
“Jadi Je-on?” gumam Alea dalam hati diiringi dua bola mata yang membulat.
Kedua mata Alea basah mendengarkan pembicaraan sang suami dengan orang kepercayaan.
“Jangan sampai Alea tahu kalau Jeon selama ini mencarinya. Sejak dulu Alea selalu berusaha memberontak ku ingin bertemu dengan pria itu. Aku tidak mengizinkan hal itu terjadi!”
Alea membekap mulutnya dengan erat. Tanpa sadar air matanya berjatuhan. Dadanya terasa sesak saat mengetahui hal yang tidak pernah Alea tahu selama ini.
“Jadi selama ini, Jeon mencariku?”
“Kakaku mencariku?” batin Alea.
Bila hal itu benar. Sungguh, Alea merasa seperti tawanan di sini. Hidupnya seperti terpenjara di The Black Rose Kingdom karena Alea tidak tahu kalau orang yang di sayanginya ternyata selama ini mencarinya.
Tetapi, kenapa Evans tidak mengizinkannya untuk bertemu?
Sendandam itu sang suami pada Jeon Park?
Alea menghapus air matanya, ia menyesal kenapa ia tidak mengikuti ajakan Jax yang mengajaknya untuk pergi bersama dari mansion ini.
Bahkan, Jax mengusahakan apapun agar dia bisa pulang dan kembali bisa memeluk keluarganya dan juga sahabatnya termasuk Jeon. Pria yang paling Alea sayangi.
Alea memukul kepalanya berkali-kali akan kebodohannya, kenapa ia bisa tertipu dengan semua perilaku Evans yang begitu mulus menipu dirinya.
“Ya Tuhan, kenapa Evans begitu pandai membodohiku? Kenapa bodohnya aku mau saja terpenjara di mansionnya ini?”
Alea menarik nafas dalam-dalam. Lagi-lagi wanita itu merutuki kebodohannya mau bersama dengan pria menyedihkan itu sampai tidak bisa merasakan hidup normal.
Evans benar-benar egois, bila pria itu menyayangi dan mencintainya bukannya Evans akan mengizinkannya untuk Alea bisa menghubungi keluarga dan sahabatnya? Atau berkunjung ke sini seperti layaknya saudara?
Tetapi semua itu—tidak. Evans melarang keras akan siapa saja yang ingin bertemu dengannya termasuk, kakak angkatnya sendiri, Jeon Park.
“Lea ku, tidak boleh kemana-mana. Dia harus tetap selalu berada disini bersamaku!”
“Apa ada hal lagi yang ingin kamu sampaikan Mika?”
Mika menghembuskan nafas sejenak. “Saya ingin menginformasikan terikat kondisi Nyonya dari Dokter Christine.”
Alea terdiam sejenak seraya dua tangannya menghapus air matanya. Wanita itu kembali mendengarkan pembicaraan Evans dan Mika.
“Apa. Katakan padaku!”
__ADS_1
“Sudah sebulan ini Nyonya tidak mendapatkan suntikan KB seperti biasanya.”
Bola mata Evans mendelik begitu juga dengan Alea yang kembali menutup rapat mulutnya.
‘Ternyata selama ini dugaanku benar bukan? Evans meminta Dokter Cristine untuk memberikan suntikan KB?’ batinnya.
“Huuhh. Semoga benihku tidak tumbuh di rahimnya,” jawab Evans santai.
“Saking sibuknya Evans terlupa untuk menanyakan hal itu pada Dokter Christine. Kejadian minggu-minggu ini menyita fokusku pada Lea ku.”
“Jadwalkan pertemuan Dokter Cristine untuk datang secepatnya. Berikan suntikan itu seperti biasanya tanpa meminta izin dari istriku. Lea adalah tanggung jawabku,” tegas Evans tidak ingin dibantah lagi.
Tetapi, kenapa mendengarkan penuturan Evans, Mika merasakan kalau ini tidak adil untuk Alea?
“Apa anda tidak akan menjelaskannya pada Nyonya Alea, kenapa anda tidak ingin punya anak darinya, Tuan? Barangkali saja, Nyonya paham bila anda menjelaskannya.”
Tatapan Evans semakin menjadi dan melayangkan tatapan bengis pada kaki tangannya yang akhir ini banyak ikut campur.
“Kau tidak perlu ikut campur masalah itu, Mika! Sampai kapan pun aku tidak sudi punya anak dari Lea ku!”
Setetes demi setetes air mata berjatuhan. Rasanya ini sakit, akan sikap keras Evans yang tidak menginginkan anak darinya.
“Aku tidak mau anak darinya dan aku pun tidak mau Lea ku dibebani dan direpotkan dengan mengurus anak. Aku tidak ingin memberikan istri tercintaku tumpukan pampers kotor setiap harinya.
“Aku tidak menginginkan anak dan tidak akan ada klan atau penerus Colliettie. Tidak akan ada!”
Alea mengusap air matanya secara kasar. Sudah, cukup. Alea sudah sakit hati mendengarkan semua perkataan Evans. Alea sudah tidak ingin lagi mendengarkan pembicaraan dua orang itu.
Dada Alea rasanya sesak, bahkan Alea merasakan sulitnya untuk bernafas ketika mengetahui kenyataan yang selama ini Evans tutupi darinya.
Alea berbalik badan dan berlari menjauh dari ruangan kerja Evans, hingga tak sadar langkah kakinya yang berlari masih diiringi isak tangisnya.
Alea berhenti, ia menatap bingung ketika di pertigaan lorong. Entah kenapa kedua kakinya malah justru mendekati Gudang penyimpanan makanan yang terlihat cukup ramai.
Alea menoleh ke kanan dan kekiri seraya waspada ketika pandangannya menangkap sebuah truk yang biasa datang setiap dua minggu sekali untuk memasok bahan makanan di mansionnya. Melihat dua orang itu terlihat tengah sibuk memindahkan barang bawaannya.
Alea berhenti di balik dinding dan mengamati sekitarnya sembari berpikir.
Apa mungkin inilah waktunya yang tepat untuk melarikan diri dari mansion dan juga cengkraman dari pria egois itu?
Mungkin tidak adanya Alea di mansionnya membuat Evans tersadar dengan perkataan yang selama ini sudah membohonginya.
Tidak hanya hanya Evans yang ingin membunuh Jeon setelah pria itu tahu siapa yang sudah mengambil sumsum tulang belakangnya. Tetapi, kenyataan pahit yang harus ditelannya ini menyangkut anak, dan itu Alea tidak bisa terima lagi.
__ADS_1
Maka keputusan Alea, tidak lain—pergi meninggalkan Evans.
“Aku harus lari dari sini dan mencari keberadan kakakku.”
Alea berikan anggukan pelan dan mantap untuk melarikan diri.
“Jeon ada di Italia. Tetapi dimana pria itu berada? Aku ingin lepas dari Evans, Kak.
“Tolong, bantu aku. Aku tidak mau hidup dengan pria kejam seperti Evans, Ka,” batin Alea ber semoga bisa bertemu dengan Jeon yang tengah di Italia.
Tanpa sadar Alea mengusap perutnya ketika mengingat suara pria itu terdengar di ingatannya. Alea tersadar kalau sudah seminggu ini ia tidak mendapatkan tamu bulanan.
Alea hanya bisa bersemoga kalau benih yang Evans tanam selama beberapa waktu bercintta itu tumbuh. Biarlah Alea pergi membawanya benihnya karena Evans tidak menginginkan.
“Kami sudah mendapatkan informasi akan keberadaan pria itu. Pria yang anda cari selama ini!” sambung Mika.
Seketika senyuman Evans pun berganti. Wajahnya pun mendadak ikut terangkat senang. Meski tatapan Evans begitu nampak bengis, namun Evans tahu akan hal apa yang tengah orang kepercayaan itu bahasa.
“Pria itu mengalami kelemahan otot dan sudah beberapa minggu ini duduk di kursi roda. Aku dengar dia masih belum bisa mencari keberadaan Nyonya.”
Evans tersenyum senang mendengarnya. Rasanya, Evans ingin sekali bertatap muka dengan pria yang selama ini ia cari, walaupun pada akhirnya ia harus membunuh pria tersebut atas dasar kebencian yang mendarah daging selama ini.
“Good, Mika. Kau minta orangmu untuk awasi si brengsek itu dan laporan setiap perkembanganya padaku!” tegas Evans yang dianggukan Mika.
Ekspresi Evans begitu puas dengan wajah yang merah padam.
“Kau akan mati ditanganku brengsek, sekalipun akan membuat Lea ku membenciku. Namun, kebencianku padamu lebih besar dan dalam,” gumamnya dalam hati.
“Apa ada hal lagi yang ingin kamu sampaikan Mika?”
“Tidak ada, Tuan. Saya permisi undur diri,” kata Mika berlalu pergi dari ruangan kerja Evans.
Evans tersenyum puas karena telah berhasil menemukan dimana pria itu. Apalagi mendengarkan kabar pria itu yang ternyata cacat tidak bisa kemana-mana dan duduk di kursi roda.
Bila Evans disana berseru lega dengan semua laporan Mika padanya, lain halnya Alea yang penuh ketegangan untuk bisa melabui pengawal Evans yang berjaga ketat.
Demi tekadnya yang ingin pergi dari penjara sang mafia. Tidak lama, Alea berseru lega ketika mobil yang membawanya sudah berhasil keluar dari dalam mansion Evans dan meninggalkan Evans untuk selamanya. Kini Alea hanya bisa bisa menunggu sampai mini truk ini berhenti yang entah akan membawanya kemana.
“Maafkan aku, Ev. Aku harus pergi. Aku tidak bisa terus bersamamu kalau kamu seperti ini padaku. Aku membencimu, Ev,” batin Alea.
Sepanjang jalan, Alea yang duduk di belakang pun hanya bisa menangis dalam diam karena sebelumnya ia harus membuat orang terluka dan tidak sadarkan diri agar Alea bisa keluar dari mansion ini yang seperti penjara baginya.
“Setelah aku bisa keluar dari sini, aku harus segera menghubungi Jeon dan memintanya untuk menjemputku,” batin Alea penuh yakin.
__ADS_1
Sialnya, Alea baru teringat dengan ancaman Evans kemarin padanya. Entahlah apa Evans akan berhasil menemukannya, mengingat negara ini adalah negara kekuasaan nya?
Lalu, apa yang akan terjadi padanya jika nanti Evans berhasil menemukan nya?