
“Kamu tidak bisa pergi dari kita, ini.”
Wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu menyibak sedikit tirai jendela rumahnya.
“Anak buahnya tentunya akan mencari keberadaanmu kesepenjuru kota ini.”
Alea yang tengah berdiri menatap jendela kaca yang tertutup tirai berwarna putih pun turut melihatnya.
Sejenak, wanita itu menarik nafas dalam dengan pikiran penuh.
Pemandangan pejalan kaki lah yang setiap harinya Alea pandangi yang selalu ramai berlalu lalang di depan rumah kecil di gang sempit.
“Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemukanmu.”
Alea kembali menghela napas panjangnya lalu membalikan tubuhnya tepat di depan seorang wanita yang duduk tidak jauh darinya.
Wanita berambut ikal itu turut menatapnya.
“Aku tahu itu,” jawab Alea diiringi senyuman getir.
“Aku harus secepatnya pergi dari sini. Aku tidak ingin tertangkap oleh anak buahnya.”
“Pergi?” ulang si wanita yang dianggukan Alea cepat.
“Kamu akan pergi kemana tanpa surat-surat, hmm?” Suara wanita itu terdengar cemas.
Alea tidak menyangka bila pelarianya dari mansion Evans sedikit membuatnya beruntung.
Setelah keluar dari dalam mobil truk kecil tersebut dan berhenti di salah satu sebuah restoran yang menurunkan bahan makanan membuat Alea keluar dan menelusuri kota Napoli dengan tujuan untuk mencari sebuah penginapan.
“Itu akan sulit, Alea,” sambung si wanita.
Alea kembali diam dengan pikirannya. Awalnya, Alea pikir keberadaanya akan lebih baik bila berada di dalam ruangan yang jauh dari orang-orang yang tengah mengejarnya.
Alea harus berpikir keras untuk rencananya pergi meninggalkan Napoli dan tidak berkeliaran di luar sana. Tentunya, bahaya selalu mengancam nyawanya bila musuh-musuh Evans tahu atau menemukannya.
Tapi, sayangnya seminggu sudah Alea melarikan diri dari mansion Evans, ternyata tidak semudah yang Alea bayangkan.
Hanya untuk mencari satu penginapan saja ternyata begitu sulit karena Alea tidak bisa menunjukan surat-surat atau identitas sama sekalipun Alea membawa uang tunai cukup besar di dalam saku celananya.
Pelarianya ini tidak ada rencana dan mendadak begitu ada kesempatan. Kesalahan Alea tentunya ia tidak membawa semua identitasnya yang selama ini semua identitasnya tersebut pegang oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Alea bak seperti gelandangan di luar sana, berjongkok seperti musafir kebingungan dan juga ketakutan.
Tanpa terduga, Alea mendapatkan keberuntungan dari seorang wanita yang melihatnya dan membawanya untuk berteduh di rumahnya.
Terkejutnya, wanita yang membawanya adalah wanita yang dulu pernah Alea tolong kejadian sebulan lalu.
Wanita yang mengalami tindakan penganiayaan dari perkumpulan enam pria sindikat perdagangan manusia di jalanan dekat dramaga Naples.
“Bolehkah aku meminjam ponselmu sekali lagi, via?”
Wanita itu bernama Silviana. Wanita berhati baik yang sudi menampungnya sementara di rumah yang terlihat sederhana, sebagai ungkapan terima kasih dan juga balas budi atas kejadian tersebut.
Silvia pun menceritakan sekaligus meminta maaf ketika kejadian itu dia malah memilih pergi meninggalkannya karena ketakutan.
Betapa terkejutnya ketika Silvia mengetahui kalau wanita yang dulu sudah menolongnya ternyata istri dari seorang mafia penguasa negaranya, Evans Colliettie alias The Black Rose is penguasa.
Silvia memberikan ponselnya dan Alea lekas kembali menekan number yang ia hafal. Tentunya, number Jeon dan juga Mike. Sayangnya, dua number yang di hafal tidak aktif.
“Apa kamu tidak mengingat number ponsel temanmu yang lain?”
Alea menggeleng pelan, ia tidak tahu number Jessie. Seandainya Alea tahu mungkin sudah lebih dulu menghubunginya.
“Ya Tuhan….” Gumam Alea putus asa.
Alea kembali diam seraya berpikir. “Apa kamu kembali pulang ke rumah suamimu?”
Alea menarik nafas panjang, lalu menggeleng. “Aku hanya ingin pergi menjauh darinya, Via.”
Sekalipun perkataan Alea selalu sama. Tetapi, di dalam hatinya selama seminggu di rumah Silvia.
Bayangan wajah tampan sang suami tidak pernah bisa pergi dari pandangannya, bahkan Evans selalu datang di dalam mimpinya.
Ya, Evans selalu menghantuinya di setiap saat.
“Aku bukan berasal dari Italia. Bila rumahku dekat masih di negara ini mungkin aku tidak akan bingung untuk pulang ke rumahku sendiri. Tetapi, nyatanya rumahku begitu jauh dari sini,” ungkap Alea.
“Kamu wanita yang malang, meski nasibmu sedikit beruntung menjadi istri dari penguasa negaraku.
“Bersyukurnya kamu tidak di culik dan di jual pada pria hidung belang di luaran sana seperti adikku yang entah bagaimana keadaanmu saat ini di negara orang.”
Entah keberapa kali Alea menghembuskan nafas, tetapi yang bisa Alea lakukan hanya itu.
“Kamu lebih beruntung dari banyaknya wanita di dunia bisa di cintai oleh pria penguasa itu sekalipun ya, kehidupanmu harus terpenjara di dalam istana megah bersama dengan pria kejam yang begitu menakutkan.
__ADS_1
Alea menarik nafas kembali dan menatap Silvia. “Kamu nggak usah banyak pikiran.
“Kamu bisa tinggal di rumahku yang kecil ini untuk sementara waktu, Alea.”
Alea mengangguk pelan. “Terima kasih, Silvia. Maaf aku sudah banyak merepotkanmu.
“Dan Aku turut sedih dengan apa yang sudah menerpa adikmu. Aku hanya bisa berdoa semoga adikmu di luar sana baik-baik saja,” ucap Alea tulus.
Silvia memandangi foto adiknya yang berada di atas meja depanya.
“Ya. Semoga dia di sana baik-baik saja.”
Baik Alea dan Silvia, kedua wanita itu sama-sama menatap foto yang menjadi satu-satunya kenangan yang dipajang diatas meja.
Benar kata Silvia, nasibnya lebih sedikit beruntung tidak dijual dan tidak menjadi pemuas para hidung belang di luaran sana sekalipun ya, Alea harus menerima terpenjara di istana megah bersama devil dengan wajah yang menyerupai angel seperti Evans Colliettie.
Alea selalu berandai-andai. Coba saja dulu ia mendengarkan perkataan Jessie untuk tidak mendatangi Mike Shander di London mungkin nasibnya tidak akan seperti ini.
Namun, sayang mungkin semua ini adalah garis hidupnya dan sudah menjadi takdirnya harus bertemu dengan Evans Colliettie.
Alea sudah tidak bisa mengelak dari kenyataannya. Mau tidak mau, Alea harus menerimanya sekalipun rasanya Alea ingin menolak.
“Bagaimana dengan keadaanmu Alea. Apa kamu sudah merasa baikan?”
Silvia mengalihkan pembicaraan menatap Alea di depannya.
“Aku sudah merasa baikan Silvia, berkat obat herbal yang kamu buat untukku. Kini aku merasa lebih sehat.”
Malam itu, saat ia melarikan diri. Kondisi Alea sedang tidak sehat. Mungkin karena Alea kelelahan sekalipun ia tidak melakukan pekerjaan berat di dalam rumahnya.
Namun, Evanslah yang selalu membuatnya kewalahan dan juga kelelahan.
Baik, fisik dan juga pikirannya. Mungkin itulah yang membuat isi kepal Alea penuh akan semua perkataan Evans yang menyakitkan sehingga membuat kondisinya lemah.
“Aku amat bersyukur kalau obat herbalku bisa membantumu, Alea.”
Alea tersenyum getir, entah sebenarnya ia sakit apa. Alea merasa tubuhnya aneh bahkan Alea sempat batuk darah. Meski sedikit, tetapi efeknya membuat Alea ketakutan.
Selama bersama Evans lima bulan pernikahan, Alea belum pernah berbatuk darah sama sekali dan hal itu kembali membuat kepalanya penuh.
Alea mencoba berpikir kembali mengingat semuanya. Apa mungkin keadaanya yang entah sakit apa ini karena pengaruh racun yang dulu pernah masuk ke dalam tubuhnya?
Atau memang karena terlalu banyak pikiran hingga stress dan membuat kondisinya buruk?
__ADS_1
Tetapi rasanya itu tidak mungkin, bukan?