HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Kegelisahan!


__ADS_3


“Kenapa dilihat saja, hm? Apa makanan membosankan?” tanya Evans seraya memotong steak untuk menjadi beberapa bagian.


Alea dan Evans kini berada di sebuah restoran mewah di Napoli yang diiringi lantunan suara biola.


Alea menghembuskan nafas sejenak di mana ia duduk saling berhadapan dengan sang suami.


 “Apa makanannya tidak enak, hmm?” tanya Evans lagi.


Kini potongan daging itu di letakan di depan Alea untuk sang istri menyantap makan malamnya.


Alea masih diam memandangi hidangan yang begitu banyak namun dalam porsi yang kecil-kecil.  Menu yang selalu Evans pesan adalah menu western di mana biasa sang suami makan.


Melihat makanan yang di depannya, entah kenapa Alea mendadak merindukan makanan Indonesia.


“Ya Tuhan. Aku merindukan nasi padang, sate, bakso, batagor,” batin Alea seraya memejamkan kedua matanya.


Mengingat makanan kesukaannya membuat Alea menelan salivanya dalam-dalam.


“Sayang,” ucap Evans seraya mengusap pelan punggung sang istri yang tengah melamun.


“Hm…”


“Di makan. Bukan hanya ditatap terus.”


“Ah, iya. Ayo kita makan, Ev,” ucap Alea seraya mengambil pisau dan garpu.


“Apa yang kamu lamunkan, hm?”


Evans kembali memotong menjadi bagian kecil untuk dirinya makan.


“Tidak. Ada, aku hanya merindukan makanan Indonesia.”


“Ah, begitu. Besok aku akan meminta Joe untuk menyiapkan hidangan Indonesia bila kamu merindukannya,” jawab Evans dengan santai.


“Aku ingin memasaknya sendiri, boleh kah?”


Evans menghentikan kunyahnya seraya menatap sang istri. Tatapan memohon membuat Evans berikan anggukan pelan.


“Aku izinkan dan Joe harus membantumu masak.”


“Yeah, makasih Ev,” seru Alea pelan saraya menatap senang pada Evans.


Pria itu pun sama mengulum senyuman, hal kecil seperti ini saja sudah membuat istrinya kembali tersenyum.


Ya, Evans lebih senang istrinya tersenyum ceria daripada menangis dan ngambek padanya.


Tidak apa lah hanya sekali ini saja, Evans pun ingin mencicipi makanan Indonesia yang akan dimasak sang istri nanti.


Acara makan malam yang berkesan romantic ini pun mendadak menjadi ketegangan ketika anak buah Evans datang dan memanggilnya.

__ADS_1


Alea hanya bisa menatap punggung sang suami dari balik kaca jendela besar di depannya. Evans tengah serius berbicara dengan anak buahnya.


Entah apa yang dilaporkan, membuat Alea jadi penasaran.


“Apa ada masalah?”


“Hm? Tidak ada sayang,” kata Evans seraya menarik kursinya dan duduk kembali melanjutkan makan malam bersama dengan Alea.


“Ayo, kita lanjutkan lagi makannya. Masih ada diseart yang belum kamu cicipi.”


Perasaan Alea mendadak tidak enak hati, apa lagi ekspresi sang suami nampak resah.


Dalam diamnya Alea menyantap dan mengunyah potongan daging, pandangannya tak lepas menangkap raut wajah Evans yang kini kembali berbeda.


Evans seperti tidak tenang dan itu membuatnya berpikir keras dan juga penuh tanda tanya besar.


Sama sekali, Evans pernah sekalipun memperlihatkan wajahnya seperti itu.


 Alea menoleh ke arah yang sama di mana sang suami memandang keluar.


Di luaran sana, memang terlihat begitu ramai karena berhubungan adanya festival tahunan yang diadakan hingga membuat sepanjang jalan ini dan tempat-tempat di mana mereka berada di padati oleh banyaknya orang.


“Sayang,” panggil Alea seraya menggenggam jemari sang suami.


Semakin kemari, Evans semakin nampak resah.


“Ada apa? Apa ada sesuatu hal yang terjadi?” tanya Alea, penasaran.


“Tidak ada apa-apa, sayang.”


“Habiskan makananmu, sayang. Jangan pedulikan aku.”


Alea mengusapnya tangan kekar suaminya dengan lembut lagi.


“Steak mu belum habis kamu makan, sayang.”


 Evans menatap penuh cinta pada wanita di depannya yang kini memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’


“Ayo, kita habiskan.”


Evans mengangguk yang diiringi senyuman bahagia pada sang istri. Dikecupnya punggung tangan Alea.


"Aku sudah kenyang, sayang.”


“Oh. Sayang sekali padahal beberapa potong lagi loh.”


Evans kembali tersenyum. “Sudahlah, kamu habiskan saja, ya.”


“Kamu tidak ingin cerita padaku? Dari wajahmu yang gusar dan cara kamu menatap. Apa kamu tidak ingin bercerita padaku, sayang?”


hh—Lea nya memang selalu penasaran. Dengan santai, ia mengambil gelas tinggi lalu menuangkan wine ke dalam gelas tersebut lalu menenggaknya hingga habis.

__ADS_1


Alea masih menatap, menunggu jawaban sementara Evans menghembuskan nafas sejenak sebelum menjawab.


“Tidak ada yang penting, sayang. Hanya, saja ada tamu yang tak diundang datang.”


Kening Alea mengernyit. “Tamu?”


Mata Alea menatap lekat, makin kemari wajah Evans nampak tidak tenang.


“Apa itu tamu penting, sayang?”


“Tidak. Terlalu penting juga!”


Evans bangun dari duduknya lalu berdiri. Dikecupnya pipi sang istri membuat Alea semakin menjadi bingung.


“Kamu tunggu aku di sini sebentar. Aku akan membereskan sesuatu dulu.”


Lagi, lagi kening Alea mengernyit dalam menatap kepergian sang suami yang begitu saja meninggalkan nya seorang diri di mejanya.


Nafas Alea mendadak cepat, dengan pikiran yang penuh.


“Astaga, kenapa jadi menenggangkan seperti ini sih. Sebenarnya tamu siapa yang datang?


“Kenapa ekspresi Evans dan juga sikapnya terlihat sangat aneh sekali?”


Kedua mata Alea kembali memandangi keluar pada sang suami yang kembali berbicara dengan anak buahnya.


“Tamu siapa yang mengharuskan suamiku turun tangan sendiri?”


“Ya Tuhan sebenarnya siapa tamu penting itu?” tanya Alea dalam hati.


Ia hanya melihat punggung kekar sang suami yang kini menjauh bahkan beberapa detik kemudian menghilang di balik bayangan bangunan.


Alea hanya mencoba berprasangka positif pada suaminya meski sebenarnya dia bukan orang yang bisa diam dan duduk santai dengan tenang.


Rasa keinginan tahunnya begitu besar hingga tidak tahan yang duduk manis menunggu. Akhirnya Alea memutuskan untuk menyusul sang suami keluar.


Alea berseru lega ketika ia tidak dikawal secara langsung oleh Mika. Mungkin, bila ia keluar seperti ini tentunya akan dihadang oleh wanita itu.


“Astaga, kemana perginya suamiku?” batin Alea.


Alea kehilangan langkah sang semua ketika hendak menyusul sekalipun kemana ia pergi dan melangkah tentunya akan ada sepuluh bahkan lima belas orang pengawal Evans yang bertubuh besar untuk melindunginya dengan tatapan waspada.


“Ah, itu Evans,” gumam Alea. Hatinya lega ketika melihat punggung sang suami yang berdiri di depan bersama dengan dua pria yang entah siapa.


Alea tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dua pria itu terhalang oleh tubuh Evans dan juga beberapa pengawalnya.


Dari suara Evans, sepertinya pria itu tak bersahabat yang bisa Alea tangkap dari kejauhan.


Namun, entah kenapa langkah kakinya justru berjalan mendekati ketiga pria di depannya karena rasa penasaran akan siapa dua pria yang berlutut di depan Evans.


“Sebenarnya siapa mereka? Kenapa Evans harus menemui kedua pria itu. Apa itu yang Evans maksud tamu tak diundang?” batin Alea lagi.

__ADS_1


“Kedatanganku kesini hanya untuk bertemu dengan Alea!”


“Aku?”


__ADS_2