HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Sangkar Emas!


__ADS_3

Empat bulan kemudian….


“Nyonya, ternyata anda di sini. Saya mencari anda tadi di dalam kamar.


"Saya membawakan cemilan dan juga tea herbal untuk anda,” kata Berta, sopan.


Alea mendengus pelan seraya menatap wanita senja di depannya. Entah kenapa ia tidak suka dengan panggilan Nyonya.


Panggilan itu bagi Alea terasa asing meskipun pernikahannya kini sudah berjalan empat bulan tanpa masalah.


“Terima kasih, Berta,” jawab Alea diiringi senyuman.


“Saya permisi.”


Alea berikan anggukan pelan, ia memang ingin sendiri seraya berpikir dalam diam.


Ternyata, menjadi seorang istri Evans Colliettie membuat Alea tidak bisa melakukan banyak hal semaunya.


Alea di larang keras untuk melakukan kegiatan yang melelahkan sekalipun hanya menyiapkan sarapan untuk suaminya sendiri. Itu menyebalkan bukan?


Meski kini ia selalu aman karena dilindungi oleh Evans Colliettie sendiri, tetapi ada sesuatu hal yang mengganggunya. Sesuatu itu akhir-akhir ini membuatnya—resah.


Alea memejamkan matanya seiringi merasakan semilir angin seolah membelai wajahnya. Ia duduk di bangku taman mawar hitam dengan memandangi patung wanita bersayap.


‘Aku tidak pernah membayangkan bisa duduk di tempat ini tanpa khawatir di bunuh oleh Evans Colliettie walau hanya untuk menikmati matahari pagi dan sejuknya udara pagi,’ kata hati Alea seraya menyesap teh herbal diiringi senyuman lebar.


‘Tempat ini adalah tempat di mana awal aku tinggal di mansion besar ini yang penuh ketakutan yang luar biasa.


'Aku merayakan ulang tahunku sendiri tempat di depan bunga mawar ini,’ kata hati Alea seraya mengingat kejadian malam pertama berada di mansion Evans.


‘Sentuhan pria itu kini bukan sebuah mimpi indah belaka, sekalipun berkali-kali aku berpikir sentuhan itu tetaplah seperti mimpi bagiku sebelum aku bisa bersamamu, Ev.’


Alea kembali tersenyum seolah bayangan malam itu berada tepat di depannya.


 ‘Namun, sekarang setiap harinya dan setiap malam sentuhanmu selalu aku dapatkan dan aku selalu di buat terlena olehmu,’ kata Alea dalam hati.


Empat bulan pernikahan dan diwarnai hangatnya sang suami jelas membuat Alea terlena.


“Hh—ternyata kamu di sini. Aku mencarimu kesana kemari.”


Alea menoleh sejenak lalu tersenyum ketika melihat Mika berdiri di samping kursi kayu di mana ia duduk.


“Duduklah Mika dan temani aku duduk bersama menikmati matahari pagi ini.”


“Jangan seperti bodyguardku, Mika. Aku tidak suka!”


“Maaf, Nyonya!” Mika menolak dan Alea sudah terbiasa dengan penolakan Mika.


Permintaannya tak pernah satu kali pun didengar oleh Mika.


Setelah empat bulan menikah, Mika terlihat sangat menyebalkan benar-benar memperlakukan dirinya seperti Nyonya tidak seperti dulu sebelum Alea hanya seorang pelayan bisa. Alea rindu rasanya bisa ngobrol dan tertawa bersama.

__ADS_1


“Sudahlah, Alea. Tidak usah memusingkan Mika karena wanita itu sangat setia pada suamimu,” batin Alea.


“Oh—ya. Tuanmu kemana? Aku nggak melihat pagi ini.”


Empat bulan menikah, Alea baru pertama kali ini tidak melihat Evans Colliettie saat terbangun dari tidur dan Evans pun tidak pamit pergi yang entah kemana.


“Tuan, pagi sekali sudah berangkat ke Spanyol untuk bekerja.”


Alea menaikan sebelah aslinya, rasanya ingin tertawa ketika mendengar kata ‘bekerja’ yang terlalu ambigu untuk sosok suaminya, Evans Colliettie.


Sebenarnya pekerjaan seperti apa kira-kira yang sedang suaminya lakukan saat ini di luaran sana.


Tentunya bukan menghadiri meeting penting bersama para kolega atau investor dengan setelan pakaian formalnya yang selalu dia pakai setiap kali keluar rumahnya dan berada di salah satu gedung bertingkat?


Tidak seperti itu, karena Alea berpikir lain akan sosok suaminya yang kemungkinan suaminya itu—di luaran sana sedang memburu seseorang yang membuatnya marah di suatu tempat.


Alea hanya bisa berasumsi seperti itu karena ia bisa membayangkan dengan mudah bagaimana suaminya membunuh orang yang selalu membuatnya bergidik ngeri.


 “Bekerja?”


“Ya. Apa anda penasaran dengan pekerjaan yang sedang tuan lakukan?”


“Ah, tidak! Aku akan menebak-nebaknya saja!”


Alea menyandarkan punggungnya dengan menghirup udara yang segara di depanya sembari tersenyum.


“Terus, kenapa kamu berada di sini dan tidak ikut dengannya?”


Perasaan asing itu kembali menyelimuti hatinya.


“Sejak menikah, Tuan Evans sudah memberikan tugas untuk menjadi pengawal pribadi anda.”


Alea tersadar dengan perasaan yang begitu kuat kali ini yang tidak bisa hilang meski sekarang dia berstatus nyonya rumah. Rasanya masih tetap seperti seorang tawanan yang terkurung di dalam sangkar emas.


“Oh, begitu. Pantas saja kamu selalu ada di mana aku berada dan selalu ada di sekitarku.”


Alea kembali menyesap tea herbanya tanpa menoleh berbicara apa lagi berhadapan langsung face to face dengan Mika.


“Aku tidak akan melarikan diri dari rumah suamiku, Mika. Jadi kamu tidak perlu terus mengawalku!”


Alea hela nafas panjang, sebenarnya Alea sudah melarang Mika untuk memanggil Nyonya seperti, Berta, Anthony, Romeo dan juga Joe.


Tetapi semua orang yang mengenalnya dan menyayangi itu masih tetap memanggilnya Nyonya, bahkan tidak sama sekali Alea diizinkan untuk menyentuh dapur hanya untuk menyiapkan makanan untuk suaminya saja, karena itu semua atas perintah Evans.


“Apa kamu tidak mengkhawatirkan tuanmu sendiri karena pergi sendiri tanpa ada pengawal yang setia sepertimu?


“Bukannya kamu sudah terbiasa mengawal tuanmu kemana dia pergi?”


“Tuan bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik, Nyonya. Jadi anda tidak harus mencemaskannya.”


Ya, itu benar. Tanpa Mika, tentunya Evans bisa menjaga dirinya sendiri tanpa harus dikawal ketat.

__ADS_1


“Ya. Aku tahu bagaimana tuanmu itu, Mika. Apa ini sekaligus untuk mengawasiku?”


Mika bergeming. Ia tak berminat untuk menjawab pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Alea, sekalipun Alea menatapnya dengan sorot mata penuh menyelidik.


Beberapa menit kemudian, hening….


Keduanya hanya saling diam dalam keheningan udara segar di pagi ini. Alea memalingkan wajahnya dan kembali menyesap tehnya.


“Bahkan tuanmu sendiri pergi ke Spanyol tidak memberitahuku terlebih dulu apa lagi berpamitan padaku sebelum dia pergi."


“Tuan pasti mempunyai alasan tersendiri. Anda boleh menanyakannya saja nanti saat tuan sudah pulang.”


Alea kembali diam dan menatap lurus hamparan mawar hitam yang dulu pernah ia tanam dan kini tumbuh subur dan begitu menyejukan matanya.


“Hari ini anda sudah ada janji bertemu dengan Dokter Christine. Beliau sudah menunggu anda di ruang tamu untuk pemeriksaan rutin.”


“Dokter Christine?” ulang Alea dengan tatapan bingung.


“Ya. Bukannya anda sudah tahu kalau Dokter Christine akan datang setiap dua bulan sekali untuk memeriksa kondisi anda?”


“Aku pikir pertemuan dua bulan lalu adalah pertemuan terakhir?”


“Tidak! Dokter Christine akan datang setiap dua bulan sekali dan itu akan continue agar kondisi kesehatan anda akan lebih baik lagi.”


“Apa semua itu sudah diatur oleh tuanmu? Apa aku harus mengikuti apa kemauan tuanmu itu?”


Alea berdiri dan berhadapan dengan Mika. “Selama aku berada di sini, menjadi istri tuanmu. Empat bulan ini sama sekali aku tidak pernah keluar untuk melihat bagaimana kota Napoli?


"Bagaimana keindahan kota tempat suamiku dilahirkan. Aku belum pernah merasakan sekali saja pergi keluar untuk berjalan-jalan menikmati hari-hari ku dengan santai.


"Tidak seperti ini terus berada di dalam mansion dan terkuruang seperti burung di dalam sangkar emas!”


Mika bungkam, Alea menatap Mika seraya memperhatikan wanita itu dengan lekat.


Perasaan kali ini kacau karena sebuah permintaan yang sama sekali tidak pernah dikabulkan oleh suaminya sendiri dan itu selalu membuat Alea berpikir kalau dirinya di sini sama seperti kelima wanita peliharaan Evans walau hanya bedanya status Alea saat ini yang menjadi nyonya.


“Saya akan meminta izin lagi pada tuan, Nyonya.”


Alea tersenyum miring dan berjalan mendekati Mika sembari melipat tangannya di dada dan berhenti di samping Mika yang menoleh menatapnya.


“Sepertinya hanya status saja aku menjadi Nyonya di sini karena sama sekali aku tidak punya hak juga rupanya—”


“Aku tidak bisa melakukan apapun sebagai Nyonya rumah di sini bahkan ingin berjalan-jalan keluar dari mansion pun begitu sulit meminta izin dan memakan waktu tiga bulan!


"Tidak ada bedanya bukan aku dengan para wanita peliharaan tuanmu?! Sama-sama terkurung?” kata Alea, terdengar tenang namun penuh dengan intimidasi pada Mika.


Alea mengungkapkan semua apa yang beberapa bulan ini di resahkan. Ia sudah menikah dan menjadi istri Evans, tetapi Alea sama sekali tidak diizinkan keluar dari mansion dan sudah tiga bulan yang lalu Alea meminta keluar sama sekali Alea tidak mendapatkan jawaban apapun.


“Aku rasa, hanya sekedar jalan-jalan sekitar sini tidak akan menjadi masalah bukan?


"Karena aku pun pergi bersama denganmu? Tidak ada yang harus ditakutkan bukan pengawal sepertimu sudah bisa diandalkan karena bagaimana kesetiaanmu pada tuanmu itu?”

__ADS_1


Alea berikan Mika senyuman tipis. “Katakanlah semua permintaanku pada, tuanmu, Mika,” kata Alea seraya memalingkan wajahnya dan berlalu pergi meninggalkan Mika yang masih terdiam di tempatnya.


__ADS_2