
“Intinya, aku membahayakan diriku sendiri.”
“Apa semua ini karena—” gumam Alea membalas tatapan Evans.
“Ya, Alea. Karenamu. Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. Bisa berdekatan bahkan mengobrol santai dengan seseorang layaknya pasangan itu suatu hal yang mustahil bagiku.
“Tetapi, sekarang inilah bayaran yang harus aku berikan agar mendapatkan semuanya.”
Diamnya Alea sekalipun tak lepas menatap Evans, tak berhenti kepala Alea terus berpikir.
Apa, kini pria itu menyesalinya?
Alea menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Ia pun memalingkan wajahnya.
“Aku berharap kamu tidak akan pernah menyesalinya, Ev, karena kamulah yang sudah memilihnya.
“Tidak masalah, Lea!”
Alea kembali menoleh dan memandangi sang suami yang menatap lurus ke depan. Ia menjadi tidak mengerti akan apa maksud Evans sebenarnya.
Perlahan Evans menariknya lebih erat, mengusap jemarinya yang dingin ke pipi, dengan tatapan intens.
Tatapan tajam Evans yang biasa diperlihatkan untuk mengintimidasi lawannya, seakan menghilang tanpa jejak. Kini yang Alea tangkap tatapan matanya yang terasa hangat membuat Alea bisa merasakan dengan jelas.
“Menyesali berkali-kali pun aku tidak peduli. Asal wanita itu adalah dirimu, Alea Anjanie,” bisik Evans sebelum mendaratkan ciumannya yang dalam.
Ciuman lembut nan dalam sang suami membuat Alea tidak bisa mengelak apa lagi menolaknya. Yang akhirnya Alea ikut terhanyut dalam ciuman Evans yang memabukan.
Mungkin benar apa yang pernah Alea simpulkan dulu. Jika seorang pria yang teguh dalam pendiriannya dan bersikeras mempercayai jika cinta itu hanyalah sebuah lelucon yang diperuntungkan bagi pria yang lemah.
Maka tidak akan ada yang bisa menghentikan pria itu melakukan apapun untuk wanitanya.
Wanita yang telah berhasil menyentuh hatinya untuk pertama kalinya sampai, pria itu rela mengorbankan nyawanya yang dulu menjadi prioritas utamanya untuk hidup hingga mengabaikan nyawa nya.
Alea hanya tidak percaya, jika ialah yang bisa menyentuh sisi lain Evans hingga membuatnya seperti ini.
“Hmps….”
Suara errrangnya terdengar tertahan. Evans sudah mendaratkan ciumannya di area leher dan perlahan semakin turun ke bawah hingga menyesap bagian dadanya.
Alea yakin Evans sedang melukis kembali di tubuhnya yang pasti akan berbekas nantinya.
Evans selalu begitu, seperti sengaja memperlihatkan tanda kepemilikan sebagai simbol mutlak kalau ia adalah miliknya.
Kadang hal itu membuat Alea malu karena pelayan di mansion sering memandangnya dengan jejak merah di lehernya.
Evans memang sangat menyebalkan, tetapi pria itu tidak bisa dihentikan begitu saja bukan?
Siapa yang berani membantah keinginan satu itu?
“Ev,” panggil Alea pelan.
Alea memejamkan kedua matanya dengan helaan nafas panjang. Sang suami sepertinya dengan sengaja mengabaikan panggilannya dan sibuk membuat lukisan di dadanya.
Bahkan, satu tangannya sudah menyibakan dress yang robek sampai pria itu dengan sangat mudah menjelajah di bawah sana.
__ADS_1
“Aku mau pizza.”
Evans menghentikan ciuman di dadanya. Perlahan mengangkat kepalanya dan langsung bertatapan dengan Alea.
“Apa kamu lapar, sayang?”
“Ya. Aku lapar, Ev. Aku belum makan sejak tadi siang. Apa kamu tidak mendengarkan suara perutku?”
“Oh…maafkan aku sayang. Aku terlalu fokus dengan hal lain,” kekehnya membuat Alea mendengus lirih.
Evans kembali duduk tegak, diiringi kedua jemari kekarnya mengancingkan kembali dress Alea yang terdapat kancingnya yang tadi terbuka olehnya.
Pria itu pun beranjak mengambilkan pizza yang mungkin sudah dingin, karena sudah ia beli sejak tadi. Evans menyuapinya sepotong pizza yang langsung Alea gigit dan mengunyahnya.
Alea harus mencari cara agar bisa menghentikan Evans jangan sampai Evans membuatnya telanjjang di atas boat meski gelap sudah menyelimutinya kota Naples yang kini berganti dengan cahaya bulan di langit. Alea makan dalam diam, di bawah tatapan Evans yang menunggunya.
“Ev, apa kamu bisa memberikan ponsel lamaku?”
Evans menaikan sebelah alisnya seraya memandangi sang istri.
“Untuk apa?”
“Berkomunikasi.”
Alea menelan pizzanya. “Denganmu.”
“Kamu tidak memerlukannya!”
“Kenapa? Apa aku juga tidak boleh menghubungi keluargaku?”
Tetapi, Alea heran. Ia butuh penjelasan.
”Kenapa?”
“Karena aku melarangnya.”
“Iya, tetapi kenapa Evans, berikan alasanya?”
“Pokoknya tidak!!!” ucapnya tegas.
Alea tidak bisa terima dengan perkataan Evans yang terus melarangnya. Apa lagi Evans tidak memberikan alasanya kenapa ia tidak diizinkan menggunakan ponsel lamanya.
“Aku hanya ingin menghubungi keluargaku sendiri, bukan orang lain, Ev. Apa itu tidak kamu izinkan juga?”
“Tidak untuk saat ini, Lea. Tolong jangan mendebatku lagi!”
Evans menarik telapak tangan nya, Alea menghindar dan turun dari pangkuan Evans dan duduk di sisi lain kapal.
“Sampai kapan kamu akan memperlakukanku seperti ini?”
“Maksudmu?” Kedua alis Evans saling bertautan.
“Tawanan.”
Evans mengernyit, mencoba mendekat.
__ADS_1
“Jangan menyentuhku, Evans Colliettie. Aku tidak mau,” desis Alea.
Evans bergeming sesaat lalu menghela napas panjang dan mendekati sang istri.
“Sayang dengarkan aku, hmm. Kamu ini bukan tawananku, sayang. Tetapi kamu adalah istriku,” ungkap Evans lembut.
“Kalau benar aku adalah istrimu. Maka perlakukan aku seperti istrimu bukan seperti tawananmu!
Evans diam lalu memalingkan wajahnya ke arah lain dan itu malah membuat Alea semakin kesal.
“Kamu selalu saja seperti itu menyebalkan dan seenaknya!”
“Aku memiliki alasan lain sayang, maka dari itu aku melarangnya!”
“Alasan apa, Ev? Jelaskan padaku agar aku paham dengan alasanmu yang melarangku.”
Evans menggeerang frustasi.
“Aku mohon padamu, Lea. Jangan seperti ini. Aku berjanji padamu kalau suatu hari nanti kamu akan bertemu kembali dengan keluargamu."
Alea terdiam, mencoba menilai apakah Evans akan berbohong padanya?
Tetapi, dari ekspresi wajahnya Alea tidak melihat kebohongan dari wajah suaminya. Pria itu tampak serius dengan perkataan dan juga ada rasa takut yang melingkupinya yang entah karena apa.
‘Kenapa dia begitu takut? Emangnya apa yang harus ditakutkan kalau aku menggunakan ponsel lamaku?’ batin Alea bertanya.
Beberapa detik kemudian hening, keduanya tidak saling bicara. Alea memalingkan wajahnya dengan pikiran yang penuh, perlahan mengingat segala yang begitu menyeseskan dadanya membuat air matanya perlahan turun dengan sendirinya.
“Apa kamu tahu, Ev?” Alea menjeda menyeka air matanya yang turun.
“Aku merindukan keluargaku. Aku merindukan ayahku sekalipun aku bukan terlahir dari darahnya.
“Tetapi, beliau lah yang sudah menolongku, memberikan aku kasih sayang yang sama seperti anaknya sendiri, sampai dia membesarkanku seperti sekarang ini.
“Aku pun merindukan sahabat dekatku yang hanya terhitung jari, Ev. Aku tidak punya teman banyak dan temanku hanya Jessie, Yhang dan Jeon kakak angkatku. Aku merindukan mereka, Ev. Apa—"
Alea membiarkan saja air matanya mengalir.
“Apa kamu tidak bisa membiarkan aku untuk menghubungi mereka walau hanya sebentar saja,” kata Alea dengan ekspresi memohon pada suaminya.
Tolong biarkan Alea hanya sekali saja menghubungi keluarganya dan juga teman-temannya.
Alea hanya ingin menanyakan kabar, itu saja. Mendengarkan suara mereka dan kabar baik mereka sudah membuat hatinya lega.
Lalu kenapa Evans begitu keras tidak mengizinkannya?
Apa yang pria itu takutkan sebenarnya?
Alea tersentak kaget ketika Evans menangkup wajahnya. Tatapnya terlihat terluka, diusapnya perlahan air matanya yang mengalir dengan jemarinya dan mencium bibirnya lembut.
“Aku mohon padamu, Lea. Jangan menangis seperti ini lagi. Aku berjanji padamu sayang, suatu hari nanti kamu akan bisa bertemu lagi dengan keluargamu dan juga temanmu nanti.”
Alea bergeming ketika Evans menyentuh dahi sambil memejamkan mata. Tidak tahu alasan apa yang membuat Evans tidak mempercayainya untuk menghubungi keluarganya sendiri tapi dia tahu pria itu tidak akan melanggar janji yang sudah di ucapkan.
Dari ekspresi Evans yang menatap, Alea tahu tatapan nanar Evans seolah memohon padanya.
__ADS_1
“Oh, ya. Kenapa kamu meminta Dokter Cristine untuk memasang alat kb?”