
“Ya Tuhan…”
Alea membekap mulutnya dengan satu tangannya. Dia terkejut dengan banyaknya hadiah yang diperuntukkan untuknya, Mrs Colliettie.
“Sebanyak ini, Ev?” tanya Alea seraya memandangi sang suami.
Pria itu hanya diam dengan helaan napas panjang seraya memasukan kedua tangannya ke saku celana katunnya.
Olivia tersenyum, gadis itu lekas bangun dan berjalan mendekati Alea.
“Kaka pasti terkejut bukan?”
“Aku bukan terkejut lagi, tapi syok melihat semua hadiah yang hampir memenuhi ruangan tengah ini.”
Ya, hadiah yang diberikan saudara Evans Colliettie dan juga Martinez yang begitu banyak.
Bukan hanya keluarga, tetapi beberapa kolega dan investor lain yang tak diundang pun turut memberikan hadiah untuk putra tunggal Alberto Colliettie yang pada akhirnya menikah.
Olivia meraih tangan Alea dan membawa kakak iparnya untuk duduk di sofa panjang.
“Ini semua untukku atau punya Evans?” tanya Alea pada sepupu Evans.
Tapi, bagi Olivia. Evans adalah kakaknya, pria yang selama ini diam-diam melindunginya dari orang-orang jahat.
“Tentunya untuk Ka Alea. Kakakku, tidak membutuhkan barang-barang ini. Dia sudah kayak dan bisa beli sendiri,” jawab Oliva ketus. Gadis itu masih kesal pada Evans.
“Ayo kita buka bersama Ka. Hadiah dari keluarga kita saja dulu.”
Alea mengangguk pelan dan duduk di karpet bulu sementara Evans duduk di single sofa seraya memandangi sang istri yang nampak senang dengan hadiah yang begitu banyak dari saudara dan orang terdekatnya.
“Bantu aku Via membuka hadiahnya,” pinta Alea yang dianggukan gadis berambut pirang.
“Oke.”
Alea antusias. Bibirnya tak lepas melukis senyuman bahagia saat membuka satu persatu hadiah yang diberikan oleh saudara Evans.
Ketiga wanita itu pun nampak begitu akrab dan hangat, padahal mereka baru saja kenal tapi seperti mereka sudah lama kenal.
“Ya Tuhan. Nyonya Jovita terlalu berlebihan padaku. Ini pastinya sangat mahal,” ucap Alea menatap haru pada beberapa orang yang duduk di ruangan tengah.
Nyonya Jovita memberikan satu set perhiasaan berlian. “Tolong ucapkan terima kasih pada Nyonya Jovita, Leo,” kata Alea yang dianggukan oleh Leo.
“Jangan panggil ibuku dengan panggilan Nyonya, Al. Kamu kini saudara kita. Panggil saja, Bibi atau Aunty.”
Alea hanya berikan anggukan lalu menatap Evans yang sejak tadi hanya diam. Tak ikut dalam obrolan mereka sekalipun suaminya duduk duduk di ruangan yang sama bersama saudaranya.
‘Aku tidak salah memilihmu, Lea. Mansion ini kini terasa hangat dengan kehadiranmu,’ gumam Evans dalam hati.
Alea menatap sang suami yang diiringi senyuman manis. Sudahlah jangan ditanya bagaimana ekspresi suaminya saat ini. Evans kembali pada mode lama alias setingan pabrik. Evans terlihat dingin dan juga datar.
Belum lagi tatapan yang menyeramkan itu membuat orang segan bahkan takut.
Namun, tatapan sendu dan manis beberapa minggu ini sepertinya hanya khusus untuknya. Evans Colliettie kini banyak senyum dan juga tertawa.
Setelah usai membuka kado, Alea pun menjamu saudaranya dengan makan malam bersama-sama.
Bagi dua pria itu pemandangan ini jelas sama sekali tidak pernah mereka bayangkan bisa sedekat ini dan juga sekarab ini sekalipun sang empu masih sama bungkam.
“Jangan datang lagi ke rumahku. Aku tidak akan menerima tamu!” kata Evans pada saudaranya yang pamit pulang.
Alea langsung melirik tajam, lalu mendengus pelan.
“Jangan begitu, Ev. Mereka saudaramu.”
Alea berikan senyuman pada saudara EVans.
“Maafkan, Evans yah. Aku senang bertemu dengan kalian semua.
"Seringlah datang ke sini karena pintu rumah kita terbuka untuk semua keluarga Evans,” ungkap Alea membuat Evans mendelik.
Tetapi, tatapan mata tajam Alea membuat sang devil memalingkan wajahnya dan pemandangan itu sukses membuat Leo dan yang lainnya berseru senang.
“Aku tidak menyangka kalau saudaraku akan tunduk padamu, Al. Ahh, lega rasanya.”
Leo memeluk Alea. “Kami akan datang lagi berkunjung ke sini. Terima kasih atas semua sambutannya dan makanan malam yang lezat.”
“Sama-sama,” ucap Alea tersenyum ramah.
Evans hanya berdiri di samping Alea di mana sang istri berikan lambaian tangan. Mobil Massimo dan Leo pun pada akhirnya melaju meninggalkan mansion Evans Colliettie.
“Kita masuk yuk, sudah malam,” ucap Evans seraya merangkul sang istri.
“Tuan.” Mika memanggil dan berhadapan langsung dengan Evans.
Evans dan Alea berada di dalam ruangan kerja. Alea hanya duduk manis di single sofa tempat dimana biasa Evans duduk.
Pria itu tengah membicarakan pekerjaan bersama Mika. Entah pekerjaan apa Alea hanya diam tidak ingin ikut campur masalah suaminya.
“Ev, maaf. Aku mengganggumu.”
Evans mengalihkan pandangannya pada istrinya.
“Ya, sayang.”
__ADS_1
“Bolehkan aku ke kamar duluan? Aku ingin rebahan.”
“Ya, sudah kamu tunggu aku saja di kamar. Aku selesaikan pekerjaanku sebentara dengan Mika.”
“Ya,” jawab Alea singkat seraya berikan senyuman pada Mika yang hanya diam.
Sudahlah, Mika memang sangat professional sekali dan hanya diam tampan membalas senyumannya.
Entah kenapa suasana hatinya tak menentu. Alea sedih bahkan sejak tadi dia ingin menangis.
Alea berdiri di pagar pembatas balkon di mana kedatangannya langsung disambut dengan suara deburan ombak yang terdengar kuat. Semilir angin yang begitu kencang pun menerjang rambut panjangnya.
Alea terisak. Hatinya teramat sakit. Air matanya begitu saja lolos membasahi pipinya.
Alea bukan menangis karena sudah membaca surat yang diberikan oleh Nyonya Jovita ataupun dari Tuan Alberto. Tetapi dari seseorang yang Alea sayangi sampai ia tidak bisa memendam kesedihannya.
Sebuah surat yang tengah dia genggam erat setelah selesai membacanya. Surat itu diberikan oleh Massimo secara diam-diam tanpa sepengetahuan Evans.
‘Semoga kamu sehat-sehat dan selalu dilindungi Tuhan ketika membuka dan membaca suratku, Al.
'Aku meminta maaf padamu karena aku sudah gagal menjagamu. Aku begitu lemah tidak bisa membawamu pergi dari tangan Evans Colliettie, The Black Rose sang penguasa Italia.
‘Aku terkejut Al, ketika mendengarkan kabar pernikahanmu dengan mafia itu dari Massimo.
'Jujur, aku kecewa pada diriku sendiri karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Al, sekali lagi maafkan aku.
'Baik-baik di sana, sekalipun kita tidak bisa bertemu lagi. Tapi doaku selalu menyertaimu.
'Semoga Evans bisa menjagamu, menyayangimu dan mencintaimu dengan tulus. Aku senang bila kamu sekarang bahagia dengan Evans.
‘Aku merindukanmu dan sangat mencintaimu, Al. Love and Hug from me.’ –isi surat tersebut.
Alea terisak pelan dan bergumam di dalam hati. Aku pun merindukanmu, sangat merindukanmu. Semoga aku bisa bertemu denganmu lagi.’
Baru saja Alea membayangkan seseorang tersebut, dia tersentak kaget saat mendapati tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Evans memeluknya dari belakang dan itu mengejutkannya.
Alea menghapus cepat sudut matanya yang basah. Ia tidak mau Evans marah dan juga curiga.
“Rupanya kamu di sini. Aku mencarimu kemana-mana, sayang,” ucap Evans mengecup punggung Alea.
“Maafkan aku kalau kamu sudah mencariku. Aku hanya ingin menghirup udara segar di malam hari.”
“Tapi, disini dingin. Angin lautnya kencang dan nggak baik buat kesehatanmu. Masuk, yuk sayang.”
Alea berikan anggukan pelan sebelum membalikan badannya. Ia berikan senyuman manis yang diiringi kedua tangannya melingkar di leher Evans.
“Yuk. Kita masuk,” ajak seraya melepaskan kedua tangannya dan mengajak Evans untuk masuk ke dalam. Angin di luar memang sangat kencang dan tubuh Alea pun dingin.
Gap!
“Hai…” Evans mengusap lembut pipi Alea.
“Kamu menangis, sayang?”
“Ah—ini—hmm…. Anu—”
Alea bingung harus memberikan alasan apa pada suaminya. Apa lagi Evans menatapnya begitu tajam. Ada amarah yang terpancar di bola mata indah sang suami.
Alea memeluk Evans dan mengeratkan pelukannya. Ia pun menenggelamkan wajahnya di bidang dada sang suami.
“Aku hanya terharu dengan keluargamu yang begitu baik dan juga aku sedih ketika membaca surat dari ayahmu.”
Alea menengadahkan kepalanya menatap sang suami. Ah, mungkin alasan inilah yang tepat untuk menjawab pertanyaan Evans.
“Ayahmu memberikan cincin pernikahan mereka padaku.”
Evans bergeming, sorot matanya nampak terlihat marah. Kedua tangan Evans pun terkepal erat dan sementara Alea menahan nafas pelan. Ia tahu kalau Evans tidak suka mendengarkan nama Alberto di panggil di depannya.
Alea meraih satu tangan Evans yang terkepal erat. Lalu membawanya naik ke atas. Alea kecup punggung tangan dan juga telapak tangan sang suami.
“Maafkan aku. Aku tadinya tidak ingin mengatakan hal itu karena aku tahu kamu pasti akan marah.”
Alea mengeratkan genggamannya. “Aku suda tidak mau meminta hal yang lain, Ev. Aku tidak mau memberatkanmu untuk melupakan kedua orang tuamu.”
Evans menarik napas dalam, kembali mengeratkan tubuh Alea dengan mencium keningnya.
“Aku belum bisa memaafkan mereka, sayang. Jadi aku mohon jangan ingatkan akan hal itu lagi.”
Alea mengangguk, tidak akan memaksa Evans.
“Baiklah. Tidak akan .Maafkan aku, Ev?”
“Hm,” jawab Evans dengan gumaman dan mengecup bibir sang istri.
“Tapi, bolehkah aku menyimpan hadiah dari ayah mertuaku?” tanya Alea menengadahkan kepalanya seraya menatap Evans.
“Simpanlah kalau kamu mau.”
Alea tersenyum lebar. Ia pun berjinjit untuk mengecup pipi Evans.
“Terima kasih, Ev.”
“Sama-sama,” jawab Evans seraya mengecup hidung mancung sang istri.
__ADS_1
Keduanya saling bersitatap yang diiringi senyuman manis dan juga genggaman tangan yang erat.
“Wohh… Ev…” Alea tersentak kaget, Evans menggendongnya secara tiba-tiba membawanya masuk.
“Apa kamu marah saat aku membaca surat dari Nyonya Jovita?” tanya Alea seraya mengalungkan tanganya ke leher Evans yang berjalan masuk ke dalam.
“Aku hanya tidak suka saja, sayang.”
Ya, dia tidak suka dengan kalimat terakhir yang dibacakan keras oleh istrinya. Barisan terakhir surat dari Bibinya itu meminta penerus Colliettie.
Jelas, jawabanya. Itu tidak akan pernah terjadi. Evans tidak menginginkan anak dari Alea. Dia hanya ingin hidup berdua dan selamanya hanya ada istrinya di dunianya.
“Aku Mau jatah malam, sayang. Ya?”
Alea diam memandangi sang suami yang kembali merengek.
“Aku nggak mau penolakan kayak tadi, ah,” ujarnya seraya membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidurnya.
‘Ya Tuhan. Apa suamiku ini tidak ada lelahnya terus mengajaknya bercintta di setiap waktu?
'Benar-benar buas terus meminta. Tidak ada kata untuk beristirahat barang sehari pun,’ batinnya.
Dua alis tebal Evans saling bertautan. “Kamu mikirin apa, sayang?”
“Nothing!”jawab Alea dengan helaan nafas pelan.
“Jangan bohong sayang. Aku tahu kamu mengataiku kan?”
“Hm?” jawab Alea menatap lekat. Pria itu lagi lagi bisa membaca apa yang dipikirkan.
“Kamu begitu seksi dan juga—”
Evans mendekatkan wajahnya lalu berbisik.
“Hott! Aku tidak bisa berhenti menginginkannya.”
Evans tersenyum nakal dengan satu tangannya yang sudah menyusup pada satu buah melon nya.
“Ahh….Ev…”
Pemandangan pagi memang begitu manis membuat hatinya berdebar. Tatkala senyumannya pun melukis bahagia ketika dia terbangun ada sosok Evans yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Wajahnya yang tampan terlihat seperti bayi yang terlahir kembali. Evans terlihat begitu damai ketika terlelap. Pagi ini, Alea berencana akan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.
Tentunya, setelah menjadi istri Evans, Alea ingin menyiapkan kebutuhan sang suami. Alea mendengus pelan. Belum saja kedua kakinya turun ke lantai dan hanya duduk di tepi Ranjang memunggungi suaminya.
Pingganya kembali ditarik, Alea terjatuh ke dalam pelukan Evans.
“Mau kemana, hm? kamu nggak bisa lari dariku sayang seperti waktu itu kamu ninggalin aku yang masih terlelap di tempat tidur sendiri,” kata Evans dengan mata yang terpejam.
Hidung mancungnya tak lepas menyesap aroma wangi tubuh sang istri yang sudah menjadi candunya.
“Ya Tuhan, Ev. Aku ingin cuman mau ke dapur. Aku ingin menyiapkan sarapan pagi untuk suamiku. Itu saja,” jawab Alea seraya mengusap tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
“Aku tidak mengizinkanmu, sayang. Sudah ada Berta yang akan melayani kebutuhan kita. Aku hanya ingin kau melayaniku di tempat tidur saja. Tidak dengan yang lain!”
Alea hela nafas panjang. “Tapi, apa aku boleh bekerja lagi di pabrik tua itu dengan Lucas?”
Evans membalikan tubuh sang istri agar ia bisa puas menatap wajah cantik istrinya.
“Tentu aku tidak akan mengizinkan kamu, sayang.”
Alea mencebikkan bibirnya. “Lalu aku harus apa?”
“Duduk manis berada di atas pangkuanku. Sudah seharusnya kamu tinggal menikmati semuanya sayang. Aku tidak mau kamu mengerjakan semua hal yang nantinya akan membuatmu lelah.
Alea menganga. “Aku tidak suka itu. Urusan pabrik sudah ada Lucas dan urusan rumah ini pun dan juga kebutuhan kita sudah ada pelayan yang mengerjakannya.
"Sudah saatnya kamu berlagak seperti Nyonya rumah ini sayang. Kamu adalah Nyonya Colliettie sekarang,” ungkap Evans yang diiringi kecupan di bibir Alea.
“Aku bosan kalau aku hanya diam saja, Ev. Aku ingin bekerja.”
"Serius kamu ingin bekerja?"
Alea menangguk cepat. Evans mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga istrinya.
"Bekerjalah di atas tubuhku sampai kamu lelah. Tempat tidur inilah tempat kerjamu untuk menghangatkanku."
Alea menelan ludahnya dalam-dalam, ia salah bicara.
“Kalau begitu. Apa kita bisa mengulanginya lagi, sayang?”
“Astaga, Ev. apa kamu tidak pernah puas, Ev?” balik Alea bertanya.
Semalam tadi sudah tiga ronde dan masa iya suaminya kembali memintanya lagi.
“Sssttt…" telunjuk Evans mendarat di bibir Alea.
"Salah sendiri milikmu selalu menjepit adikku maka dari itu dia selalu merindukannya berada di dalamnya. Aku menginginkanmu, sayang. Satu ronde saja untuk pagi ini, ya, ya, ya, sayang?”
“Oh astaga, Ev!”
Evans menarik tubuh istrinya agar lebih dekat lagi lalu menurunkan boxernya. "Ayo sayang..."
__ADS_1
"Tidaaaaak….”