
"Lepaskan aku..."
“Ck! Lepaskan, salah sendiri kenapa kau terlalu ikut campur, cantik!”
Alea menggeleng pelan. Ia ikut campur karena dia tidak bisa hanya diam saja melihat ada pria yang menyakiti bahkan menyiksa seorang wanita.
“Evaaans… Please, help me!”
Bug!
Kedua pria yang memegangi tangan Alea pun terhempas keras ke jalanan. Alea menoleh lalu menatap sedih ketika sang suami datang dengan aura yang menakutkan.
Evans maju dengan tatapan bengis pada semua pria di depannya. Ditendangnya lagi pria yang masih memanggil tangan Alea sampai tidak ada satu pria pun memegang tangan istrinya.
Alea yang terbebas, mundur menjauh lalu digantikan oleh sosok Evans.
“Siapa kau! Jangan cari gara-gara di sini denganku!” geram sip ria diiringi tatapan membunuh.
“Ck! Berani sekali orang asing seperti kalian datang di wilayahku dan mengganggu orang-orang di sini!”
“Kau siapa, hah?” seru si pria bertopi yang terlihat berpikir keras akan perkataan si lawan!
“Jangan ikut campur dengan urusanku! Pergilah!” sambungnya.
Evans menarik nafas pelan seraya menatap istrinya. Lea nya terluka, tidak di wajah, lengan dan juga kaki. Bibir sang istrinya pun robek dan mengeluarkan darah, itulah yang membuat penguasa Italia pun murka.
Evans tersenyum miring, dari tatapan pun terlihat penuh kekejian. Kedua tangannya terkepal erat.
“Sial sekali kalau begitu aksi kalian terlihat olehku. Terlebih lagi kalian sudah menyakiti istriku.”
“Dia The Black Rose, Ev-Evans Colliettie, Bos,” bisik salah satu anak buahnya yang mengenali sosok pria di depannya yang menatapnya bengis.
Kedatangan Evans Colliettie membuat keempat pria tersebut menelan salivanya dalam-dalam yang diiringi tatapan penyesalan karena mereka telah berkelahi dengan wanita yang berdiri di samping Evans Colliettie yang tak lain istrinya sang penguasa Italia, The Black Rose.
“Aku tidak akan memberikan pengampunan sedikitpun untuk kalian semua yang sudah melukai istriku. GO TO THE HELL!”
Keenam pria itu maju sekaligus. Huh, tapi bukan Evans Colliettie namanya bila bisa menendang ke enam pria sekaligus dan memberikan pukulan telak di wajah untuk pria bertopi.
Tidak hanya itu, Evans menghantam siku ke punggung pria satunya. Dihempaskan begitu saja dengan tangan. Kayu yang hendak dihantamkan pada wajahnya pun berbalik mencengkram leher pria satunya dengan kuat hingga meringis kesakitan sambil menangkis serangan yang lain.
__ADS_1
Bug!
Bug!
Bug!
Pukulan Evans tak henti menghajar keenam pria di hadapannya.
“Istriku,” panggil Evans di sela perkelahian diiringi kepalanya menoleh pada sang istri sejenak.
Keenam pria tersebut akhirnya tumbang dan mengerang kesakitan di aspal dingin.
“Bisakah kamu menutup mata dan telingamu sebentar?”
Alea mendelik lalu berikan anggukan cepat. “Lalu berbaliklah, istriku,” pinta Evans yang langsung dituruti oleh Alea.
Alea lekas berbalik lalu berjongkok memunggungi Evans dengan mata menutup dan juga kedua tangannya menutup telinganya erat-erat.
Sayup-sayup yang Alea bisa dengarkan tidak lain suara tembakan yang keluar berkali-kali.
Tubuh Alea bergemetar diiringi air mata yang berjatuhan di antara rasa takutnya. Tadinya, Alea hanya ingin menolong wanita itu saja di saat tidak ada orang lain yang mau menolongnya, meski Alea paham dengan resikonya yang besar.
Alea hanya tidak tega saja melihatnya dianiaya seperti tadi. Hatinya, tergerak untuk menolong wanita tersebut dan mengabaikan keselamatannya sendiri.
Tubuhnya dipeluk dari belakang oleh seseorang. Nafas nan hangat begitu saja terasa di lehernya sampai tubuhnya yang bergemetaran pun kian mereda.
Ketika Alea membuka mata, Alea merasakan tubuhnya terangkat dalam gendongan dan menjauh dari tempat tersebut yang langsung bersitatap dengan manik indah hijau keemasan sang suami.
Jangan ditanya lagi bagaimana wajah Evans yang masih nampak marah dengan bibir yang mengatup diam seraya membawanya pergi menjauh.
Ketika Evans membawanya pergi, Alea terkejut saat mendapati beberapa anak buah Evans yang tiba. Kepalanya menoleh ke samping di selah yang kecil, ternyata sudah banyak anak buah Evans yang menangani keenam pria yang kini sudah tidak bernyawa di tangan Evans Colliettie.
“Lea…”
Suara Evans begitu dalam seakan menahan sesuatu meski tatapan matanya mengarah ke depan.
Alea tahu kalau Evans terlihat sangat marah padanya, namun tetap berusaha menjaga ekspresinya yang dingin.
“Katakanlah sesuatu padaku. Apa kamu baik-baik saja?”
__ADS_1
“Maafkan aku, Ev,” kata Alea, pelan seraya menundukan pandangannya bukan menjawab dari pertanyaan Evans.
“Itu tidak cukup bagiku, Lea,” geram Evans diiringi suara gertakan gigi dan juga kerutan di dahi sang suami.
Evans menggendong sang istri menuju jalan pertokoan kecil tempat mereka tadi melihat-lihat kerajinan yang dipajang sepanjang jalan.
Alea menelan salivanya dalam-dalam. Entah, ia harus bagaimana agar Evans mau memaafkannya kali ini. Bahkan, Evans sama sekali tidak mau menatapnya sama sekali. Jangankan menatapnya dilirik saja tidak.
“Apa kamu tahu, Ev? Aku tadi membeli sepasang merpati putih untuk nanti aku letakan di bunga mawar yang selalu menghias kamar kita. Pastinya cantik ketika melihat vas bunga yang terdapat sepasang merpati di antara bunga black and white. Ah, ya. Apa kamu ma—"
Alea tersadar kalau paper bag yang tadi dia pegang kini suda tidak ada di lengannya, menghilang.
“Ya Tuhan pasti aku—” Alea menenggelamkan wajahnya di bidang dadan Evans dan menangis di dalam sana.
“Bodoh sekali. Pasti aku tadi sudah menjatuhkannya. Tadi aku pikir ada di pergelangan tanganku.”
“Kamu memang bodoh, Lea. Sifat keinginan tahumu dan juga rasa penasaranmu itu yang selalu aku benci! Dan juga—lemah!”
Alea mengangkat pandanganya dengan satu tangannya menghapus air matanya. Tatapan, Evans yang tersenyum padanya membuat Alea terdiam.
“Tapi, seperti yang pernah kau katakan padamu. Seperti apapun kamu, aku yang akan berdiri sebagai tameng.”
Alea tersenyum lebar. “Terima kasih, Ev.”
Kini Alea merasa bersalah. “Dan maafkan aku.”
“Lihatlah ke depan,” kata Evans seraya mengalihkan perkataan Alea karena Evans sendiri sudah memaafkan istrinya.
Alea langsung menoleh ke samping, kedua matanya menatap senang ketika melihat lautan yang luas yang terbentang di depannya. Sunset di Kota Naples yang begitu indah berwarna jingga.
Evans berdiri di pinggir dermaga. “Sebaiknya kita bergegas agar tidak kehilangan momen.”
“Momen apa?"
Evans dengan tangkas loncat turun dan mendarat di dek speedboat yang terlihat cukup besar dan mewah, lalu mendudukanya Alea di salah satu kursi.
Alea bingung ketika Evans mengangguk pada seseorang pria paruh baya. Entah apa yang kedua pria itu bicarakan dan tidak lama pria paruh baya itu pun berlalu pergi dan disusul salah satu anak buah Evans yang datang dengan membawakan kotak obat untuk mengobati wajah Alea.
“Kita mau kemana, Ev?”
__ADS_1