HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Hatred!


__ADS_3


“Apa kamu sudah meminta Rafael untuk menggantikan aku sementara?”


“Sudah, Tuan,” jawab Mika cepat.


Evans menghela nafas panjang seraya menatap beberapa laporan yang Mika berikan padanya. Pria itu nampak begitu serius sembari menautkan kelima jemarinya di atas meja.


Helaan lirih lirih dan tatapan yang menghunus pada orang kepercayaan yang berdiri tegak menunggu perintah dan juga pertanyaannya.


“Apa si bajjingan itu masih mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh ku lagi, hmm?”


Mika nampak menarik nafas dalam, sebelum menjawab.


“Sepertinya tidak ada, setelah kejadian itu, Tuan!”


Evans tersenyum miring. Ia sudah tahu siapa orang-orang yang telah menyewa jasa pembunuh bayaran untuk melenyapkannya.


Sekalipun begitu, Evans tidak pernah takut sedikitpun dengan segala ancaman yang dilayangkan padanya.


“CK! Dasar bajjingan! Sekalipun sudah membusuk di dalam jeruji besi. Tetap, saja dia masih bisa bisa mengusikku!


“Bedebaaah! Sama seperti ayah nya yang bajjingan!” umpat Evans, keras.


Alea mendelik, ketika dia tidak sengaja melewati ruangan kerja Evans. Wanita itu berhenti begitu saja dan ketiak mendengarkan umpatan Evans yang keras di dalam ruangan kerjanya dan tengah berbicara dengan Mika.


Alea berdiri di dekat pintu bercat putih tersebut yang sedikit terbuka. Ia tidak tahu akan siapa yang tengah dibicarakan oleh suaminya.


“Yang saya dengar, pria itu lebih berbahaya dari Santhos dan juga dua saudara kembar pembunuh bayaran!”


Dua mata Alea melotot diiringi dada yang terasa sesak saat mendengarkan nama itu kembali terdengar.


Siapa yang tidak kenal dengan Santhos, pria tua yang menggilai wanita. Mengingat pria itu, Alea jadi teringat ketika pria tua itu memberikan tanda sialan di tubuhnya ketika pria tua itu begitu menggilai tubuhnya.


Ingatan itu begitu jelas terekam begitu jelas sekalipun Evans sudah menembak mati pria tua itu tepat di jantungnya.


“Anaknya seperti psikopat, Tuan! Kabar buruknya, pria itu beberapa bulan ini akan terbebas dari penjara.


“Saya, yakin cepat atau lambat pria itu akan datang untuk membalas dendam kematian ayahnya,” kata Mika mengingatkan.


“Ck! Aku tidak pernah takut dengan hal itu, Mika! Justru selama ini aku sudah menunggunya sampai aku tidak sabar menunggu kedatangan anaknya.”


Kedua tangan Evans terkepal erat diiringi hembusan nafas berat. Sekali lagi, Evans harus menghabiskan semua musuh-musuhnya yang menyimpan dendam padanya, terutama anak dari Santhos.

__ADS_1


“Aku ingin menghabisi orang itu dengan tanganku sendiri agar tidak ada timbul dendam lagi diantara kita! Aku akan menghabisi keturunan Santhos sampai ke akar-akarnya.”


Mika diam dan paham. “Pantau terus perkembangan hukumannya.”


“Baik, Tuan.”


“Oh, ya. Apa tanda-tanda lagi orang yang mencari keberadaan, istriku?”


“Selain Tuan Kevan dan temannya waktu itu, sampai detik ini saya lihat belum ada, Tuan!”


“Ck! Dasar Kevan bajjingan!” umpat Evans, penuh amarah.


Geramaaan Evans yang nampak muak pada sahabatnya itu membuat amarah yang selama ini dipendam di ubun-ubunnya seolah ingin pecah.


Evans dan Kevan sudah lama ini tidak pernah berkomunikasi dan pria itu tiba- datang dan mengusiknya.


 “Setelah bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu. Dia, berani-beraninya mengusik kehidupanku.


“Ck! Brengseknya, pria itu dengan berani datang kesini mengantar nyawa hanya untuk membantu temannya itu untuk mencari keberadaan, Lea ku!”


“Apa Tuan dan Tuan Kevan tidak bisa berdamai? Bukannya kejadian itu sudah sangat lama?


“Seharusnya anda bisa menjalin hubungan yang lebih baik lagi, bila Tuan dan Tuan Kevan saling membicarakan—”


Bunyi hentakan keras begitu saja melayang di atas meja kerjanya, Mika tersentak kaget lebih lagi Alea yang masih berdiri pun mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


“Tutup mulutmu, Mika!” bentak Evans, murka.


Siapapun tidak ada yang berhak mencampuri masalah pribadinya terutama masalahnya dengan Kevan Malanoe


“Aku sama sekali tidak meminta pendapatmu. Jangan lagi kau menasehatiku akan masalah ini. Apa kau paham?!”


Mika berikan anggukan cepat semenatara Evans menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya seraya menarik nafas dalam-dalam.


“Aku tidak akan pernah memaafkan pria itu sekalipun dulu dia adalah teman baikku yang dulu aku perlakukan baik karena atas nama persahabatan kami.”


Alea dibalik pintu semakin penasaran akan siapa kisah persahabatan sang suami dengan pria yang datang bersama dengan Jax, pantas saja bukan pria itu begitu berani mendekatinya hanya untuk membantu Jax Oliver?


“Semenjak kejadian itu. Dia sudah bukan sahabatku lagi! Hubungan kami tidak akan pernah bisa diperbaiki sejak pria itu mencoba menghianatiku dan pasang badan untuk melawanku hanya untuk melindungi orang itu!” ungkap Evans seraya mengingat kenangan buruk tentang persahabatan.


Semenjak Evans dikhianati oleh sahabatnya sendiri, pria itu tidak pernah lagi berteman dengan siapapun.


“Tapi, Tuan. Setelah kejadian lama itu mereka sudah tidak pernah bertemu lagi dan yang aku lihat sepertinya Tuan Kevan terlihat lebih menyesali atas perbuatannya,” jawab Mika dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


“Tidak Mika!! Kau jangan membelanya. Aku tahu semuanya, meskipun mereka terpisah.


“Kevan tidak akan bisa melupakannya dengan mudah karena aku tahu pria itu dan juga lebih mengenali pria brengsek itu!” tegasnya.


Mika menarik nafas dalam-dalam dan—mengalah. Menentang perkataan Evans yang begitu benci pada sahabatnya rasanya percumah karena sejatinya Evans sudah lama terluka oleh orang-orang yang selalu mengataskan kebaikan dan kesetian yang pada akhirnya—menghianatinya.


“Baik, Tuan. Hm ya, Tuan. Ini tentang Nyonya Alea…”


Alea yang hendak pergi dari pintu bercat putih pun kembali pada posisinya. Ia semakin mengeratkan pendengaran dengan menahan nafas sejenak. Rasanya memang salah kalau Alea harus menguping seperti ini.


Tetapi, bagaimanapun perasaan nya semakin penasaran akan semua kegusaran akan suaminya setelah kedatangan Kevan dan juga Jax.


“Nyonya terus meminta saya untuk menyampaikan pada Tuan agar dia diizinkan untuk berkomunikasi dengan keluarganya, meski hanya dibatasi.”


Evans hela nafas panjang diiringi memijat pelipisnya. Ia tahu betapa keras kepala istrinya, itu. Sebenarnya, Evans tidak ingin berbuat seperti ini pada istri tercintanya. Tetapi, entah kenapa rasa takut Evans begitu besar pada istrinya sendiri.


Nafas Alea memburu cepat bersama dengan pergerakan dadanya yang naik turun. Dibelakang pintu, Alea merapatkan telinganya untuk mendengarkan tanggapan dari sang suami atas keinginannya yang tidak pernah diizinkan.


“Justru kali ini, aku sendirilah yang akan mengawasi istriku lebih ketat lagi tanpa dia sadari. Sekalipun keinginannya begitu sederhana dan mudah bagiku.


“Tapi, aku tidak bisa mengabulkannya. Pria Korea itu masih tetap mencari istriku seperti yang sudah-sudah dilakukan Pria Korea itu  beberapa bulan lalu di Roma, beruntung saja Pria Korea itu tidak sampai mengutus orang untuk asumsinya itu kemari.


“Aku sangat membenci Pria Korea itu!” ungkap Evans seraya kedua tanganya erat dengan sorot mata yang tajam mengingat nama Jeon Park.


“Aku bisa saja membunuh semua keluarganya tanpa sisa dan juga membunuh Jeon Park yang sudah mengambil paksa sumsung tulang belakang istriku tanpa seizinnya.


“Perlakuan mereka itu tidak pernah aku ampuni, bahkan aku ingin sekali membunuh mereka semua dengan tanganku sendiri.


“Mereka sudah membuang istriku seperti sampah dengan bekas luka yang membuatku ingin sekali membunuh Jeon Park!”


Kepalan tangan Evans semakin erat hingga buku-buku tanganya terlihat memutih.


Jantungnya berdetak kencang, ketika bekas luka di punggung sang istri begitu banyak akan ulah Keluarga Park dan itulah membuat Evans ingin sekali membunuh pria itu detik ini juga kalau tidak mengingat istrinya yang begitu sangat menyayangi Jeon Park.


Meski kenyataan pahit akan masa lalu yang sang istri alami. Tetapi, setidaknya Evans sudah mengantongi identitas asli siapa Alea sebenarnya, sekalipun ya harus bersabar untuk menemukan siapa orang tua kandungan Alea sebenarnya.


Evans yakin kalau kedua orang tua kandung Alea masih hidup dan juga tidak meninggal.


“Kamu suruh orang untuk mengawasi Jeon Park. Jangan sampai dia mengutus orang untuk menjemputku istriku secara diam-diam.


“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, karena aku belum bisa mempercayai Alea untuk pergi menemui keluarganya saat ini.”


“Jadi Je-on?”

__ADS_1


__ADS_2