HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Manik Sapphire


__ADS_3


“Ck! Dasar bajjingan kamu, hah? Kau sudah menipuku!”


"Ti...dak, Tuan."


"Kami tidak tahu kalau wanita itu bukan lah istri anda,” kata si pria dengan kedua kakinya yang merapat bersujud di depan Evans Colliettie.


Evans mencengkram lebih erat penuh amarah, ketika penjahat itu telah menipunya bahkan Evans geram saat tidak mendapati sang istri di dalam ruangan bawah kapal.


“Dimana istriku, katakanlah!” seru Evans, murka.


Pria itu menggeleng tidak tahu yang mana istri seorang Evans Collietie. Evans kembali menyentakan tubuh si pria diiringi pandangi para wanita di dalam sel penjara tersebut.


Arah pandangan Evans tertuju pada kerumunan para wanita yang menatap takut. Evans melebarkan pandangannya secara awas.


Lelaki itu tersentak ketika menangkap manik sapphire milik di deretan para wanita dan bersembunyi di balik belakang kerumunan wanita.


Evans menemukannya. Dia menemukan istri tercinta yang mendelik dengan mengatupkan bibir rapat-rapat. Detik berikutnya, baik Evans dan Alea bersitatap dan saling memandangi.


Di belakang sana Alea hanya diam tidak bersuara. Tanpa sadar air matanya pun lolos begitu saja di pipinya dengan tubuh yang membeku. Betapa merindunya Alea pada sang suami.


Evans menghempaskan pria tersebut begitu saja dan segera berdiri menghampiri pintu besi tersebut. Ditembaknya rantai yang mengunci sel lalu mendorong dengan satu kakinya hingga terbuka lebar.


Sontak hal itu membuat wanita di dalam sana pun memekik keras—ketakutan setengah mati. Tapi, Evans tidak peduli sama sekali.


Kedua kakinya begitu saja berjalan menghampiri sang istri yang masih menatapnya hingga satu persatu wanita yang berada di depan pun menyingkir dengan sendirinya seolah memberikan jalan sampai akhirnya Evans berada di depan Alea yang duduk di samping Alice.


Ibu satu anak itu tentunya syok ketika melihat The Black Rose dari jarak yang begitu dekat.


Alea menggigit bibirnya dengan kuat, air matanya tidak bisa dibendung lagi ketika pandangan mereka bertemu. Kerinduanya pada sang suami begitu besar.


Satu kakinya di lipat, Evans bersimpuh di depan Alea yang sama-sama saling menatap lekat dan bersitatap.


Dalam hati Alea. Apakah dia akan mendapatkan marah besar karena dia sudah berani kabur dari mansionnya?


Alea tertegun ketika melihat Evans mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajahnya. Dihapusnya air mata yang berjatuhan dengan ibu jarinya yang mengalir dengan lembut.


Evans memperhatikan dengan seksama setiap inci wajah istrinya dan menggertakan gigi ketika melihat beberapa lebam yang terdapat dan di wajahnya dan juga tangan istrinya.


 Jemarinya membelai lembut bibir Alea yang bergetar seakan ia mengisyaratkan jika ia rindu.

__ADS_1


“Hai…” sapa Evans lembut.


“Jangan menangis dan jangan takut lagi. Aku di sini, sayang,” ucap Evans.


Alea terisak dan mengangguk pelan. “Jangan gigit bibirmu seperti itu, sayang. Kamu bisa terluka,” pinta Evans.


Alea tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mengangguk dan melepaskan bibirnya perlahan. Sungguh Alea tidak tahu kenapa ia bisa begitu merindukan kelembutan Evans yang hanya ditujukan untuknya.


Dan semua wanita yang berada di dalam sana pun memandangnya diiringi hati yang iri pada sosok wanita yang telah berhasil menaklukan hati seorang Evans Collietie penguasa Italia itu.


Sikap kejam seorang Evans Colliettie seketika terhapus ketika melihat betapa lembut dan juga sayangnya seorang Evans Colliettie memperlakukan istrinya dengan begitu sayang.


Tatapan cinta sang Penguasa Italia pada wanita di sampingnya pun membuat hati wanita menjerit iri dibuatnya.


Alice yang berada di samping Alea pun tentunya mengerjapkan bola matanya tak percaya melihat betapa cintanya seorang Evans Colliettie pada sang istri.


Evans membuka sarung tangannya kananya, lalu mengecup punggung tangan sang istri dan bergantian dengan telapak tangan.


Tak lama Evans menarik sang istri perlahan untuk maju dan pria itu mendaratkan kecupan lembut di kening sang istri dengan bibirnya yang berbisik di telinga Alea.


“Apa semua luka-luka di wajahmu ini perbuatan pria itu, sayang?”


Alea mengangguk pelan, Evans menarik nafas dalam-dalam seraya menghembuskan perlahan.


Alea manggut-manggut paham, sementara Evans langsung berdiri dan berbalik ke depan setelah memastikan istrinya telah mengikuti perintahnya itu.


Evans memberikan kode pada anak buahnya untuk menyeret pria tersebut yang sudah tidak berdaya. Dibawa pria itu masuk ke dalam sel tahanan. Kepalanya terkulai dengan wajah yang berdarah-darah.


Evans maju dengan seringai iblis. “Aku tidak akan mengampuni luka sekecil apapun yang didapatkan oleh istriku di dalam sini,” desis Evans, memegangi kepala pria itu tersebut dengan kedua tangannya.


Pria itu pun terbelalak, ketakutan setengah mati berhadapan dengan Evans.


“Kau harus menerima akibat dari semua perbuatanmu ini terhadap istriku.”


“A-aku mohon, Tuan. Ampuni say—”


Krek!


Dalam sekali geraknya memutar, pria tersebut pun meregang nyawa di bawah jeritan histeris para wanita yang menyisakan secara detail tepat di depannya termasuk juga sang kekasihnya yang turut menyaksikan kematian sip ria tersebut.


Alea menutup mulutnya dengan kedua tanganya, menangis tertunduk dengan kedua matanya yang tertutup rapat. Meski Alea tidak melihat kejadian tersebut, tetapi Alea biasa membayangkan bagaimana kejadian di depannya itu yang tentunya mengerikan.

__ADS_1


Dor!


Satu timah panas dilepaskan dari senjata api Evans tepat pada dahi si wanita dan akhirnya sepasang kekasih tersebut mati seketika di tangan Evans Colliettie.


"Habisi semua orang-orangnya yang berada di dalam kapal ini,” perintah Evans yang langsung dianggukan siap oleh anak buahnya.


Setelah semua anak buah Evans membungkuk seraya memberi hormat, mereka pun bergegas menjalankan perintah.


Evans berbalik pada Alea yang berada di sampingnya dengan mata yang masih terpejam.


“Bukalah matamu sayang,” ucapnya sembari menarik Alea mendekat.


“Ev…” lirih Alea memanggil diringin tatapan pada sang suami.


“Aku mohon selamatkan mereka semua. Please,” pinta Alea berharap sang Suami mau mengabulkan permintaanya.


Evans pandangi sejenak beberapa wanita yang berada di dalam sel penjara yang nampak ketakutan termasuk Alice yang berdiri terdiam di belakang Alea.


“Kamu tahu kan sayang, konsekuensi atas permintaanmu ini, hm?”


Alea mengangguk cepat, ia paham. “Aku tidak main-main, sayang.”


Alea tahu dan paham akan konsekuensi yang dimaksud sang suami. Tidak lain kalau Alea tidak akan berusaha pergi lagi.


“Aku paham, Ev.”


Evans berdiri, menyuruh anak buahnya untuk mengevaluasi semua wanita yang berada di dalam sana, sementara Alea berbalik membantu Alice untuk berdiri. Alea tersenyum hangat menatap Alice.


“Kamu bisa pulang lagi ke rumahmu, Alice dan bertemu dengan putrimu lagi.”


Alea menggenggam erat tangan Alice. “Aku ingin kamu harus kuat dan kembali sembuh demi putrimu.”


Alice menangis dan memeluk Alea. “Terima kasih banyak, Nyonya Colliettie.”


Alea terkekeh mendengarkan perkataan Alice. “Aku tidak suka kamu memanggilku, Nyonya.”


“Tapi itu kenyataanya, kamu adalah Nyonya Sang Penguasa Italia dan aku tidak menyangka bisa bertemu langsung denganmu, Nyonya Colliettie.”


Alice mengusap punggung tangan Alea diringin senyuman lega. “Kamu berhati malaikat seketika semua orang disini tidak ada yang menolongku.


“Aku sangat beruntung kali ini bisa bertemu dan melihat anda, Nyonya Colliettie,” ungkap Alice tulus.

__ADS_1


“Kamu terlalu berlebihan, Alice.” Tatapan mata Evans membuat Alea paham.


“Kamu harus pergi dan harus kembali sehat. Kita akan bicara lagi nanti.”


__ADS_2