
“Oh, ya. Kenapa kamu meminta Dokter Cristine untuk memasang alat kb?”
Evans mundur dengan cepat diiringi kedua bola matanya terbuka sama cepatnya.
Alea terkejut melihat ekspresi sang suami dan mengusap air matanya yang masih berjatuhan. Alea pun ikut mundur, tetapi tidak mengurangi tatapannya memperhatikan Evans yang nampak aneh.
“Harusnya kamu bicara dulu denganku bukan masalah satu ini, Ev? Kenapa kamu memutuskannya secara langsung?”
Evans bergeming. “Ev, katakan padaku kenapa kamu memintanya Dokter Christine memberikanku KB? Apa kamu tidak mau pu—”
“Alasanya sudah jelas bukan, Lea? Kalau aku tidak mau punya anak!”
Deg!
Jantung Alea rasanya lepas begitu saja dari rongga tubuhnya. Sesak, sakit bersamaan kecewa mendengarkan jawaban dari Evans.
Tubuh Alea langsung mundur seketika saking terkejutnya dan menjauh dari sang suami.
Oksigen yang begitu kaya di lautan ini pun mendadak pengamp seolah ia berada disebuah ruangan sempit.
Alea butuh udara yang bisa membuat paru-paru dan juga otaknya bekerja ketika kalimat menyakitkan itu pada akhirnya keluar dari mulut sang suami.
Sebenarnya, Alea memang sudah menebaknya akan hal itu. Tetapi, ternyata bila di utarakan secara langsung seperti ini rasanya sangat sakit sekali.
Hati Alea, mendadak terluka karena sang suami tidak menginginkan anak.
Alea kecewa pada Evans. Ya, itu rasanya menggung dan besar rasa kecewanya pada Evans dan juga masih penuh misteri.
“Tetapi, kenapa kamu tidak ingin mempunyai anak dari pernikahan kita, Ev? Bukannya semua orang pada umum—"
Evans memalingkan wajahnya. “Aku hanya tidak mau direpotkan dengan masalah anak! Aku hanya menginginkan kamu saja di dunia ini dan juga di hidupku! Tidak ada yang lain, Lea!”
Alea kembali tercengang dengan alasan yang tidak masuk akal sang suami.
Tidak ada sama sekali wanita direpotkan oleh anaknya. Justru Alea senang bila ia bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Tetapi, ini…
“Apa kamu trauma? Karena keluargamu atau—"
“Alasanku sudah jelas, Lea! Jadi tolong jangan membahasnya lagi!” sela Evans cepat.
Alea menatap sedih, bahkan ia tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Alea tahu masa lalu Evans yang menyedihkan penuh luka.
Bila itu yang Evans takutkan nasib anaknya akan sepertinya. Alea tidak akan mungkin membunuh darah dagingnya sendiri, mustahil itu dengan sikap Alea yang punya hati nurani yang baik.
Alea pasti akan menyayangi sang suami dan anak-anaknya. Alea pun tidak mungkin berselingkuh atau apapun itu karena bagi Alea Evans saja sudah cukup untuknya.
Lagi lagi pertanyaan kenapa dan kenapa yang memadati kepala Alea.
Tetapi, bukannya seharusnya Alea lega, bila Evans memiliki niat seperti yang tadi di utarakan?
Toh, dasar pernikahannya saja dengan Evans begitu tiba-tiba dan lagi lagi unsur keterpaksaan. Ah, tetapi tetap saja Alea merasa kecewa besar pada Evans.
Alea menarik nafas sedalam-dalamnya seraya menghapus air matanya untuk tidak menangisi keputusan Evans.
__ADS_1
“Baiklah, kalau itu mau mu!”
Alea membuang nafas berat seraya memalingkan wajahnya. Sungguh, ia tidak ingin melihat wajah Evans yang mengesalkan.
Alea masih sakit hati dengan keputusan suaminya, itu. “Kamu berhak membuat keputusan apapun karena kamu, The Black Rose!”
“Entahlah, aku pikir perkataanmu itu tidak masuk akan kenapa mendadak kamu tidak ingin punya anak karena alasan merepotkanku!”
“Lea….” Lirih Evans.
“Sungguh aku sama sekali tidak akan pernah direpotkan bila benih cintamu itu tumbuh di rahimku, Ev.
“Sejatinya, sepasang suami istri tentunya mengharapkan keturunan agar mengeratkan ikatan cinta kita dengan adanya anak!”
“Lea. Please….”
Alea lagi-lagi membuang nafas kasarnya dan menghapus air matanya.
“Baiklah. Sepertinya aku tidak punya suara di sini. Kamulah penguasanya karena aku hanya—”
“Shhiiittt!” umpat Evans keras seolah menyela perkataan Alea.
Dengan cepat kilat, Evans mendorong Alea ke depan hingga membalikan posisi tubuh sang istri agar tidak berada di bawah dan terbentur.
Punggung Evans terbentur kursi speed boat seraya memeluk Alea erat ketika suara tembakan itu terdengar ke arahnya.
Dor!!!
Dor!!!
“Ev…”
Hanya memanggil sang suami pun suara Alea kembali bergetar. Ia mencengkram erat baju Evans yang melindungi tubuhnya dari sasaran tembaknya yang terus berarah padanya.
Beruntung, tidak ada satu peluru pun yang bersarang di tubuh mereka karena insting seorang Evans Colliettie begitu kuat.
“Jangan takut, sayang. Aku ada disini.”
Evans mengedarkan pandangannya, lalu satu tangannya terulur pada laci-laci boat lalu mengeluarkan dua senjata apa.
Alea menatap bingung dibuatnya. Sejak kapan suaminya sudah menyiapkan senjata api itu berada di sana?
“Sial!! Ternyata mereka mau balas dendam padaku?!”
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
Evans menembakkan beberapa peluru sembari berdiri sementara Alea menurunduk dengan tubuh beregemetar, ketakutan.
“Berlindunglah di balik badanku, Lea,” ucap Evans.
Otomatis Alea langsung menghampiri dan mengeratkan kedua tangannya seraya mencengkram pinggang Evans.
__ADS_1
Alea mengedarkan pandangannya ke depan, kedua matanya menangkap beberapa kapal kecil yang berjarak tidak jauh dengan boat mereka dan terlihat menyebar.
Evans merentangkan lengan dengan dua senjata di masing–masing tanganya. Pria itu terus melepaskan pelurunya tepat ke arah kapal kecil di depanya.
Tubuh Alea bergemetar bersamaan memejamkan kedua matanya dengan bergumam di dalam hatinya, "Tuhan selamatkan kita dari semua orang-orang jahat ini." Doa Alea.
Dengan mereka yang berada di dalam kapal berdua tidak ada anak buah Evans, tentunya membuat Alea ketakutan setengah mati dibuatnya. Apa lagi tidak ada Mika dan itu menjadi pertanyaan yang besar.
Apakah mereka akan selamat?
“Sayang? Apa kamu bisa mengemudikan speedboatnya?” tanya Evans seraya melirik ke belakang.
“Apah?”
“Speedboat, sayang,” tegas Evans.
Bila Evans harus menjalankan speed boat dan juga harus menyerang mereka, mustahil. Dia tidak multi talenta seperti itu.
“Tapi, aku tidak bisa mengemudikan speed boat, Ev,” jawab Alea dengan suara bergetar.
Evans berbalik dan menjelaskan kepada Alea dengan jelas, dengan kedua matanya yang tidak lepas ke arah kapal lawan dengan sesekali menembak.
"Apa kamu sudah paham, sayang?"
Alae mengangguk, paham.
“Jika begitu lekas jalankanlah speed boatnya, sementara aku akan fokus melumpuhkan mereka.
“Kita akan mati jika tidak bergerak dan diam saja di sini meski Mika pasti akan segera datang, menolong kita.
“Tapi, kita tidak bisa menunggunya, karena setiap detik waktunya itu akan berharga.”
“Ta-tapi…Ev….”
Evans melemparkan satu senjatanya yang pelurunya sudah habis dan kembali menggunakan senjata lain.
“Aku percaya padamu, Sayang. Kita pasti akan selamat. Aku akan selalu melindungimu di sini.”
Alea menarik napas panjang, dengan perlahan berbalik menghadap ke depan.
Kedua kedua tangan di kemudi dan menghidupkan mesin speed boatnya, seperti yang sudah Evans jelaskan.
“Fokuslah ke depan Lea dan ikuti instruksi. Kamu jangan cemaskan orang-orang itu karena mereka adalah urusanku."
Alea mengangguk kembali di depannya dan melajukan speed boatnya menghindar dari orang-orang yang menyerangnya.
Suara tembakan masih terdengar saling bersahutan dengan tembakan mereka meleset dan beruntung tidak mengenainya.
“Ck! Terlihat amatiran. Aku yakin mereka pengikut pria yang tadi sore. Meski jumlahnya begitu banyak kita harus tetap waspada.”
Alea hanya terdiam, entah ia harus mengatakan apa, karena sejujurnya ia ketakutan setengah mati.
Evans mengeluarkan semua senjata nya dari yang kecil sampai ke senjata yang panjang dan meletakkannya di lantai.
“Mereka pasti bukan orang sini.”
__ADS_1
“Aaaaahhh….”