“Dasar pembangkang kamu, sayang!” decak Evans seraya mengecup puncak kepala Alea yang menghela napas panjangnya.


 “Syukurlah kamu selamat sayang, karena bagiku. Kamulah yang terpenting dan yang paling utama. Kamu hidupku, Lea.”


Alea hanya diam sudah kehabisan kata-kata untuk sang suami. Yang Alea bisa lakukan hanya memeluk Evans dan mengeratkan kedua lengannya.


Alea merasa bahagia karena suaminya kini sudah kembali dari tidur panjangnya.


“Dan terimakasih sayang, kamu sudah menyelamatkan ku, suamiku.”


Evans tersenyum senang. “Tetapi, pada akhirnya. Akulah yang kembali berhutang nyawa padamu,” balasnya.


Alea tersenyum, memejamkan mata memeluk erat tubuh suaminya dengan mendengarkan suara detak jantungnya yang berdetak seirama dan juga sentuhan lembut Evans yang membelai kepalanya.


“Setelah ini, buatkan aku kue brownies untukku!”


Alea menoleh, lalu tertawa.


“Kenapa kamu jadi tergila-gila dengan kue buatanku itu?”


“Mungkin, karena aku sangat tergila-gila padamu. Jadi apa yang kamu buat aku ingin itu hanya untukku.


“Bukan untuk orang lain dan jangan pernah kembali membuatkan kue untuk orang lain. Biarlah Rafael yang menjadi korban terakhir kemarahanku nanti!”


Alea berpikir sejenak. Bagaimana nasib, Mika, Berta, Anthony, Joe dan juga Romeo termasuk pengawal lain yang sering menikmati kue buatan nya yang selalu ditemani oleh secangkir teh dan kopi itu?


Apa mereka pun sama akan menjadi korban kemarahan Evans karena paling sering menyantap kue nya?


“Kamu mau berbuat apa pada Rafael?”

__ADS_1


“Ada deh! Aku nggak akan kasih tahu kamu, karena aku nggak mau berdebat nantinya denganmu.”


“Ev….”


“Hehehe… kamu tidak harus tahu sayang. Pokoknya, aku melarangmu membuat kue untuk orang lain dan aku tidak mau tahu aku ingin kue brownies buatmu itu,” pintanya kembali.


Alea tertawa melihat sikap Evans yang dibalas dengan ciuman di keningnya. Kejadian ini membuatnya sadar, jika Evans benar-benar tulus mencintainya,


Tetapi….


Masalah anak? Apa ia harus mengikuti keinginan Evans yang tidak menginginkan anak darinya?


Tapi, Alea yakin mungkin untuk saat ini tidak. Tetapi, suatu hari nanti Evans pasti menginginkannya.


Ya, Alea akan berusaha keras untuk memperjuangkan keinginannya sekalipun nanti Evans marah dan tidak setuju dengan keinginan.


Anak adalah hal yang paling dirindukan oleh pasangan pasangan suami istri. Bohong, kalau Evans tidak menginginkan anak juga bukan?


Sudahlah, Alea bingung harus protes bagaimana lagi pada suaminya itu.


Evans masih dalam tahap penyembuhan bahkan pria itu baru juga siuman. Bukan beristirahat tetapi malah ikut membantu membuat kue brownies.


“Nggak akan selesai kue browniesnya kalau kamu meluk aku kenceng gini, sayang. Duduk yah, biar aku selesaikan dulu membuat adonan kue nya,” bujuk Alea seraya mengusap kedua lengan Evans yang melingkar di pinggangnya.


“Nggak. Aku kangen kamu sayang.”


“Aku juga kangen kamu, Ev. Sudah yuk, aku bantu kamu duduk di sofa sana,” tunjuk Alea.


Evans menggeleng, satu tangannya mengusap dan meraba bagian bawah yang terasa hangat.


“Aku tidak bisa menahan lagi kerinduanku ini padamu, sayang. Sudah dua minggu aku bekerja di spanyol bahkan sudah dua minggu juga bukan aku tidak sadarkan diri.”


Alea menoleh diiringi tatapan redup. Alea bukannya tidak mau, ia pun sama merindukan belaian sang suami. Tetapi, keadaannya saat ini itu Evans baru saja siuman dan ngotot ingin kue brownies buatannya.


“Disaat seperti ini pun kamu masih ingat dengan kebutuhanmu yang satu itu, sayang,” ledek Alea.


“Tentunya. Entahlah aku tidak bisa berjauhan denganmu, memelukmu seperti ini saja membuat adikku bangun sayang.”


“Makanya jangan deket-deket dulu sayang, kamu baru saja siuman.”


Evans tidak mendengarkannya perkataan Alea dan sibuk mengusap bagian bawahnya yang sudah sebulan ini tidak pernah dijumpai.


“Sayang, satu ronde ya sebentar saja.”


“Ev… ini kita di dapur. Aku takut ada pelayan yang melihat kita,” bisik Alea pelan seraya.


“Siapa yang berani mengusik dan melihat kita bercintta sayang? Apa mereka sudah bosan hidup, hmm?”


Evans mengangkat tubuh istrinya lalu mendudukannya di mini kitchen hitamnya. Disibakan dress sang istri seraya menurunkan celana training yang dikenakannya.


“Ev, lenganmu nanti berdarah lagi kalau kamu banyak gerak.”


“Aku tidak peduli sayang,” jawab Evans seraya mengusap sang adik dan menuntunnya untuk berkunjung ke rumahnya.


Evans mengumpat di dalam hati. Ah, entahlah kenapa lembah sang istri begitu sangat rapet membuat adiknya kesusahan.

__ADS_1


“Simpan adonannya dulu.”


“Tanggung ini aku sudah tuangkan tinggal di oven.”


“Aku juga tanggung, sudah berdiri.” Evans mencium bibir Alea dengan lembut lalu berbisik di telinga sang istri.


“Kamu pakai apa, sayang?”


Alea mengangkat pandangannya diiringi kernyitan di keningnya. “Kenapa?”


“Adikku kesulitan setiap kali masuk. Ini terlalu rapat sekali, sayang.”


“Ahhh…. Ev, sakit. Perlahanlah.”


Evans berikan senyuman tipis lalu menggerakan pinggulnya pelan seraya menikmati hangatnya lembah istrinya yang menyambutnya. “Adikmu itu terlalu gemuk, Ev.”


Evans tergelak tawa, namun tidak mengurangi pergerakan pinggulnya untuk lebih dalam lagi memasuki rahmi sang istri yang hangat.


“Hmmpss, Ev…”


“Ya, sayang…. Belum lima menit tolong jangan protes dulu. Nggak enak,” jawab Evans sudah tahu dengan apa yang dipikirkan sang istri.


Tempat mereka bercintta bukan di dalam kamar seperti biasa tetapi di dapur bersih di dalam mansion pribadi Evans yang luas dan juga terbuka.


Siapapun, orang bisa masuk dan melihat kegiatannya bukan?


“Ini namanya bukan membuat kue brownies, Ev.”


Evans tertawa pelan seraya mengecup kening sang istri.


“Ah, seharusnya aku tadi tidak meminta dulu dibuatkan kue brownies tetapi meminta jatahku yang sudah lama tak menyentuhmu, sayang.”


Beginilah Evans yang tidak suka dibantah apalagi menyangkut keinginannya.


Sudah, tidak tahan di mana pun bagi Evans itu tidak masalah dan siapa juga ada orang yang mengganggu apalagi mengusik kegiataan panasnya di dapur.


Pelayan yang mengetahui suara merdu sang Nyonya dan Tuan pun hanya bisa menghindar berganti dengan Mika yang pada akhirnya harus berjaga agar tidak ada pelayan lain yang melintas di area dapur tersebut.


Alea terengah, menatap wajah suaminya yang penuh peluh. “Kita lanjut di kamar saja, sayang.”


“Apah?”


“Terus kue brownisnya gimana?”


Evans tidak peduli lagi, setelah mengeluarkan pasukan adiknya. Evans kembali menarik celana trainingnya dan merapikan pakain istrinya.


Alea tersentak kaget, Evans yang baru saja siuman kini menggendongnya ala bridal dan membawanya keluar dari dapur.


“Mika, tolong panggilan Berta dan meminta dua loyang brownies di atas meja di panggang.”


“Baik Tuan.”


Alea mendelik. “Astaga, Ev. Mika—”


Mulut Alea menganga, Evans justru terkekeh seolah sudah tahu dengan kaki tangannya itu.

__ADS_1


“Dia tidak mungkin mengintip kita sayang. Dia berdiri di depan pintu karena takutnya ada orang yang masuk, sepertinya suara seksimu itu membuat Mika harus berjaga.”


__ADS_2