HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Sepenggal Kisah!


__ADS_3

Evans mengulum senyum ketika mendapati sang istri yang nampak senang. Dari cara Alea menatap saja dan diringi wajah sang istri nya yang berseri senang pun membuat hatinya ikut senang. Apalagi ketika bibir sang istri tak henti melukis senyuman.


Evans tahu kalau Alea merindukan saat-saat seperti ini.


“Apa kamu senang, sayang?”


“Hm…” kata Alea yang diiringi anggukan pelan.


Alea menoleh lalu memberikan senyuman manis untuk suaminya yang tengah mengemudikan speed boat dan menatapnya.


Alea membentangkan kedua lengannya seraya memejamkan kedua matanya. Walau hanya berlibur ke laut, bagi Alea ini sudah cukup membuat hatinya senang, menikmati keindahan alam dan laut dengan udara segar di sore hari ini.


“Apa yang sedang kamu pikirkan dan juga bayangkan, hmm?”


“Kita, Ev,” jawab Alea.


Alea membuka mata dan kembali menoleh ke samping kanan di mana sang suami berada.


Kota naples bersinar terang sore ini seolah cuaca hari ini begitu mendukungnya. Sinar matahari sore pun memancarkan ke segala arah menunjukkan kota Nepel dengan ciri khas bangunan tuanya semakin membuat keindahanya menyejukan matanya.


Alea tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat pemandangan yang terpampang di depannya.


“Apa yang kamu pikirkan tentang kita sayang?”


“Aku tidak ingin kemewahanmu, Ev. Dengan keluar seperti ini pun sudah membuatku senang. Aku ingin hidup selamanya bersamamu, bahagia bersamamu.”


Evans tersenyum lebar, satu tangannya menarik sang istri untuk merepat sebelum jutan kecupan menerjang wajah sang istri.


Sialnya, Lea nya tahu. Istrinya itu bukan mendesaah nikmat akan kecupan di wajah dan dileher, melainkan tawa kegelian.


“Sudahlah Ev, kembali fokuslah jalanmu mengemudikan speed boatnya. Geli tahu, Ev,” rengek Alea.


Evans menghembuskan nafas pelan seraya kembali menatap ke depan.


“Aku pikir kamu akan mendessah nikmat, sayang. Eh, malah tertawa.”


Alea mendekat sang suami lalu menangkupkan wajah sang suami.


“Bulu halusmu ini.” Alea mengusap jambang Evans yang mulai tumbuh.


“Membuatku geli.” Alea berikan senyuman nakal lalu berbisik di telinga suaminya.


“Aku takut kamu telanjjangi bila aku mendesah di sini.”


Evans tergelak tawa, sepertinya istrinya tahu dengan kebiasaanya itu.


 “Ya Tuhan, indah sekali kotamu, Ev?”


Evans kembali menoleh. “Ya, indah seperti dirimu, sayang.”


Pipi Alea memerah merona mendengarkan perkataan Evans. Sudut bibirnya tertarik membuat senyuman cantik untuk sang suami.


Entah kenapa walau hanya bepergian ke luar seperti ini sudah membuat hatinya senang.


“Ahh, rasanya aku senang sekali.” Alea merangkul bahu Evans.

__ADS_1


“Terima kasih banyak, suamiku,” ucap Alea seraya memberikan kecupan di pipi sang suami.


Satu kecupan dibalas dengan satu ciuman lembut penuh cinta pada bibir sang istri.


Alea pun duduk diatas pangkuan sang suami yang kembali mendekapnya erat di atas speedboat yang terombang ambing pelan di lautan biru.


Alea menengadahkan kepalanya memandangi banyaknya burung-burung yang beterbangan di langit setelah ia mencoba mengalihkan tatapan intens sang suami.


“Indah sekali ya, sayang,” ucap Alea.


Evans mendelik, ini pertama kalinya istrinya memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’


Alea menghela lirih menikmati langit sore yang indah dengan diiringi kicauan burung yang membaur di atas langit bersamaan dengan gemuruh laut.


Suara yang terdengar merdu semakin membuat pikiran tenang dan kembali rileks, sedikitnya Alea bisa melupakan kejadian yang baru saja terjadi menerpanya di daratan tadi.


“Apa kamu mau tahu sayang?”


Ada nada yang terjeda, karena sang empu menatap penuh cinta pada wanita cantik di sampingnya.


“Aku tubuh di kota ini sepanjang hidupku.”


Alea lalu menoleh memandangi Evans yang kembali menatap luruh ke depan dan terlihat setengah melamun.


“Aku berpikir kalau hidupku akan selalu tetap sama seperti ini ritmenya.


“Begitu membosankan dan tidak ada hal yang menarik sama sekali sepanjang aku bernafas.


“Hidupku penuh hingar bingar perkelahian dan perseturan dan juga dendam hingga pada akhirnya membuatku mati rasa karena sudah terbiasa seperti ini.”


“Mansion yang luas itu hanya sebuah persinggahan sementara untuk melepaskan rasa lelah yang tidak akan pernah habisnya dengan rasa ketidaknyamanan selama ini yang entah akan sampai kapan.


“Satu hal yang aku pikirkan yang aku ketahui dari hidupku. Bahwa aku bernafas untuk bisa bertahan hidup.


“Tidak ada hal yang penting yang harus diperjuangkan selama hidupku ini selain keselamatan nyawa dan juga kekuasaan.”


Alea hanya diam seraya memandangi sang suami, sampai satu tangannya digenggam erat oleh Evans bersamaan genggamanya jarinya membawanya ke bibirnya diiringi tatapan intens.


“Berada di dunia yang gelap menjadi lemah adalah kesalahan besar,” ucap Evans kemudian.


Alea tahu itu, kehidupan yang Evans jalani tidaklah semudah yang ia bayangkan walau hanya dilihat dari sudut depannya saja.


Pria kejam dan kesepian itu dengan susah payah mempertahankan eksistensinya, hingga tidak membuat celah sedikitpun. Evans pasti sangat lelah dengan kehidupanku yang gelap ini.


“Aku mati-matian bertahan hidup yang selalu diselimuti dengan kebencian dan juga dendam orang-orang itu sendiri.”


Setiap orang pasti memiliki kehidupan yang kelam bukan?


Tidak hanya Evans seorang, tentunya banyak diluaran sana yang mungkin sama dengan Evans dan bahkan ada yang jauh lebih menyedihkan darinya.


“Ceritakanlah tentangmu sayang. Kenapa kamu bisa berada di Singapore semnetara kamu dilahirkan di Indonesia?”


Evans mengecup punggung tangan sang istri. “Ceritakanlah padaku, apapun dalam hidupmu.


“Aku ingin mendengarkannya,” ucap Evans diiringi tatapan permohonanan.

__ADS_1


Sejatinya Evans ingin sekali mengetahui bagaimana kisah hidup sang istri yang tak pernah ia ketahui. Bukan tidak pernah, tetapi dulu Evans merasa informasi perihal sang istri tidaklah penting.


Tetapi, sekarang…


Alea adalah segalanya. Hidup dan matinya seorang Evans Colliettie adalah istrinya sendiri, Alea Anjanie.


“Aku hanya membantu temanku Jeon yang mempunyai perusahan di Singapore dan selebihnya tidak ada hal yang menarik dan juga istimewa dalam hidupku, Ev,” jawabnya.


“Apa orang kaya yang mengadopsi dan yang sudah mengambil sumsung tulang belakang mu adalah, Jeon Park?” tanya Evans.


Wajaha Alea mendadak tegang dengan mata mendelik. Namun, itu hanya nampak sekian detiknya dan beruntung Evans tidak melihatnya.


Sementara Evans masih penasaran bahkan ia sudah meminta pada Mika untuk menyelidiki semuanya akan Alea termasuk siapa sebenarnya kedua orang tua Alea. Apa dia benaran anak yatim atau ada orang yang sengaja membuang anak?


Itu bisa jadi juga bukan?


Evans ingin tahu semua tentang Alea, sekalipun ia hanya tahu sepenggal kisah hidup sang istri yang tragis.


Alea terdiam dan enggan menjawab pertanyaan Evans.


“Kamu tidak mau menjawabnya, sayang?”


Alea memalingkan wajahnya, Evans menarik nafas perlahan. Diamnya, sang istri, Ia sudah menduganya sekalipun Alea tidak menjawab.


“Apa kamu ingin mendengarkan lagi sepenggal kisah hidupku, sayang?”


Alea kembali menoleh dan memandangi sang Evans. “Di saat kegelapan menyelimuti hidupku.


“Satu hal yang harus aku lakukan yaitu bertahan hidup seperti orang lain. Hidupku tidak seperti yang lain bahkan tidak seindah yang berada di dalam dunia film.”


“Dulu aku sempat bermimpi bahkan aku berharap ingin bisa memiliki kehidupan yang biasa. New life. Normal life. Akupun tidak ingin dilahirkan sebagai keturunan Colliettie dengan semua kebencian ini.”


Evans mengusap telapak tangannya, menimbulkan sensasi hangat yang merambat ke seluruh tubuhnya.


“Di saat aku mendapatkan sedikit impianku, di situ pun ada kesempatan dan aku bersedia untuk membayarnya dengan apapun.”


Alea menengadahkan kembali kepalanya menatap Evans.


“Apa maksudmu, Ev?”


“Kamu.”


Alea mengernyit menatap tidak mengerti akan maksud dari perkataanku.


“Hanya kamu seorang sampai membuatku harus melawan akan sehatku.


“Di setiap-tiapnya aku selalu berperang diri karena aku sendirilah yang sudah menciptakan celah yang menunjukkan sebagian kelemahanku.


“Mempercayai sebuah ikatan pernikahan, mengikuti kata hatiku yang sebelum ini selalu terabaikan.


“Bahkan selama ini aku tidak mengenal diriku sendiri karena membiarkan perasaan asing itu tumbuh dan berkembang amatlah besar, bahkan tidak terkendali sekalipun rasanya sangat nyaman.


“Intinya, aku membahayakan diriku sendiri.”


“Apa semua ini karena—”

__ADS_1


Yuk guys bantu comentnya dong, Like dan gift juga biar thor semakin semangat udpatenya. Terima kasih sebelumnya.


__ADS_2