
Alea pun mengikuti instruksi Evans dan berlari sementara Evans dibelakangnya menembaki para penjahat
Ditengah Alea berlari, sesekali wanita itu menoleh ke belakang melihat Evans yang tidak berhenti mengisi peluru dari senjata apinya.
Bila Alea menebak, sepertinya semua serangan ini adalah salah satu dari Bos penjahat yang waktu itu datang ke deak bawah.
Alea berlari menuju dua lantai di atasnya, sesekali menoleh ke belakang pandangi punggung tegap sang suami di belakangnya yang melindunginya.
Dengan yakin Alea mengarahkan pandangannya ke depan begitu juga segenap kekuatan yang tersisa untuk memastikan ia dan suaminya akan selamat.
Sejenak Alea teringat kembali akan ucapan Evans sewaktu melamarnya.
“Kamu tidak perlu mencemaskan apapun karena akulah yang akan berdiri menjadi tameng untukmu. Kamu hanya harus berada di sisiku dan menemaniku hanya itu saja.”
Seharusnya Alea sudah ikhlas bukan memeluk pria itu apapun resikonya yang membahayakannya ini?
Evans membawa Alea untuk menaiki anak tangga sampai untuk naik ke paling atas. Ketika Alea menoleh ke belakang.
Bola mata Alea membulat besar saat melihat seorang pria datang dengan membawa senjata api besar di ujung lorong tersebut.
“Awas, Ev….” Pekik Alea kenceng.
Ketika pria tersebut melepaskan pelurunya tepat ke arah mereka berdua. Bunyi desingan menggema, membuat Alea mendorong dan menubruk tubuh Evans dari belakang untuk menghindarinya.
Keduanya pun pada akhirnya terpental ke lantai disaat peluru besar yang mengerikan berdering di atas tubuh mereka dan menghancurkan dinding kapal yang berada beberapa meter dari posisi keduanya.
“Kamu tidak apa-apa, sayang?”
Alea menggeleng bersamaan getaran yang begitu keras dan kembali menghempaskan tubuh Alea yang berada di pelukan Evans saat pria itu kembali melayangkan kembali peluru besar tersebut.
“Sialan!” umpat Evans saat melihat istrinya terpental jauh ke lantai bawah sementara tubuhnya sendiri tersangkut dan berada di atas tangga menahan bobot tubuhnya sendiri.
“Sayang, kamu tidak apa?” teriak Evans seraya menatap sang istri.
“I’m ok, Ev,” jawab Alea pelan.
Meski Alea mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tetapi, sebenarnya Alea tidak bisa berkata lagi.
Tubuh Alea rasanya remuk bersamaan rasa sakit yang bukan main. Evans berdiri dan kembali berteriak di pinggir pagar.
“Lea. Tunggulah aku di sana. Jangan kemana-mana sampai aku datang.”
“Ya,” jawab Alea pendek.
Evans langsung naik ke atas pagar. Ketika Evans hendak meloncat ke bawah untuk menyusul sang istri.
__ADS_1
Namun, dari arah belakang seseorang menabraknya hingga tubuh Evans terpelanting entah kemana bersama dengan sip ria tersebut.
Alea berusaha bangkit meski punggungnya begitu nyeri sekali, namun juga ingin lekas menuju lantai dua seperti yang Evans katakana. diedarkannya pandanganya dan bangun dari posisinya.
Ia berjalan tertatih sampai Alea mendengarkan suara eranggaan di dekatnya.
Sontak, hal itu membuat Alea langsung mendekat dengan mata terbelalak terkejut saat mendapati wanita yang tergeletak di dalam salah satu kamar dengan luka tembak.
Seorang wanita itu, yang telah mengakui sebagai dirinya dan wanita itu terluka di dalam kamar tersebut.
“Kamu tidak apa-apa?”
Alea membantu wanita itu untuk duduk dan menyadarkan punggung si wanita tersebut pada dinding kamar.
“Apa kamu bisa berjalan?” tanya Alea.
Wanita itu menggeleng pelan dengan sebelah tangannya menahan bekas luka tembak yang terdapat di kakinya.
“Ayo, aku akan membantu berjalan.”
Alea membantu mengangkat wanita itu hingga berdiri memapahnya. Namun, detik berikutnya Alea dibuat kaget saat wanita itu malah justru mendorong tubuh Alea untuk menjauh.
“Apa kaulah wanita bernama Alea Anjanie? Istri dari Evans Colliettie si penguasa itu?”
Alea menautkan dahinya menatap si wanita itu dan tidak lama Alea berikan anggukan pelan sebagai jawabannya.
Alea berdiri tidak jauh darinya dengan sedikit menoleh ke arah pintu untuk melihat Evans kalau ia berada di sini.
“Kamu kenapa?” tanya Alea.
Entahlah, kenapa dengan wanita satu itu. Wanita itu menghentikan tawanya dan kembali menatap Alea dengan tatapan kebencian.
Dan Alea, lagi lagi terdiam tidak mengerti. “Kenapa kamu mengaku sebagai diriku?”
Pada akhirnya kalimat tanyalah yang ini terlontar begitu saja pada si wanita tersebut.
“Ck! Apa kamu pikir aku sudi melakukan hal itu, hah. AKu hanya terpaksa!”
“Aku diculik oleh sindikat perdagangan wanita. Mungkin dengan menggunakan nama Evans Colliettie yang sangat berharga itu disaat genting seperti ini akan menguntungkan bagiku.
“Ditambah tidak ada satupun yang mengenali seperti apa sosok istri tercinta yang katanya begitu dicintai oleh Evans Colliettie yang entah dari mana kabar itu berhembus kencang sampai seantero Italia.”
Alea kembali mengeryit dan mencoba menangkap pembicaraan si wanita tersebut.
“Aku hanya ingin selamat dari orang-orang jahat makannya aku berbohong!”
Alea menutup telinganya ketika kembali mendengarkan sahutan tembakan yang terdengar begitu dekat. Ia pun menundukan tubuhnya dan menemukan Evans di depan sana.
__ADS_1
“Tapi, aku tidak menyangka kalau—"
Alea kembali menoleh dan memandangi si wanita tersebut yang kembali tertawa.
“Istri Evans Colliettie benar-benar diculik sampai pria kejam itu datang kemari hanya untuk menyelamatkannya.”
Si wanita tersebut menajamkan pandangannya diringin sorot mata kebencian dan juga senyuman yang menakutkan.
“Apa kini kau merasa senang, hah? Tlah menjadi istri satu-satunya Evans Colliettie?”
“Apa maksudmu?" tanya Alea bingung pada wanita yang sudah mengaku sebagai dirinya itu.
Alea sendiri pun tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu siapa.
“Apa kamu membenciku?”
Alea mencoba berpikir dan mengingat-ingat kembali akan siapa wanita di depannya itu.
Dari sorot matanya saja Alea bisa melihat kebencian yang begitu nampak jelas.
Alea meyakini kalau sebelum ini dia belum pernah bertemu dengan wanita itu. Tetapi, kenapa seolah wanita itu begitu mengenalinya.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Alea, penasaran.
“Ck! Tidak pernah sama sekali. Tapi aku sangat membencimu, Alea Anjanie!” tegas si wanita.
Alea masih berpikir keras. Jika wanita itu tidak mengenalinya kenapa dia sangat membencinya?
Aneh bukan karena Alea sendiri pun tidak pernah bertemu sebelumnya.
“Apa alasanmu membenciku? Padahal kita baru bertemu dan aku rasa sebelum-belumnya aku pun tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya.”
“Ck! Apa kamu sungguh ingin tahu siapa aku, hah? Dan kenapa aku sangat membencimu?”
Wanita itu dengan susah payah mendekati Alea, sekalipun tubuhnya terluka, tetapi wanita itu masih berdiri dengan tertatih dan mengarahkan kekuatannya untuk lebih dekat lagi. Dicekiknya leher Alea sekencang mungkin.
“Kau adalah wanita jallang sialan!” seru si wanita dingin sorot mata yang tajam.
Alea bisa melihat begitu jelas sekalipun dirinya dibingungkan sendiri akan wanita tersebut.
Dari sorot matanya saja dan juga ekspresinya seolah wanita itu menyimpan kebencian yang entah apa Alea pernah lakukan sebelumnya. Bahkan tatapan bengis si wanita itu seolah ingin membunuhnya.
Ya, seperti yang Alea lihat kalau wanita yang entah bernama siapa itu memang terlihat menyimpan dendam yang mendalam dan tidak sengaja pada akhirnya baik wanita itu dan juga Alea di pertemukan di tempat ini.
Alea berusaha keras melepaskan tangan si wanita itu dengan cara menendang kakinya dan wanita itu pun terjatuh di dekat kapal yang terlihat di luaran sana sangat berantakan.
Alea berdiri dengan perlahan di depanya, ketika pandangannya kembali pada si wanita.
__ADS_1
Alea mendelik dibuat terkejut ketika wanita itu memegang senjata dan mengacungkan kearahnya seraya berdiri tegak saling berhadapan.
“Kaulah sumber penderitaan sahabatku.”