HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Sesuatu Yang Mengganjal!


__ADS_3


“Kenapa bangunan ini harus digembok segala?” batin Alea seraya menatap salah satu bangunan di mansionnya.


“Kenapa juga harus di rantai besi seperti ini? Emangnya ada apa di dalamnya?” katanya lagi di dalam hati.


Alea menoleh ke samping di mana pelayannya berada. “Bisa tolong carikan kunci pavilion ini?”


“Tapi, Nyonya….”


Tatapan mata Alea membuat pelayan muda itu menunduk dan berlalu pergi untuk mencari kunci ruangan tersebut.


Sementara Alea menghela nafas sejenak seraya memandangi dua pintu yang menjulang tinggi di hadapannya. Rantai besi yang mengikat dua handle tersebut pun terlihat diikat begitu kuat.


Entah kenapa harus ditutup rapat-rapat dan juga dibiarkan kosong tanpa penghuni sekalipun Alea tahu bahkan juga semua penghuni mansion pun tahu ruangan apa yang Alea berdiri saat ini.


Lebih tepatnya lagi, pavilion ini mengingatkan Alea pada seseorang. Bahkan sang pemilik pun melarang semua orang untuk tidak mendekati tempat tersebut tanpa alasan apapun itu.


Tetapi, entah kenapa dengan Alea yang tadinya ia hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil bahan kue justru berhenti di depan pintu bercat putih.


Hatinya selalu ingin tahu dan juga kedua kakinya ingin pergi ke sana walau hanya sebentar dan sekedar ingin melihatnya saja tempat tersebut.


“Sudah ada?”


Pelayan muda itu memberikan kunci tersebut dengan kedua tangan bergemetar. Alea lekas membuka gembok besar dan berat tersebut lalu kemudian meminta pelayan muda itu untuk mengeluarkan rantai yang ngelilit handle tersebut.


“Apa mau saya temani, Nyonya?”


“Tidak usah, kembalilah ke tempatmu saja. Aku hanya sebentar juga kok,” kata Alea yang dianggukan pelayan muda itu berlalu pergi.


Alea menatap sejenak. Kini, perasaanya tidak menentu dan juga keingintahuannya semakin meluap besar akan sebuah teka teki yang belum bisa Alea pecahkan di sini.


Perasaan yang membuatnya masih penasaran akan kenapa wanita itu pada akhirnya memilih menyerah tidak memperjuangkan cintanya dan pergi begitu saja tanpa kembali memperjuangkannya?


Apa semua ini karena dirinya?


“Kalau ya, benar. Aku meminta maaf padamu. Kamu benar akulah dalang di balik semua kebencian kalian. Kedatanganku membuat kalian merasa terancam. Jujur, dulu aku tidak punya perasaan apapun pada pria yang sama kalian perjuangkan.


“Tetapi, sekarang ini. Perasaanku padanya masih abu-abu. Kadang kelembutannya dan juga perhatiannya membuatku menginginkannya dan juga mencintainya.

__ADS_1


“Namun, dibalik kerasnya keinginannya kendang membuatku kalau pria itu hanya mencintai tubuhku saja. Sama seperti kalian, hanya dimanfaatkan tubuhnya tanpa tahu bagaimana pria itu mencintaiku,” batinnya.


Ya, mungkin yang ada di dalam pikiran Alea seperti itu saat ini. Alea dilema dengan perasaan yang kadang malah beranggapan buruk pada suaminya.


Entahlah, perihal masalah anak membuatnya menjadi bingung sekaligus masih misteri untuknya. Alea masih heran pada suaminya yang menentang keras tidak ingin memiliki keturunan dengannya.


“Tapi kepergianmu sudah lama ini membuatku ada sesuatu hal yang mengganjal.”


Kepergian wanita itu tentunya meski sudah lama, tentunya masih mengganjal di hati dan juga pikiran Alea.


Didorongnya dua pintu besar tersebut dengan degupan jantung yang berdetak sangat cepat. Alea melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dan begitu saja kedua kakinya seolah menuntun kemana harus pergi.


Dulu, ruangan ini adalah ruangan pertama kalinya Alea tertidur di mansion ini dan menjabat sebagai pelayan pribadi mereka semua.


Langkah kakinya begitu saja mantap untuk naik ke lantai atas dan memasuki satu kamar di dalam ruangan tersebut.


Alea membuka handel pintu dan masuk ke dalam seraya memandangi seluruh penjuru ruangan nya.


Kondisi kamarnya masih tetap sama seperti waktu dulu. Sama seperti terakhir kali ia melihatnya, meski saat ini yang Alea tangkap kondisi kamarnya yang berdebu.


Wanita yang tidak lain Ruby meninggalkan semua barang-barangnya begitu juga dengan lukisan Evans yang masih nampak di posisinya. Semenjak kaburnya Ruby dari mansion Evans, hingga detik ini Alea tidak pernah lagi mendengarkan kabarnya.


Alea membuka laci nakasnya, satu tangannya terulur untuk mengambil buku yang mungkin buku harian Ruby.


Sayangnya, baru saja tubuhnya membungkuk. Tiba-tiba tubuhnya terangkat begitu saja.


Lebih terkejutnya lagi saat Alea menoleh ke belakang, Alea justru mendapati tatapan tajam yang dilayangkan sang suami.


Tercengang, jelas. Alea bahkan syok melihat kenapa Evans begitu cepat berada di dalam kamar ini. Padahal pria itu baru saja pergi untuk bekerja dan kini, Evans sudah kembali lagi.


Yang Alea tahu suaminya itu sudah pergi untuk mengurus beberapa pekerjaan ketika seminggu ini keadaan suaminya sudah membaik sekalipun tiga hari ini pria itu sibuk bekerja sampai mengharuskan membawa Mika bersamanya.


Tapi, kali ini….


“Ev. Kamu sudah kembali?” tanya Alea menatap bingung, sekalipun di layangkan tatapan tajam sang suami.


“Bisakah kamu menurunkan aku?”


Evans bungkam, diiringi tatapan yang begitu menakutkan yang bisa Alea ungkapkan saat ini.

__ADS_1


“Ev, tolong turunkan aku.”


Sayangnya, Evans hanya diam dan mengabaikan permohonannya.  Wajah Evans nampak marah dengan pandangan yang menatap lurus ke depan seraya membawa Alea untuk keluar dari dalam ruangan tersebut.


‘Kenapa Evans terlihat begitu marah? Bahkan menggendongku seperti pria itu memikul karung beras,’ batin Alea.


Di saat Evans menuruni anak tangga, lagi lagi Alea tercengang ketika melihat beberapa pengawal dan juga pelayan mansion beserta Mika berdiri tegak di lantai bawah.


“Bakar semua barang-barang yang berada di ruangan ini. Semuanya tanpa terkecuali setelah itu, kunci permanen hingga tidak ada orang yang berani masuk kembali!”


“Baik, Tuan!” jawab Mika.


“Masukan pelayan yang sudah memberikan kunci ruangan ini pada istriku!” sambung Evans dengan tegas. Perkataan nya ini tidak bisa dibantah lagi membuat Alea yang mendengar pun membuka mulutnya lebar-lebar.


“Baik, Tuan.”


“Kamu akan menghukumnya, Ev?”


Evans diam tidak menjawab pertanyaan Alea. “Ya Tuhan, EV. Tolong jangan seperti ini.


"Pelayan muda itu tidak salah, tapi akulah yang salah di sini, Ev. Akulah yang memintanya untuk mencarikan kunci ruangan ini,” seru Alea.


Bola matanya menangkap pelayan muda yang tadi membantunya, pelayan muda itu yang berdiri tegak pun menundukkan kepalanya dan terlihat tubuhnya bergemetar dengan tangisan yang tanpa suara.


“Aku mohon, Ev….” Alea meronta. Ia ingin Evans menurunkannya tidak menggendongnya seperti ini.


Tapi, lagi lagi Evans mengabaikannya.


“Please, Ev. Tolong turunkan aku dan jangan hukum pelayan itu. akulah yang salah, Ev. Please aku mohon padamu.”


Entah kenapa Evans hanya diam membisu tidak menjawab perkataan nya dan juga tidak menuruti keinginannya. Pria itu terus mengabaikannya dan tidak juga melepaskannya.


Alea menoleh ke belakang melihat wanita itu terlihat pasrah dari balik bahunya sebelum menghilang dari pandangannya.


“Ev. Aku mohon turunkan aku!” Seruan Alea terdengar tidak putus asa, ia harus menolong pelayan tersebut yang mendapatkan hukuman karena ulahnya.


“Aku tidak peduli sama sekali di sini siapa sebenarnya yang salah! Hukuman akan tetap berlaku bila ada orang yang melanggar perintahku! Aku tidak ingin ditentang lagi dan aku pun tidak suka dibantah sekalipun olehmu—“


Evans menatap Alea marah. “Sekalipun kamu istriku. Aku tidak suka dibantah, Lea!”

__ADS_1


“Apa kamu menyesal akan Ru—“


__ADS_2