
“Hm,” lirih Alea seraya menggeliatkan tubuhnya.
Entah sudah berapa lama mereka berada di atas tempat tidur. Alea tidak tahu. Entah ini pagi, siang atau malam. Alea tidak pun tidak tahu.
Hal yang dia ingin saat ini dan membuat senyumannya lebar ketika mengingat hal-hal yang kebersamaan dengan sang suami.
Percintaan di tiap-tiap kesempatan. Sedikitnya, Alea menyadari akan ritme keduanya yang selalu sama, suara erangaaan dari bibir keduanya pun selalu lolos dan terdengar seksi di setiap permainannya.
Alea memiringkan tubuhnya seraya pandangi wajah tampan sang suami.
“Kamu memang tampan mau dilihat dari segi manapun,” batin Alea, menatap bahagia.
Beginilah keadaan Alea, ketika terbangun dan membuka mata dari tidurnya. Pria tampan nan rupawan sang suami Evans Colliettie lah yang pertama kali dilihat sebelum kedua matanya terpejam akibat kelelahan.
“Apa ini sudah pagi? Atau kembali malam? Jam berapa sekarang ini?” batin Alea bertanya seraya menoleh ke samping kanan dan kiri tak menemukan jam di kamar Evans.
Kondisi kamar pun redup hanya penerangan dari cahaya minim di dalam kamarnya yang gelap. Alea jadi lupa diri selalu berada di atas tempat tidur di kamar pribadi Evans.
Setelah penyatuaanya yang penuh kelembutan, pria itu selalu menatap penuh cinta dan mengusap lembut pipinya.
Bila pria itu kembali mendekat tubuhnya dan menciumnya, Evans dengan tak lelah kembali membawanya ke perasaan yang terbakar penuh kenikmatan itu lagi dan begitu seterusnya sampai dia lupa kapan terakhir kalinya menginjakan kakinya ke lantai karena terus berada di atas tempat tidur.
Yang Alea ingat, saat ia ingin pergi ke kamar mandi dan Evanslah yang menggendongnya sampai ke dalam kamar mandi, bahkan Evans menunggunya di depan sana sampai ia selesai tanpa rasa jijik dan itu membuat Alea malu.
Alea mengecup pipi Evans hati senang, bulu mata lentiknya tak lepas menatap suaminya yang terlelap seperti ini.
“Ev…” lirih Alea.
Evans menarik tubuh sang istri perlahan, karena istri tercintanya tak berhenti menatapnya. “Love you, wife,” ucap Evans seraya mengecup kening sang istri dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Pasti kamu sudah bangun dari tadi.”
“Ya, lebih pastinya ketika pelukanku terlepas. Aku terbangun,” jawab Evans tanpa membuka matanya.
Pria itu hanya menyesap wangi tubuh sang istri.
“Begitu senangnya kamu menatapku, sayang. Wajahku sudah tampan sejak lahir. Apa kamu kini mengakui kalau kamu punya suami tampan sepertiku, hmm?”
Dikecupnya hidung mancung Alea. “Ish, percaya dirimu selalu tinggi ya, Ev.”
“Ah. Itu harus, sayang.” Evans membuka kedua matanya lalu menatap sejenak istri tercintanya.
“Apa kamu lapar sayang, sampai kamu bangun, hmm?”
Alea menggeleng pelan. Bagaimana dia akan kelaparan kalau Evans sendiri dengan ketat menjaga pola makannya dengan teratur.
Bahkan beberapa kali dia sering kesal dan berdebat karena setiap sarapan pagi, makan siang, cemilan sore bahkan makan malam. Evans sendirilah yang menyuapinya, Alea seolah bayi yang harus diperhatikan khusus.
Evans begitu sangat memanjakannya dan hal itu kadang membuat Alea kesal saking sikap Evans yang selalu berlebihan.
Apa kalian tahu, kalau Mafia kejam ini sampai tidak mengizinkannya berjalan walau hanya untuk ke kamar mandi dan mengganti baju?
Evans sendiri yang menyediakan semua pakaian hingga kebutuhan mandi pun, mafia menyebalkan itulah yang menyiapkannya. Kemana-mana Evans menggendongnya dan Alea mau makan itu ini Evans lah yang menyuapinya.
“Ini sudah jam tiga. Aku akan menyuruh Berta untuk menyiapkan cemilan untukmu dan juga vitaminmu,” kata Evans seraya mengangkat punggungnya sedikit setelah memberikan kecupan di kening istrinya.
Bahaya kalau mencium bibir sang istri. Baru saja menempel sang adik meronta.
Evans meraih ponselnya tanpa melepaskan lengannya memeluk tubuh sang istri.
“Mika! Katakan pada Berta untuk menyiapkan cemilan dan tea herbal untuk kita!” perintah Evans yang langsung balas oleh Mika dengan kata siap.
“Apa kamu mau ke kamar mandi sayang?”
“Ya. Sepertinya aku harus bangun sekalipun ya tubuhku rasanya terbelah-belah karena kelelahan.”
Evans terkekeh. “Walaupun begitu, kamu pun menikmatinya kan sayang?”
Evans sudah terbangun dan duduk ketika Alea melepaskan pelukannya dan sama-sama duduk di atas tempat tidur.
“Ya, sekalipun aku kelelahan. Tapi virusmu itu membuatku tak ingin berhenti begitu saja.”
lagi, Evans terkekeh gemas. Dialah yang sering menyerang lebih dulu sang istri dan sang istri tidak pernah menolak bahkan Alea lebih aktif dan itu membuat jiwa kelelakianya selalu tertantang.
“Ya, Tuhan. Ini sungguh gila bukan sampai entah aku tidak tahu sudah berapa lama berada di dalam kamarmu,” jawab Alea dengan senyuman.
Evans menatap gemas. “Kalau begitu bagaimana kalau kita mandi bersama sebelum cemilan sore tiba.”
“Kamu benar, Ev. Tubuhku lengket. Aku ingin mandi.”
Evans bergegas bangun dan mengambil kimononya dengan bertelanjang dada. Tubuh seksi Evans yang hanya memakai boxer saja membuat Alea menelan salivanya.
Pria itu mengulurkan kedua tangannya membuat Alea mengernyit bingung.
“Mau apa?”
“Aku gendong kamu sampai ke kamar mandi. Kita berendam bersama.”
Alea menggeleng pelan. “Tidak!”
Evans mengernyit kening. “Kenapa?”
“Aku ingin jalan sendiri, Ev. Tolonglah jangan manjakan aku berlebihan karena aku tidak suk—”
“Aaaaahhh… Ev….” Jerit Alea yang diiringi tawa.
Evans benar-benar menyebalkan. Pria itu tidak mengizinkannya untuk berjalan sendiri ke kamar mandi.
“Aku pun tidak ingin dibantah. Aku ingin memanjakanmu, sayang. Tolong jangan banyak protes,” jawab Evans seraya mengecup bibir Alea.
Didudukannya tubuh sang istri di atas kursi untuk menunggu saat dengan tea herbal yang diberikan untuk Alea sambil menunggunya menyiapkan air hangat
Beginilah potret seorang Evans Colliettie setelah menikah, pria itu kini rajin menyiapkan air hangat sendiri untuk dirinya mandi dan berendam.
__ADS_1
Kebiasan Evans tak lepas dengan kelopak bunga mawar putih dan hitam disertai aroma terapi yang kini untuk berendam bersama.
“Sebenarnya Tuan Evans Colliettie itu mandir. Dia bisa menyiapkan air hangat untuk berendam sekaligus bunga dan aroma terapi. Lalu kenapa kamu selalu manja ketika aku menjadi pelayanmu, hmm?”
Evans tersenyum lebar. “Itu karena di sini aku Tuan besar dan aku punya banyak pelayan. Untuk apa aku memberikan mereka upah kalau mereka hanya duduk manis saja?”
Bola mata Alea melebar. “Jadi semua pelayan di sini kamu kasih upah?”
“Ya, sayang.”
Bibir Alea mengecurut. Tetapi, selama enam bulan ini dia menjadi pelayan. Alea sendiri rasanya yang tidak pernah di kasih upah oleh tuan besarnya.
Evans kembali menggendong tubuh sang istri setelah membuka jubah mandinya untuk segera berendam bersama di dalam bathup.
“Kecuali kamu yang nggak aku kasih upah,” jawab Evans seraya tahu istrinya yang terdiam.
“Ahhh. Mau kamu kasih upah pun untuk apa bukan? Toh, aku tidak bisa keluar untuk berbelanja dan menikmati hasil kerjaku sebagai pelayan di sini.”
“Kamu cerdas,” jawab Evans seraya menurunkan sang istri di dalam air hangat.
“Kamu tidak membutuhkan apapun selama aku tahan di mansionku, bukan? Semua sudah disiapkan dengan baik.”
Pria itu sama membuka jubah mandinya dan bergabung dengan Alea yang sudah lebih dulu berada di air hangat.
Evans mengambil spon untuk membersihkan punggung sang istri. Beginilah bila Evans sudah menatap punggung Alea. Pria itu akan terdiam lama menatap punggung Alea yang penuh dengan bekas jahitan.
Sementara Alea entah kenapa hal ini sudah terbiasa dan sedikitnya dia sudah tidak malu lagi pada Evans karena pria itu lebih sama bahkan terang-terangan menunjukan tubuhnya dan juga pusakka kebangganya itu.
Mengingat benda hal itu bawah Alea jadi ikutan berkedut, sesak penuh gimana gitu di dalam miliknya.
“Luka yang panjang ini bekas apa sayang?” Akhirnya Evans bertanya setelah beberapa hari dia terus teringat dengan jahitan panjang yang melintang di punggung sang istri.
“Katanya seseorang hendak membunuhku. Entahlah, aku pun tidak ingat kejadian itu. Tapi yang aku rasakan luka itu bersamaan ketika sumsum tulangku mereka ambil dan tubuhku di buang ke tempat sampah begitu saja.”
Sebelah tangan Evans terkepal erat. Dia bersumpah akan mencari orang yang sudah membuat Alea seperti ini. Dia akan memburu siapapun orang yang terlibat membuat luka mengenaskan di tubuh istrinya.
“Kata ibuku angkatku. Tulang belakang ku patah,” sambungnya.
Alea meringis ketika mengingat dia harus menjalani perawatan yang cukup lama di rumah sakit. Tidak satu atau dua bulan melainkan hampir satu tahun dia berjuang untuk sembuh.
“Apa ibu angkat mu yang sudah meninggal itu?”
“Ya,” jawab Alea singkat.
“Apa kamu tahu siapa orang yang sudah mengambil sumsung tulang belakang mu dengan paksa itu?” tanya Evans, pelan.
Alea terdiam sejenak. Dia jelas tahu siapa orang yang sudah mengambil sumsum tulang belakangnya.
“Aku sudah tahu.”
Evans membalikan tubuh Alea membuat wanita itu tersentak.
“Apa kamu mau kasih tahu siapa orang itu?”
“Tidak, Ev! Maafkan aku!”
Alea menolak untuk memberitahukan siapa orang yang sudah mengambil sumsum tulang belakangnya.
Bukan Alea percaya diri atau apa ini demi keselamatan orang itu. Dia tahu bagaimana sifat Evans.
Suaminya akan memburunya sampai dapat dan Alea tidak ingin orang itu dibunuh oleh suaminya.
“Sudahlah. Aku sudah melupakan dan juga mengikhlaskannya.”
Evans menghela nafas pelan. Bila Alea tahu dengan sifatnya maka Evans pun tahu bagaimana malaikatnya itu melindungi orang-orang yang dikenalnya.
“Aku mohon padamu. Bila suatu saat kamu tahu, jangan pernah membunuhnya.
"Aku akan marah besar padamu kalau kamu sampai membunuh orang itu!” kata Alea sedikit mengancam.
Itu membuat Evans semakin penasaran dengan sosok yang Alea lindungi. Evans menarik tangan sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.
“Itu orang terdekatmu bukan, hmm?”
Alea menatap penuh permohonan. Dia menggeleng karena takut Evans mengetahuinya.
“Sudahlah lupakan saja. Cepatlah kita mandi aku tidak ingin ketinggalan cemilan lezat buatan Joe,” ucap Alea mengalihkan pembicaraan.
“Apa mau aku sabunin punggungmu, Ev?”
Evans mengecup bibir manis sang istri. “No. Aku hanya ingin—”
Alea mendelik, ketika pinggulnya diangkat dan benda panjang nan besar itu melesak penuh sesak di dalam tubuhnya.
“Ssshh… Ev….”
“Ya, sayang,” balas Evans seraya mengecup bibir Alea.
“Ini—”
“Enak bukan?” goda Evans diiringi kerlingan mata.
“Dasar menyebalkan kamu.”
“Aaahh—sayang…. Hmm…. Kamu nakal juga,” rancu Evans diiringi senyuman.
Lea nya menggoyang pinggulnya dengan seksi. Adiknya seolah dijepit erat di dalam lembah sang istri yang duduk di atas pangkuannya.
Alea menatap Evans. “Kamu yang mengajariku seperti ini, Ev.”
Evans dan Alea tertawa pelan, keduanya pun kembali menyatu di dalam air hangat yang diiringi suara erangaan keduanya.
“Seperti Nya aku salah menyetujui ajakan mu mandi bersama kalau seperti ini akhirnya, Ev.”
__ADS_1
Evans tertawa. “Karena tubuhmu sudah menjadi canduku, Lea.”
Alea membuka kedua matanya perlahan setelah kegiatan sore itu. Dia melirik ke samping kanannya. Alea tak mendapati Evans yang memeluknya dengan posesif ketika mata Alea masih terpejam.
Dari sore bahkan semalam, pria itu solah berniat akan menghancurkan tempat tidurnya yang mungkin sudah tidak berbentuk lagi akan aksi percintaanya Evans yang begitu menggila.
Dan kejadian semalam sama persis di saat pertama kali Evans meminta penyatuannya hingga tempat tidurnya tak berbentuk lagi.
Akhirnya Alea sendiri yang malu atas perbuatan Evans yang meminta ranjang empuk berkualitas terbaik karena ranjangnya rusak.
Malunya, ketika Berta mendapati jejak merah di sprei yang dipakai bergulat dengan pria yang tak ada kunjung lelah.
Evans begitu liar meski tidak selembut sebelumnya tetapi tidak juga kasar.
Alea bisa menerimanya semuanya bahkan menikmatinya. Mengikuti Evans yang selalu mencoba banyak gaya yang membuatnya terlena.
“Ev…” lirihnya.
Mungkin karena pria itu besar di dunia kegelapan yang selalu membahayakan.
Kepekaan Evans lebih dari orang biasa. Bahkan panggilan lirihnya pun langsung membuat pria itu terjaga sekalipun ketika terlihat begitu lelap.
“Hai, sayang,” sapa Evans, kembali mengeratkan tubuh sang istri lalu mencium bibirnya.
Evans mengusap lembut rambut panjangnya di mana posisi Evans yang miring dan membawa kepala Alea untuk berada di lengan kekarnya.
“Jam berapa sekarang?”
“Entahlah. Sepertinya sudah pagi sayang,” jawab Evans, terdengar tak peduli akan waktu.
“Ya, Tuhan. Entah berapa lama kita sudah berada di dalam kamar seperti ini, Ev?” tanya Alea, lagi.
“Entah juga, sayang. Siapa peduli juga bukan?”
Evans mencium keningnya tangan kekar itu selalu melingkar di pinggangnya.
“Apa kamu lapar sayang?” tanya Evans.
“Tidak. Aku masih kenyang. Aku hanya ingin tahu apa aku masih berada di bumi?”
Evans terkekeh mendengarnya. “Meski begitu kamu masih bersamaku.”
“Kita seperti orang tidak punya kerjaan selalu berada di atas tempat tidur!”
“Kata siapa aku tidak punya kerjaan. Aku bekerja keras memberimu kenikmatan.”
Evans mengelus puncak kepalanya, Alea merudukan kepalanya karena malu.
“Sepertinya aku berhasil dengan baik bukan?”
Alea menatap Evans dengan bibir yang meruncing.
“Sudahlah sebaiknya aku tidur lagi.”
“Oh, tidak sayang karena aku tidak akan membiarkannya.”
Alea menengadahkan kepalanya menatap Evans heran.
“Karena kamu sudah bangun, bagaimana jika kita melanjutkannya kembali?”
Bola mata Alea melotot sementara Evans tersenyum miring.
Bibir Alea yang semakin mengerucut pun membuat Evans gemas. Sang suami pun akhirnya kembali membungkam bibir manis istrinya membuat Alea semakin tersulut api gairah dan kembali meracau tidak karuan.
Evans tidak memaksa melakukan terus menerus di sesi percintaannya karena dia melakukan hal itu ketika sang istri sudah mendapatkan tidurnya nyenyak ya dan sudah bertenaga lagi untuk bergulung di atas semut.
Meski tubuhnya terasa remuk, tetapi sungguh pintar bukan sang devil seperti Evans Colliettie?
“Ev…”
“Ssh… sebentar sayang.” Evans menaikan tempo gerakan pinggulnya.
Rasanya ini sungguh menggila di mana milik Alea terus menjepit sang adik membuat Evans tak kunjung henti terus menginginkan percintaanya ini dengan sang istri.
“Lea…. Ssshh… ahh….”
“Apa kamu tidak lelah, Ev?”
“Tentu tidak! Aku tidak akan pernah lelah untuk hal satu ini, sayang.
“Apa lagi milikmu yang menjempit adikku membuatku tak bisa berhenti,” jawab Evans diiringi senyuman lebar.
Alea mendengus pelan, meski bibirnya mendesah nikmat. Namun, ******* sang istri seolah lagu penyemangat bagi Evans.
Pria itu memejamkan kedua matanya dengan jemari meremas dua bongkahan sinttal milik sang istri. Evans siap menyambut badai yang akan menabur endorphin pada sistem hormonnya.
Bersamaan dengan meledaknya bunga api di kepala Evans, Alea pun juga sama mengalami hal yang sama.
Akhirnya mereka mengejjang bersama sebelum akhirnya ambruk di atas tempat tidur.
Evans mengecupi tengkuk Alea diiringi nafas yang memburu. Pria itu pun kembali memeluk Alea erat dan berbisik di telinga Alea yang tengah mengatur nafasnya.
“Terima kasih, sayang. Terima kasih untuk semuanya. Aku mencintaimu, Lea.”
“Aku juga Ev…” seru Alea seraya menoleh dan menatap sang istri.
“Aku lelah. Bolehkah kamu mengizinkan aku untuk beristirahat dan tidak mengajakku bertempur lagi, Ev?” tanya Alea.
Evans tertawa pelan dan berikan kecupan di kening sang istri.
“Entah aku bisa atau tidak sepertinya tubuhku sudah kecanduan,” jawab Evans dengan cengiran.
Alea mendengus pelan. “Dasar nyebelin kamu, Ev!”
__ADS_1
“Ah. Kamu baru tahu ya kalau aku menyebalkan, hmm?”