HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Because you’re is mine!


__ADS_3


“Tunggu—”


Jax menjeda. Sepertinya ada yang aneh dengan perkataan Alea, Jax tidak mengerti apa yang tengah dibahas wanita cantik itu.


“Apa kamu kini sedang membicarakan tentang kucing kesayangannya, Nyonya Colliettie?” tanya Jax.


Bola mata Alea membulat lalu mengangguk. “Jadi si Poh kucing kesayangan Jessie masih hidup?”


Jax mendesaah pelan. “Haaah, ternyata kamu pun mengenali kucing kesayangannya bernama si Poh itu?”


“Ah, jelas. Aku mengenalnya.”


“Haish, sungguh menggelikan para wanita yang menggilai binatang imut seperti kucing.


“Tetapi, bagiku Jessie bukan kucing yang imut melainkan singa betina yang menggemaskan.”


Sontak, Alea tergelak tawa. Ternyata, pria itu mengenali sahabatnya.


Melihat kepribadian Jax Oliver yang hangat dan juga mudah bergaul membuat Alea hanya bisa bersemoga kalau pria itu bisa menjaga sahabatnya sampai akhir hayat.


Harapan Alea tidak banyak, cukup mendengarkan kalau Jessie dan Jax akhirnya menikah.


“Kamu benar, Alea. Sekalipun beberapa kali kucing itu mencakar ku. Tetapi, aku sama sekali tidak keberatan.”


Alea kembali menuliskan surat untuk Jessie.


“’Bila kamu menerima surat ini dan membacanya. Aku harap kamu tidak berlebihan mencemaskan aku. Aku di sini akan baik-baik saja. Fokuslah kamu menjalani kehidupanmu dengan baik dan bila kamu punya waktu.


‘Tolong berkunjunglah untuk melihat keadaan ayahku yangs udah tua. Katakana padanya, kalau aku baik-baik saja. Aku sangat mencintainya dan aku pun mencintai kalian semua.


‘Aku harap suatu hari nanti bisa bertemu denganmu, Jess. Aku tengah mengusahakan untuk bisa pulang ke Indonesia dan kita berkumpul lagi. Jadi, tunggulah aku pulang.’


‘By the way, kurir yang membawa surat ini tampan juga, bahkan dia tidak berhenti menceritakan tentangmu. 


‘Aku tahu kalau pria bule ini bukan tipe mu. Tetapi, lihatlah kesungguhan hatinya, Jess. Aku yakin kalau pria itu sangat mencintaimu. 


‘Di mana lagi coba kamu bisa mendapatkan pria yang masih mengatakan mu sangat menggemaskan sekalipun kamu sudah mencakarnya berkali-kali.


‘Apa jangan-jangan pria tampan ini mempunyai kelainan menyukaimu yang galak itu?’


Alea tersenyum pelan mengingat bagaimana sifat Jessie.


‘Aku harap kamu bisa membuka hatimu dan melupakan Harry. Bahagialah sahabatku tercinta. With love, Alea Anjanie.’


Alea menarik napas dalam setelah menyelesaikan menulis surat yang begitu panjang untuk sahabatnya itu. Alea dengan cepat memasukan surat tersebut ke dalam amplop coklat dengan nama tertera jelas sahabatnya di paling depan.


Secepat kilat, Alea memberikan dua pucuk surat tersebut pada Jax sebelum Evans selesai berbicara dengan pria satunya.


Ternyata, pria yang memanggilnya Evander itu adalah sahabat Evans, Kevan Melanoe. Sebelum Evans muncul dan mengusirnya Alea lekas bangun dari duduknya dan menghampiri Jax sebelum ketahuan Evans.


“Aku sangat berterima kasih, bila kamu mau memberikan surat ini untuk Jessie.”

__ADS_1


Alea meletakan kedua surat itu di telapak tangan Jax disertai senyuman.


“Tunggu sebentar.”


Alea berlari keluar dengan cepat untuk mengambil satu barang untuk membuktikan kalau itu benar surat darinya.


“Berikan gelang ini agar Jessie percaya kalau kamu memang sudah bertemu denganku.”


Alea menggenggam telapak tangan Jax yang diiringi tatapan senang sekalipun berterima kasih.


“Aku mengucapkan terima kasih banyak Jax.”


Zack menghampiri Alea lalu mengusap lembut punggung tangannya.


“Aku pasti akan menyampaikan nya meski bahaya mengancamku. Tapi, aku ingin membuat dia tersenyum senang dan bisa tidur dengan nyenyak setelah menerima surat darimu,” ungkap Jax.


Alea mengangguk paham seraya melepaskan tangan Jax sebelum Evans memergoki dan marah nantinya.


Keduanya saling berdiri dalam diam berjalan keluar menuju ruangan tengah.


 “Tolong jaga sahabatku. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali dalam kebahagian. Terutama kamu dan Jessie.”


“Meski aku tidak pernah berdoa tetapi, aku akan mengaminkan ucapanmu dengan sepenuh hati, Alea. Semoga kamu pun selalu bahagia, Alea.”


Alea mengangguk pelan diiringi senyuman dan saling bertatapan dengan keduanya yang tersenyum senang.


Alea menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Hatinya sedikit lega telah memberikan dua surat pada orang tercintanya. Sesuatu keinginannya sejak dulu mengabari keluarganya akhirnya terkabul.


Disinilah Alea berada, berdiri di balkon kamarnya setelah berbincang dan memberikan surat pada Jax.


“Apa mereka sudah pergi?”


Evans bukan langsung menjawabnya, melainkan pria itu menarik nafas dalam-dalam dan diam memeluk sang istri bersamaan keduanya sama-sama memandangi hamparan lautan biru di dan deburan ombak.


Alea merasakan tangannya digenggam erat oleh Evans, yang masih diam dan enggan menjawab.


Pria itu pun sama sekali tidak melihatkan wajahnya, karena Evans sendiri memang sengaja tidak ingin memperlihatkan bagaimana raut wajahnya yang tengah menyembunyikan sesuatu.


Alea membalikan tubuhnya dan memandangi sang suami. Dari apa yang kedua matanya tangkap, ada kegusaran di wajah sang suami yang entah apa sebenarnya yang tengah dipikirkannya.


“Aku hanya berharap mereka tidak akan pernah datang lagi ke sini. Terutama untuk mencarimu!”


Alea diam, tanpa memutuskan dua bola matanya menatap Evans.


Sebenarnya kenapa dengan Evans? Kenapa suaminya itu nampak tidak suka bila ada orang yang mencarinya?


Tetapi, seperti janjinya tidak akan membangkang. Alea hanya bisa diam dan mengalah sekalipun ada hati yang tidak setuju dengan perkataan Evans.


“Apa Kevan itu sahabatmu, sayang?”


Ekspresi Evans nampak menakutkan, pria itu mendengus pelan.


“Ya. Itu di sahabatku, tetapi itu dulu!”

__ADS_1


‘Apa ada sesuatu hal yang terjadi antara Kevan dan Evans? Dilihat dari cara Evans langsung marah ketika baru saja mendengarkan nama itu. Aku yakin mereka ada masalah yang entah apa,’ batinnya.


Evans menatap sang istri dengan tatapan menyelidik. “Apa yang kamu bicarakan dengan Jax sejak tadi, hmm?” tanya Evans mengabaikan pertanyaan sang istri.


“Hanya membicarakan sahabatku, Jessie dan juga ayahku.”


Alea tersenyum manis pada suaminya. “Aku senang mendengarkan kabar dari Jax, kalau Jessie sudah lama ini Jessie tinggal di Indonesia.


“Dia tinggal tidak jauh dari kediaman ayahku. Lega rasanya dan juga bersyukur kalau mereka di sana baik-baik saja,” ungkap Alea seraya tersenyum lega.


Alea kembali menatap ke depan dan memandangi lautan yang luas dengan kegelapan.


“Setidaknya aku merasa senang mendengarkan kabar mereka dalam keadaan sehat-sehat di sana.”


Evans mengeratkan pelukannya dengan mencium pipi Alea. “Aku ikut senang mendengarnya ceritamu.


“Akhirnya kamu lega kan sayang mendengarkan kabar mereka?”


Alea mengangguk pelan, itu tentu. “Apa kamu benar-benar tidak bisa mengizinkan aku pergi sebentar saja untuk menemui mereka, Ev?”


“Lalu apa kamu akan kembali lagi, bila aku mengizinkanmu?” Balik Evans bertanya.


Alea membalikan kembali tubuhnya dan saling bersitatap dalam diam. Tatapan Evans mengunci manik matanya dan memenuhi kecurigaan padanya.


Pria itu bahkan beranggapan bahwa sekalipun Alea pergi ke ujung dunia sekalipun atau menghilang di telan bumi. Pria itu akan mencarinya sampai dapat.


“Bila aku tidak kembali, bagaimana?”


“Apa kamu berniat seperti itu. Meninggalkanku, hmm?”


Tangan Evans terulur membelai lembut sebelah pipinya yang terasa dingin.


“Sekalipun aku tidak akan pernah kembali. Aku yakin, kalau kamu akan menemukanku sejauh apapun aku pergi meninggalkanmu, bukan?”


Evans tersenyum miring dengan mata yang mengerjap lambat seolah membenarkan perkataan sang istri.


“Kamu harus tahu istriku. Kemana pun kamu pergi sampai ujung dunia sekalipun kamu bersembunyi dariku bahkan kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun–”


Evans mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga sang istri. “Aku akan menemukanmu dengan mudah dimana kamu berada dan bersembunyi dariku!”


Dikecupnya bibir manis sang istri. “Karena kamu adalah milikku. Kamu hanya milikku seorang tidak ada orang berhak atasmu.


“Tidak ada orang lain yang bisa mengklaim mu. Because you’re is mine Alea Anjanie! Kamu milik Evander Colliettie, paham!” sambung Evans seraya menekan setiap kalimatnya yang diiringi tatapan tegasnya agar sang istri paham.


Alea menelan salivanya dalam-dalam tanpa memutuskan manik matanya.


“Kamu tahu bukan konsekuensinya, hmm? Bila ada orang yang mengklaim milikku?”


Alea diam. “Kematian adalah satu kalimat yang mutlak.


“Camkan, itu sayang bila kamu berniat untuk meninggalkanku!” ungkap Evans diiringi senyuman lembut pada Alea.


Meski perkataan Evans terdengar lembut. Namun kata-kata yang terdengar pelan itu seperti sebuah ancaman mematikan untuknya.

__ADS_1


Sekalipun, Alea bisa meluluhkan hati seorang iblis. Tetapi, pria jelmaan iblis yang menyerupai Angel itu tentunya tidak akan pernah bermain-main dengan perkatannya tadi.


Hal itu, mengingatkan Alea dengan keras, bahwa Alea tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman seorang J Evander Duquaire Colliettie.


__ADS_2