
Evans mengeluarkan semua senjata nya dari yang kecil sampai ke senjata yang panjang dan meletakkannya di lantai.
“Mereka pasti bukan orang sini.”
“Aaaaahhh….” Teriak Alea kencang.
Dengan cepat, Evans menarik tubuh sang istri menjauh hingga tembakan yang begitu dekat ke arah sang istri pun mengenai pinggiran besi kepala boat.
“Kamu tidak apa-apa, sayang?” tanya Evans menyisir wajah sampai tubuh Alea dengan tatapan ketakutan.
Alea mengangguk pelan dengan ekspresi tegang. “Aku tidak apa-apa, Ev.”
“Baiklah kalau begitu. Kita pergi menghindar dari mereka, sayang. Bersiaplah dalam hitungan ketiga, tancap gas. Aku akan mengalihkan mereka.”
“Ya,” jawab Alea pendek dengan tubuh yang bergemetar hebat.
Mereka berada di tengah laut dengan pertarungan yang terlihat sengit di lautan.
“Bersiap sayang….”
Alea menatap lautan gelas dengan cahaya minim dari penerangan speed boatnya.
Alea memfokuskan kedua matanya dan juga pikirannya sementara Evans memberikan tembakan panjang ke arah kapal-kapal di depanya.
“Tiga!”
Alea sontak terkejut mendengar arahannya. Diarahkan speed boatnya lurus ke depan melaju dengan kecepatan kencang seraya mencengkram kemudinya dengan erat.
Alea berusaha tetap fokus pada lautan gelap diiringi tubuh yang bergemetar. Bukan saatnya kali ini dia lemah dan menangis karena Evans akan melindunginya.
Bahkan pria itu tetap berdiri di belakangnya bak tameng untuk melindunginya dengan satu tangan Evans berpegangan pada besi di sampingnya agar tubuhnya bisa tetap berdiri kokoh sembari mengarahkan tembakan ke arah kapal-kapal di depanya yang kini mengikutinya.
“Arahkan ke kanan, Lea.”
Alea mengangguk siap, sekalipun Evans di belakangnya tidak melihatnya. Alea dengan sigap mengikuti instruksi Evans. Satu tangannya membelokan ke kanan dengan cepat setir kemudi boat. Tubuh Evans pun bergeser sedikit menutupi tubuhnya dari samping di mana boat mereka melaju dengan memotong jalan kapal lawannya.
Dengan gerak cepatnya, Evans langsung meloloskan pelurunya tanpa berhenti hingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menembak balik.
Alea berusaha tetap tenang mempertahankan posisinya meski tubuhnya terguncang dengan laju boatnya yang kencang. Dibiarkan saja air laut yang menerpa wajahnya.
“Ck! Meski mereka begitu banyak, tetapi mereka tidak cukup terlatih. Baiklah, kita selesaikan sekarang juga,” ucap Evans di belakangnya.
Evans merunduk untuk mengambil kembali senjata laras panjangnya yang terlihat lebih berat dan juga besar dari biasanya.
Evans meloloskan satu pelurunya yang langsung berdesing dan…
Boooom!
Duarrrr!
Suara menggema yang begitu keras membuat bola mata Alea mendelik. Meledak sudah kapal-kapal kecil tepat di belakangnya. Kapal yang sejak tadi mengajarnya pun hancur sudah beserta orang didalamnya.
Alea jadi tidak terfokus pada suara ledakan yang cukup keras, membuat arah kapalnya mengarah pada kumpulan api dari ledakan itu.
Namun, dengan cepat Evans langsung membeloknya tepat waktu hingga keduanya bisa melewatinya dengan arah mata Alea yang tidak lepas ke arah kapal-kapal yang terbakar itu.
‘Oh, astaga. Ini sudah seperti di film action sekalipun ini bukan pertama kali yang aku lihat. Hal-hal yang mengerikan seperti ini tetap saja membuatku takut dan tidak akan pernah terbiasa,’ batinnya.
Tetapi, seperti inilah dunia J Evander Duquaire Colliettie. Alea harus tersadar dan seharusnya sudah terbiasa karena kini Alea berstatus sebagai istri dari The Black Rose sang penguasa Italia.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa, Lea?”
Evans memeluk tubuh sang istri yang kaku dengan pandangan kosong.
“Jangan takut, Sayang. Aku ada disini melindungimu dan aku tidak akan memberikan mere—“
Dorr!!!
“Oh...Shhit!” umpat Evans.
Tembakan dari sang lawan mengenai lengannya membuat pria itu berdesis. Tetapi masih tetap mencengkram kuat tubuh Alea yang di jadikan pegangang senjatanya.
“Brengsek!” umpat Evans.
Pria itu kembali mengangkat senjata besarnya lalu menghunuskan moncong panjang menghunuskan tepat pada kapal-kapal lawan.
Desingan suara yang keluar dari senjata laras panjang itu pun menggelegar, diiringi kepulan asap hitam di atas langit gelap.
Ledakan kedua cukup besar hingga membuat semua kapal-kapal lawannya hancur berkeping-keping diiringi darah di kedua lengan Evans merembes keluar.
Alea terisak memandangi sang suami yang terluka. Sialnya pria itu bukan nampak kesakitan malah tertawa pelan membuat Alea semakin menangis seraya memegangi kedua lengan yang mengalir darah akan dua peluru yang menembus dua lengan Evans.
Alea kembali memegangi kemudi, lalu menghapus air matanya.
“Kamu terluka, Ev.”
“Hm… tapi kamu nggak usah takut. Aku tidak-apa-apa. Jangan takut lagi, Lea. Kamu selamat dan kita aman.”
Alea mengusap air matanya setelah menoleh ke belakang melihat Evans.
“Sepertinya mereka sudah…”
Tubuh Evans sedikit terhuyung dan suara tembakan dari arah lainya pun terdengar saling bersahutan. Ada banyak kapal sekarang yang mendekat menuju boatnya.
Alea bisa melihat salah satu anak buah Evans yang mencari ke segala arah, ia memberhentikan kapalnya melihat bantuan sudah datang.
“Ev….” Panggil Evans.
“Mereka datang menjemput kita,” kata Alea pada sang suami.
Sayangnya, tidak ada sahutan dari Evans. Alea pun langsung berbalik melihat sang suami yang hanya terdiam.
Evans langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat dan mengecup puncak kepalanya sebagai tanda keberhasilan sang istri yang menyelamatkannya.
“Kerja bagus, istriku. Kamu selamat seperti janjiku. Kita aman sekarang, sayang. Ayo kita pulang ke rumah,” ucap Evans seraya menggenggam erat tangannya.
Lelaki itu berdiri dengan sempoyongan. Beberapa detik kemudian, ia mulai kehilangan kesadaran karena luka tembak yang didapatkan oleh Evans bukan hanya pada kedua lengannya.
Tetapi, ada satu lagi luka tembak yang menerpa pinggang Evans sampai pria itu kekurangan darah.
Tubuhnya kembali terhuyung ke samping dan—
Byurrr!!!
Alea sontak terkejut, mendapati Evans yang terjatuh ke dalam air begitu saja.
“Ev….” Teriak Alea.
Dia berdiri menatap lautan gelap. Alea bukannya lekas bergerak masuk ke dalam air untuk menolong Evans, tetapi dia malah berdiri dengan tubuh bergemetar hebat.
__ADS_1
“Aku–”
Alea memejamkan kedua matanya, ia melawan trauma di dalam dirinya untuk lekas masuk ke dalam air.
Sejenak, pandangan Alea mengabur diiringi nafas yang cepat dan kepala yang berdenyut begitu keras. Bayangan dirinya tenggelam membuat wanita itu memejamkan kedua matanya untuk mengusir rasa takut di dalam dirinya.
‘Selamatkan suami Alea, bangun dan bukan matamu,’ kata hati Alea.
Alea membuka kedua matanya cepat, bukan Alea tidak bisa berenang. Namun, bayangan tenggelam ketika kecil membuatnya ketakutan.
Setelah berhasil menguasai diri, Alea langsung meloncat ke dalam air dan masuk ke dalam laut yang begitu dingin yang cukup tenang.
Kepalanya berdenyut nyeri, namun Alea abaikan dan wanita itu kembali melawan bayangan-bayangan menyakitkan yang membuatnya trauma untuk berenang.
“Jangan sekarang kamu lemah, Alea. Ada Evans di sana yang harus kamu selamatkan,” kata hati Alea lagi, seraya membuka kedua matanya untuk mencari Evans.
Meski denyutan nyeri di kepalanya yang melanda, tetapi Alea tidak ingin kehilangan Evans.
Ia pun berenang lebih dalam lagi dengan kedua matanya yang beredar mencari keberadaan Evans.
Alea tersenyum dan sedikit lega ketika melihat tubuh sang suami yang tenggelam dasar lautan dengan kedua mata yang tertutup.
Alea menghampiri dan menggenggam tangan Evans untuk naik ke atas permukaan.
Sebelah lengannya memeluk leher sang suami erat. Hatinya senang bisa membawa Evans untuk kembali kepermukaan dari dalam laut yang begitu dingin membekukan tubuhnya.
“Haaah…”
Alea terengah keluar dari dalam air dengan menarik nafas dalam-dalam. Ia menarik sang suami untuk keluar dari dalam air dan memberikan pertolongan pertama agar sang suami bernafas.
Alea membuka jalan nafas sang suami lalu memeriksa pernapasannya. Tidak ingin kehilangan Evans, Alea pun menempatkan salah satu tanganya di atas tangan yang lainya dan berpegangan secara bersama-sama. Alea melakukan Teknik resusitasi agar sang suami kembali bernafas lagi.
“Aku mohon, sayang. Bernafasnya. Aku mohon….” Kata Alea seraya mengulangi siklus tiga puluh kompresi dada dan dua kali bantuan nafas bantuan.
Air matanya berjatuhan, Evans masih tidak kunjung terbangun dan bernafas. Lucas yang baru saja sampai menatap heran pada Alea yang tengah membantu sang suami.
Begitu juga Mika yang langsung menghubungi seseorang dan juga dokter pribadi Evans.
“Alea….”
“Jangan bicara padaku sekarang ini, Luc. Aku tidak ingin mendengarkan apapun,” kata Alea seraya kembali memberikan nafas bantuan.
Lucas pun sudah bersiap akan membantu Alea, tetapi wanita itu menolak menggantikan dia percaya kalau Evans tidak akan meninggalkannya.
“Aku mohon padamu, bertahanlah suamiku. Aku mohon….”
Alea terus melakukan Teknik resusitasi, di detik kemudian Alea tersenyum seraya mengecup kening Evans ketika pria itu memuntahkan air dari mulutnya.
Evans nya bernafas, kembali. Kedua mata Alea yang sejak tadi terus membanjiri pun dihapus dengan kasar untuk menatap sang suami yang membuka kedua matanya.
“Lea…”
“Ev….” Alea memeluk lembut penuh hati-hati kepala Evans.
“Aku mohon, bertahanlah suamiku. Aku mohon, tetaplah hidup. Baik kamu yang tidak ingin kehilanganku.
“Aku pun, sama tidak ingin kehilanganmu. Kamu harus hidup untukku, J Evander Duquaire Colliettie,” bisik Alea di telinga Evans yang kembali menutupkan mata.
“Helicopter sudah tiba, Nyonya. Kita bawa Tuan pulang ke mansion!”
__ADS_1