
Alea kembali mencoba menggapai tiang untuk naik. Sayangnya, satu tangannya di cekal hingga membuat tubuh Alea terhuyung ke belakang dan terjatuh.
“Aaahhh…. Punggungku, sakit….” rintih Alea seraya memejamkan kedua matanya.
Betapa hebatnya rasa sakit yang menerpa punggungnya yang terbentur cukup keras ke lantai marmer hingga membuat bola matanya basah.
“Bangun!” seru si wanita.
Bola mata Alea membulat penuh, wajah si wanita begitu dekat. Dengan kesulitan dan menahan nyeri di punggungnya, Alea pun bangun dan berdiri dengan tertatih.
“Siapa kamu? Di mana kamu melihat temanku itu?” tanya Alea.
Wanita itu mendengus kasar dengan tatapan sinis.
“Tolong katakan padaku di mana Silvia,” tanya Alea, lagi seraya memandangi sekitarnya.
Wanita itu bukan menjawab, tetapi tertawa keras hingga menampakan raut wajah yang nampak begitu menakutkan.
“Kamu menjebakku?”
Lagi lagi Alea bertanya, namun si lawan hanya diam dan kini tersenyum miring.
Wanita berambut ikal itu mencengkeram satu tangan Alea.
“Silvia… dimana kamu?” teriak Alea.
“Lepaskan aku!”
Alea meronta meminta si wanita itu untuk melepaskan satu tangannya.
Namun, tubuh Alea langsung membeku ketika menyadari ada sesuatu yang menusuk di pinggangnya diiringi senyuman menakutkan yang begitu terpancar di wajah wanita berambut ikat tersebut.
“Maju dan berjalanlah!” kata si wanita membuat bola mata Alea mendelik.
“Dengar baik-baik kalau kamu ingin selamat maka—”
wanita itu tersenyum lebar pada orang-orang disekitarnya tanpa menunjukkan gelagat mencurigakan.
“Ikutilah perkataanku!”
Alea mengikuti, ia pun berjalan beriringan dengan si wanita tersebut.
“Jangan berteriak dan jangan macam-macam padaku karena aku bisa membunuhmu detik ini juga,” ancam si wanita seraya menekan pisau lipat yang membuat Alea kembali memejamkan dua bola matanya.
Pisau begitu menusuk dengan kulitnya.
Dengan pasrah Alea mengikuti keinginan si wanita tersebut hingga keduanya keluar dari dalam stasiun kereta.
Alea pandangi sekitar dan menangkap dua pria bertubuh besar menghampirinya.
“Tangkapan yang bagus. Hebat, juga kamu,” kata si pria dengan tato di sebagian wajahnya.
Wanita itu mengulum senyum sinis tanpa menghentikan langkahnya menuju parkiran.
“Kita menang banyak hari ini.”
“Jaga mulutmu, kita masih di luar!” tegas si wanita.
Pria satunya membuka pintu dan satunya lagi memandangi sekitar seolah kedua pria itu tengah waspada.
“Masuk!”
Alea menggeleng dan kembali mengedarkan pandangannya mencari Silvia.
“Tolong katakan di mana Silvia.”
“Ck! Masuklah atau aku akan membunuh, hah?!”
Wanita itu menyeret paksa lengan Alea bersamaan dengan dua pria itu pun mengangkat tubuh Alea dan menghempaskan tubuh kuru situ untuk masuk ke dalam mobil.
“Tolong lepaskan aku!”
“Diam kau jallang!” decaknya.
Alea duduk dan diapit dua pria bertubuh besar di sisi kanan dan kiri tubuhnya seolah mengunci pergerakannya.
Ini bukan menuju Roma seperti yang diinginkannya terbebas dari cengkeraman Evans. Ttetapi Alea rasa ia kembali menjadi Tawanan sekelompok penjahat seperti orang-orang di dalam mobil van berwarna putih ini.
“Apa buruan mu sudah selesai, Hon?”
__ADS_1
Wanita tersebut membuka pintu dan duduk di depan kursi samping mengemudi.
“Aku hanya mendapatkan satu.”
Pria berjaket kulit itu menoleh kebelakang dan menatap Alea sejenak dengan senyuman sinis.
“Bagus juga mangsamu hari ini.”
Tubuh Alea bergeridik. “Mangsa? Maksud mereka apa?” batin Alea diiringi hembusan nafas berat.
Pria yang mengemudi di depannya itu nampak begitu menakutkan yang bisa Alea tangkap, wajah sip ria tersebut terdapat goresan luka yang memanjang hingga pada dahinya.
“Siapa dulu dong, Hone.”
Pria tersebut memeluk dan menghadiahi kecupan di bibir si wanita.
“Dia pasti terjual dengan harga fantastis mahalnya,” kata si pria bersorak senang.
“Ah, pastinya begitu bukan. Tuan akan senang dengan tangkapan kita yang satu ini.”
“Sebenarnya siapa kalian semua?”
Alea mencoba memberanikan diri untuk bertanya akan orang-orang di dalam mobil tersebut.
Lagi dan lagi Alea tidak mendapatkan jawaban, keempat orang di dalam mobil Van itu justru menertawakannya.
“Di mana temanku, Silvia. Apa kalian pun turut membawanya?”
“Silvia?” tanya si pria pandangi Alea lalu berganti dengan pada sang kekasih wanita berambut ikal yang menggendikan bahu tidak tahu diiringi tatapan mengejek.
“Mana aku tahu temanmu,” ujar si wanita.
Alea menarik nafas dalam-dalam, sialnya ia baru tersadar kalau dirinya di jebak oleh si wanita itu yang memanfaatkan situasinya.
“Apa mereka semua sindikat perdagangan manusia?” batin Alea seraya menebak.
Apa lagi ketika mendengarkan kalimat jual dan juga harga mahal, sudah Alea duga kalau mereka memang sindikat penjualan manusia yang diperuntungkan wanita.
“Jadi kamu menipuku? Brengsek kalian. Lepaskan aku,” teriak Alea keras seraya meronta.
Sialnya lagi, tubuhnya di cengkram erat oleh dua pria besar di samping kanan dan kirinya.
“Aku mohon lepaskan aku.”
Orang-orang di dalam nya tidak mungkin melepaskannya bila tidak ada timbal balik keuntungan untuk mereka.
“Lepaskan ak—"
Plak!
Wanita berambut ikal itu menampar keras wajah Alea hingga wajahnya terhuyung ke samping dengan keras.
“Diam kau jallang atau aku benar-benar membunuhmu!” decak si wanita, murka.
“Sialan!” umpat Alea dalam hati.
Dadanya naik turun diringin nafas yang memburu cepat.
Kedua pandangan Alea pun tak lepas menatap si wanita tersebut yang sudah berbalik memandang lurus ke depan.
“Cepat hubungi temanmu. Kita akan pergi dari sini sekarang juga,” kata si wanita pada pria di sampingnya.
“Oke.”
Alea mengatur nafasnya diiringi memalingkan wajahnya ke samping. Tidak hanya tubuhnya yang sakit semua tetapi juga pipinya pun masih terasa panas bercampur perih.
Setetes air mata pun pada akhirnya terjatuh dan merutuki kebodohannya sendiri.
Padahal tadi, Silvia sudah mengingatkan untuk tidak memperdulikan sekitarnya dan juga tidak membuka masker dengan penyamarannya.
Alea pikir Silvia tertangkap oleh Evans. Jelas, bila menyangkut nyawa apa lagi wanita yang sudah menolongnya tidak mungkin bukan bila Alea tidak peduli?
“Dia lagi on the way menuju parkiran,” kata si pria memberikan informasi satu temannya yang masih tersisa di luaran sana.
“Oke Honey. Kita tunggu dia di depan saja biar cepat pergi.”
Pria berjaket kulit pun mengangguk paham, ia pun menghidupkan mesin mobil dan mulai bergerak.
“Lepaskan aku, tolong lepaskan!”
Alea kembali memberontak dengan tenaga yang tersisa sekalipun Alea tahu kalau tenaganya tidaklah akan sebanding dengan dua pria yang di sampingnya.
__ADS_1
“Ya Tuhan, tolong berikan aku bantuan agar bisa terlepas dari mereka,” gumam Alea seraya merapal doa.
“Diam kau!” teriak si pria di sampingnya yang berhasil mengunci pergerakan Alea.
Alea mendengus kasar seraya memalingkan wajahnya dan kembali mengatur nafasnya.
Dipandanginya jendela kaca mobil tersebut, tak sengaja bola matanya menangkap sosok yang dikenainya.
“Itu—”
Wajah Alea mendadak pias dan kembali menajamkan penglihatan akan siapa yang baru saja Alea lihat.
Sosok yang teramat di rindukannya itu baru saja keluar dari dalam mobil hitamnya.
“Evan…” gumam Alea pelan. Air matanya begitu saja basah.
“Itu Evans kan? Aku tidak salah melihat kan?” batin Alea.
Alea menggeser tubuhnya untuk mendekat kearah jendela kaca.
“Evansss….” Teriak Alea keras di dalam mobil.
“Evans aku di si—hmmps.”
Teriakan Alea nan keras itu langsung di bekap oleh tangan si wanita yang duduk di depannya.
Ekspresinya nampak kesal dan juga berbagai umpatan yang keluar dari mulut si wanita tersebut.
“Sialan!”
“Kenapa pria itu berada di sini.”
Wanita itu pun sama memandangi arah dimana seorang penguasa baru saja nampak.
“Cepatlah kita pergi. Tidak usah menunggu temanmu!” kata si Wanita dengan ketakutan.
“Aku tidak mau mati di tangan penguasa Napoli karena kedapatan memburu wanita di wilayahnya,” rancu si wanita menginterupsi kekasihnya.
Pria itu mengusap punggung si wanita. “Kamu nggak usah takut sayang.”
“Ck! bagaimana aku tidak takut, hah? Teman-teman kita saja mati mengenaskan karena kedapatan memburu wanita di wilayahnya ini.”
Wanita nampak resah seraya dengan segap mengeluarkan senjata apinya yang ia ambil dari dalam tasnya.
“Kamu tidak usah khawatir seperti itu, Honey. Kita sudah bergerak dengan hati-hati, tidak mungkin bukan jika The Black Rose menangkap kita?
“Sudahlah, jangan berlebihan. Kita akhiri saja buruan kita ini di Napoli dan wanita itu—” tunjuk si pria menatap Alea bengis.
“Akan jadi buruan kita terakhir.”
“Haah, kamu benar. Ayolah kita lekas pergi cepat. Aku tidak mau dia melihatku,” kata si wanita.
Pria berjaket kulit itu mengangguk dan kembali menjalankan mobilnya semnetara Alea yang berada di kursi belakang sana masih berteriak kencang dengan mulut yang tertutup tangan si pria.
Ketika mobil mereka berjalan lambat dan melanju di sisi Evans Colliettie yang berjalan ke arah dalam stasiun bersama dengan para pengawalnya.
Hati Alea menangis keras, entah kenapa hatinya begitu sakit ketika melihat keadaan sang suami meski Alea hanya bisa memandanginya Evans dari dalam.
Ekspresi Evans begitu dingin dengan aura yang begitu menakutkan. Aura membunuhnya begitu memancar di wajah Evans. Entah kenapa perasaan rindunya kian menggebu.
“Ya Tuhan, maafkan aku. Aku merasa bersalah telah meninggalkan suamiku.”
Derai air matanya tak kunjung henti. Alea benar-benar merasa bersalah ketika melihat Evans yang begitu berantakan. Pria itu nampak seperti kurang tidur dan tidak makan dengan baik.
Tubuh Evans terlihat kurus dengan wajah yang tirus yang bisa Alea tangkap ketika pria itu berjalan menjauh.
Rasanya, Alea ingin sekali memeluk pria yang benar-benar sudah memperingatinya akan ucapan yang penuh penekanan dan juga ancamannya.
“Evander Collietttiee…..” teriak Alea.
Lagi lagi Alea mendapatkan tamparan dari si wanita. Saat Alea kembali memandangi arah yang sama.
Bola matanya kembali membulat lebar, terkejutnya ketika Alea melihat Silvia dengan wajah ketakutan dengan tangan terborgol jadi satu dengan Mika.
“Silvia tertangkap? Oh, Shhitt Mika!” gumam Alea pelan.
“Silvia…” teriak Alea.
Merasa teriakan Alea membahayakan bagi keempatnya. Wanita itu itu memberi isyarat dan pada akhirnya.
Bug!
__ADS_1
Pundak Alea di pukul keras, sebelum kedua matanya terpejam dan tidak sadarkan diri. Alea terkejut ketika Silvia memanggilnya.
“Alea…”