
Semua para penjahat menatap penuh ketakutan dan tidak bisa berkutik lagi di depan seorang Evan Colliettie yang berdiri tegak layaknya malaikat pencabut nyawa yang akan bersiap mengantarkan mereka semua ke dalam neraka.
“Evans benar-benar datang. Dia benar-benar menjemputku pulang,” gumam Alea dalam hati.
Seharusnya sejak lama Alea menyadarinya bukan?
Setelah Alea memutuskan untuk mengikuti pria menyeramkan itu dengan semua kekejiannya dan juga ancamannya, ketika dulu Alea yang merasa bersalah pada keluarga Ryander dan menukarkan tiket emasnya.
Sejak detik itu harusnya Alea menyadari kalau hidup Alea sudah tidak bisa dikatakan lagi normal.
Normal life seperti yang diinginkannya dan juga impiannya seperti orang-orang lain, karena dimanapun Alea berada.
Di dalam bahaya sekalipun. Evans Colliettie pasti akan datang untuk menyelamatkannya sesuai janji Evans padanya.
“Kamu sendirilah yang melangkahkan kakimu untuk masuk ke dalam dunia yang sama sekali bukan duniamu.
“Dunia yang asing untukmu ini harusnya kamu tersadar, Alea,” kata hati Alea mengingatkannya kembali.
“Dunia saat ini, di mana hanya ada pertikaian dan juga pertumpahan darah untuk mempertahankan eksistensinya.
“Kenapa kamu lambat menyadari akan semua itu, Alea?”
“Kamu tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran gelap karena kedua kaki kamu sudah melangkah lebih dalam bersama dengan pria yang menyedihkan itu.”
“Bagaimanapun kerasnya kamu ingin lepas dari cengkeramannya. Tetapi, sekali lagi Alea. Kamu tlah menjadi istri dari seorang penguasa.
“Mafia berbahaya seantero Italia. Maka kamu harus menerima bila seumur hidupmu harus bergelut di dunia hitam seperti ini. Itu sudah menjadi takdirmu seharusnya kamu bisa menerimanya bukan?”
Lagi lagi hati kecilnya menyertakannya agar berpikir dengan logika nya, tidak dengan nafsu yang sesaat yang pada akhirnya membawanya ke dalam bahaya.
“Kamu harus tahu dengan sifat posesif suamimu itu karena hal itu bentuk dari perlindungan yang sudah dijaminkannya padamu harusnya kamu sadar Alea, ketika Sang Penguasa Italia itu menawarkan kesetiaan padamu sampai mati.”
Alea menghapus air mata yang entah kapan berjatuhan di pipinya.
“Bahkan pria kejam yang terkenal santero Italia itu pun telah berkata bahwa dirinya menyerahkan total seluruh eksistensi hidupnya hanya untukmu dengan janji Evans padamu akan merelakan nyawanya untuk melindungimu!” kata hati Alea, lagi dan lagi.
__ADS_1
“Maafkan aku, Ev,” gumam Alea dalam hati dengan kepala yang terus menunduk.
Hati Alea menangis bahkan menjerit keras ketika Alea kini sadar, sesadar-sadarnya.
“Maafkan aku, Ev,” ucap Alea dalam hati.
Ya, sebenarnya bila dipikir lagi olehnya. Evans itu kurang apalagi menjamin semua hal padanya bukan?
Kecuali, bertemu keluarga nya dan juga Anak itu yang masih menjadi perdebatan mereka.
Apa mungkin Alea masih belum terbiasa akan hal baru ini?
Atau mungkin Alea selalu merasa hidupnya tercekik karena terkurung di sangkar emas Evans Colliettie tanpa ada sanak saudara yang mengunjunginya?
Padahal, hal itu justru membahayakan Alea begitu juga keluarganya bila nantinya musuh-musuh Evans mengetahui hal itu bukan?
Tetapi satu yang Alea sadar kali ini, ketika di saat keadaanya sepertinya.
Kenyataan yang tidak bisa dielakkan oleh wanita itu, kalau Alea memang membutuhkan perlindungan dari sang suami yang di dalam hidupnya setelah menikah ini hanya ada pilihan membunuh atau terbunuh.
Alea yang semula menundukan pandangannya tidak berani menatap sang suami, kini wanita itu mulai memberanikan diri untuk menatap suaminya di sela-sela tubuh para wanita yang lainnya saling berhimpitan karena ketakutan.
“Ev…” panggil Alea dalam hati.
Alea terpaku ketika melihat ekspresi mata Evans yang terlihat seperti berusaha keras menahan kobaran api yang siap membakar habis yang entah disimpan sejak kapan?
Apa semenjak ia melarikan diri dari mansion atau semenjak Evans tahu kalau istrinya tengah dalam bahaya.
“Apa kini kamu baru sadar, Alea? Kamu baru menyadari semua kenyataan yang seharusnya kamu terima sejak dulu akan pria yang menikahimu itu?
“Setelah kamu menikah dengan pria itu maka kamu pun sama dengan menikah dengan dunia pria itu yang gelap penuh dengan pertikaian dan kematian!” kata hati kecil Alea, lagi dan lagi.
Dipandanginya mata suaminya yang memperlihatkan sesuatu yang lain, seperti sebuah ketakutan yang nyata.
Ketakutan akan kehilangan seseorang yang pria itu tutupi sempurna oleh amarahnya yang terbakar.
Alea tahu suaminya tidak akan segan membunuh orang yang ada di sekitarnya, jika pria itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Karena seperti itulah pria itu dibesarkan.
__ADS_1
“Apa sebentar lagi kita semua akan mati?” tanya Alice terdengar lemah.
Sekalipun terdengar pelan, namun tak bisa dipungkiri kalau tubuh wanita itu bergetar saking ketakutan melihat sosok Sang Penguasa berada di depan matanya.
Ibu satu anak itu menatap wanita yang entah siapa namanya itu yang sudi baik dan mau menolongnya. Bahkan di semua wanita di dalam sini hanya wanita itu yang mau merangkul bahunya.
“Siapa yang menyangka bukan, kalau Evans Colliettie si The Black Rose sang Penguasa Italia itu benar-benar datang kemari.”
Alea menoleh sejenak pada Alice. “Bahkan auranya bagaikan malaikat pencabut nyawa yang datang untuk menggiring kita semua ke neraka bukan?”
Alea diam, lalu menghembuskan nafasnya pelan. “Bahkan semua penjahat di depan itu terlihat seperti tikus yang ketakutan berhadapan langsung dengan sosok The Black Rose yang sesungguhnya itu.”
Alea menggenggam tangan Alice dengan lembut lalu berikan gelangan pelan yang diiringi senyuman hangat pada ibu satu anak itu.
“Tidak, Alice. Sebaliknya kita akan selamat,” ucap Alea, pelan.
Ya, Evans tidak akan menggiring semua orang di sini ke dalam neraka. Sekalipun Evans terkenal dengan kekejamanya, tentunya Evans tidak akan membunuh orang tanpa adanya kesalahan dan mengusik kehidupannya bukan?
“Kamu bisa bertemu lagi dengan putrimu begitu juga para wanita yang lain bisa kembali ke keluarganya masing-masing,” ucap Alea pelan.
Namun, perkataan itu sontak membuat Alice langsung menoleh memandangi wanita yang tersenyum hangat
Alea tahu apa taruhanya kali ini selain dia harus kembali ke pelukan Evans Colliettie si The Black Rose penguasa.
Alea menghela napas panjang lalu menghembuskan seiringi dengan pikirannya sendiri, setelah semua ini berakhir.
Alea tidak akan pernah bisa lepas kembali dari suaminya itu dan pada akhirnya Alea harus bisa menerima semua ini.
Menyerah dan pasrah tidak akan memikirkan dunia yang diinginkannya lagi.
Tidak ada Normal Life karena kenyataannya lepas dari sang suami Evans Colliettie malah membawanya pada malapetaka yang begitu menakutkan yang tidak pernah Alea bayangkan.
Alice menatap Alea dalam diam dengan hati yang sedikit tenang akan perkataan wanita tersebut yang entah Alice pun tidak tahu kenapa wanita itu sangat yakin.
Tak lama, pria yang terdapat bekas luka di wajahnya itu mengangkat kedua tangannya. Pria itu menyerah ketika Evans Colliettie menghunuskan senjata moncong panjangnya tepat di depannya itu.
“Tu-tunggu dulu, Tuan.”
__ADS_1