
“Sebenarnya aku sakit apa?” batin Alea seraya mengingat.
“Kenapa kondisiku tidak sama seperti saat aku berada di mansion Evans? Ini hanya seminggu aku di luar tetapi tubuhku ini….”
Alea bertanya dalam hati akan keadaanya. Apa hal inilah jawaban dari kegusaran apa yang sebenarnya Evans dan Dokter Christine sembunyikan darinya kalau sebenarnya ia tidak baik-baik saja?
“Apa ini karena racun itu?” batin Alea, lagi dan lagi.
Alea menarik nafas seraya memandangi Silvia. Alea hanya kenal satu minggu dengan wanita paruh baya di depannya itu, tetapi wanita itu banyak membantunya.
Bahkan obat herbal yang diberikan oleh Silvia pun membantunya walau tidak seutuhnya Alea merasa pulih seperti saat ia berada di mansion.
“Apa kamu seorang tabib, Silvia?”
Wanita itu terkekeh lalu berikan gelengan kepala. “Tidak. Aku bukan seorang tabib.
“Dulu aku hanya saja pernah belajar pengobatan herbal saat ibuku masih hidup dan ternyata sampai saat ini hal itu begitu berguna juga untukku.”
Alea tersenyum manis melihat bakat dari Silvia dalam hal pengobatan herbal.
“Menurutku, kondisi sepertimu ini.”
Silvia menatap wanita malang di depannya. “Bila menurut analisa ku sendiri, tubuhmu tidak baik-baik saja, Alea.
“Kondisi di dalam tubuhmu itu sepertinya memburuk dan entah aku pun tidak tahu karena apa pastinya, mungkin saja karena racun atau apa.”
Bola mata Alea membulat seiringi nafas yang terasa berat.
“Sekalipun kamu dilihat dari luar terlihat baik-baik saja dan sehat. Tapi, tidak dengan di dalam tubuhmu.”
Alea mengangguk pelan membenarkan perkataan Silvia karena itulah keadaannya saat ini.
“Sebaiknya kamu harus segera mencari tahu akan kondisimu yang sebenarnya agar lekas mendapatkan penangan cepat.”
“Ya, Via. Terima kasih banyak, setelah aku keluar dari Napoli aku akan memeriksa keadaanku.”
Diraihnya segelas air putih, lalu meminumnya dengan pelan seraya mengingat semua hal yang Evans lakukan kepadanya.
“Ketika di mansion. Evans sering memberikanku obat-obatan yang katanya vitaminku dan juga setiap dua bulan sekali aku mendapatkan suntikan antibodi yang dilakukan oleh dokter pribadinya.”
“Dan kamu tidak bertanya kenapa suamimu memberikan obat-obatan itu dan juga suntikan itu, Al?”
Silvia menatap heran, jelas bukan kalau pria penguasa itu sepertinya sudah lebih dulu mengetahui keadaan wanita malang di depannya ini?
Alea berikan gelengan, sama sekali ia tidak pernah bertanya akan hal itu selama lima bulan ini dan pada akhirnya kini Alea paham apa yang di sembunyikan suaminya.
“Tidak, karena aku berpikir kalau itu bentuk perhatian Evans padaku yang berlebihan dan bisa juga bukan kalau Evans tidak memberitahuku akan kondisiku
"Karena sebenarnya pria itu takutnya itu malah membuatku jadi terus memikirkan kondisiku yang sebenarnya? Maka dari itu Evans menutupi semuanya bahkan sekalipun dokter pribadinya?”
__ADS_1
Hh, tersadar hal itu jelas membuat Alea kesal dan juga marah bila Evans memang sengaja menyembunyikannya begitu juga Dokter Christine.
Silvia mendeesah, menatap wanita itu, iba. “Nasibmu sungguh malang Alea, bisa berurusan dengan pria berbahaya seperti Evans Colliettie.
“Jika kamu memutuskan untuk pergi. Aku akan membantumu sebisaku.
“Wanita sepertimu seharusnya tidak terkurung bersama pria menakutkan seperti Evans Colliettie. Tidak peduli jika pria itu sekarang benar-benar bisa mencintai seseorang,” ungkap Silvia yang dianggukan Alea, benar.
Alea kembali diam dengan pikirannya dan tidak menanggapi perkataan Silvia.
“Evans Colliettie, pria di negara ini yang terkenal pria berbahaya yang tidak punya belas kasih dan juga tidak ada kata pengampunan.
“Wajahnya yang bengis membuat semua orang di sini takut.”
Alea kembali diam sekalipun hatinya merasa tidak setuju akan penuturan Silvia.
Mereka tidak mengenal lebih dekat siapa Evans Colliettie sebenarnya, sekalipun ya perkataanya Silvia itu benar dan Alea pun tidak bisa membantah.
“Aku ingin pergi ke Roma,” ucap Alea tiba-tiba teringat akan Jeon yang berada di Roma sedang mencarinya.
“Roma?”
“Aku ingin pergi ke kedutaan Singapore dan meminta orang kedutaan Singapura untuk menghubungi salah satu perusahan Zeus Crops.
“Mungkin itu akan berhasil mengingat perusahan besar. Mungkin ada orang yang bisa menjemputku di sana.”
“Masalahnya sekarang ini, aku tidak tahu harus bagaimana caranya agar bisa keluar dari Napoli?” gumam Alea pada Silvia.
“Kalau naik kereta menuju Rome, bagaimana? Mungkin kalau kamu naik kereta aku akan bisa mengusahakan satu tiket untukmu,” usul Silvia.
Alea terdiam menatap Silvia yang berdiri dari duduknya dan berjalan mengambil jaketnya.
“Aku tahu siapa yang bisa menolongku untuk memberikan satu tiket untukmu, maka tunggulah disini dan jangan lupa obat herbalnya kembali di minum, Alea.”
Alea langsung berdiri menghampiri Silvia. “Bolehkah aku ikut denganmu, Silvia?”
Wanita itu mengusap pundak Alea, lembut. “Tentu aku tidak akan mengizinkan kamu untuk ikut, Alea.
“Saat ini kamu tidak aman berada di luar sana apalagi ikut denganku.”
Silvia berikan senyuman manis untuk wanita malang di depannya.
“Tunggulah aku di rumah saja dan membawakan satu tiket menuju Rome,” ungkap Silvia kembali mengusap bahu Alea.
“Aku tidak akan lama dan akan segera kembali. Jangan lupa makan terlebih dulu sebelum meminum obatnya.”
Alea berikan anggukan pelan, dengan perasaan cemas Silvia tidak berhasil mendapatkan satu tiket untuknya pergi ke Roma.
Tetapi, yang bisa Alea lakukan saat ini hanya berdoa dan ber semoga wanita itu bisa menolongnya pergi dari Napoli.
“Hati-hati, Via.”
__ADS_1
“Ya, tentu Alea. Kamu jangan cemaskan aku. Aku pamit pergi dulu,” ucap Silvia seraya menarik handle pintu dan keluar dari rumahnya.
Alea ikut keluar dan memandangi sejenak kepergian wanita itu dari gorden yang menutupi jendela rumahnya. Wanita itu berjalan kaki bergabung dengan keramaian pejalan kaki di luar sana.
“Semoga kamu mendapatkannya, Silvia,” gumam Alea dalam hati seraya berdoa.
Alea merasa sangat beruntung kali ini bisa bertemu dengan orang baik seperti Silvia sekalipun ucapan terima kasih saja pun rasanya tidak cukup untuk membalas kebaikan wanita itu.
Mungkin inilah jawaban atas doanya, mengirimkan wanita baik untuk menolongnya keluar dari cengkeraman Evans Colliettie.
‘Aku selalu percaya suatu hal. Jika Tuhan selalu mempermudah langkahnya dan mengirim orang baik di mana kebaikan selalu dibalas dengan kebaikan sekalipun orang yang ditolongnya tidak peduli,’ batinnya.
Meski Alea tahu, ini terlalu berbahaya untuk Silvia sendiri karena sudah membantu seorang tawanan Sang Penguasa Italia melarikan diri.
Tentunya, yang Alea takut akan resiko dan juga konsekuensi bila siapapun yang menentang seorang Evans Colliettie akan mendapatkan hukuman, yang tidak lain kematian.
Beruntungnya lagi, Alea masih diberikan kesempatan hidup setelah beberapa kali kematian yang mengejarnya, meski saat ini ia rasa hidupnya sulit. Anggap saja itu sebuah berkah untuknya, berkah dari sebuah kebaikan.
“Kenapa kamu diam saja? Apa yang kamu pikirkan, Alea?”
Sudah tiga hari Silvia mengusahakan satu tiket untuk Alea, tetapi yang dilakukan Alea hanya diam dan menatapnya.
“Apa kini kamu ragu, hmm?”
Silvia pandangi Alea yang hanya berdiam diri. “Apa kamu benar-benar sudah yakin ingin pergi meninggalkan suamimu itu, hmm?”
“Yakin,” jawab Alea singkat.
“Tapi aku lihat kamu kelihatannya berat sekali.”
Alea menarik nafas dalam. “Entahlah Silvia. Pikiranku benar-benar kacau saat ini.
“Di sisi lain inilah satu-satunya kesempatanku untuk pergi dari cengkramannya dan hidup normal di luaran sana. Tetapi, disisi lain…”
Alea menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya. Hatinya tidak bisa berbohong kalau Alea sangat merindukan suaminya. Tetapi, perkataan Evans dan juga keinginan pria itu membuatnya ingin menjauh darinya.
“Aku masih kepikiran suamiku di sana.”
Silvia paham dengan apa yang dipikirkan oleh Alea saat ini. “Pikirkanlah kembali, Alea bila kamu ragu untuk meninggalkannya.”
Silvia menghembuskan nafas pelan. “Arah sana, langkah kakimu akan menuju istana megah suamimu. Didekap bak tawanan dan arah sana—”
Silvia menunjuk arah kiri. “Arah yang akan membawamu menuju pada suatu kebebasan yang kamu inginkan.”
“Pikirkanlah, Alea. Mungkin arah kananmu akan membawamu pada pria kejam itu dan kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan pria itu sekalipun kamu istrinya dan arah kirimu akan membawamu pulang kerumah bersama dengan keluargamu,” sambung Silvia.
“Jadi, kamu mau pulang ke kanan atau kiri, Al?
Alea menoleh ke samping kanan dengan hembusan nafas berat begitu lalu bergantian menuju ke arah kiri kebebasannya untuk bertemu dengan keluarganya.
“Tidak punya waktu lama untuk berpikir, Alea. Waktunya sudah mepet. Lekaslah kamu pilih.”
__ADS_1
Alea diam sejenak. “A—aku….”