
“Dasar bajjingan, kalian!” umpat Alea keras.
Kesal permintaanya tidak ditanggapi, Alea bergegas kembali dan menghampiri ibu satu anak yang terbaring lemah di lantai dingin.
“Kamu masih bisa mendengarkan aku kan, Alice?”
Alea menggoyangkan tubuh Alice, wanita itu semakin menggigil di lantai dingin.
“Jawab aku, Alice,” seru Alea.
Alea mengangkat kepala wanita tersebut dan diletakan di atas pangkuannya. Ia tidak tega melihat keadaan Alice yang sangat mengkhawatirkan. Dalam diamnya, Alea menahan air mata agar tidak keluar.
Meski Alea baru pertama kali bertemu dengan Alice, namun ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam pada wanita tersebut seolah Alea ikut terbawa akan kesakitan yang dialami Alice.
“Aku mohon, Alice. Tolong sadarlah, pikirkan putrimu di luar sana yang sedang menunggumu pulang.
“Bagaimana pun keadaanmu saat pulang nanti, putrimu akan tetap memanggilmu ibu dan dia pasti akan tetap memelukmu,” ucap Alea seraya menundukan pandangannya menatap wanita itu yang berada di pangkuannya.
Alea membekap mulutnya dengan tangannya seraya menahan emosi, meski Alea belum mempunya seorang anak. Tapi, ia bisa merasakan kesedihan yang wanita itu rasakan.
“Aku mohon bertahanlah. Jangan menyerah seperti ini, Alice. Demi putrimu. Dia pasti akan senang bila melihatmu kembali,” bujuk Alea seraya mengusap rambutnya perlahan.
Tidak lama sepasang kekasih penjahat itu tiba dan masuk ke dalam ruangan.
“Bagaimana keadaan mereka semua?” tanya si pria pada salah satu anak buahnya yang diperintahkan untuk menjaga mereka.
“Besok pagi kita akan sampai di Spanyol. Mereka harus dalam keadaan baik-baik saja,” sambung sip ria seraya menatap pada anak buahnya yang berdiri tegak di hadapannya.
“Mereka baik-baik saja, Bos.”
Alea mendelik mendengarkan perkataan tersebut, ia pun meletakan kepala Alice dan bangun dari duduknya untuk menghampiri pagar besi.
“Hai, Tuan. Tolonglah kami. Ada wanita yang sakit di sini. Dia membutuhkan obat,” kata Alea pada dua penculik yang menculiknya tersebut.
Sepasang kekasih itu menoleh ke samping lalu pandangi Alea yang berdiri di pagar besi.
“Ck! Aku tidak peduli, sekalipun wanita itu mati pun. Kita tidak peduli,” tegas di wanita dingin seringaian.
“Aku mohon, tolonglah kami. Bila kalian tidak peduli pada kami seharusnya kalian tidak menculiknya dan di bawa kesini untuk dijual, hah?”
Wanita berambut ikal itu lekas menghampiri sel tahan, pandangan keseluruhan wanita di dalam sana. Bola matanya menangkap wanita yang tergeletak di atas lantai dingin.
“Itu hukuman untuknya karena dia sudah berani melarikan diri dari kami!” tegas si wanita.
Wanita berambut ikal tersebut pun menatap bengis pada Alea.
“Sebaiknya kau diam saja, jallang. Jangan peduli pada orang lain, pikirkanlah nasibmu sendiri pada pada kau sibuk mengurus orang lain.”
Alea mendengus kesal diiringi sorot mata yang tajam pada si wanita brengsek itu dengan tangan yang terkepal erat.
“Kalian semua dasar manusia brengsek yang tidak punya perasaan sama sekali—”
“Arghtt….” Alea merintih, sakit.
Tiba-tiba wanita berambut ikal tersebut mengulurkan tangannya melalui celah besi dan mencengkram lehernya lalu di tarik tubuhnya untuk mendekat.
“Agh…” jerit Alea.
__ADS_1
Wanita itu membenturkan kepala Alea pada pagar besi dengan keras.
“Aku sudah peringatkan kepadamu untuk tidak ikut campur masalah kami, jallang! Jika kau tidak ingin bernasib sama dengan wanita itu,” desis si wanita diiringi lirikan wanita yang menunjuk pada Alice.
“Kalian semua harusnya berterima kasih pada kami karena kami masih baik pada kalian memberikan kalian pekerjaan yang akan menghasilkan kalian banyak uang walau hanya dengan modal tubuh kalian. Jadi, aku minta kau tidak banyak protes, paham?!”
“Ck! Aku tidak sudi,” kata Alea cukup dalam hati.
Wanita berambut ikat tersebut menatap bengis seraya mengeratkan cengkramannya membuat Alea kesulitan bernafas.
“Jangan pernah membangkang pada kami, karena kami tidak suka dengan orang selalu menentang kami!” tegas si wanita seraya menghempaskan tangannya diiringi sedikit dorongan sehingga membuat Alea terjatuh ke lantai.
Alea hanya bisa diam seraya menatap wanita tersebut diiringi satu tangannya memegang lehernya yang sakit.
“Kalian akan menyesali, jika Evans Colliettie benar-benar akan datang ke sini membunuh kalian semua dengan keji.”
Wanita berambut ikal tersebut tertawa keras bersamaan dengan pria dengan luka di wajah tersebut. Sepasang kekasih itu tampak begitu senang menertawakannya.
“Ck! Evans Colliettie si The Black Rose itu tidak akan datang kemari untuk menyelamatkan istrinya,” decak sip ria.
“Sebaiknya kau tutup mulutmu, jallang!”
“Ck!” decak Alea sera meludah kearah sepasang kekasih tersebut.
Tentunya hal itu mengundang amarah besar pada diri si pria tersebut.
“Matilah manusia bajjingan seperti kalian. Pergilah ke neraka!”
Tak terima dengan umpatan dan juga perlakuan Alea, pria itu pun bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri sel tahanan.
Pria itu masuk dan menghampii Alea yang berada id dalam sembari membawa senjata api.
Ditariknya rambut panjang Alea dengan kencang seakan rambutnya akan lepas akan tarikan yang sangat keras diiringi denyutan nyeri yang mulai timbul.
“Tutup mulutmu itu sebelum aku membungkam mulutmu dengan senjataku ini, hah.”
Pria itu mengacungkan senjata api tepat di depan wajah di depan Alea.
“Jika bos tidak melihatmu sebagai wanita yang di lelang untuk kalangan atas. Kau sudah mati di tanganku dengan mengenaskan!” amuknya.
Alae menahan rasa sakit yang begitu hebat di kepalanya, jambakan itu sangat keras hingga Alea merasakan kepalanya bergoyang.
Disaat si pria yang tengah murka akan umpatan Alea, sayup-sayup baik sip ria dan Alea pun sama-sama mendengarkan suara kegaduhan dari atas mana sekalipun tidak terdengar begitu jelas.
Keributan itu sontak membuat para penjahat tersebut terdiam sejenak dengan sikap waspada.
Pria itu menghempaskan kepalanya dingin mendorong tubuh Alea dengan keras hingga begitu saja kepala Alea terbentur dengan pagar besi.
Akhirnya luka lebam di keningnyalah hadiah dari sikap pembangkangnya oleh penjahat itu. Tubuh Alea meluruh terjatuh ke lantai seraya memegangi kepala yang terasa sakit.
“Suara apa itu? Periksalah ke atas,” perintah sip ria pada salah satu anak buahnya.
Dua orang anak buahnya pun langsung bergerak mau dan naik keatas semenetara Alea menujukan wajahnya membuat rambut panjangnya menghalangi wajahnya sembari menahan rasa sakit.
Brakkk!!!
Suara gebrakan keras tersebut semua orang terkejut termasuk Alea yang langsung menoleh ke arah pintu. Dua anak buah yang baru saja naik hendak membuka pintu pun langsung tersungkur dan jatuh ke bawah.
Dor!
__ADS_1
Dor!
Dua anak buah tersebut pun pada akhirnya mati bersimbah darah dengan timah panas yang menembus kepalanya.
Semua yang berada di dalam sana siap siaga memegangi senjata apinya, dan mengacungkan ke arah pintu depan.
Sepasang kekasih begitu pun anak buahnya sontak terkejut ketika muncul beberapa orang berbadan besar menuruni anak tangga seraya mengacungkan senjata apinya, setelah orang-orang tersebut masuk mereka membentuk barisan.
Terlihat begitu jelas dua kubu yang saling sigap dan penuh waspada. Baik anak buah sepasang kekasih tersebut dan juga orang bertubuh besar tersebut tidak ada yang lebih dulu mulai bergerak sampai pada akhirnya barisan si pria berpakaian serba hitam pun bergerak minggir memberi celah untuk seseorang masuk.
Pada akhirnya seseorang itu menampakan diri dengan jelas. Sosok yang mengenalkan coat hitam dengan tangan yang dibalut oleh sarung tangan hitam tersebut membawa senjata api dengan moncong panjang.
Alea sontak terbelalak hingga membekap mulutnya dengan rapat, perlahan Alea mundur ke barisan paling belakang dan memeluk Alice yang di sana yang bersama dengan wanita lain di dalam sel tersebut.
Para wanita di dalam sel pun nampak ketakutan menyaksikan ketegangan diantara dua kubu di depanya.
Sosok seorang pimpinan dari semua orang berpakaian serba hitam pun berdiri paling depan dengan auranya gelap penuh mengintimidasi.
Tak lupa dengan senjata moncong panjangnya di tangan setelah orang tersebut membuka kuncian senjatanya.
Dalam sekali tarik, senjata tersebut diacungkan ke depan pada penjahat yang diiringi seringaian iblis yang mematikan siap mencabut nyawa siapapun yang sudah mengusik apa lagi menghalanginya.
“E-Evan Colliettie…” lirih si pria dengan tubuh yang bergemetar.
Hanya ingin membasahi kerongkongannya, pria yang dipanggil Bos tersebut pun begitu kesusahan walau hanya menelan salivanya.
Si pria tersebut pun mundur beberapa langkah ke belakang.
“The Black Rose,” gumam si pria.
Pria yang tidak lain Evans Colliettie pun berikan senyuman miring lalu menelengkan kepalanya untuk memandangi area sekitar.
Dipandanginya deretan wanita yang berkerumun di dalam sel tahanan tersebut mencari sosok yang selama tiga minggu lebih ini dicarinya.
Sementara Alea menundukan kepalanya di belakang sana dan memilih menjauh tidak ingin Evans melihatnya. Alea berlindung di balik tubuh besar wanita.
“Aku datang ke sini hanya ingin membawa istriku pulang,” kata Evans, terdengar dingin.
Sepasang kekasih itu saling bersitatap sejenak dan kembali menatap si penguasa Italia.
“Aku tidak akan mentoleransi luka sekecil apapun yang terdapat di tubuh istriku yang di dapatkan di sini.
“Bila, hal itu terjadi, maka kalian akan menanggung sendiri akibatnya,” sambung Evans serata menghunuskan tatapannya ke sepasang penjahat di depannya.
Sekalipun suara Evans terdengar pelan, namun suara yang terdengar lembut itu bagaikan lagu kematian untuk mereka.
“Bawa istriku sekarang juga!” pekik Evans, keras.
Semua orang tercengang tentunya yang lebih utama nya adalah sepasang penjahat di depannya yang terkejut.
Jadi rumor itu benar. Mereka tanpa sadar sudah menculik istri dari Sang Penguasa Italia.
Benar, saja bukan Penguasa Italia itu benar-benar datang kemari untuk menjemputnya ketika mereka sedang berlayar di atas Samudera dan jauh dari Napoli.
Semua para penjahat menatap penuh ketakutan dan tidak bisa berkutik lagi di depan seorang Evan Colliettie yang berdiri tegak layaknya malaikat pencabut nyawa yang akan bersiap mengantarkan mereka semua ke dalam neraka.
“Di mana istriku!”
“Ini istri anda Tuan. Alea Anjanie. Silahkan Tuan bisa membawa istri anda pergi!”
__ADS_1
Kening Evans berkerut. “Dia istriku?”