
“Apa Tuan tidak akan memastikan jika wanita itu benar-benar istri dari Evans Colliettie?”
Pria bertopi itu menatap keraguan dari wanita selaku kekasih anak buahnya.
“Aku percaya jika wanita itu adalah istri dari Evans Colleittie!”
Sepasang kekasih itu hanya diam dan tidak mengeluarkan suara lagi perihal istri Evans Colliettie sekalipun keduanya masih ragu dengan pernyataan wanita itu.
Tapi sekali lagi siapa peduli bukan, karena sepasang kekasih tersebut yang dibutuhkan adalah uang dari kompensasi pekerjaan tersebut.
Sementara Alea masih berdiri mematung di depan jeruji besi, wanita itu masih memikirkan siapa wanita yang sudah mengaku sebagai dirinya itu.
Alea tersentak mundur ketika pria bertopi itu menatapnya lekat. Tatapan dingin si pria membuat Alea takut.
“Ah—aku belum melihat barang bawa kalian dengan jelas,” kata si pria.
Ada rasa penasaran yang terekam jelas di sorot matanya yang dingin hal itu membuat Alea buru-buru kembali duduk lalu memalingkan wajahnya.
“Aku harus melihat satu persatu, apa mereka akan laku di jual atau tidak.” Si pria itu berjalan mendekati pintu sel tahanan tersebut.
Tentunya kedatangan pria itu yang kini masuk ke dalam sel tersebut membuat semua wanita yang berada di dalam pun ketakutan hingga mereka begitu kompak menundukan kepalanya.
“Aku akan menyeleksi kalian semua layak atau tidaknya dijual. Aku akan memilih yang terbaik untuk di kerjakan di rumah bordil, di club malam atau menjadi istri simpanan pria kaya,” sambung sip ria dengan intonasi yang terdengar tegas.
Dan hal itu membuat beberapa wanita di dalamnya semakin takut.
“Haish, kenapa wajah wanita itu lebam hah?” seru si pria bertopi tersebut pada Alice yang berdiri membeku.
“Di cantik dan layak di jual tapi sayang wajahnya—”
Tubuh Alea bergemetar begitu juga Alice yang berdiri di sampingnya. Keduanya sama-sama menunduk tanpa bersuara.
“Astaga, dengan tangannya ini? Kenapa wanita ini terluka?” seru sip ria lagi seraya menoleh ke samping menatap sepasang kekasih tersebut.
“Dia mencoba kabur dari kami, jadi kami memberikan sedikit pelajaran.”
Alice mengangkat wajahnya. “Aku lebih baik mati daripada harus menjadi wanita jallang!” kata Alice dengan suara bergemetar.
Pria itu tersenyum miring menatap wajah cantik Alice. “Kau tidak usah takut akan hal itu, hah.
“Sekalipun kau tidak akan jadi wanita jallang di rumah border ku, tetapi aku yakin kamu perlahan pasti akan mati dengan luka ini,” tunjuk si pria.
Pandangan Alice langsung menunduk. “Kau sudah ada berada di sini, di tanganku. Bila kau hidup maka bersiaplah dengan tugasmu karena kau tidak bisa menghindar lagi bukan?” sip ria itu berikan senyuman menakutkan.
“Kirim wanita ini ke club malam untuk di jadikan wanita ****** di sana!” kata sip ria seraya menoleh pada anak buahnya.
“Baik, Tuan.”
Alice sontak tercengang dengan tubuh yang bergemetar sementara Alea yang melihatnya menggenggam erat tangan Alice agar tetap tenang.
“Aha—” pria bertopi itu tersenyum lebar dengan ekspresi senang.
__ADS_1
“Aku suka dengan wanita ini,” ujarnya.
Pria itu menarik tangan Alea untuk menjauh dari wanita tadi yang kini menangsi.
“Tolong lepaskan aku,” kata Alea, keras.
Pria itu tersenyum smirk. “Kau begitu cantik, Honey. Kau bernilai sangat mahal tentunya di tempat lelang nanti.”
Lagi lagi senyuman menakutkan. “Nasibmu sedikit beruntung karena wajahmu cantik dan kau pun pantas menjadi simpanan para pria kaya di luaran sana dan hidupmu akan terjamin asalkan kau—"
Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinganya lalu berbisik. “Kau sanggup memuaskan mereka dengan tubuhmu ini, simple bukan?”
“Ck! Simple your asss,” desis Alea diiringi tatapan tajam penuh amarah.
Alea berusaha keras melepaskan cengkalan pria di depannya. Ia sudi menatap pria yang telah menertawakan, tak lama telah melihat semua wanita yang mereka culik. Pria bertopi itu pun pada akhirnya keluar dari dalam sel tahanan.
"Persiapkan saja dirimu, karena aku akan melelangmu."
"Ck! Yang benar saja aku dilelang?" batin Alea dalam hati diringin helana nafas panjang.
Pria bertopi itu tersenyum lebar.
“Apa yang aku perintahkan untuk bersenang-senang dengan istri Black Rose sudah kau siapkan?”
“Sudah semua bos!!!”
“Baguslah. Kerja yang bagus. Tetaplah seperti ini karena aku tengah senang maka aku akan menaikan bonus kalian,” kata si pria yang langsung dihadiahkan seorakan senang.
Alea bisa pandangi semua ekspresi wanita itu nampak berubah ketakutan seperti mereka sudah mendapatkan vonis mati dari pria bajjingan tersebut.
“Alice,” panggil Alea pelan.
Sudah semalam Alea berada di atas kapal tersebut dan wanita itu merasakan tubuh Alice yang bergemetar dengan suhu tubuh yang terasa dingin.
“Ya, Tuhan wajahmu pucat sekali,” gumam Alea seraya menangkupkan wajah ibu satu anak itu. Tatapan mata Alice terlihat sayu begitu juga tubuhnya lemas.
Alea bisa tebak kalau Alice mengalami infeksi karena luka di tangannya yang dibiarkan begitu saja tanpa diberi obat.
Penderitaan yang dirasakan oleh semua wanita di dalam sel tahanan ini begitu miris sekali, penjahat itu sama sekali tidak berperasaan sama sekali.
Mereka hanya diberi makan satu sekali itu pun hanya segelas air putih dan juga satu lembar roti tawar.
Para penjahat pun tak segan memukul mereka bila ada wanita yang protes dan juga memberontak, bahkan tak segan para wanita di dalam sana di perkosa lebih dulu karena berani membantahnya dan hal itu justru menciptakan sebuah trauma tersendiri sebelum mereka di jual.
Sementara Alea hanya bisa terdiam, menutup bibirnya rapat-rapat. Alea pun tidak berani menolong mereka di mana kondisinya pun sama memprihatinkan.
Rasanya lama sekali penantian mereka di dalam kapal dengan duduk di dalam dipenuhi ketakutan yang begitu nyata akan nasib mereka selanjutnya.
“Aku mohon bertahanlah, Alice,” pinta Alea seraya menahan tangisannya.
Ia begitu prihatin melihat keadaan Alice yang semakin memburuk.
“Alice aku mohon jangan terus memikirkan perkataan pria brengsek itu yang akan mengirimmu ke club malam. Aku yakin kamu tidak akan dijadikan wanita jallang.”
__ADS_1
“Jangan cemaskan aku. Aku tidak apa-apa. Mungkin lebih baik aku mati,” kata Alice terdengar lemah.
“Jangan berkata seperti itu, tolonglah. Kamu harus berjuang demi putrimu, Alice.”
Yang Alea bisa tebak kondisi Alice yang semakin menurun karena perkataan pria brengsek itu entah karena ibu satu anak ini tengah merindukan putrinya hingga membuat kondisinya seperti mayat hidup.
“No, Alice, jangan berkata seperti itu.”
Alea menggoyangkan tubuh Alice agar wanita itu tersadar. “Jangan menyerah begitu saja, Alice.
"Tolonglah pikirkan anakmu di luaran sana. Dia pasti akan bersedih bila kamu mati.”
“Aku yakin kita pasti punya harapan untuk pergi dari tempat ini, tapi kamu tidak boleh menyerah seperti ini, Alice,” ucap Alea.
Alice menatap Alea dengan tatapan nanarnya. “Putriku tidak boleh melihatku dalam keadaan kotor seperti ini, sekalipun aku membesarkannya dengan seorang diri karena dari hasil kebodohanku.
"Itulah kenapa aku tidak mau bertemu dengannya dan lebih memilih mati.”
Alea menatap penuh prihatin pada ibu satu anak tersebut yang memeluk kedua kakinya dan menyandarkan wajahnya di kedua lututnya.
Pandangan Alea tertuju pada wanita yang berada di dalam ruangan yang sama yang nampak acuh dan tidak memusingkan satu sama lain karena mereka pun sama-sama bernasib mengenaskan di sini.
“Aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk membahagiakannya.” Isak tangisnya terdengar dengan tubuh yang lemah.
“Alice!” teriak Alea, sesaat wanita itu terhuyung jatuh di lantai yang dingin di sampingnya.
“Tolong…” teriak Alea.
“Tolong kami di sini ada yang sakit.”
Para penjaga yang berada di sana pun hanya diam dan berikan tatapan sinis.
Bukan menolong namun para penjaga itu justru mengabaikan dan tidak peduli sekalipun ada yang mati di dalam sel tersebut.
“Baguslah kalau wanita itu pada akhirnya mati. Jadi kami tidak repot lagi. Kami bisa membuang mayatnya ke laut, beres bukan?!”
“Brengsek!” maki Alea menatap para penjahat.
“Kalian yang sudah membuatnya seperti ini maka kalian harus bertanggung jawab!”
Salah satu penjaga berbadan besar itu terlihat geram berdiri menatap tajam pada Alea. Pria itu meludah ke atas diiringi seringaian karena Alea telah memakainya.
“Tutup mulutmu kalau kamu tidak ingin kami gilir di sini. Kau akan bernasib sama dengan mereka,” desis si pria.
“Lebih baik kau urus dirimu sendiri daripada memikirkan orang lain!”
Alea mendengus kesal seraya mengepalkan kedua tangannya erat, sekuat hati Alea menahan semua umpatan yang ingin sekali keluar dan memaki para penjahat di depannya itu.
“Tapi, tolonglah berikan aku air dan juga obat untuk mengobati lukanya. Aku sendiri yang akan melakukannya, please,” pinta Alea.
“Ck!” penjaga itu tertawa setelah menatap bengis pada Alea. Tidak peduli dan kembali duduk bersama mengabaikan permintaan.
“Dasar bajjingan, kalian!”
__ADS_1