
“Mumpung Evans mandi, aku akan menyiapkan sarapan pagi untuknya.
"Aku tidak bisa kalau harus diam terus dan duduk manis. Kaki dan tanganku gatal kalau tidak di gerakan,” gerutu Alea dalam hati seraya berjalan menuju lorong di mana dapur mansion Evans berada.
Alea tersenyum ketika mengingat sesuatu. “Aku harus mengucapkan terima kasih pada, Mika.
"Berkata dia aku lolos dari dekapan Evans,” gumam Alea dalam hati dengan senyuman.
Ya, bila tidak ada Mika mungkin Evans akan menariknya untuk mandi bersama ketika pria itu sudah membaca gerak-geriknya.
Setelah masuk ke dalam dapur yang sudah lama tidak Alea kunjungi. Hal yang pertama Alea lakukan tentunya menyiapkan troli khusus yang sudah ia hafal tentunya.
Ia berjalan ke sana kemari seraya mengambil beberapa air mineral dan meletakan di bagian samping. Ketika Alea hendak mengambil piring dan gelas suara itu—
“Anda sedang apa disini, Nyonya?”
Alea mengusap dadanya lega, beruntung piring dan gelas yang dia pegang tidak terlepas akan suara Berta.
“Ya Tuhan, Berta. Kamu bikin aku jantungan tau nggak.”
Berta mengambil alih dua benda tersebut dari tangan Alea.
“Anda tidak seharusnya ada di sini, Nyonya.”
Alea mendesah pelan. “Aku hanya ingin menyiapkan sarapan pagi untuk Evans.”
“Anda bisa meminta padaku maka aku akan menyiapkan sarapan untuk Tuan dan Nyonya.”
“Tapi aku ingin sendiri yang menyiapkannya, Berta,” tolak Alea.
“Seharusnya anda tidak usah repot-repot karena tuan sudah memberikan mandat pada saya.
"Mulai, sekarang saya akan menyiapkan kebutuhan Nyonya dan tuan,” kata Berta lagi dengan formal.
“Bisakah kamu tidak memanggilku dengan panggilannya Nyonya?”
Berta terdiam seraya menunduk, bahkan sejak tadi wanita senja itu tak menatapnya seperti biasa.
“Ayolah Berta. AKu bukan orang asing yang baru saja kamu kenal. Jangan terlalu formal, aku nggak suka. Panggil Alea saja,” rengek Alea.
Mungkin bagi Berta kalau wanita di depannya ini sama-sama pelayan tentunya dia tidak akan bersikap formal.
Tetapi, wanita malang ini sekarang ini adalah Nyonyanya, tentu dia harus berkata sopan santun dan juga bersikap profesional.
“Berta…”
“Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa memanggil seperti yang anda minta. Di sini anda adalah Nyonya Colliettie, tentunya saya akan memanggilnya Nyonya,” sela Joe seraya mendekat.
Pria paruh baya itu pun tersenyum seraya meletakan sarapan pagi sesuai menu Evans.
“Ya Tuhan. Aku sekarang benar-benar kehilangan kalian semua yang menyayangiku. Tolong jangan seperti ini sekalipun sekarang saya menikah dengan tuan mu.” Alea menatap sedih.
“Kami masih menyayangimu, Alea. Tetapi, disini kita harus bersikap profesional. Kamu juga tidak mau bukan kalau kita dihukum oleh Tuan karena tidak sopan pada istrinya?” tanya Berta seraya mengusap lengan Alea.
“Ah, baiklah. Maafkan aku kalau aku sedikit memaksa dan membuat kalian jadi canggung.”
__ADS_1
“Tentu tidak. Justru, kita berterima kasih padamu. Berkatmu, mansion ini kembali hangat.”
Berta berikan senyuman. “Sudah yuk, aku sudah menyiapkan semua menu sarapan kamu dengan Tuan Evans.
"Jangan membuat tuan marah karena kamu sering membangkang. Harus menurut karena kini kamu istri sahnya,” kata Berta menasehati.
Alea berikan anggukan lalu tak lama memeluk Berta. “Terima kasih, Berta.”
Alea dan Berta berjalan bersama. Keduanya masuk ke dalam ruangan tengah di mana Evans berada.
Menurut Mika, Evans ingin sarapan di ruangan tengah di mana terdapat meja makan panjang yang dulu digunakan untuk sarapan bersama Tuan Alberto, Nyonya Julieta dan juga Evans.
“Ya Tuhan, Ev,” seru Alea, terkejut ketika mendapati Evans yang sedang bermain dengan harimau kesayangannya. Para pengawal pun tentunya berjaga.
Romeo berdiri di samping pengawal dan melihat kegiatan yang mungkin sudah lama ditinggalkan Evans.
“Kenapa berdiri di situ hm? kemarilah sayang.”
Alea menggeleng. “Ayo, mereka ini jinak dan tidak akan melukaimu,” bujuk Evans.
Moment ini tentunya membuat Alea terkejut, sejak kapan Evans bermain dengan binatangnya?
Alea berjalan pelan karena takut, namun suami yang menyebalkan itulah menarik tangannya hingga pantatt Alea terjatuh tepat di atas pangkuan Evans.
“Aku takut Ev.”
“Mereka tidak akan menyakitimu, sayang. Ulurkan tanganmu, aku ingin memperkenalkan kamu pada mereka.”
Alea mendelik. “Nggak usah di kenalin, Ev. Nggak penting juga bukan?”
Evans tertawa kecil, Alea menutup mata ketika Evans menarik paksa tangannya untuk mengusap kepala harimau besarnya.
“Sssttt… jangan tegang, mereka tidak akan melukaimu, sayang. Bukalah matamu.”
Perlahan, Alea membuka mata. Dia mendelik ketika harimau putih itu menatapnya. Binatang yang menyeramkan bak seperti anak kucing bagi Evans.
“Jika binatang kesayanganku ini melukaimu. Aku akan membunuhnya, aku tidak peduli sekalipun mereka adalah hewan kesayanganku.
"Aku tidak akan memberi ampun pada siapapun termasuk hewan peliharaanku. Melukaimu sama saja sudah melukaiku juga!” tegas Evans.
Pipi Alea merona, perkataan Evans begitu manis di dengar. “Mereka itu binatang buas, Ev.”
“Ya, mereka bisa mencabik-cabik orang bahkan di makan hidup-hidup.”
“Tapi kenapa di depanmu seperti anak kucing?”
Evans mengecup pipi sang istri. “Tentu aku adalah Tuannya. Mereka tidak akan menggigit karena aku membesarkannya dengan kasih sayang.”
“Ruangan ini adalah tempat bermain mereka, aku meminta Romeo kesini untuk membawanya mengenalkan padamu.”
Ya, Tuhan. Apa suaminya sudah gila? Mengenalkannya dengan binatang buas kesayangannya?
“Setelah kamu mengenal harimau kesayanganku. Aku akan mengenalkan kamu pada predo buaya kesayanganku dan juga ular-ular kesayanganku,” kata Evans, santai.
Tetapi, tidak dengan Alea yang langsung mendelik. Bola matanya menyipit menatap suami marah. Alea tahu dengan ular kesayangan Evans yang sering diajak bermain dengan para wanita jallangnya.
__ADS_1
“Nanggung, Ev kalau hanya empat ular kesayanganmu. Tidak sekalian kamu kenalkan aku pada ular kesayanganmu yang dua itu, Raja dan Ratu?” cicit Alea, geram.
Sialnya, hanya membayangkan bagaimana peliharaan ular kesayangan sang suami di bawah tanah membuat tubuh panas dingin dan perutnya seolah diaduk dan ingin muntah.
Evans langsung mendakap sang istri dan kembali mendudukan istrinya ke atas pangkuannya. Ia tahu kalau istrinya phobia akan ular.
Evans tersenyum kecil menatap istrinya menutup mulutnya. Baru saja mendengar nama ular saja istrinya seperti ingin muntah.
“Jangan marah sayang, aku kan cuman bercanda. Aku tahu kalau kamu itu lebih suka dan paling sayang dengan ularku bukan,” bisik Evans diiringi senyuman.
Tetapi, bola mata Alea sontak membulat mendengarkan perkataan Evans perihal ular satu itu.
“Sudah. Nggak usah bahas hewan kesayanganmu. Ayo, kita sarapan. Aku sudah lapar, Ev,” ajak Alea seraya mengalihkan pembicaran akan ular.
Hm—kalau ular yang Evans maksud tentunya Alea tidak takut. Malahan ular Evans sering membuat matanya merem melek karena sering memberikan kenikmattan tiada tara.
Pemandangan Tuan dan Nyonya besar di mansion Colliettie tentunya membuat para pengawal dan Romeo pun menatap senang.
Mereka baru pertama kali melihat seorang Evans Colliettie tersenyum lebar dan penuh cinta menatap sang istri.
Bagaimanapun Evans begitu jahat dan tidak punya belas kasih. Tetapi, pria itu sebenarnya punya sisi lembut dan juga romantic.
Semua penghuni mansion tentunya turut senang dengan kebahagian Tuannya, Evans Colliettie kini lebih hidup terang tidak seperti yang sudah-sudah hidup dengan kegelapan.
“Ya, sudah. Romeo kamu bawa mereka ke kendang. Jangan lupa kasih mereka makan dan kamu Mikha, telepon dokter hewan karena mereka harus tetap sehat.”
“Baik, Tuan.”
Evans menggendong Alea yang baru saja berdiri, sontak wanita itu tersentak kaget dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Ada rasa malu ketika Evans begitu terang-terangan memberikan perhatian di depan banyak orang.
“Dan satu lagi, lakukan tugas kalain untuk membunuh mereka!” perintah Evans pada anak buahnya termasuk Mika.
Alea mendelik lalu menatap Evans. “Kamu mau bunuh orang lagi, Ev?”
Evans mengecup kening sang istri. “Aku sedang bermurah hati sayang, tidak akan membunuh orang. Aku hanya memberikan tugas pada mereka untuk membunuh Raja dan Ratu ku."
"Hah? Kenapa dibunuh?" tanya Alea, menatap bingung. Hewan itu salah satu hewan kesayangan Evans sekalipun tidak pernah Evans sentuh sejak lama.
“Raja dan Ratu memang sudah cukup lama aku pelihara bahkan sejak aku masih kecil.
“Aku membunuhnya karena dua hewan satu itu semakin hari semakin besar bukan? Tempatku tidak akan menampung bobot dua ekor ular yang sudah sebesar apa.
“Aku hanya takut kaca di kendang itu tidak bisa bertahan lama. Dari pada aku lepaskan akan membahayakan banyak orang lebih baik aku membunuhnya. Biar potongan tubuhnya bisa dilemparkan pada teman-teman predo.”
Selain Alea mengangguk, paham. Namun, juga perutnya sudah tidak bisa menahan lagi. Alea ingin muntah karena bayangan ular dan potongan hewan itu yang akan diberikan oleh buaya-buaya kesayangan Evans.
“Ayo kita sarapan.”
“Hanya mendengarkan dan membayangkannya saja, aku sudah tidak nafsu makan lagi, Ev. Tolong turunkan aku!” pinta Alea.
Evans menurut, ia menurunkan sang istri.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Aku ingin muntah."
Yuk, bantu coment, like dan hadiahnya sekebon dong, terima kasih sebelumnya.