
“Selamat pagi Mrs Colliettie. Saya datang untuk memeriksa kesehatan anda.
“Bagaimana keadaan anda empat bulan belakang ini?”
Alea menghela nafas sejenak. “Aku baik-baik saja Dok, meski kadang aku merasa cepat lelah.”
Dokter cantik itu duduk di samping Alea lalu memeriksa tekanan darah.
“Kalau begitu, Mrs harus mengurangi kegiatan yang menguras energi.”
Alea diam sejenak dengan pikirannya. Bagaimana dia tidak sering cepat lelah karena Evans lebih sering membuatnya kelelahan setiap malamnya.
“Baik Dok, saya akan mengingat anjuran Dokter.”
Dokter Christine berikan anggukan pelan lalu tersenyum.
“Oh ya, Dok. Apa aku boleh bertanya?”
“Silahkan, Nyonya.”
“Aku teringat mengenai hasil test kesehatanku. Apa aku benar-benar sehat dan tidak ada penyakit yang sedang Dokter dan suamiku tutupi dariku selama ini?”
Dokter cantik itu, nampak terkejut. Namun, itu hanya beberapa detik saja terlihat panik dan kembali berekspresi biasa seraya menatap Alea dengan lekat.
“Bukannya anda sudah mendapatkan hasil rekam medis anda? Apa anda sudah membacanya dengan teliti?”
“Ah, itu sudah, Dok. Hanya saja aku ingin tahu kebenarannya dari hasil kesehatanku itu. Bila kondisiku baik-baik saja!”
"Apa selama ini Mrs ada masalah?"
Dokter Christine meletakan alat-alat pemeriksaanya dan kembali duduk menatap Alea dengan serius.
"Anda bisa mengatakan kepada saya. Ceritakanlah bila ada keluhan dan juga keresahan yang selama ini mengganggu pikiran anda, Mrs.”
Alea menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Alea duduk senyaman mungkin dengan pandangan yang saling berhadapan dengan Dokter Christine.
“Pastinya, Dokter sudah tahu bukan kalau aku pernah keracunan?”
Dokter Christine mengangguk tahu. “Aku hanya takut kalau itu akan menjadi masalah pada organ tubuhku, termasuk rahimku, Dok.”
“Dari semua hasil medical check up anda semua baik-baik saja, Mrs.
"Selama ini pun tidak ada masalah yang serius. Rahim anda juga sehat, meski saya harus memberikan suntikan antibodi untuk mempercepat proses penyembuhan."
“Antibody?”
Alea mengernyit heran. Kenapa Dokter Christine kembali memberikan suntikan itu lagi?
Selama ini Alea merasa tubuhnya baik-baik saja, dia tidak merasakan sakit apapun.
Alea hanya merasa kelelahan dan itu karena suaminya sendiri, Evans Colliettie yang tak henti terus meminta jatahnya.
“Untuk apa lagi, Dok? Selama ini saya sehat-sehat saja dan tidak membutuhkan suntikan itu. Ini sudah empat bulan dari kejadian itu dan aku sudah merasakan baik-baik saja.”
“Ya, meski begitu dan juga sudah lama. Tetapi, demi menjaga kesehatan anda bukannya ini lebih baik juga, Mrs?
“Apa lagi tadi anda bercerita kalau kini anda sering kali merasa lelah?”
Alea menghela napas. “Tetapi, apa aku bisa hamil kan, Dok?”
Pertanyaan Alea membuat Dokter Christine kembali tersentak kaget.
“Apa sejak tadi yang anda resahkan itu tentang kehamilan?”
__ADS_1
“Ya. Saya hanya ingin memastikan saja.”
Dokter Christine menarik nafas sejenak. “Kondisi anda sehat dan tidak ada masalah sama sekali dengan hal itu. Anda bisa hamil seperti pada wanita umumnya.”
Alea terdiam sesaat, dengan kecemasanya. "Apa hal ini sudah membuat anda sedikit lebih baik?"
Alea tersenyum kecil. “Setidaknya aku merasa lega, Dok.”
Entah apa kali ini yang selalu mengganggu pikirannya sampai beberapa bulan belakangan ini membuatnya menjadi resah.
Tetapi, setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter Christine sedikitnya Alea lega dan tidak secemas sebelumnya.
Alea bukan berharap ingin secepatnya mempunyai anak dari suaminya dan memberikan keturunan Colliettie yang diharapkan oleh Tuan Alberto dan juga Nyonya Jovita karena Alea sendiri pun tidak tahu Evans menginginkan anak atau tidak karena pernikahanya saja dilandasi ancaman dengan keterpaksaan.
Tetapi bila Dokter Christine sudah menjelaskan kondisinya yang baik-baik saja, sedikitnya Alea bisa tenang dan tidak akan selalu curiga pada suaminya yang tidak mengharapkan anak darinya dan bersekongkol dengan Dokter Christine.
Tapi, kenapa hati kecilnya kembali bertanya. Satu pertanyaan yang masih mengganjal di pikirannya.
Alea belum mendapatkan jawaban yang pasti dari pertanyaan, apa Evans menginginkan seorang anak?
“Bagaimana dengan haid anda?” Pertanyaan Dokter Christine seolah menarik Alea dari lamunannya.
“Menjadi tidak teratur. Kadang durasinya agak panjang. Selain itu tidak ada masalah.”
Kenyataannya setelah empat bulan menikah dengan Evans yang selalu mendekapnya dalam pelukan setiap malamnya.
Alea belum juga kunjung hamil itulah salah satu kecurigaan Alea pada Evans dan juga Dokter Christine.
“Bisa saja faktor utama yang mempengaruhi karena hormon yang tidak seimbang." Dokter Christine tersenyum sembari mengeluarkan alat suntiknya.
“Tuan Evans kemarin menghubungiku dan memberikan perintah untuk memberikan anda suntik kb.”
Alea tercengang mendengarnya. “Jika anda setuju menerima suntikan itu, saya akan melakukanya sekarang dan akan menggantikan suntikan antibodi anda dengan pil minum."
Alea masih mencerna perkataan Dokter Christine.
“Kapan Evans mengatakan hal itu?”
Hh—ternyata kegusaran sudah terjawab. Percaya tidak percaya, tetapi hatinya merasa sakit mendengarkan permintaan Evans pada Dokter Christine.
Apa benar Evans tidak menginginkan seorang anak darinya?
“Kemarin.”
Alea meremas kedua tangannya. Ia kecewa dengan hal itu.
“Bagaimana Nyonya?”
Alea terdiam dengan pikiranya sendiri sekalipun hatinya tak henti bertanya akan ketidak inginan Evans memiliki keturunan darinya.
“Kenapa Evans sebelumnya tidak membicarakan hal ini denganku?” batinya.
“Nyonya?”
“Dokter, apa anda bisa menundanya dulu. Aku harus membicarakan hal ini lebih dulu dengan Evans. Anda tidak perlu khawatir, aku yang akan bertanggung jawab jika Evans marah kepadamu.”
“Baiklah. Jika begitu kau akan memberikan suntikan antibodi. Berbaringlah, Mrs.”
Alea menurut permintaan dokter Ketty dan memberikan tubuhnya dalam diam. Hatinya merasa tidak tenang saat ini, biar bagaimanapun Ia sudah menikah dengan Evans dan menjadi istrinya. Jauh didalam lubuk hatinya, Alea pun menginginkan kehadiran seorang anak.
Sepulangnya Evan nanti dari Spanyol, Alea berencana akan menanyakan alasan itu pada Evans.
Alea pikir suaminya akan langsung pulang setelah pergi tanpa pamit bekerja. Sayangnya, tidak.
__ADS_1
Hampir dua seminggu, Evans tidak ada ada di mansion. Kepergian sang suami ke Spanyol pun begitu lama meninggalkannya sendiri tanpa ada kabar sama sekali padanya.
Jangankan suara Evans yang terdengar langsung dari telinganya melalui panggilan telepon yang menghubunginya langsung menanyakan perihal keadaanya.
Sayangnya, tidak sama sekali. Selama empat bulan lebih menikah dengan Evans Colliettie, Alea tidak diperbolehkan untuk memegang ponsel.
Miris, tetapi itulah kehidupan Alea yang membuatnya seperti tahanan dan menyamakan dengan nasibnya yang begitu sama dengan kelima wanita peliharaanya.
Padahal apa salahnya, pria itu menghubunginya dan berbicara langsung karena yang Alea tahu, Evans lebih sering berbicara pada Mika bahkan Evans sering berkomunikasi dengan kaki tangannya yang selalu setia itu.
Lagi, lagi Alea dibuat kecewa. Dua minggu ini yang Alea bisa lakukan hanya bisa menangis dan di dalam kamar sekalipun sikapnya selalu terlihat biasa.
Alea kecewa, ternyata Evans tidak sepeduli itu padanya.
“Mika…”
“Ya, Mrs.”
Mika menatap heran dengan penampilan Alea yang sudah rapi dengan dress selutut berwarna hitam.
“Tolong antarkan aku ke pabrik. Aku ingin pergi ke sana dan sekalian mengunjungi Lucas.”
“Untuk apa anda mengunjungi pabrik? Apa lagi Lucas?!”
Alea mendengus jengah. “Mika, aku hanya ingin berjalan-jalan saja di pabrik sembari melihat produksi.
"Aku janji tidak akan lari, Mika. Aku hanya ingin suasana baru.”
Ya, semoga saja pikirannya akan Evans mendadak hilang. Dia butuh pergi keluar dari mansion walau hanya sejenak.
“Maaf, tidak bisa Mrs! Tuan tidak mengizinkan anda keluar mansion!”
Dua mata Alea basah. Rasanya Alea ingin menjerit kalau perlu menangis sekeras-kerasnya di depan Mika.
Ya, Tuhan sungguh ini terasa sakit untuk Alea. Dia sudah sekuat hati berusaha bersikap biasa-bisa saja selama dua minggu ini dan Alea sudah lama ini mengabaikan hatinya yang sakit.
Dua minggu ini Alea mencoba menjalani hari-harinya yang begitu membosankan di mansion ini. Tetapi, tidak ada satupun yang paham dan juga peduli padanya.
“Astaga, kalau begini caranya aku bisa gila! Mau melakukan hal ini itu tidak boleh, keluar saja untuk jalan-jalan keluar mansion jelas tidak boleh kini aku ingin mengunjungi Lucas dan berbicara dengan pria itu saja tidak boleh. Haaaaahhhh,” jerit Alea dalam hati.
Alea marah dan juga kecewa, besar.
Wanita ber dress hitam itu pun menghentakan kakinya dan membuang sepatu cat yang di kenaikan.
Alea lekas pergi dari hadapan Mika dan berjalan cepat menuju dapur bersih yang berada di mansion pribadi sang suami.
Yang ingin Alea lakukan selama dua minggu ini untuk mengobati rasa kecewanya, hanya dengan cara menyibukan diri di dapur seperti yang sudah-sudah Alea lakukan. Menghabiskan waktunya untuk membunuh rasa kekecewaan pada sang suami.
Awalnya, Mika dan Berta melarang Alea untuk tidak di dapur apalagi membuat begitu banyak kue yang selalu di bagikan pada semua pelayan di sini.
Mika dan Berta pun tidak mengizinkan untuk membuat kue sendiri tetapi siapa berani membantah keinginannya bukan bila sudah di fase yang marah yang selama ini dipendam?
“Istighfar Alea, nyebut, nyebut. Jangan dikuasai sama setan, Alea. Ayo coba tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan,” gumam Alea dalam hati menginterupsi dirinya sendiri.
“Saya bantu, Nyonya.”
“Tidak usah, Berta!” tegas Alea seraya mencampurkan semua bahan-bahan kue ke dalam mixer.
“Duduk manis saja di situ setelah kue ku selesai, seperti biasa bagikan untuk yang lain,” tegas Alea lagi diiringi helaan nafas panjang.
Alea yang memunggungi Berta pun mengusap air matanya. Tetapi, saja air matanya jatuh akan sikap Evans yang sangat menyebalkan.
“Aku benci kamu, Ev. Sangat benci.”
__ADS_1