
Alea berdiri dengan tangisan tertahan seraya menatap sepasang anak manusia yang tidak jauh di mana dia berdiri.
Ini seperti mimpi… sebuah mimpi yang nampak begitu nyata. Entahlah saat ini Alea berdiri di mana namun Alea merasa ia berdiri serupa bayangan…
Bayangan yang membuat dadanya begitu sesak dan sakit. Lebih sakit dihantam oleh besi. Pandangan Alea tak lepas menatap lurus di hadapannya.
Sosok tersebut terlihat dekat namun kenyataanya ketika dilihat dengan mata telanjjang nyatanya jarak itu terbentang jauh meski terlihat tak kasat mata.
Alea melihat sosok yang berdiri itu yang tidak lain adalah Evans Colliettie, suaminya sendiri.
Ia melihat perbedaan yang begitu nyata meski yang terlihat di matanya hanya punggung tegap suaminya yang selama ini selalu berdiri tegak menjadi perisainya. Pria itu terlihat sedang mendekap sesuatu di dadanya.
Nafas Alea tercekat diringin air mata yang lebih dulu meluruh jatuh tanpa alasan sementara mulutnya tertutup rapat tanpa daya.
Terlihat, kalau kedatangan nya pun tidak bisa membuat Evans berpaling dari sesuatu yang terlihat sedang terfokus begitu besar hingga sang suami seolah mencurahkan perhatian pada sesuatu di depannya itu.
Kenapa hatinya terasa begitu sakit padahal Alea begitu merindukan sosok itu? Sosok yang Alea inginkan.
“Ev….”
Suaranya terdengar begitu pelan, seperti ia tidak benar-benar mengucapkannya. Tetapi, tanpa terduga pria itu menoleh ke belakang, ke arahnya.
Alea sontak mudur, menutup mulutnya rapat-rapat. Kedua bola matanya terbelalak melihat di depannya dengan hati yang tak kalah perihnya saat pria itu berbalik menghadapnya hingga tanpa sadar dan begitu jelas Evans memperlihatkan sesuatu yang sejak awal dia pandanginya.
Sesuatu itu, bayi mungil. Ya, Evans Colliettie mendekap seorang bayi mungil.
“D-dia…”
Rasanya Alea tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Tangannya bergetar dan air matanya merebak.
Evans Colliettie berdiri dengan senyum penuh keangkuhan, mengalihkan tatapannya pada makhluk mungil itu dan tidak berpaling lagi padanya.
“Hai, Alea….”
“Apa kau ingin melihat keturunan Colliettie yang aku berikan untuk suamimu itu, hm?”
Senyuman lebar itu seolah mengejeknya. “Akhirnya bayi inilah satu-satunya keturunan seorang The Black Rose.”
Deg!
Jantung Alea rasanya terlepas dari rongganya seiringin nafasnya yang tercekat. Dadanya sudah lebih dulu sakit ketika mendengarkan penuturan wanita itu.
“Sekalipun kamu bergelar Nyonya Colliettie. Tapi, aku—”
__ADS_1
Senyuman manis itu membuat Alea merasa dirinya benar-benar cacat.
“Aku adalah ibu tunggal yang memberikan keturunan untuk suamimu.”
Bagi Alea, ini seolah vonis mati. Tubuh Alea membeku di tempat bayangan jauh itu bersama dengan kehadiran sosok ibu dari sang bayi mungil yang tidak lain, Ruby. Wanita itu tersenyum yang seolah menertawakan nasibnya.
“Kau tidak akan bisa memberikan keturunan, Alea. Kau wanita cacat.”
Alea menggeleng, tidak. “Ev…” panggil Alea dengan suara bergetar. Sayangnya, Evans hanya diam mengacuhkannya.
“Aku mencintainya Alea.”
“Tidak Ev…”
Alea menggeleng cepat. “Aku akan bersamanya, dia memberikanku keturunan, Alea.”
“Tidak Ev.”
“Aku tidak membutuhkanmu lagi, Alea!”
“Tidak, Ev…”
“Tolong jangan tinggalkan aku.”
“Aku menginginkan keturunan Alea. Tapi, sayangnya kamu tidak bisa memberikan keturunan padaku,” kata Evans diiringi senyuman tipis diiringi tatapan dingin yang sebelum ini Alea pernah melihat tatapan itu pertama kali mereka bertemu.
“Hhhhhh….” Jerit Alea diringin nafas yang terengah.
Alea menarik nafas dalam-dalam seraya membuka kedua bola matanya lebar-lebar. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
Satu hal pertama yang Alea tangkap saat lihat ini hanyalah lampu langit-langit kamarnya yang mati. Alea mencoba mengatur nafasnya sejenak, dengan ngerjapkan matanya yang basah.
Kehangatan selimut tebal nan lembut yang menutupi tubuhnya meski hatinya terasa dingin.
Semua yang Alea lihat tadi itu adalah hanya mimpi buruknya meski terasa begitu nyata. Mungkin ini lah mimpi dari sebuah ketakutan akan Evans yang akan pergi meninggalkannya pada akhirnya.
Ketika, nanti pria itu mengetahui akan anda anak yang ada di rahim wanita lain. Kenyataan ini tidak bisa dielakan lagi karena kenyataanya benar seperti itu.
Alea bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah kamar yang tenang dan juga sepi. Tak lama Alea bangun dan berjalan mendekat pada sebuah jendela kaca.
Sejenak, Alea tertegun menatap lautan yang luas di luar sana. “Ternyata aku masih berada di lautan dan entah akan berlayar kemana.”
Teringat sesuatu, Alea pun lekas berlari melangkahkan kakinya ke arah pintu yang setengah terbuka. Perlahan kedua kakinya berjalan pelan mendekati sumber cahaya yang terang tidak jauh dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Setelah sesampainya di ambang pintu. Alea terdiam sejenak dengan berdiri membeku. Kedua matanya pun membulat sempurna dan tanpa sadar tangannya itu bergetar seraya menatap lurus ke depan pada punggung tegap sang suami.
Evans Colliettie, suaminya. Berdiri di salah satu ruangan dengan membelakangi dirinya terlihat begitu mantap seperti sedang memandangi sesuatu di tangannya.
Mimpi buruk itu seolah mengingatkannya dan menyeruak begitu saja tanpa ampun, menghantam dengan keras kesadaran.
Evans akan menjadi seorang ayah. Entah hal itu disengaja atau tidak, entah Evans tahu atau tidak. Bukan akan menjadi seorang ayah dari anak yang akan dilahirkan dari rahimnya. Tapi dari rahim wanita lain.
Kenapa air matanya selalu mengalir dan hatinya begitu sangat sakit?
Evans berbalik sebelum Alea memanggilnya. Sekali lagi, Alea tertegun menatap sang suami dengan bibir yang mengatup. Ada rasa lega ketika melihat Evans yang ternyata sedang memegang senjata api di tangannya.
Bukan seorang bayi mungil seperti dalam mimpinya.
Bukk!!!
Tubuhnya langsung ambruk ke lantai. Kaki Alea bergetar lemas, air matanya yang merembes dengan isakan tangisnya yang tidak bisa ditahan lagi.
Alea merasa benar-benar lega karena kenyataan yang tadi menghantuinya itu ternyata tidak terjadi seperti apa di dalam mimpinya itu.
Evans langsung bergerak cepat menghampiri sang istri dan membawanya ke dalam gendongan.
“Sayang…” bisik Evans lembut.
Tetapi kenapa membuat Alea justru semakin keras menangis dan memegangi lengan Evans dengan kencang. Alea menyembunyikan wajahnya di bahu suaminya itu.
“Kamu jangan takut lagi, sayang. Aku sudah berada di sini bersamamu.”
Meski Evans tidak tahu apa yang sedang Alea khawatirkan. Ia hanya mengangguk. Memejamkan mata, meresapi aroma tubuh suaminya dalam diam.
Apa yang akan terjadi jika Evans mengetahui ketakutanya ini?
Apa dia akan meninggalkanmu dan mencari keberadaan calon anaknya itu atau apa Evans tidak peduli dengan anak itu?
“Demi Tuhan, aku akan melenyapkan sekutu mereka sampai ke akar-akarnya jika mereka berani menjualmu di luar sana,” ucap Evans penuh dengan bara amarah.
“Aku bersumpah akan melakukan hal itu saat aku dalam perjalanan menyusulmu. Apa kamu tak tahu betapa kalutnya aku beberapa minggu ini?”
Alea memeluk erat Evans dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya diiringi mengusap lembut lengan suaminya.
Di detik kemudian isakanya mulai mereda saat tiba-tiba tubuhnya terangkat, dengan menatap ke atas dengan manik mata Evans yang menghanyutkan.
“Aku amat bersyukur karena aku berhasil mendapatkanmu kembali.”
__ADS_1
Guys, kayaknya aku nggak akan update banyak. lagi sakit hati sama ntun. Yuk mampir novelku yang lain di wattpat dengan napen yang sama, terima kasih