HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Katakan Kegusaranmu!


__ADS_3

“Jangan berani-berani lagi kabur dariku, Lea. Apapun alasanya itu, kamu tidak pergi dariku.


“Apapun yang ada di hatimu semua unek-unekmu katakanlah padaku dan tidak pergi seperti ini.”


 “Aku melakukan semua itu semua bukan semata-mata aku mengurungmu di mansionku.


“Aku tidak suka mendengarkan kamu terkurung bagi burung di dalam sangkar emas. Aku tidak suka.


“Semua yang aku lakukan padamu itu karena aku ingin kamu tetap selamat. Demi keselamatanmu, Lea,” ungkap Evans panjang lebar.


Alea terdiam sejenak seraya memalingkan wajahnya. Dalam hati Alea berkata.


 ‘Bagaimana aku bisa berpikir buat kabur lagi sih, Ev. Kalau konsekuensinya bisa menghilangkan banyak nyawa orang yang tidak bersalah karenaku. Aku menyesal.’


“Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku ini, Lea. Jadi camkan itu baik-baik resiko kabur dariku,” tegas Evans yang dianggukan Alea pelan.


Evans menarik Alea ke dalam pelukan, satu tangan Evans membelai belakang kepalanya. Tubuh Evans yang hangat dan aroma tubuh sang suami membuat Alea tenang.


Telapak tangan Evans mengusap punggung sang istri. Ah, hal itu membuat Evans teringat akan istrinya yang kesakitan hingga tidak sadarkan diri.


“Apa punggungmu ini masih sakit, sayang?”


Alea menggeleng pelan seraya memeluk tubuh sang suami. “Tidak terlalu.”


“Setelah kita pulang ke Napoli aku akan membawamu ke rumah sakit besar untuk memeriksakan punggungmu.


“Aku takut ada hal yang lain dari bekas operasi donor sumsung tulang belakangmu itu sekalipun hal itu sudah lama.”


“Hm,” jawab Alea dengan dehemana. Ia sudah tidak bisa membatah sang suami lagi.


Alea mengerjapkan kedua matanya ketika teringat sesuatu. Alea melepaskan pelukan Evans agar ia bisa menatap sang suami yang nampak terkejut.


“Aku terlupa, Ev.”


Kening Evans mengernyit. “Terlupa karena apa, hm?”


“Di mana Silvia? Apa yang yang sudah kamu lakukan pada Silvia?”


Evans hela nafas panjang diam tidak menjawab pertanyaan sang istri dan hal itu tentunya membuat Alea semakin ketakutan.


Alea khawatir pada wanita itu dan entah bagaimana nasib wanita paruh baya itu.


Digenggamnya telapak tangan Evans, Alea mengecup punggung tangan Evans dan juga telapak tangan Evans.


Tatapan sendu Alea membuat Evans hela nafas lagi. Tapi, Alea tidak tahu lagi kalau Silvia benar-benar mati di tangan Evans.


Alea harus bagaimana lagi untuk menebus rasa bersalahnya yang begitu besar setelah kematian para pengawal di mansionnya.


Evans tersenyum hangat dan kembali mendaratkan ciuman di kening sang istri dan juga mengeratkan genggaman tangan sang istri. Meski istrinya itu terlihat marah.


Tetapi, malaikatnya itu selalu berbuat lembut padanya. Hal itulah yang Evans suka dan juga cintai dari sikap Alea yang lembut dan juga penyayang.


“Apa kamu sangat mencemaskannya, sayang?”

__ADS_1


“Jawablah, Ev.”


Mata Alea sudah basah memandangi sang suami. “Aku tidak tahu bagaimana rasa penyesalanku ini yang teramat besar kalau kamu membunuh wanita malang itu, Ev.”


“Hai…” Evans menghapus bulir mata yang jatuh.


“Aku tidak tahu lagi dengan kebodohanku ini yang membuat banyak orang mati karenaku.”


“Sayang…” kata Evans, lembut.


“Dia baik-baik saja, sayang. Jangan cemaskan hal itu.”


Bibir Alea mengerucut dan satu tangan menghapus air matanya yang kembali jatuh.


“Kamu tidak bohongkan, Ev?”


Evans berikan gelangan pelan, tentunya tidak. “Aku masih punya murah hati pada seseorang yang sudah memberikan istriku tumpeng untuk tinggal di luaran sana.”


Alea melingkarkan kedua lengannya di bahu Evans sejenak, lalu berikan senyuman lega. Kecupnya pipi sang suami.


“Terima kasih banyak kamu tidak membunuhnya, Ev. Sumpah, aku tidak tahu lagi kalau kamu sampai membunuh Silvia.”


Evans kembali membawanya dalam pelukan. “Jadi, apa istri The Black Rose ini akan berniat kabur lagi dari mansion, hm? meninggalkan aku lagi?” tanya Evans.


Alea hembuskan nafas diringin menatap sang suami. Dilepaskannya pelukannya lalu menggeleng pelan pada suaminya itu.


“Aku tidak akan kabur lagi darimu, Ev. Agar semua pengawalmu baik-baik saja dan tidak mati terbunuh oleh murkanya seorang The black Rose.


“Demi menyelamatkan banyak nyawa yang sudah terbunuh karenamu. Aku akan lakukan itu.”


Evans berdiri dari duduknya dan hal itu membuat Alea mendongak. Evans menggendongnya lagi dan itu membuat Alea reflex mengalungkan lengannya di leher sang suami yang membawanya masuk ke dalam kamar.


“So, katakanlah semua yang kamu inginkan padaku, sekalipun ya aku belum tentu akan mengabulkannya.”


Alea mendengus pelan diringin memberikan bibir lima centinya pada sang suami dan hal itu membuat Evans terkekeh gemas.


“Heeh, aku belum selesai mengatakannya sayang. Setidaknya aku akan mendengarkan dulu apa keinginanmu itu.”


Alea hela nafas pelan. “Ah, baiklah kalau begitu,” jawab Alea diiringi ******* pelan. Alea tentunya tidak punya pilihan lain bukan?


“Istirahatlah sayang. Aku akan menemani kamu tidur, sebentar lagi kita akan sampai di Spanyol.”


Evans membaringkan tubuh ringan sang istri di atas tempat tidur dan tidak lama, Evans pun ikut masuk ke dalam selimut bersama dengan Alea.


“Apa kita akan ke rumah ayahmu? Tuan Alberto?”


“Tidak!”


“Hm. Lalu kita akan pergi kemana, Ev?”


“Nanti juga kamu tahu, sayang.”


Alea memeluk pinggang Evans. “Terus bagaimana kamu bisa tahu, Ev. Kalau aku berada di kapal itu?”

__ADS_1


Ah, inilah yang membuat Alea penasaran dengan sang suami sementara Evans menarik rapat tubuh Alea dan kembali memeluknya.


“Aku melihatmu dari cctv di stasiun kereta api. Ya, meski pada akhirnya aku terlambat menyusulmu.”


Alea memeluk balik Evans dan membenamkan wajahnya di dada suaminya.


“Terima kasih banyak, Ev. Kamu menyelamatkanku,” ungkap Alea seraya memejamkan mata.


Ia tersentak kaget saat Evans mencium bibirnya dan perlahan ciuman itu turun ke bawah pada area lehernya dan berakhir di dadanya.


Evans menyibakan gaun tidur sang istri hingga merosot ke bawah dan bertahan di sana sembari satu tangannya mengelus belakang punggungnya sementara Alea mengatupkan bibirnya menahan errangaan.


“Aku sangat merindukanmu, sayang. Sangat. Semua hal yang ada padamu. Tapi, saat ini—”


“Aku berusaha keras untuk menahannya.”


“Kenapa kamu tidak melakukannya, Ev?” kata Alea, pelan.


Evans menggeleng pelan dan berikan senyuman pada sang istri.


“Tidak. Kamu harus banyak istirahat, sayang. Aku bisa menahan sampai kita tiba di spanyol.


“Jadi, tidurlah di pelukanku, biarkan aku menyesap aroma wangi tubuhmu ini.”


Alea hanya diam dan Evans sudah mendekapnya erat dengan wajah yang berada di depan dadanya.


Sang suami begitu persis seperti seorang bayi yang butuh air susu ibunya. Evans dengan santai menyesap pucuk merah mudanya dan memainkan dua buah melonnya.


Alea mencoba memejamkan kedua matanya sembari meremas rambut Evans dengan pelan.


“Apa kamu tahu sayang, selama kamu pergi meninggalkanku. Aku tidak sekalipun bisa tidur,” adu Evans dan kembali mengertakan tubuh sang istri.


“Oh ya, Sayang?”


“Hm.”


Evans teringat sesuatu. “Kenapa kamu berbicara seperti itu, hm?”


“Seperti apa?”


“Kamu berbicara padaku waktu itu solah kamu takut aku meninggalkanmu, hm?”


Alea menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan.


“Sebenarnya apa yang sedang mengusik pikiranmu, sayang sampai kamu berkata begitu padaku.


“Katakanlah padaku semua kegusaranmu agar aku tahu, sayang,” kata Evans seraya memohon pada istrinya.


Evans sudah tidak ingin Alea kembali meninggalkannya. Bukan, Alea yang takuti Evans meninggalkannya.


Tapi, Evans sendirilah yang takut ditinggalkan Alea dan itu terbukti bukan?


“Hm…. aku hanya…”

__ADS_1


“Hanya apa, hm?”


Yuk, bantu coment, Like dan kasih thor gift or iklannya dong. Terima kasih semua


__ADS_2