
“Aku amat bersyukur karena aku berhasil mendapatkanmu kembali.”
Evans mencium kening sang istri penuh kelembutan sembari berjalan membawa Alea pada sofa yang berada tidak jauh dari ruangan tersebut. Lalu keduanya duduk sofa panjang tersebut.
Evans mendudukannya di sampingnya satu tangannya menuangkan teh herbal yang tersaji di atas meja.
“Terima kas—"
Alea hanya berniat mengambil secangkir tea itu. Tetapi, Evans menjauhkan tangannya seraya satu tangannya mengesampingkan anak rambut Alea yang menghalangi wajah cantik sang istri dan setelah itu Evans membantunya untuk meminumkan tea yang dipegangnya.
Alea menyesapnya pelan, seketika tea tersebut memberi perasaan hangat juga nyaman di tenggorokan. Alea pun kembali meminumnya sampai habis membuat Evans terkekeh gemas sembari meletakan lagi cangkir tea yang kosong di atas meja.
“Maafkan aku, Ev. Maafkan kesalahanku yang sudah pergi dari mansion.
"Aku siap menanggung konsekuensi dari hukumanmu karena aku sudah berani melarikan diri darimu,” ungkap Alea, membuka pembicaraan sekaligus mengutarakan permintaan maaf pada sang suami.
“Ah, itu tentu sayang. Kamu harus dihukum,” jawab Evans diiringi tatapan pada sang istri.
“Aku akan memberikan hukuman, tidak sekarang tapi nanti,” sambung Evans seraya hela nafas panjang.
Evans bangun dari duduknya dan berdiri. “Tapi untuk mereka, tentunya aku akan memberi hukuman berat karena mereka sudah berani menangkapmu dan juga menculikmu dan aku tidak terima kalau istriku tercinta ini akan di jual atau apa yang aku dengar dari mulut mereka.”
Ekspresi Evans masih terlihat marah. “Mereka akan melelang istri The Black Rose untuk menjadi simpanan pria kaya, hm? dan hal itu adalah perkara besar untukku!
“Mereka pantas dibinasakan karena sudah mengganggu istriku!” kata Evans tegas tidak bisa dibantah lagi oleh siapapun.
Ya, siapapun orang itu yang sudah berani mengganggu milik The Black Rose, maka orang itu akan menerima akibat dari kemurkaan Evans Colliettie.
“Apa kamu lihat semua senjata-senjata itu?” tunjuk Evans.
Alea terdiam sejenak dan memandangi ruangan di mana Alea duduk di penuh dengan senjata api yang terlihat menumpuk dari senjata yang kecil sampai yang terbesar di meja dekat ruangan itu.
Evans berjalan dan menghampiri senjata tersebut, diambilnya satu senjata laras panjang.
“Semua senjata ini sudah aku siapkan semua dan masih banyak lagi di luaran sana.
"Aku sudah mempersiapkan semua ini untuk merebutmu kembali dari tangan mereka.
__ADS_1
“Tidak peduli berapa banyak senjata yang aku habiskan dan aku tidak peduli berapa banyak nyawa dan juga aku tidak peduli berapa banyak orang yang terluka-luka dalam pertempuran ini.
"Karena kamulah yang lebih penting dan berharga untukku. Aku harus bisa mendapatkanmu kembali bagaimana pun caranya.
“Aku tidak bisa membayangkan jika saja aku datang terlambat dan kamu sudah berada di dalam dekapan orang lain…”
Evans mencengkram senjatanya dengan kuat hingga sorot matanya yang terlihat menyimpan amarah yang besar sementara Alea yang duduk pun hanya bisa tersenyum tipis meksi di dalam hatinya Alea ingin tertawa melihat betapa ekspresi yang ditunjukan Evans itu terlihat jelas kalau suaminya itu gelisah.
“Aku akan mencabik-cabik jantung mereka dengan tanganku sendiri. Bodohnya pria itu mengirimkan video menjijikan pada Mika.
“Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaanku ketika pria itu mengatakan bercintta dengan istriku, sampai di gilir, hm?”
Tatapan marah itu membuat Alea menundukan wajahnya sejenak. Hal itu pun tentunya Alea pernah mendengarkannya. Pria bertopi itu bercintta dengan wanita yang mengaku dirinya.
“Setelah aku melihatnya sejenak, aku merasa lega kalau wanita yang di gadang-gadang Alea Anjanie dengan ciri wanita asia bermata hitam itu bukanlah kamu. Aku tahu warna matamu dan bentuk tubuhmu seperti apa.”
“Bukannya seharusnya kamu marah padaku, Ev?” tanya Alea, aneh.
Biasanya suaminya akan mengamuk seperti waktu itu bukan?
Tetapi, sekarang ini…
“Pastinya aku marah besar padamu, Lea. Karena kamu dengan beraninya keluar dari pengawasanku dan juga perlindunganku yang entah karena apa alasanya itu, aku tidak tahu.”
"Apa kamu ingin tahu, sayang? Kalau aku membunuh semua pengawalku di mansionku pada saat malam kamu pergi dari mansion, hm?”
Mulut Alea menganga diiringi bola mata yang mendelik. Tanpa sadar ia berdiri dari duduknya.
“Ya Tuhan, Ev. Kenapa kamu begitu kejam melakukan hal itu, Ev?” seru Alea, terdengar marah.
Alea tidak sampai berpikir ke arah sana kalau suaminya akan membunuh banyak orang yang tidak lain para pengawal di dalam mansionnya itu.
“Aku tidak suka kamu membunuh orang yang tidak bersalah, Ev. Aku pergi dari mansion itu atas dasar keinginanku sendiri. Mereka tidak salah kenapa mereka yang dihukum mati olehmu!”
Evans mendesah pelan. “Ah, aku tidak peduli siapa yang salah di sini, sayang,” jawab Evans acuh dan itu membuat Alea semakin kesal.
“Aku membunuh mereka tentunya aku punya alasan tersendiri dan alasan itu karena mereka tidak becus menjaga keamanan mansionku!” tegas Evans.
__ADS_1
“Tapi mereka tidak salah, Ev. Harusnya akulah yang kamu bunuh karena sudah pergi dari mansion mu.”
Bola mata Evans membulat lebar dengan sorot mata yang marah. “Tarik ucapanmu. Aku tidak suka mendengarkan hal itu, Lea!”
“Tapi kamu tidak harus membunuhnya Ev.”
Alea memejamkan kedua matanya sejenak. “Kamu memang pembunuh terkejam, Ev. Dan aku tidak suka itu,” ucap Alea dingin helaan nafas berat.
Siapa yang tidak menyangka bukan kalau kebodohannya pergi dari mansion Evander Colliettie itu malah berbuntut seperti ini. Tidak hanya Alea yang mendapatkan malapetaka akan aksinya itu.
Tapi Alea pun justru membuat banyak orang celaka karena semua pengawal di mansionnya mati karena ulahnya.
Rasa bersalah yang teramat besar pun menjalar hingga meresap pada hatinya karena mereka yang tidak tahu apapun menjadi amukan suaminya dan berbuntut kematian yang mengenaskan.
“Aku tidak suka dengan sikapmu itu, Ev. Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu karena nyawa bukanlah suatu mainan yang bisa seenak udelmu itu habisi dan dibunuh tanpa belas kasih.
“Apalagi alasan nya tidak masuk akal. Kamu keterlaluan, Ev,” kata Alea terdengar sedih.
Wanita itu mengehentakan panttatnya pada sofa dan perasaanya tidak karuan saat ini diiringi penyesalan yang besar.
Evans mendekat sang istri lalu menangkupkan wajah sang istri di antara kedua tangannya. Istrinya itu nampak marah padanya.
“Apa kamu lupa kalau suamimu ini memang seorang pembunuh, hm?”
Evans mencoba mengingatkan pada sang istri akan kenyataan yang harus diterimanya. Kalau dirinya itu memang seorang pembunuh.
Evans menarik kedua tangan sang istri dan keduanya pun bersitatap mengunci manik mata sapphire.
“Jadi mulai detik ini dan seterusnya, kamu harus ingat hal itu. Itulah yang akan terjadi dan juga resiko kamu melarikan diri dariku.
“Kepergiaan dari mansionku dan juga pergi dari hidupku akan berdampak buruk bagi semua orang di sekitarmu. Jadi—”
Evans menggenggam tangan sang istri dengan erat.
“Jangan berani-berani lagi kabur dariku, Lea. Apapun alasanya itu, kamu tidak pergi dariku.
“Apapun yang ada di hatimu semua unek-unekmu katakanlah padaku dan tidak pergi seperti ini.”
__ADS_1
Yuk guys bantu coment, like dan giftnya ya terima kasih. Hari ini aku update 2 bab ya.