
“Kita mau kemana, Ev?”
“Nanti kamu juga tahu.” Evans duduk di samping sang istri lalu membuka kotak obat untuk mengobati luka di wajah Alea. Pipi sang istri masih merah dengan sudut bibirnya terdapat darah yang kini mengering.
“Apa beneran tidak apa-apa?” tanya Evans sekali lagi untuk memastikan.
Perasaan Alea semakin tidak menentu ketika Evans kembali memanggil namanya. Bukan kata sayang yang sering Evans lontarkan setiap hari kepadanya, melainkan memanggil namanya Lea.
“Aku tidak apa-apa.”
Alea menundukan kepalanya sementara Evans menangkupkan wajah Alea dan mengobati luka-luka di wajahnya.
Tetapi, bukan dengan obat yang sudah pria itu pegang di mana satu tangannya memegang kapas yang sudah di oleskan obat, melainkan Evans mencium bagian luka yang terdapat di pipi dan juga sudut bibir Alea dengan perlahan.
Alea terkesiap dengan sedikit menahan perih tanpa memutuskan kontak mata dengan sang suami.
“Siapapun yang sudah memberikan luka di tubuhmu mereka pantas mati. Itu janjiku padamu bahkan aku sudah mengatakan tidak ada lagi luka-luka kembali. Tapi, ini—”
Evans menghembuskan nafasnya, memandangi pipi Alea yang masih saja tetap memerah. Diusapnya dengan lembut lalu kembali mengecupnya.
“Tidak akan terulang kembali!”
“Maafkanlah aku, Ev.”
Alea semakin merasa bersalah karena tidak mendengarkan perkataan sang suami. Alea malu dengan sikapnya yang sok seperti pahlawan kesiangan, Alea kembali menundukan pandangannya di depan Evans.
Evans menatap Alea sejenak, istrinya kembali diam. Dibawanya tubuh kecil istrinya ke dalam pelukan dengan erat.
“Aku memaafkanmu, sayang. Jadi, jangan pergi seperti tadi lagi ya.”
Evans mengangkat wajah istrinya yang nampak bersedih karena belum mendapatkan jawaban darinya. Evans pun kembali mencium kening Alea dengan dalam.
“Jangan lagi bersikap lemah pada orang lain. Jangan pernah melihat orang tidak tega karena dilukai orang lain karena itu membahayakan mu, sayang. Kamu dengarkan?”
Alea berikan anggukan pelan. “Tidak ada jiwa social lagi saat ini karena kamu milikku dan aku tidak mau kamu menjadi pahlawan kesiangan.”
Alea kembali menundukan wajahnya dan lagi lagi Evans menaikan wajah Alea agar istrinya mau menatapnya ketika ia berbicara.
“Ingatlah aku bila kamu bersikap lemah terhadap orang. Bila kamu kenapa-napa sampai kamu meninggalkan aku, tolong ingatlah aku.” Tekan Evans di setiap kata-katanya.
“Ingatlah nasibku bila kamu pergi meninggalkan aku. Jangan memberikan aku luka dengan kepergianmu, Lea. Aku sangat mencintaimu.”
__ADS_1
Alea menatap dengan dua mata yang basah, sebegitu besarkah cinta Evans padanya?
“Kamu adalah nyawaku. Nyawa yang selalu aku jaga untuk menemani iblis menyedihkan sepertiku ini. Jadi, tolong pikirkan dua kali sebelum kamu bertindak, Lea.”
“Ev….” Evans menghapus air mata sang istri yang berjatuhan di pipinya.
“Aku mencintaimu, Lea. Jadi, please buanglah jiwa sosialmu yang tinggi aku tidak suka!”
Alea memeluk Evans. “Maafkan aku, Ev.”
Evans kembali membawa Alea kedalam dekapannya dan mengecup keningnya lama. “Aku selalu memaafkanmu sayang.”
Alea memegangi lengan Evans yang berada di dadanya.
“Aku sangat mencintaimu, Lea. Jadi tolong jangan pernah melepaskan genggaman tanganku lagi.
"Aku sungguh takut kehilanganmu,” ungkap Evans sepenuh hati.
Cintanya hanya Alea dan nyawanya pun hanya untuk wanita yang dipeluknya ini. Seperti kata Mika, kalau ia sudah jatuh lebih dalam lagi bersama dengan wanita bodohnya ini.
Alea berikan anggukan pelan seraya menengadahkan kepala untuk menatap sang suami. Senyuman Alea merekah dan mengecup bibir Evans lebih dulu.
“Apa kita perlu ke rumah sakit untuk memeriksa semua luka-luka mu ini, hm?”
Evans menarik nafas panjang lalu kembali menarik sang istri ke dalam pelukannya agar hatinya benar-benar tenang.
“Kita mau kemana, Ev?”
Evans tersenyum seraya melepaskan pelukannya, sudah saatnya ia pergi. Pria itu bukan langsung menjawab namun memakai kaca mata hitamnya setelah memberikan kecupan di puncak kepala sang istri.
“Melihat keindahan Naples bersama istriku.”
Setelahnya speedboat yang di kendari Evans melaju cepat ke arah lautan biru dan menjauh dari pelabuhan.
Perasaan Alea kini lebih baik. Ia pun berdiri berdampingan bersama dengan sang suami hingga tanpa sadar Alea memeluk sebelah lengan sang suami lalu menyandarkan kepalanya di bahu Evans.
“Kalau tahu kita akan bepergian seperti ini seharusnya tadi aku bekel kue yang dibuat di rumah. Mana lagi aku belum mencicipi kue resep baru itu, enak atau nggaknya.”
“Nggak usah khawatir, sayang. Kita masih punya pizza, aku sudah membelinya. Nanti, aku akan menghabiskan kue yang sudah kamu buat di rumah. Jadi tenang saja,” kata Evans diiringi kecupan pada bibir sang istri.
“Hmm…” Alea bergumam panjang seraya berpikir dan hal itu membuat Evans menoleh sejenak.
__ADS_1
“Ada apa, sayang?”
“Aku tidak yakin kalau kue yang aku buat itu masih ada tidaknya.”
Kening Evans mengernyit. “Kenapa kamu berkata seperti itu?”
“Sepertinya Rafael sudah menghabiskan semua roti yang tadi aku panggang.”
“Sialan, si brengsek!” umpat Evans seraya menghentikan laju speed boatnya. Evans mengeluarkan ponselnya dan menekan number Rafael.
“Bukannya aku sudah pernah mengatakan padamu, sayang? Jangan pernah membuat makanan apapun atau kue apapun untuk orang lain dan pria manapun termasuk, si brengsek Rafael!” decak Evans, marah.
Selama menikah dengan Alea, Evans sama sekali tidak pernah mencicipi kue buatan istrinya. Jelas, dia marah.
“Tapi bukannya kam—”
“Ya, Mr Colliettie. Rafael speaking.”
Di seberang sana kening Rafael mengernyit ketika Evans menghubunginya dengan panggilan video call apalagi ekspresinya begitu bengis seolah ingin menelan hidup-hidup.
“Ada apa, Tuan?”
Alea menarik nafas sejenak dari layar ponsel Evans dari arah samping saja Alea bisa melihat Rafael yang tengah duduk di ruangan makan.
“Tuan, apa Mrs Colliettie ada bersamamu?” tanya Rafael dengan santai. Wajahnya pun terpancar ceria.
“Ada apa kau menanyakan istriku, hah?”
“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada istri anda. Ya Tuhan.” Rafael menunjukkan satu kotak potongan kecil di depan layar tersebut.
“Ini potongan terakhir kue yang Mrs Colliettie buat.” Alea memijit pelipisnya dan menghindar dari layar ponsel yang didekatkan oleh suaminya dan Evans mengangkat itu.
“Ya Tuhan. Ini kue terlezat yang pernah aku makan. Mrs Collietie anda begitu berbakat membuat kue selezat ini.”
“Ck! Berani-beraninya kau memakan kue buatan istriku, Rafael!”
Pria itu mendelik. “Aku akan membunuhmu setelah aku pulang dari sini nanti, Rafael. Hubungi Mika untuk menyiapkan pemakamanmu nanti!” decak Evans, marah.
“Astaga, Van. Kesalahanku apa sampai aku harus menyiapkan pemakaman segala?”
Jelas Rafael yang masih berada di mansion pun bingung dengan perkataan Evans Colliettie.
__ADS_1
“Jelas karena kau sudah berani memakan kue buatan istriku, Rafaell!” decak Evans.
Kalimat ancaman dari sang mafia membuat pria muda itu langsung tersedak dan terbatuk-batuk sementara Alea hanya diam pura-pura memandang ke samping mengalihkan tatapan tajam dari sang suami yang kembali marah karena hanya gara-gara kue.