HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Jangan Buang Aku!


__ADS_3

“Bolehkan aku bertemu dengan Alice lebih dulu sebelum kita pergi?”


Evans berikan anggukan setelah kapal mereka tiba di sebuah dermaga. “Terima kasih, Ev.”


Kembali, Evans mengangguk diiringi senyuman penuh damba pada istri tercinta.


Alea melepaskan genggamannya seraya berjalan menghampiri Alice yang diiringi lambaian tangan. Alice terlihat sudah menunggunya.


Evans mengekor sang istri dari belakang seraya mengedarkan pandangan penuh waspada, sekalipun kini mereka telah aman namun, Evans selalu tetap waspada demi keselamatan wanita yang dicintainya lebih dari nyawanya sendiri.


“Hai, Alice….”


Alea datang menyapa, dua sudut bibir Alea pun terbentuk senyuman menyambut ibu satu anak tersebut.


Lega, itu tentu. Ekspresi yang ditunjukan Alice pun terlihat berbeda dari sebelum mereka bertemu.


Alice kini terlihat sehat dan wajahnya pun kini berseri senang karena mereka sama-sama terlepas—bebas dan kembali menjalani hidup masing-masing.


“Aleaa….” Sambut Alice, bahagia.


Tak lupa, tubuh kecil itu membungkuk di depan Alea ketika siapa yang kini berdiri di belakang wanita berhati baik. Ya, itu sang penguasa se-antero Italia, tepatnya Napoli.


“Sepertinya ucapan terima kasih ini, tidaklah cukup untuk membalas kebaikanmu, Alea.”


Alea tersenyum lebar diiringi menggenggam tangan Alice. “Hanya kamu wanita satu-satunya yang peduli dari banyaknya wanita di dalam sel waktu itu.


“Tidak hanya semangat yang terus kamu berikan padaku, tapi juga kamu menyelamatkanku dan juga yang lainnya. Terima kasih banyak, Alea.


“Bertemu denganmu adalah sebuah keberuntungan,” ungkap Alice, kembali membungkuk tubuh di depan Alea dan juga Evans.


Tanda hormat begitu ucapan terima kasih pada wanita berhati malaikat seperti istri dari seorang penguasa di negaranya.


“Jangan terlalu memujiku, Alice. Sama sekali aku tidak melakukan apapun pada kalian semua.”


“Mungkin, perhatianmu hanya padaku saat itu. Tetapi, suamimu lah yang menolong kita lepas dari para penjahat kejam seperti mereka.


“Tuan Colliettie lah yang sudah sudi menolong rakyat jelata seperti kami. Tetap, aku berhutang budi padamu,” sambung Alice.


Alea berikan senyuman tulus, lalu menghembuskan nafasnya.


“Ibuku pernah berkata, bahkan beliau mengajariku banyak hak kebaikan dan salah satunya untuk saling tolong menolong sekalipun kita di dalam bahaya.


“Itulah yang selalu aku tanamkan selama ini, sekalipun banyak orang yang memandang jelek dan juga berpikir tidak-tidak. Hah, aku tidak peduli selama aku bisa menolong,” balas Alea teringat akan nasehat dari ibu pantinya.


Wanita cantik yang dipersunting seorang Mafia itu pun, bukan besar kepala melainkan hanya ingin saling membantu, hanya itu saja.


Alea berikan senyum lebar untuk Alice di mana wanita itu pun turut menatap dan tersenyum padanya. Alice mengangguk, membenarkan. Sayangnya, Alice sendiri tidak punya keberanian seperti Alea.


Dari hati yang terdalam, Alice begitu senang bisa berkenalan dan akhirnya tahu bagaimana rupa dan juga kebaikan hati yang tulus dari istri sang Penguasa Napoli itu. Sungguh beruntung, pria yang mendapatkan wanita sebaik Alea.

__ADS_1


Alea melirik ke belakang di mana Mika sudah berdiri tepat di belakang sang suami.


“Ah, baiklah. Aku tidak bisa lama-lama. Aku senang melihatmu dalam keadaan sehat, Alice. Tolong sampaikan salamku pada keluargamu begitu juga putrimu,” ungkapnya.


Jauh, dari lubuk hati yang terdalam. Ada kesedihan yang masih melanda. Ada pikiran dan sesuatu yang ingin Alea ungkapkan namun, ketika melihat situasi dan kondisinya Alea lebih memendam semua kegusaran pada suaminya.


“Itu pasti, Alea.” Alice memeluk Alea dan tak lama mengurai pelukannya.


“Hanya doa yang aku selalu panjatkan pada Tuhan membalas semua kebaikanmu, Alea. Semoga Tuhan selalu memberikanmu kesehatan, dijauhi dari marabahaya dan satu lagi tentunya yang tidak akan aku lupakan meminta pada Sang Pencipta, keturunan," doa Alice dengan tulus.


Bola mata Alea mendelik meski bibirnya tersenyum lebar pada Alice.


“Semoga Tuhan lekas memberikanmu keturunan yang pemberani seperti kedua orang tuanya tentunya tampan dan cantik akan mewarisi anak kamu kelak,” ungkap Alice dari lubuk hatinya yang terdalam.


Ibu satu anak itu hanya bisa mendoakan kebaikan sebagai tanda terima kasihnya.


“Amin, amin, amin.”


Alea terisak, satu tangannya lekas menghapus air mata yang berjatuhan. Itulah, keinginannya pada sang Pencipta. Alea ingin memberikan J Evander Colliettie seorang keturunan di dalam pernikahannya ini.


“Terima kasih banyak atas doamu untukku, Alice,” ucap Alea diiringi genggaman yang kuat.


“Sebelum aku pergi, bolehkah aku berpesan padamu, Alice.”


Alice berikan anggukan, membolehkan. “Jika suatu hari nanti kamu mengalami kesulitan yang berat sekalipun.


“Sayang, kita sudah saatnya pergi.”


Evans mengingatkan. Alea berikan anggukan, paham. Alice selangkah maju dengan tubuh yang bergemetaran berhadapan dengan mafia terkejam seantero Italia.


“Tuan Colliettie.”


 Alice menelan salivanya dalam-dalam, betapa mengerikan ekspresi dari wajah sang Mafia sekalipun wajahnya yang rupawan.


“Mohon dengan sangat, apapun yang terjadi, lindungilah Alea dengan baik. Anda lah pria yang beruntung di dunia ini yang mendapatkan wanita berhati malaikat,” ungkap Alice, dengan suara yang bergetar.


“Tidak usah memohon apapun padaku karena sejatinya akulah yang lebih barhak dan juga tahu apa yang harus aku lakukan untuk istriku,” tegas Evans pada Alice.


Tidak ada orang yang pun yang tahu, bahwa cintanya Evans pada Alea begitu besar hingga Evans bersumpah akan selalu melindungi Alea sekalipun nyawa taruhannya.


Setelah pembicaraan dua wanita tersebut selesai, Alea pamit. Dia melambaikan tangan pada Alice, melihat wanita itu kembali bergabung dengan para sandera yang lain, Alea pun masuk ke dalam mobil di mana Evans sudah membukakan pintu mobil suv hitam tersebut.


“Apa kamu kini sudah tenang, sayang?”


“Ya, tenang sekali rasanya hari ini.” Alea melirik ke samping dan tersenyum. “Akhirnya mereka pulang dengan selamat.”


Alea menggenggam erat tangan sang suami, lalu di kecupnya punggung tangan sang suami hingga pada telapak tangan Evans yang besar.


“Terima kasih, kamu sudah menyelamatkanku dan juga menolongku, Sayang.”

__ADS_1


Evans daratkan kecupan. “Tidak cukup dengan ucapan terima kasih sayang, tentunya kamu harus membayarnya.”


Bola mata Alea menyipit menatap sang suami. “Aku harus membayarmu dengan apa, Sayang? Uang?”


Kening Alea berkerut, jika Evans ingin membayarnya dengan uang.


Sejujurnya, Alea tidak punya banyak uang pribadi saat ini melainkan kini Alea punya uang pemberian dari sang suami.


Selama Alea menjadi istrinya, Evans tidak pernah memberikan uang secara tunai melainkan Evans selalu rutin mentransfer uang dengan jumlah fantastis ke dalam rekening barunya yang kini namanya berganti menjadi nama Mrs Alea Colliettie.


Evans tersenyum hangat diiringi menatap sang istri yang menggemaskan. “Uangku sudah banyak, Sayang. Aku tidak butuh uang, tetapi—”


Evans menarik tubuh sang istri agar merapat, memisahkan jarak diantara mereka.


“Kamu bisa membayarku dengan kepuasaan,” bisik Evans dengan nada sensual.


Mata Alea melotot, meski hal itu wajar dibicarakan oleh sepasang suami istri untuk menggoda. Namun, bagi Alea perkataan Evans itu terdengar menakutkan di mana bayangan sang suami yang tidak pernah puas menggaulinya hingga mengurungnya berhari-hari di dalam kamar.


“Oh, astaga Ev.”


Evans terkekeh seraya menyatukan bibirnya tanpa menyesapnya.  “Aku merindukanmu, sangat.” Bibir Evans jatuh ke leher sang istri. “Aku rindu setiap jengkal kulitmu dan juga desahaanmu.”


Mata Alea semakin lebar. “Aku menginginkanmu, istriku,” bisik Evans, kembali.


“Aku pun merindukanmu, suamiku,” jawab Alea diiringi senyuman. Tak kala, kedua tangannya mengusap rahang sang suami.


“Oke, aku akan mengurungmu di kamar hotel.  So, bersiaplah terima hukumanmu, sayang.”


Sepanjang jalan menuju hotel, Evans lebih dulu meminta haknya. Alea sama sekali tidak keberatan sekalipun mereka harus melakukannya di dalam mobil di mana sang supir sudah ditegaskan oleh Mr Colliettie untuk tidak mengusik kesenangannya dengan sang istri tercinta.


Berani mengusik, maka bersiaplah mati di tangan sang penguasa Italia.


Di saat Evans telah melepaskan hasratnya, Alea terdiam seraya mengatur nafas di bidang dada sang suami. Pikiran Alea kembali penuh dengan hati yang ingin sekali bertanya pada Evans atas kehamilan Ruby.


“Istirahatlah lebih sejenak, aku akan membangunkanmu ketika kita sampai di hotel.”


Alea mengangguk, kepalanya terangkat ke atas menatap sang suami diiringi senyuman lebar. Jujur, dalam hati yang paling dalam. Rasa ketakutan dan juga ketidak siapan nya membuncah.


Alea takut Evans sudah lebih dulu mengetahui hal ini, dan bersiaplah ia akan ditinggalkan oleh sang suami dan memilih Ruby yang kini tengah mengandung benihnya.


“Ev….”


Jemari Alea bermain dibidang dada Evans. “Ya, sayang.”


“Jika, suatu saat aku cacat nanti. Tolong, jangan buang aku.”


Kening Evans berkerut seraya menatap sang istri. “Jika suatu saat nanti tidak ada cinta dihatimu, maka katakanlah dengan baik-baik. Aku akan pergi dengan sendirinya.”


Evans hembuskan nafasnya. “Kamu tidak akan mengatakan kegusaranmu padaku, sayang?”

__ADS_1


__ADS_2