HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Dua Orang Asing!


__ADS_3


“Kedatanganku kesini hanya untuk bertemu dengan Alea!”


“Aku?” gumam Alea dalam hati.


Perkataan dari salah satu pria yang berlutut itu membuatnya semakin penasaran.


Bahkan dua pria itu terdengar tidak takut sama sekali bahkan tidak memperdulikan segala bentuk ancaman dan juga bahaya dari seorang Evans Colliettie sang penguasa Napoli.


Sementara, Evans. Jelas pria itu nampak marah yang biasa Alea tangkap dari wajah suaminya yang berjarak tidak jauh darinya.


Anehnya, selama ini tidak ada satu orang pun yang mencari keberadaanya di Napoli begitu juga tidak ada satu orang pun yang ingin bertemu dengannya.


 Entah mungkin mereka takut atau entah karena mereka takut karena Alea ada di tangan Mafia penguasa, The Black Rose.


Dan satu yang ada di dalam benaknya, kalau keberadaanya saat ini memang tidak ada orang yang tahu.


Tetapi, dua orang itu secara gamblang mengungkapkan keinginannya.


Yang jadi pertanyaan Alea saat ini, siapa sebenarnya dua pria yang tengah berlutut di depan Evans Colliettie?


Alea menghentikan langkahnya ketika berada di depan Evans yang memunggunginya


“Aku ingin bertemu dengan wanita yang kamu sekap, Evander!” seru salah satu pria tanpa takut kehilangan nyawanya di tangan Evans Colliettie.


Lagi, kedua bola mata Alea mendelik. Pria itu bahkan mengetahui nama sang suami.


“Kalian siapa mencariku?” sela Alea seraya mencari wajah dua pria yang terhalang oleh punggung Evans.


Namun, tanpa sadar pertanyaan Alea membuat Evans membalikan tubuhnya ke belakang. Evans tidak menyadari kalau istrinya akan secepat ini mencarinya.


“Kenapa kalian ingin bertemu denganku?” tanya Alea lagi.


Pada akhirnya dua pria itu bisa melihat wajah cantik wanita yang dicarinya dan Alea pun sama memandangi dua pria dengan lekat di iringi langkahnya kembali lebih dekat lagi pada sosok pria yang sama sekali asing baginya.


Alea tidak mengenal siapa dua pria di depannya yang tengah mencarinya. Entah kenapa tatapan Alea justru pada salah satu pria yang berjongkok. Bola mata sapphire yang sama-sama menatapnya.


Bug!


Alea berhenti melangkah ketika Evans memukul kedua pundak pria itu secara bersamaan hingga tubuh dua pria itu begitu saja jatuh dan tersungkur.


“Jangan, Ev…” Alea berteriak kencang.


Alea hendak melangkah untuk menghentikan aksi Evans, tetapi sayangnya kedua tangannya langsung di cekal oleh anak buah Evans.


Alea kembali melihat dua pria itu yang mengerrang kesakitan, bahkan wajah dua pria di depannya pun sudah lebam akan pukulan.


Evans terlihat begitu murka pada dua orang yang entah siapa. Dua pria yang dipegangi oleh anak buahnya.Evans menoleh sejenak ke samping menatap sang istri penuh amarah.


“Jika aku tahu kalau kalian berdua ini datang ke Napoli hanya untuk mencari, Lea.


“Sudah sejak lama aku membunuh kalian, bajjingan!” desis Evans seraya berjalan mendekati istrinya dan menarik tangan sang istri untuk pergi dari hadapan dua pria tersebut.


“Siapa mereka Ev?”


Evans tidak menjawab. “Please, lepaskan tanganku. Aku ingin menemuinya dan berbicara dengan mereka, Ev.”


Evans menatap nyalang pada sang istri yang kini mulai membangkang, lagi.


“Ev. Sekali ini saja, aku memohon padamu. Tolong izinkan aku bicara sebentar saja pada mereka.”


Evans tidak mendengarkan permintaan Alea, kedatangan dua orang itu tentunya membuatnya sangat marah. Bahkan, Lea nya kini terus berbicara dan memohon untuk mengizinkannya bicara dengan dua orang tersebut.

__ADS_1


Evans menggendong tubuh sang istri dan berjalan di mana mobil hitam pekat di depannya sudah menjemputnya.


“Bawa dua orang itu ke mansion dan penjarakan mereka!” tegas Evans yang dianggukan anak buahnya sebelum Evans dan Alea masuk ke dalam mobil.


Alea menoleh ke belakang ketika mobil hitam tersebut kini sudah melanjut, wajahnya meringis saat melihat dua pria itu diseret paksa untuk masuk ke dalam mobil satunya.


“Ev, kenapa kamu seperti ini lagi? Kenapa kamu tidak mengizinkan aku hanya untuk menemuinya dan berbicara sebentar. Kenapa harus ada kekerasaan, Ev?”


Lagi, pria itu kembali diam bahkan memalingkan wajahnya memandangi keluar jendela dengan pikiran penuh.


Evans malas berdebat dengan istrinya. Tentunya Evans sendiri tahu dengan kedatangan dua pria yang mencari istrinya itu.


 “Please, Ev. Aku ingin tahu siapa mereka sebenarnya. Kenapa mereka mencariku sejauh ini.


“Mereka adalah orang yang pertama kali datang dengan jauh mencariku. Jadi aku—”


“Kenapa kamu ingin tahu mereka, hmm?”


Alea menarik nafas dalam-dalam. “Aku hanya ingin tahu mereka saja, Ev!”


“Tidak penting, Lea! Paham!”


Evans kembali memalingkan wajahnya dengan deru nafas cepat. Dadanya begitu mendidih bahkan amarahnya pun kian menjadi ketika kembali bertemu dengan seseorang yang paling dibencinya.


Rengekan Alea terus memohon padanya memintanya untuk mengizinkan berbicara dengan dua pria tersebut, membuatnya pusing.


Jelas, Evans tidak akan pernah mengizinkan Alea untuk bertemu dengan dua pria itu, apalagi berbicara pada mereka.


“Masih nggak mau ngomong sama aku, sayang?”


Alea diam seraya duduk dengan santai menyantap makan siangnya.


“Kamu lagi mogok bicara sama aku? Ngambek gitu, hm?”


“Kenapa makannya pakai tangan hm? Nggak pakai sendok?”


Evans pandangi menu makan siang hari ini yang tidak terbiasa. Dua hari sudah kedatangan dua pria itu membuat istrinya mendadak susah diajak bicara. Alea nya marah dan mogok bicara padanya.


“Buka mulutmu,” pinta Alea. Evans menurut dan membuka mulutnya lebar.


Disuapin nasi hangat berserat masakan yang tadi pagi Alea masak sendirian dan menolak dibantu oleh Joe. Evans mengernyit pelan dengan aroma dan juga rasa yang kuat di dalam mulutnya.


“Kunyah lalu telan.”


Evans lagi lagi menurut, iamengunyah dengan mata menatap sang istri.


“Enak. Tumben Joe memasak menu makan siang aneh seperti itu.”


“Itu aku yang masak bukan Joe!” jawab Alea ketus.


Evans kembali membuka mulutnya dan meminta istrinya menyuapi makan siangnya menggunakan tangan kanannya.


“Rempahnya terasa, ini beef?” tunjuk Evans pada piring di mana Alea tengah makan siang.


Alea berikan anggukan pelan. “Ini masakan Indonesia?”


“Ya. Ini rendang, bagaimana enak tidak?”


“Hm, enak. Lagi, suapin aku doang, sayang,” pinta Evans manja dan Alea kembali menyuapkan makan khas Indonesia.


“Kenapa makannya harus pakai tangan?”


“Apa kamu jijik?”

__ADS_1


Bukan menjawab, tetapi Alea justru melontarkan pertanyaan dengan nada ketus pada suaminya yang menurut Alea menyebalkan itu.


“Tidak. Tidak ada yang jijik, apalagi tangan istriku sendiri. Lagi, sayang,” kata Evans sembari membuka mulutnya.


“Di indonesia aku terbiasa makan pakai tangan, tidak sepertimu harus banyak peralatan makan di atas meja makan. Dengan tangan sendiri terasa lebih nikmat bukan?”


Evans mengangguk pelan sementara Alea kembali mengambil potongan rendang dan juga nasi hangat ke dalam piringnya.


“Makan sendiri ya, aku akan mengambilkan untukmu? Sengaja pulang ke rumah karena takut aku ke pergi tanpa seizinmu ke ruang bawah tanah, hmm?”


Evans terkekeh, itu memang benar. Setiap jam makan siang Evans sengaja selalu pulang dan makan bersama dengan istrinya karena salah satunya Evans takut istrinya diam-diam mengintrogasi dua pria yang masih berada di dalam penjara bawah tanah.


“Tidak. Aku ingin makan di suapin kamu saja,” pinta Evans yang dianggukan Alea.


“Ev…”


Alea kembali menyuapi suaminya yang membuka mulut.


“Hm.”


“Tolong lepaskan pelayan muda itu yang kamu tahan di sel bawah.”


Evans menghembuskan nafas pelan seraya memandang istrinya yang menatap penuh permohonan.


“Aku yang salah. Tolong jangan hukum pelayan muda itu, aku nggak tenang dua hari ini selalu dihantui rasa bersalahku.”


“Janji, tidak akan membangkang lagi?!”


Alea berikan angguk cepat diringi senyuman lebar, sementara Evans langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mika.


Seperti yang istrinya minta, Evans pun mengabulkannya untuk melepaskan pelayan muda yang dikurung di penjara bawah tanah.


“Lalu dua pria di bawah yang kamu kurung di penjara bawah tanah, mau sampai kapan kamu diamkan tanpa makanan?”


Ya, Evans menyuruh pelayan mengantarkan air dan juga dua roti saja. Tentunya roti tidak akan menyengankan perut mereka.


Evans menatap sang istri. “Aku nggak suka kamu kejam sama orang. Masalahnya pria itu hanya mencariku bukan? Kenapa harus dihukum?”


Evans diam seraya kembali membuka mulutnya dengan pikiran penuh.


“Mereka pun tidak melukaiku. Tidakkah kamu memberikan mereka kesempatan untuk bebas?”


Lagi lagi, Evans diam. “Kamu mengenal mereka bukan? Atau kamu mengenal salah satu dari mereka?”


Alea menatap curiga pada salah satu pria yang mengetahui nama suaminya.


 “Bahkan pria itu tahu namamu, Evander. Apa tamu tak diundang itu salah satu kenalan lamamu?” cecar Alea.


“Aku tidak mengenal mereka dan aku yakin kamu mengenalnya.”


Alea memberikan satu gelas air putih untuk sang suami minum, setelah Evans menenggak dengan tandas, Alea pun kembali mengambil dan meletakkannya.


Diraihnya tangan kanan Evans, Alea memberikan kecupan di telapak tangannya lalu mengusapnya di pipinya diringin senyuman lembut untuk suaminya.


“Jangan meninggalkan dendam, lagi. Bila masih bisa diajak bicara baik-baik, tidak salahnya kamu menyelesaikan masalahnya dengan pria itu bukan?”


Evans mengecup kening sang istri lama lalu kembali membuka mulutnya meminta suapan makanan siangnya buatan sang istri yang lezat.


“Suamiku orang yang baik. Aku yakin kamu tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah apalagi membunuh orang tanpa alasan bukan?”


Alea kembali mencium telapak tangan sang suami berkalai-kalai diiringi tatapan cinta pada sang suami. Semoga saja Evans luluh dan mau mendengarkan perkataan.


“Please….”

__ADS_1


Kira-kira Evans akan melepaskan dua pria asing itu atau tidak?


__ADS_2